
“Dimana dia? Siapa pria yang bersamanya?”, tanya Ken curiga.
Ken bangun dari posisi tidurnya di sofa dan meletakkan salah satu tangannya di pinggangnya sambil menatap tajam ke luar jendela menunggu jawaban dari Laura. Baru saja Laura ingin menjawab ken tiba tiba panggilan mereka terputus karena ponsel Laura kehabisan baterai.
“Robert, berikan aku charger milikmu, ponselku mati dan aku tak membawa charger milikku”, ucap Laura terburu buru.
“Maaf tapi aku tak membawanya Lau”. Ucap Robert sambil memakan ayam goreng yang ia bawa.
“Ah.. Sial. Mengapa hal ini terjadi? Aku yakin Ken pasti salah paham denganku”. Ucapnya kesal sambil mengacak acak rambutnya
“Dasar bodoh. Untuk apa selarut ini datang ke kantorku? Tidakkah kamu lihat papan bertuliskan tutup di depan pintu?”, ucap Laura kesal.
“ Yang benar saja, beberapa hari lagi sepupumu ini akan menikah dan beginikah caramu memperlakukan saudara yang sudah menjagamu selama hampir lima belas tahun?”, balas Robert kesal.
“Paling tidak pelankan suaramu, kekasihku akan marah kalau tahu aku sedang berduaan dengan pria lain bodoh”, sahut Laura kesal.
“Apakah aku terlihat seperti orang lain bagimu?”. Balas Robert sambil memasukkan satu potong ayam ke dalam mulut Laura.
Baru saja Laura merasa bahagia karena dapat berkomunikasi dengan Ken namun Robert membuat sebuah masalah yang cukup serius bagi hubungannya dan Ken. Kini tak ada yang dapat ia lakukan selain menunggu hingga esok hari untuk memberikan penjelasan pada kekasihnya itu.
Ken merasa curiga pad Laura kekasihnya itu. Ia merasa bahwa Laura menyembunyikan sesuatu darinya selama mereka berdua tak saling bertemu. Ken mencoba menghubungi Laura untuk meluruskan masalah ini namun Laura tak lagi dapat dihubungi yang membuat Ken berpikir yang tidak tidak tentang Laura.
“Ia kembali tak bisa dihubungi? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu? Pernikahan? Siapa yang akan menikah?”, gumannya.
Banyak pertanyaan pertanyaan yang terkumpul di kepala Ken sejak ia mendengar pria lain memanggil kekasihnya dan mengajaknya makan bersama ditambah mereka membahas sebuah pernikahan. Kekasih mana yang tak curiga ketika wanita yang dicintainya berduaan dengan pria lain dan makan bersama sambil membicarakan pernikahan?
“Tak mungkin... Laura tak mungkin berselingkuh dariku”, ucapnya meyakinkan diri.
Semalam malaman Ken tak bisa tidur memikirkan siapa pria yang bersama dengan Laura. Hingga pagi menjelang, Ken masih terus terjaga. Ia bangun dari tempat tidurnya dan melihat lingkaran hitam tepat di bawah matanya yang merusak ketampanannya itu. Segera ia pergi mandi dan merapikan dirinya sebelum pergi ke kantor untuk bekerja.
Bahkan ketika Ken sampai ke kantor pun, Laura tak juga mengabarinya atau meluruskan apa yang terjadi semalam. Ingin rasanya Ken menghampiri Laura untuk meminta penjelasannya secara langsung namun hal itu tak mungkin ia lakukan. Dalam keadaannya yang sedang tidak baik baik saja, Laura menghubunginya dan segera Ken menjawab panggilannya.
“Ken. Apa yang terjadi semalam tak seperti yang kamu pikirkan. Percayalah padaku”, ucap Laura dalam ponselnya.
__ADS_1
“Apa menurutmu yang ku pikirkan?”, tanya Ken
“Aku tak bisa menjelaskan segalanya dari ponseln ini Ken. Beri aku waktu sampai tiga hari lagi dan aku akan mendatangimu di kantor juga menjelaskannya”, ucap Laura memohon.
“Terserah saja”, balas Ken tak peduli.
“Ken, kumohon jangan bersikap seperti ini. Tiga hari lagi sidang perceraian Meli dan Reno akan dilaksanakan dan aku sangat membutuhkan dukunganmu Ken”, ucap Laura sedekit merengek.
“Lau, kamu tak berselingkuh dibelakangku bukan?”, tanya Ken curiga
Meskipun Ken mengetahui bahwa hal itu tak mungkin dilakukan oleh Laura namun Ken masih tetap menanyakannya semata mata hanya kerena ia merasa kesal pada Laura, kekasihnya itu.
“Apa yang kamu katakan? Aku takkan pernah melakukan hal bodoh seperti itu Ken. Aku mencintaimu dan seterusnya akan selalu begitu”, ucap Laura meyakinkan Ken.
Mereka sempat berdiam diri sejenak dan tak mengatakan apapun. Ken mencoba mempercayai Laura dan Laura berusaha meyakinkah Ken kalau kejadian semalam tak seperti yang Ken pikirkan.
“Ken. Aku sangat membutuhkanmu, dukunganmu sangat penting bagiku untuk memenangkan kasus ini. Jadi ku mohon jangan bersikap dingin padaku. Aku mencintaimu”, ucap Laura.
