
Mengetahui bahwa aku sedang hamil, Sam segera menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitakan kabar gembira ini setelah makan malam usai. Raut wajah bahagianya tak juga luntur dari wajahnya. Dengan memegang ponselnya, Sam mencoba menghubungi kedua orang tuanya.
“Mama”, panggilnya.
“Rein hamil. Mama dan papa akan mendapatkan cucu lagi”, ucapnya bahagia.
Aku tersenyum melihat Sam bahagia, Sam menuju kearahku dan merangkulku serta mencium keningku.
“Rein, mama ingin berbicara dengan mu”. Ucap Sam memberikan ponselnya padaku.
“Iya mama?”, sapaku.
“Besok mama akan rutin mengunjungimu Rein, seperti saat kamu hamil Mira dahulu”, Ucap mertuaku
“Tak perlu mama, Rein mampu mengurusnya sendiri. Mama jangan terlalu lelah untuk jauh jauh datang hanya untuk menemani Rein. Itu tak perlu”, tolakku halus.
“Mama tak menerima penolakan apapun. Tunggu mama dirumah yaa”, ucap mertuaku lalu mengakhiri panggilannya.
Aku melihat ke arah Sam yang tetap tersenyum sambil melihat ke arahku. Ia mendekat padaku dan merangkulku dan tangan yang lain menyentuh perutku dengan sangat lembut, tatapannya sangat tulus dan hangat ku pandang.
“Aku tak percaya bahwa aku akan hamil secepat ini Sam”, ucapku
“Secepat ini? Kamu bercanda Rein, kita menikah sudah hampir sembilan tahun dan saat ini usia Mira enam tahun lebih. Kamu masih mengatakan ini cepat? Tahu kah kamu berapa lama aku mendambakan anak ke dua dari mu?”. Ucap Sam mengerutkan keningnya terheran.
Aku tertawa melihat reaksi Sam padaku. Bagiku hal ini sangat cepat karena baru beberapa tahun aku benar benar mencintainya sejak delapan tahun lebih aku menikah dengan Sam. Dan saat ini aku dikaruniai anak ke dua. Bukankah ini sangat cepat?
Sam tak mengijinkanku tidur larut malam setelah mengetahui aku sedang hamil, ia memaksaku untuk menyamakan waktu tidurku sama seperti Mira karena takut terjadi sesuatuu dengan ku dan calon bayi yang ada diperutku.
__ADS_1
“Sudah pukul delapan mala Rein, saatnya kamu tidur”, ucapnya.
Aku melihat ke arah Sam yang menyuruhku tidur pada pukul delapan malam. Bahkan mataku masih segar dan bersinar, aku belum merasakan lelah dan mengantuk saat ini.
“Sam, aku tak ingin tidur lebih awal. Aku tak bisa melakukannya. Kamu tahu sendiri aku selalu tidur pukul sepuluh atau sebelas malam dan bahkan lebih malam dari itu”, jawabku.
“Hentikan seluruh ocehanmu itu dan turuti aku. Aku tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan pada istriku tersayang dan calon anakku ini”. Balas Sam dengan melipat tangannya.
Aku menggelengkan kepalaku dan terus menolak perintah Sam yang menyuruhku tidur lebih awal dari biasanya. Seorang ibu rumah tangga tidur pada pukul depalan malam? Adakah wanita yang melakukan itu? Ku rasa tak ada. Sam memegang tanganku dan mencoba menarikku dengan lembut namun aku menahannya dan tetap duduk di sofa sambil melihat ke arah Sam dengan tatapan yang memohon.
“Kamu harus check up ke dokter kandungan Rein untuk memeriksakan kandunganmu. Jadi tidurlah lebih awal, aku tak ingin kamu kelelahan esok hari”. Ucap Sam dengan terus menggenggam pergelangan tangaku dan mencoba kembali menarikku dengan lembut
“Aku akan pergi sendiri bersama mama. Jadi jangan paksa aku untuk tidur lebih awal Sam, jangan khawatirkan aku”, rengek ku
“Jangan khawatirkan dirimu? Benarkah? Aku tak boleh mengkhawatirkan istriku yang sedang hamil? Yang benar saja Rein. Jangan berbicara yang tidak tidak dan turuti aku”, ucap Sam.
“Baiklah. Kali ini tak ada ampun bagimu Rein”, ucap Sam melihatku tajam.
