
Seperti dugaan Meli bahwa Reno akan menggunakan berbagai macam cara untuk dapat merebut posisi yang telah dipercayakan pada Meli. Hasutan macam apapun Meli dapat melakukannya dengan baik berkat kehebatannya dalam memimpin juga dukungan dari orang orang yang berada di sekitarnya. Masalah yang ditimbulkan oleh Reno untuk Meli tak membuat Meli jatuh dan kalah, hal itu justru membuat Meli semakin kuat bukan hanya bagi dirinya dan keluarganya namun bagi perusahaan juga.
“Apakah Reno berusaha menjatuhkanku hanya dengan hal remeh seperti ini? Cibiran dari masyarakat takkan menjatuhkanku dan perusahaan ini” ucap Meli melihat grafik penjualan yang mulai goyah.
“Kita akan baik baik saja. Perusahaan ini sangat kuat dan kepercayaan dari masyarakan akan segera kembali”, ucap Pak Hendra
“Benar, berita konyol seperti ini pastilah cepat berlalu”, ucap Meli sambil menggeser layar tablet yang ia pegang.
Disisi lain, Reno terlihat sangat kesal karena tak ada satupun rencananya yang berhasil. Ia tak mampu menjatuhkan Meli, tak bisa menggoyahkan perusahaan dan terlebih ayahnya saat ini berada dalam pengawasan Meli yang artinya Reno tak bisa bertindak leluasa seperti sebelumnya. Dalam kediamannya ia berjalan kesana kemari dengan wajah kesalnya.
“Tak bisakah kamu melakukan hal yang benar? Segala rencanamu tak ada satupun yang berhasil dasar tak berguna!!”, ucap Kinan kesal
Mendengar hinaan dari Kinan, Reno menatap kearahnya sambil membulatkan kedua matanya dan menekan rahang Kinan dengan cukup keras. Amarah Reno semakin menyala nyala setelah mendengar perkataan dari Kinan yang seperti menghinanya, Reno tak peduli dengan rintihan Kinan yang kesakitan akibat perbuatannya.
“Diam kamu perempuan gila. Kalau tak bisa membantuku setidaknya jaga mulutmu atau ku buang kamu dari rumah ini!!”, ancam Reno.
Kinan tertunduk ketakutan setelah meihat Reno marah pada dirinya. Seperti kehabisa akal, Reno membanting seluruh barang yang ada di meja tepat di hadapannya dan menggulingkan meja itu hingga pecah.
“Arrgghhh” teriaknya sambil membanting
__ADS_1
Tak pernah dalam hidupnya Reno marah sampai seperti ini, tatapannya sangat mengerikan cukup menakutkan hingga membuat siapa saja yang melihatnya merinding. Dengan kemarahannya Reno meninggalkan Kinan dan masuk ke dalam kamarnya.
“Apa yang harus ku lakukan demi merebut perusahaan itu dari Meli?” tanyanya pada diri sendiri
Reno berpikir dan terus berpikir hingga fokusnya pecah akibat Kinan yang masuk kedalam untuk bersiap siap lalu mmebawa tas dan beberapa barang yang ia bawa. Kinan menggunakan baju berwarna hitam dari atas hingga bawah dan menimbulkan tanya bagi Reno
“Apa yang kamu lakukan?”, tanya Reno
“Temanku meninggal dan dikuburkan siang ini. Kasihan sekali ia, hidupnya saat ini cukup sulit dan hanya ia satu satunya tulang punggung keluarganya. Saat ini ia telah meninggal dan untungnya ia mengasuransikan dirinya untuk berjaga jaga jika ada hal buruk menimpanya”, jelas Kinan dan segera pergi.
Reno beranjak dari duduknya setelah Kinan pergi dan ia tertawa dengan sangat puasnya, entah apa yang ia pikirkan. Tawa yang cukup menakutkan memenuhi kamar Reno dan tak ada yang mengetahui apa yang akan ia lakukan.
“Mengapa hal itu tak terpikirkan olehku? Mengasuransikan Meli? Bukankah aku telah melakukannya sejak kami menikah? mengapa tak ku habisi saja ia, tak hanya perusahaan yang ku dapat, aku pasti akan mendapatkan asuransi atas namanya”, ucap Reno dengan tawanya.
Keesokan harinya...
Langkah kaki Meli yang terburu buru dengan segera turun dari kamarnya yang berada di lantai dua dan kali ini ia mencoba menyempatkan diri untuk mengantar Raka sekolah meski ia harus mengatur kembali jam kerjanya dan membaginya dengan Raka meski cukup sulit ia lakukan. Meli turun sambil meraikan kembali setelan jas yang ia kenakan.
“Raka sudah siap? Ayo kita berangkat”, ucap Meli yang melihat ke arah jam tangannya.
__ADS_1
“Mama, Raka sudah membuat roti isi. Makanlah saat mama menyetir”, ucao Raka memberikan roti isi yang telah ia buat.
“Terimakasih sayang”, ucap Meli tersenyum sambil melahap roti yang diberikan Raka padanya.
Meli memakan roti di tangannya sambil berjalan menuju mobil disertai Raka yang berada tepat di belakangnya. Meski Raka sampai disekolah paling awal namun ia senang karena ia bisa kembali berangkat bersama mamanya seperti dahulu.
“Nanti mama akan pulang terlambat, kalau kamu mau kamu bisa bermain bersama Mira di rumah tante Rein, nanti mama yang akan menjemputmu. Atau Raka langsung pulang?”, tanya Meli.
“Tak perlu mama, Raka pulang saja. Mama pasti lelah kalau harus menjemput Raka di rumah tante Rein”, ucap Raka mencoba mengerti keadaan Meli.
“Baiklah”, jawab Meli tersenyum sambil membelai anaknya.
Setelah Meli mengantarkan anaknya, ia bergegas ke kantor untuk menyiapkan materi yang telah ia kerjakan kemarin untuk rapat hari ini. Sesampainya Meli di perusahaan ia memberikan kunci mobilnya pada penjaga untuk memarkirkannya di basement dan ia menuju ke ruangannya di lantai paling atas dari gedung itu.
Namun di dalam basement yang hanya diawasi oleh cctv dan juga beberapa penjaga yang lalu lalang, tampak sosok Reno yang memakai pakaian sebra hitam lengkap dengan topi dan masker agar tak ada yang mengenalinya. Ia merusak seluruh cctv yang berada di area basement untuk menghilangkan jejaknya dan segera menuju ke mobil Meli dan memutus kabel rem mobilnya dengan cepat. Tindakan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya yang membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang karena perasaan takut dalam dirinya. Segera ia meninggalkan area basement setelah memastikan bahwa tak ada satu orang pun yang melihat apa yang telah dilakukan oleh Reno di dalam basement.
Dari ruangan Meli, ia mengambil beberapa dokumen yang akan ia bawa untuk rapat dan memberikan seluruhnya pada Pak Hendra sekertarisnya sekligus pembimbingnya.
“Mari berangkat”, ucap Meli
__ADS_1
Meli dan Pak Hendra turun ke lantai basement dan hendak berangkat menghadiri rapat, ketika akan naik seorang pria tua menghentikan langkah Meli dan Pak Hendra. Dengan wajahnya yang menunjukan sebuah ketakutan pria tua itu berusaha untuk menghentikan Meli.
“Jangan, jangan pergi”, ucap pria tua itu dengan napas yang terengah