Mendengar kata terakhir dari Laura sebelum Laura mengakhiri panggilannya membuat Ken senang dan tersenyum sendiri layaknya seorang bocah yang baru merasakan cinta. Ia bahkan menutupi wajah bahagianya dengan kedua tangannya dan bertingkah layaknya seorang bocah.
“Rein. Aku sangat merindukanmu”, ucap Sam memohon.
Aku mengerti kemana arah pembicaraan Sam ketika ia sudah mengatakan hal itu namun sayangnya aku sedang tak ingin melakukannya saat ini. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku tanda menolak keinginannya namuan Sam menahan genggamannya dan memohon sambil terus menatapku.
Semakin ku tolak semakin ia mendekat padaku dengan wajah melas memohon yang selalu ia pasang ketika aku tak memberikan apa yang ia inginkan. Aku kehabisan kata kata untuk menolak ajakan Sam sampai akhirnya Mira menyelamatkanku dengan kepolosannya.
“Mama, mma sudah berjanji untuk membacakan dongeng untuk Mira sebanyak tiga buku”, ucap Mira melihat ke arahku.
Aku tersenyum mendengar perkataan Mira yang terasa seperti menyelamatkanku dari Sam malam ini. Sam tak mungkin akan menunguuku sampai larut malam karena besok pagi ia harus rapat dan harus dalam kondisi yang prima.
“Baiklah sayang. Mira meminta mama membacakan lima buku malam ini juga akan mama lakukan”, ucapku sambil menatap Sam tajam.
Melihat Sam merajuk membuatku tertawa karena ia terlalu menggemaskan apalagi dengan postur tubuh yang besar dan tinggi lalu merajuk seperti anak kecil. Aku menggenggam tangannya untuk menenangkannya.
__ADS_1
“Aku berjanji besok kita akn melakukannya”, ucapku berbisik
“Bisakah kita melakukannya malam ini? Aku akan menunggumu Rein”, ucapnya memohon
“Bukankah besok kamu akan ada rapat? Kalau kamu tak bisa bangn pagi lalu bagaimanaa?”, tanyaku.
“Aku adalah pimpinannya dan aku bisa menunda rapat sesukaku”. Jawabnya sambil memainkan sendok di piringnya
Aku tertawa kecil mendengar jawaban dari Sam yang terdengar lucu. Sehebat apapun dirinya ketika keinginannya tak terkabulkan olehku maka ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya termasuk merajuk di hadapanku. Dan kali ini ku kabulkan keinginannya karena tak lagi bisa melihatnya merajuk seperti ini. Ingin rasanya ku cubit pipinya saat ia merajuk padaku.
“Baiklah. Mari kita lakukan malam ini sayang. Namun kamu harus menunggu sampai Mira benar benar tertidur meskipun itu sampai larut malam”, ucapku mengabulkan keinginannya.
Setelah selesai membersihkan meja makan dan dapur aku bergesan membawa Mira untuk masuk kamar yang sedari tadi menemani Sam menonton televisi sambil menumpahkan seluruh bonekanya untuk dimainkan.
“Mira, sudah mla ayo tidur. Mama akan membacakan buku cerita”. Ucapku sambil membereskan seluruh mainan Mira ke dalam box.
Mira sangat senang ketika aku membacakan sebuah buku cerita meskipun ia telah mengetahui seluruh cerita dongeng namun kesukaannya pada buku cerita yang ku bacakan sebelum tidur sangat besar. Aku menggandeng tangan Mira masuk kekamar. Namun saat beberapa langkah, Sam mengehtikan langkahku sambil tersenyum manis padaku dan mencium tanganku.
“Aku menunggumu”, ucapnya sambil tersenyum.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan aku sudah menghabiskan dua buku cerita namun Mira masih saja belum tertidur. Matanya masih kuat untuk terus terjaga dan mendengarkan cerita yang lebih banyak lagi.
“Mama, Mira belum mengantuk. Cacakan lagi satu cerita untuk Mira sampai Mira mengantuk”. Ucapnya memohon sambil menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Aku melihat ke arah jam di dinding lalu melihat ke arah Mira yang memelas padaku. Wjahnya sangat mirip sekali dengan Sam. Aku terkekeh kecil sambil membelai rambut Mira dan menganggukkan kepala.
“Baiklah, mari lihat buku cerita apa lagi yang ada di sini?”, ucapku sambil memilih satu lagi buku cerita untuk Mira.
Cukup lama Sam menunggu di kamar sambil memainkan ponselnya menungguku datang dari kamar Mira sambil sesekali melihat ke arah pintu hingga ia merasa bosan. Suara detik jarum jam mebuat Sam seperti tak bisa menhan diri lagi untuk segera menarikku keluar dari kamar Mira. Hingga akhirnya suara pintu terbuka, aku masuk ke kamar dan melihat Sam masih terjaga hingga pukul sepuluh malam sambil tersenyum menungguku.
“Tahukah kamu betapa senangnya aku?”. tanya Sam sambil mendekat padaku.
Aku diam dan mematung melihatnya berjalan mendekat dan semakin mendekat padaku dan jantungku seperti berdegup cukup kencang. Aku tak mengerti mengapa namun yang pasti aku tak tahan melihat Sam menatapku seperti itu.
__ADS_1
Sam mendapatkanku lalu memelukku sambil mencium keningku. Kini ia menuntunku kekasur lalu mendorongku. Sudah cukup lama aku tak melihat sisi lain dari Sam yang seperti ini hingga akhirnya Sam berhasil menguasaiku dan malam itu pun kami kembali melakukannya.