
Alaram yang ku pasang telah berbunyi tepat pukul empat pagi. Aku melihat ke arah suamiku yang tertidur pulas tanpa pakaian yang ia kenakan, begitupun aku, ku belai rambutnya dan ku kecup keningnya yang masih tertidur. Dengan segala tenaga yang telah terkumpul aku mencoba bangun dan memakai seluruh pakaianku yang berserakan di lantai. Meskipun sakit rasanya namun aku tetap bangun untuk memasak untuk sarapan dan mengurus keperluan anak dan suamiku.
“Bi, baju Mira dan bapak yang kemarin saya berikan sudah siap?”. Tanyaku keluar kamar ketika ku lihat asisten rumah tanggaku.
“Sudah nyonya”, jawabnya.
Aku meninggalkan Bi Sumbi dan segera menuju dapur untuk memasak. Dengan menggulung rambutku hingga ke atas, aku mulai memasak untuk sarapan juga untuk bekal suami dan anakku. Aku selalu menikmati peranku menjadi seorang ibu, menjadi ibu rumah tangga membuatku dapat lebih dekat dengan Mira dan bisa terus fokus pad keluargaku meskipun segalanya cukup sulit untuk dilakukan.
Dalam satu jam menu sarapan dan bekal suami juga anakku telah siap tertata dengan rapi diatas meja makan. Aku naik ke atas lalu membangunkan suamiku yang masih tertidur dengan mengecup pipinya dan membelainya.
“Sam. Bangunlah, sarapan telah siap”, ucapku lembut.
“Hmm.. Biarkan aku beristirahat lebih lama lagi Rein, aku sungguh lelah karena semalam”, jawabnya setengah tertidur dengan suara rendahnya.
“Aku sudah mengatakan untuk tak melakukannya bukan? Namun kamu memaksaku, cepatlah bangun atau Mira akan terlambat ke sekolah”. Ucapku sambil menggenggam tangan Sam.
“Hug me first”, pintanya dengan mata terpejam.
Aku menuruti keinginannya yang memintaku untuk memeluknya. Sam mencium keningku dengan lembut lalu ia bangun dari tidurnya, ku ambilkan pakaiannnya yang ku sampirkan di kursi dan ku berikan pada Sam.
“Cepatlah bangun, akan ku bangunkan Mira”. Ucapku sambil berjalan menuju kamar Mira.
Ku buka kamar Mira dan ku dapati Mira telah bangun karena alarm yang ku pasang semalam berbunyi. Mira menggosok matanya dan memanggilku untuk menggendongnya.
“Mama..”. Ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya dan mata yang sedikit terbuka.
Aku menggendong Mira untuk turun dan ku letakkan ia di kursi, ku lihat Sam telah duduk di kursi sambil menungguku datang.
“Mengapa tak makan lebih dahulu?”, tanyaku
__ADS_1
“Lebih baik makan bersama”, jawab Sam
Segera ku layani suamiku terlebih dahulu lalu anakku. Ku perhatikan kantung mata Sam yang semakin hari semakin membesar dan menghitam karena pekerjaannya yang cukup banyak dan menumpuk.
“Untuk besok aku saja yang mengantar Mira, kamu bisa istirahat lebih lama Sam”, ucapku setelah melihat kantung mata Sam yang menghitam.
“Tak perlu, kamu sudah terlalu lelah untuk mengurus pekerjaan rumah. Mira akan menjadi tanggung jawabku ketika akan berangkat sekolah”, jawabnya lembut.
Perhatian kecil dan kalimat manis yang keluar dari mulutnya selalu saja mampu memanjakanku. Sam sangat mengerti diriku. Bahkan dalam hampir sepuluh tahun pernikahan kami, Sam tak pernah menuntut apapun dariku hingga saat ini. Meski aku melakukan sebuah kesalahan, ia hampir tak pernah meninggikan suarannya dan hanya menegurku dengan lembut. Setiap hari aku dibuat jatuh cinta olehnya dengan bagaimana cara ia memperlakukanku sebagai ratunya.
“Kamu terlihat sangat lelah Sam. Biarkan aku yang melakukannya, waktuku lebih banyak dirumah”. Jawabku tak tega melihat betapa lelahnya suamiku saat ini.
“Jangan khawatir. Cukup tepuk bahuku lalu kecup aku, kamu sudah memulihkan tenagaku Rein”. Ucap Sam sambil menunjuk pipinya.
Usai sarapan, aku mempersiapkan untuk berangkat ke sekolah bersama Sam, ku rapikan seragam sekolahnya dan ku ikat rambutnya serapi mungkin agar tetap terlihat imut selayaknya anak kelas satu SD.
