
Dalam kantor Sam yang sangat nyaman itu, Sam kembali di sibukkan dengan banyaknya dokumen yang harus di tanda tangani juga proposal kerjasama yang diajukan Pak Kim beberapa waktu silam. Sam sangat tertarik dengan kerja sama ini yang sudah pasti terlihat sangat menguntungkan dan perusahaan yang di jalankan Sam bisa mengembangkan sayapnya lebih lebar lagi dalam dunia bisnis dan lebih banyak di kenal orang.
Sam mengangkat teleponnya dan menelepon Suci sekertaris pribadinya untuk menjadwalkan rapat dewan direksi besok sebelum makan siang jam sepuluh pagi.
“Halo Suci, tolong kosongkan jaswal saya besok jam sepuluh sampai makan siang, lalu hubungi dewan direksi. Saya akan mengadakan rapat besok pukul sepuluh pagi.” Sam menutup teleponnya dan kembali bekerja.
Saat sedang sibuknya bekerja, Sam seperti teringat kata kata Rein semalam tentang Bela dan Pak Satrio. Namun Sam tetap pada pendiriannya, Sam akan memaafkan kesalahan para pegawainya apapun itu bentuknya namun tidak dengan pencurian dan penghianatan.
“Ingat pesanku Sam, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua”
Suara itu kembali mengganggu Sam, Sam tak bisa melepaskan suara Rein dari pikirannya. Pikirannya memang mengatakan untuk tak memaafkannya namun hatinya sangat lembut. Sam tak tega dengan mereka berdua. bagaimanapun mereka bekerja dengan sangat baik sampai akhirnya mereka menghkianati Sam.
“Astaga.. Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Mnuruti pikiranku atau hatiku?” Kata Sam pada dirinya sendiri.
Sam mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Sam terlihat cukup frustasi dan perasaan dilema terjadi pada dirinya. Sam sungguh bingung saat ini, ingin rasanya memberikan kesempatan kedua pada mereka berdua, namun Sam pasti tak bisa memaafkan mereka jika kejadian seperti ini terulang kembali.
Melihat ponsel di hadapannya, Sam ingin menelepon mereka berdua namun hati dan pikirannya masih belum sejalan. Ketakutan akan di bodohi oleh mereka berdua lebih besar dari keberaniaanya dalam mengambil keputusan untuk memanggil mereka kembali.
“Bagaimana ini? Haruskah ku hubungi mereka berdua dan memberikan kesempatan ke dua? Namun bagaimana kalau aku di bodohi untuk yang ke dua kalinya?” Tanyanya dalam hati.
Sam memutuskan untuk fokus dalam pekerjaannya terlebih dulu baru dia akan putuskan akan memberikan kesempatan kepada mereka berdua atau tidak.
Keseriusannya dalam bekerja kembali mengundang para pegawai wanita untuk kembali memandangi Sam selamaa lima sampai sepuluh menit seperti dahulu, awalnya Sam tak menyadarinya karena sudah terbiasa dengan adanya Ken yang membuat para pegawai wanita berpaling dari Sam ke Ken. Namun saat Sam melihat ke jendela ruangannya, mereka terkejut melihat para pegawainya menatapnya dengan tatapan kagum.
“Haruskah ini terjadi lagi? Apakah keputusanku memindahkan Ken adalah kebutusan yang benar?” Kata Sam sambil menatap mereka dengan terkejut.
“Astaga, benar kan kataku, Pak Sam memang tak ada bandingannya. Lihatlah ketampanannya ketiga dia bekerja dengan serius, sangat tampan bukan.” Seru Luna yang pernah duduk bersebelahan dengan Ken.
“Menjadi istri ke duanya aku rela, asalkan bisa menatap wajahnya setiap hari” Seru salah satu pegawai wanita itu.
“Apa saat ini kalian sudah berpaling dari Pak Ken? Kalian sangat tergila gila karena Pak Ken dan sekarang ketika Pak Ken sudah di pindahkan di pabrik kalian kembali pada Pak Sam? Dasar penghianat” Seru Luna.
__ADS_1
Dari ruangannya Sam hanya terdiam dan tersenyum pada mereka serta melambaikan tangannya lalu menutup jendela dengan gordonnya dan kembali bekerja.
Para pegawai yang melihat hal itu terlihat sedih karena tak bisa melihat ketampanan bos mereka itu karena Sam menutup jendela ruangannya. Para pegawai kembali bekerja di tempat mereka masing masing.
“Pak Sam adalah bos terbaik yang pernah ada kan?” Kata salah satu pegawai.
“Sepertinya iya, namun aku tak tahu, setelah lulus kuliah aku langsung bekerja di sini” Jawab salah satu pegawai.
