
BAB 116 | KKKK
“Sampai pada akhirnya mama jatuh cinta pada papa?”, ucap Mira segera menyimpulkan ketika ia mendengar hampir seluruh ceritaku. Aku mengangguk dan tersenyum membenarkan ucapannya.
“Jadi, pria ini telah lama meninggal? Dia cinta pertama mama?”, tanya Mira sekali lagi sambil membuka album itu kembali ke awal.
“Mira tak pernah menyangka bawa mama memiliki kisah seperti ini. Pria yang rela memberikan sisa waktunya hanya untuk satu wanita yang dicintainya. Beruntung pria itu juga dicintai oleh mama”, ucap Mira mencoba terus memperhatikan foto Rey dan perlahan membuka kehalaman selanjutya
“Tak sepertiku”, sambungnya. Kini raut wajahnya berubah, ia terlihat sedih dan wajah penyesalan mulai terlihat. Aku mengerutkan keningku tak mengerti dengan anakku ini, apa maksudnya dengan tak seperti ku?, ku pikir ia baik baik saja dengan Raka kekasihnya, apakah ia sedang bertengkar?. Aku pertanya tanya dalam pikiranku setelah melihatnya.
“Kamu sedang tak baik baik saja dengan Raka? Cobalah selesaikan dengan baik sayang”, ucapku lembut dan membelainya meski ia masih tetap saja menunduk, perlahan ku lihat air mata membasahi album foto yang dipegang Mira namun air mata itu bukan milikk, kini aku semakin bingung .
__ADS_1
“Mama... Mengapa? Kisah mama terulang kembali pada Mira? Mira bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seperti mama yang dahulu. Mama ini sangat sakit”. Ucap Mira sambil terus memukuli dadanya dan napas yang terengah menahan tangis dan rasa sakit yang terkumpul di dadanya. Suara tangisannya terdengar sangat menyakitkan, ibu mana yang tahan mendengar anaknya menangis seperti ini? Dengan cepat aku memeluk anakku yang mulai menangis dengan cukup kencang, meski aku tak tahu apa yang terjadi namun ku coba untuk menenangkan anakku saat itu.
“Mama... Mira telah putus dengan Raka sudah satu tahun lalu. Namun, hari ini Mira baru mengetahui satu kenyataan yang menyakitkan, Raka mengidap penyakit kanker darah dari setahun yang lalu dan hidupnya sudah tak lama lagi, dihari itu Mira memutuskannya begitu saja. Bukankah Mira gadis yang jahat?”, ucapnya sambil menangis di pelukanku. Ku biarkan anakku menangis sepuasnya dan meluapkan rasa kesalnya, sejenak aku berpikir. Mengapa hal seperti ini terjadi padaku? Mengapa kisah yang sama pernah terjadi padaku kini terjadi pada anakku juga? Tangisan dan teriakan yang makin keras ia keluarkan dan itu membuat hatiku sakit mendengarnya.
“Tenanglah Mira, lihatlah mama”, ucapku sambil melepaskan pelukan Mira agar ia bisa menatapkus aat aku berbicara.
“Kamu memiliki kesempatan yang tak pernah mama dapatkan sebelumnya. Dahulu mama tak mendapatkan kesempatan untuk membuat pria yang mama cintai bahagia sampai pada akhirnya ia pergi meninggalkan mama. Kini giliranmu, mama tahu kamu tak lagi mencintainya namun paling tidak, diakhir hidupnya buatlah kenangan manis untuknya. Sampai saat itu tiba, sampai tiba waktunya ia harus pergi jangan pudarkan senyumannya, sama seperti ia yang selalu membuatmu tersenyum dahulu, paling tidak berikan hal yang sama untuknya” ucapku lembut pada Mira, aku tak ingin ia menyesalinya di kemudian hari sama sepertiku. Aku kembali memeluknya dan membiarkannya berada dipelukanku selama apapun itu.
“Ku harap ia bisa melewatinya, mengapa hal ini harus terjadi padanya?”, ucapku pada Sam yang berada tepat di belakangku sambil merangkulku.
“Dia akan mampu melakukannya, jika saat itu kamu saja berhasil melaluinya maka Mira pun pasti mampu mengatasinya. Percayalah padanya sayang”, ucap Sam sambil mengecup keningku dan membawaku untuk beristirahat.
__ADS_1
Hari telah berganti, bersamaan dengan matahari yang perlahan mulai memancarkan sinarnya aku membangunkan kedua anakku melihat waktu yang telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Semua menu sarapan sudah tertata di atas meja makan dengan rapi dan juga bekal untuk kedua anak dan untuk suamiku.
“Bagun sayang. Sudah pagi, kalian tak berangkat sekolah?”, ucapku sedikit berteriak sambil mengetuk pintu kamar Mira dan Grace yang bersebelahan itu. Ku lihat Sam yang baru keluar dari kamar dengan posisi rambut yang acak acakan dan mata yang setengah terpejam berjalan menuruni tangga perlahan lahan.
“Bangunkan dahulu kedua anak gadismu sebelum kamu turun. Kalau aku yang membangunkannya mereka takkan mendengarkanku”, ucapku pada Sam yang terasa seperti separuh nyawanya masih tertinggal di kamar.
“Cepatlah sayang. Ku tunggu di bawah”, ucapku sambil mengecup pipi suamiku agar ia mampu membuka matanya dan mendengarkan ucapanku.
“Aku yakin kamu salah menciumku, seharusnya disini”, ucap Sam dengan menahan laangkahku lalu menunjuk bibirnya yang manyun. Namun aku tak mungkin memberikan apa yang ia inginkan sedangkan asisten rumah tanggaku sedang melihat ku dan Sam sambil menata makanan di meja makan.
“Jangan konyol Sam. Cepat bangunkan mereka”, ucapku sedikit malu sambil mencubit perutnya yang masih terasa sangat padat itu. Sam hanya membalasku dengan melemparkan senyuman nakal padaku. Selalu saja seperti ini, usia kami sudah tak muda lagi dan Sam masih saja suka menggodaku, tingkahnya sejak dahulu sampai ia telah berkepala empat masih saja sama.
__ADS_1