“Mama, Mira berangkat”, ucap Mira.
“Aku berangkat sayang”, ucapnya berpamitan.
Rumah terasa sangat sepi ketika tak ada siapapun di rumah yang sangat besar ini, aku menghabiskan waktu untuk berkebun dan mempercantik tumbuhan di taman. Tak sengaja ku melihat rumah yang berada tepat di seberangku yang sudah berpenghuni setelah pemilik sebelumnya menjual rumah itu. Rasa penasaranku teralihkan dengan melihat jam yang melingkar di tangaku dan menunjukkan pukul setengah sepuluh, waktu untuk menjemput Mira pulang dari sekolahnya. Segera ku ambil tasku dan kunci mobil lalu pergi menjemput Mira.
Tak seperti biasanya, sat aku menjemput Mira, penampilan Mira terlihat berantakan. Mulai dari seragam yang tak lagi rapi dan rambut yan berantakan. Ku parkirkan mobilku lalu turun dan memanggil Mira.
“Anak mama sudah pulang. Ayo masuk mobil”, ucapku menggandeng Mira
Aku melihat Mira yang hanya diam saja dan tak mengatakan apapun padaku mengingatkan ku dengan kejadia satu tahun yang lalu saat Mira berkelahi dengan Rio dan aku menduga bahwa kali ini Mira juga berkelahi dengan temannya.
“Mira, mengapa seragamnya berantakan? Dan rambut Mira juga tak rapi lagi. Ada apa?”, tanyaku melihat ikat rambut yang miring.
__ADS_1
“Berjanjilah mama takkan marah pada Mira kalau Mira menceritakannya”, ucap Mira sedikit ketakutan
Aku menganggukkan kepalaku sambil melihat ke arah Mira yang terlihat ragu untuk menceritakannya padaku sambil memanyunkan bibirnya.
“Mira berkelahi dengan Rio mama”, ucap Mira menunduk.
Aku membulatkan mataku mendengar ucapan Mira dan yang lebih mengejutkanku adalah Rio pun berada satu sekolah dengan Mira.
“Apa?”, jawabku terkejut sambil meninggikan suaraku.
“Rio berulah dengan mengganggu teman sebangu Mira sampai menangis sebelum pulang sekolah mama. Mira kesal dan memukul wajah Rio dan menjambaknya”, jelas Mira dengan wajah ketakutan akan dimarahi.
Ingin rasanya aku marah namun aku sudah berjanji pada Mira untuk tak marah. Di satu sisi aku bangga dengan Mira karena untuk anak seusianya ia mampu dan berani membela temannya yang lebih lemah darinya namun disisi lain aku tak suka Mira menyelesaikan masalah dengan cara berkelahi. Ku coba meredakan emosiku dan ku usap lmbut kepalanya untuk menunjukkan bahwa aku tak marah padanya.
“Mama sudah pernah mengatakannya Mira, jangan berkelahi apapun alasannya”, ucapku menasehati Mira.
Mira mengangguk dan tetap menundukkan kepalanya sembari memainkan jemarinya. Setibanya di rumah aku turun dari mobil yang telah ku parkirkan di garasi dan bergegas masuk ke dalam. Namun ketika aku hendak berjalan masuk, kulihat seorang pria menekan bel pagar rumah sambil membawa kotak cokelat ditangannya.
“Ya?”, jawabku
Aku terkejut melihat siapa yang datang, dadaku seakan sesak dan jantungku berdegup dengan sangat hebatnya. Aku seperti tak bisa mengendalikan emosiku saat itu melihat sosok pria yang berada di hadapanku saat ini.
“Saya baru pindah tepat di depan rumah anda. Mohon diterima msakan yang saya bawa”, ucap pria itu menyodorkan nasi kotak.
Aku menerima pemberiannya, mataku masih tetap menatapnya dalam karena tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Sungguh sakit rasanya, aku tak kuat lagi berlama lama berhadapan dengannya dan ku putuskan untuk masuk meninggalkannya.
“Terimakasih”. Ucapku lalu menutup pagar dan masuk ke dalam.
Aku membiarkan Mira bermain sendiri dan menyuruh Bi Sumbi untuk menemani Mira bermain. Dengan menyeka air mata yang turun dari mataku aku berjalan naik ke kamar.
__ADS_1
“Bi, tolong jaga Mira dan siapkan makan malamnya”, perintahku.
Aku mengurung diri di kamar dan menangis sambil memegangi dadaku yang sesak, aku tak percaya bahwa ia akan datang dalam hidupku sekali lagi setelah sekian lama ku coba melupakannya. Rasa sakit yang kukira telah sembuh nyatanya terbuka kembali dan semakin perih yang ku rasakan.