Mereka berkumpul sebentar untuk saling bertukar pendapat atau membicarakan Sam yang tampan tiada tara itu.
“Aku pernah bekerja di tempat lain, namun tak ada pemimpin yang sangat baik seperti Pak Sam. Pak Sam membiarkan kita bekerja dengan nyaman dan membiarkan kita melihat wajah tampannya setiap hari.” Timpal pegawai lain
“Iya benar. Mungkin bos lain akan marah atau memaki kita kalau kita menatap atau melihat mereka seperti kita meihat Pak Sam. Pak Sam tak pernah marah walau kita melihat wajah tampannya selama lima sampai sepuluh menit. Yaa kan?”
Mereka berkumpul untuk membicarakan dan membandingan Sam dengan pemimpin perusahaan lain, tanpa menyadari Sam keluar dari kantornya untuk membuat kopinya sendiri di pantry. Sam berjalan mendekati mereka dan memperhatikan tingkah pegawainya yang berkumpul untuk membicarakan dirinya dan bukannya bekerja.
“Sepertinya seru sekali topik pembicaraan kalian.” Seru Sam sambil tersenyum namun tatapannya seperti siap menghajar siapapun.
“Pak Sam” Jawab mereka serentak dan langsung berdiri.
Mendengar itu para pegawai wanita cukup ketakutan dengan ancaman dari Sam yang mengatakan bahwa mereka harus lembur malam ini.
Sam meneruskan langkahnya ke arah pantry untuk membuat kopi untuk dirinya sendiri, namun Sam tak sengaja mendengar dua karyawannya membicarakan Bela dan Pak Satrio di pantry.
“Apa kamu sudah dengar berita? Bu Bela di pecat dari perusahaan karena menggelapkan uang perusahaan. Dia dibantu oleh seseorag yang bekerja di pabrik.” Kata salah satu pegawai laki lakinya.
“Jangan menyebar gosip yang belum pasti, kalau Pak Sam sampai mendengar habislah kita.” Kata pegawai laki laki lain.
“Tapi memang seperti itu gosipnya. Tak menyangka salah satu orang kepercayaan Pak Sam tega melakukan hal itu.” Balas pegawai laki laki itu.
Sam masuk dan berpura pura tak mendengar apapun dan langsung mengambil segelas cangir lalu menyeduh kopi hitam kesukaannya dan melihat ke arah para pegawainya dengan senyuman.
__ADS_1
“Kalian akan membuat kopi” Tanya Sam basa basi.
“i..iya Pak Sam. Kami telah selesai membuat kopi, waktunya kami kembali bekerja.” Jawab salah satu pegawai.
Sam menepuk bahu dua pegawainya itu dan tersenyum seperti tak terjadi dan tak mendengar apapun.
“Baiklah, bekerjalah dengan baik.” Jawab Sam.
Mereka berdua telah pegi dan hanya Sam yang ada di dalam pantry. Sam cukup kesal mendengar percakapan pegawainya itu, Sam mulai menimbang kembali untuk menerima Bela dan Pak Satrio untuk kembali ke kantor dan pabrik, namun Sam juga tak mau menjadi bahan pembicaraan karena menjadi pemimpin yang mudah di bohongi dan di bodohi oleh pegawai dan orang kepercayaannya.
Sam kembali ke ruangannya dan mencoba merenungkan segalanya sekali lagi, seperti kata Rein, jangan sampai emosinya maju terlebih dulu. Sam harus memikirkannya dengan kepala dingin atau dirinya akan menyesali segalanya.
Cukup lama Sam memikirkan masalah ini hingga tak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Banyak pekerjaan yang belum terselesaikan karena Sam memikirkan percakapan pegawainya yang membutnya sulit untuk mengambil keputusan yang bijak.
“Aku tak bisa memutuskannya. Aku butuh Rein untuk menjerihkan pikiranku.” Katanya sambil menyandarikan tubuhnya di kursinya.
Sam pulang ke rumah dan telah disambut hangat oleh pelukan anaknya juga pelukan istrinya itu yang membuat hati dan pikirannya jauh lebih tenang.
“Papa sudah pulang” Teriak Mira berlari dan memeluk Sam.
“Sam.. kamu terlihat sangat lelah sayang” Jawab ku.
Sam menggendong Mira ke pelukannya dan merangkul juga mencium keningku.
“I’m ok, hanya sedikit lelah saja.” Jawab Sam.
Malam itu Sam cukup diam di meja makan dan bicara seperluya. Dari awal melihat wajah lesunya, aku sudah menduga bahwa Sam cukup lelah dan ada banyak beban pikiran, hatinya masih belum mantap untuk menceritakannya padaku.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