Sam mendekat dan mengangkat ku naik ke atas. Dengan tenaganya yang sangat besar ia menggendongku dan berjalan seakan ia tak membawa beban, ku rasakan cengkramannya yang sangat kuat ketika ia menahan tubuhku di tagannya. Ini adalah kali pertama Sam menggendongku seperti ini selama aku menikah dengannya, aku terdiam dan mematung melihatnya menggendongku seperti ini. Ku palingkan wajahku darinya karena aku tak tahan melihat wajah tampannya. Dengan mudahnya Sam membuka pintu kamar dengan tangan yang masih menahan tubuhku dan meletakkan ku di ranjang dengan perlahan.
“Ku mohon beristirahatlah Rein, jangan membuatku khawatir denganmu ataupun dengan janin dalam kandunganmu”. Ucap Sam lembut lalu mencium keningku.
Aku menuruti keinginan Sam yang menyuruhku untuk tidur lebih awal dari sebelumnya, aku mengerti ketakutannya padaku kalau aku tak berhati hati. Ku coba memejamkan mataku dan tidur meski sedikit sulit, tak kusangka Sam juga menemaniku untuk tidur lebih awal. Ia Tidur di sampingku dan memelukku, tak kusangka pada akhirnya aku tertidur karena rasa nyaman yang diberikan Sam padaku. Ia membuatku tertidur hanya dengan pelukannya dan belaiannya.
Pagi hari datang, aku terbangun ketika mendengar suara alarm yang ku pasang berbunyi. Aku merasa sangat segar ketika bangun karena beristirahat lebih lama dari sebelumnya. Menyambut hari baru datang dan memulai aktifitasku seperti biasanya, aku sedikit meragukan bahwa aku hamil karena aku tak menemukan tnda tanda bahwa aku hamil. Aku tak mual dan aku tak merasa ada yang berbeda dalam tubuhku, lagi pula test pack tak selalu benar hasilnya. Dengan segala perasaan dilema yang ku pikirkan aku menata masakan yang telah ku buat sambil menunggu Sam bangun dari tidurnya. Disaat aku menata masakan yang telah ku buat, Sam keluar dari kamarnya dan menghampiriku.
“Aku mencium aroma yang sangat wangi ketika aku bangun”, ucap Sam menghampiriku.
__ADS_1
“Bagaimana istirahatmu?”. Tanya Sam sambil merangkulku dari belakang.
“Sangat nyenyak karena kamu memelukku semalaman”, jawabku dengan menyentuh lembut wajahnya.
“Makanlah dahulu. Bukankah kamu harus pergi ke kantor?”. Ucapku sambil mengambilkan sepiring nasi untuk Sam.
“Bukankah sudah ku katakan bahwa aku akan mengantarmu ke dokter kandungan?. Pagi ini kitaa berangkat”, ucap Sam menyendokkan sesuap nasi kedalam mulutnya.
Aku duduk di samping Sam dan mengangguk lalu menemaninya sarapan bersama. Setelah sarapan dan berbenah, aku bersiap untuk ke dokter kandungan bersama Sam dan Mira, tak seperti biasanya Sam sangat berhati hati padaku.
“Berjalanlah perlahan sayang. Jangan sampaai calon bayi kita terluka”. Ucapnya dengan menuntunku masku kedalam mobil secara perlahan.
“Sam, apa yang kamu lakukan? Aku bisa berjalan masuk ke dalam mobil sendiri”. Jawabku dengan menepis tangan Sam yang mencoba menuntunku.
“Aku takut kamu terpeleset dan jatuh. Aku tak ingin hal buruk terjadi padamu, biarkan aku menuntunmu Rein”, ucap Sam berhati hati.
Aku masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke rumh sakit. Namun hal ini membutku gila, Sam sangat membuatku kesal dengan perhatian kecil yang tak pada tempatnya. Jarak dari rumah menuju jalan raya bahkan tak sampai sepuuluh menit namun Sam menyetir dengan sangat pelan sambil memegangi perutku.
“Sam, hentikan kekonyolan ini dan menyetirlah seperti biasa. Kamu membuatku kesal”, ucapku menyilangkan tangan.
“Aku tak ingin anaak dalam kandunganmu terbentur karen aku menyetir dengan tak hati hati Rein”, ucap Sam.
Perlakuan Sam padaku tak membuatku merasa nyaman namun membuatku merasa kesal, kekhawatirannya padaku bagaikan pasangan pengantin baru yang istrinya baru mengandung dan tak tahu bagaimana cara menghadapinya.
“Sam lihatlah, perutku bahkan belum membesar jadi jangan khawatirkan aku atau aku akan semakin kesal padamu”, ucapku sedikit membentak.
Sam tak menghiraukan perkataanku dan terus saja menyetir dengan sangat pelan sambil sesekali memegangi perutku karen takut terjadi hal buruk padaku dan janin di dalam perutku.
__ADS_1