My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 75 | Kekhawatiran Meli


__ADS_3

“Kak Rein”, panggil Sam masuk ke marku bersama Laura.


Ku kira adik iparku tak bisa datang saat kelahiran keponakan keduanya namun ternyata datang. Ku sambut kedatangan mereka dari ranjangku dan membalas sapaan mereka padaku. Setelah menyapaku Ken meninggalkan Laura sendirian dan langsung mengambil Grace dari pelukan Meli, ia bahkan tak meyapa kakanya yang juga ikut menyambutnya, Ken juga tak menyadari kedataangan kedua orang tuanya.


“Aaaa.. Keponakanku cantik sekali? Siapa namamu sayang?”, tanya Sam gemas


“Namanya Grace”, ucap Sam


“Lihatlah tingkah lakumu Ken, kakak dan kedua orang tuamu berada di sini sejak tadi namun yang kamu lihat dan perhatikan hanya anakku saja”, ucap Sam heran.


“Tujuanku memang untuk bertemu dengan keponakan baru ku kak. Kalau dengan kakak aku sudah terlalu sering”, jawabnyaa


Aku tak heran lagi dengan tingkah kedua kakak beradik ini. Aku teralihkan dengan perut Laura yang semakin membesar, aku memanggilnya untuk mendekat denganku dan ku genggam tangannya.


“Bagaimana kandunganmu?”, tanyaku


“Baik baik saja kak”, jawab Laura singkat


“Bukankah kamu baru saja mengandung? Lalu mengapa bisa sebesar ini?’, tanyaku heran.


“Aku pun tak tahu kak. Usia kandunganku baru saja tiga bulan namun kata orang orang sudah terlihat seperti lima atau enam bulan”, jawab Laura sambil mengelus perutnya.


“Melihat anak kak Rein lahir, aku jadi ingin segera melahirkan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu”, tambahnya


“Kamu akan segera merasakannya Laura. Dan syukurlah tubuhmu tak membengkak seperti ku”, ucapku tertawa


“Sebengkak apapun kakak, kak Sam hanya akan memandangmu seorang kak”, ucap Laura berbisik padaku.


Kelahiran selalu membawa tawa dan kebahagiaan, sangat berbeda dengan kematian yang hanya membawa tangis dan air mata. Hari ini aku telah melewati ke dua hal itu, aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak namun aku juga merasakan bagaimana rasanya mendapatkan anak itu kembali.


Disaat saat kami semua sedang berkumpul, ponsel milik Meli berdering dan ia segera menganggat panggilannya


“Yaa, siapa ini?’, tanya Meli sopan.


“Nyonya, Tuan pingsan di rumah”, ucap aisten rumah tangga mertua Meli dengan panik


Meli membolakan kedua matanya mendengar asisten rumah tangga yang bekerja pada mertuanya melaporkan kejadian itu. Segera Meli menarik tangan Raka dan berpamitan dengan terburu buru, raut wajahnya bak seseorang yang ketakutan dan panik.


“Mel, ada apa?”, tanyaku

__ADS_1


“Papa pingsan Rein, aku tak tahu apa yang terjadi. Aku harus pulang dan melihatnya”, jawab Meli panik.


“Baiklah, beri tahu aku kalau terjadi apa apa pada mertuamu Mel”, ucapku


Meli segera meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke rumah mertuanya. Pikirannya tak tenang dan ia sangat terburu buru takut hal yag benar benar buruk terjadi pada mertua yang telah dianggap sebagai ayahnya sendiri.


Sesampainya di rumah mertuanya, Meli segera masuk untuk melihat keadaan mertuanya sambil berlari.


“Papa .... Papa....”, panggil Meli panik


“Nyonya”, jawab asisten rumah tangga


“Tuan ada di kamarnya. Saya sudah menghubungi dokter pribadi tuan, saat ini ada dikamar”, ucap asisten rumah tangga dengan kepala yang menunduk dan sedih.


Segera Meli menuju kamar ayahnya dan meinggalkan Raka di bersama asisten rumah tangga itu, ketika ia membuka kamar mertuanya ia mendapati mertuanya terbaring lemah dengan posisi mulut miring ke kanan. Meli yang ketakutan mendekat pada mertuanya dan memegang tangannya.


“Bagaimana keadaan papa saya?”, tanya Meli sedih.


“Menurut analisa saya Pak Rudy terkena stroke. Saya berikan beberapa obat yang kebetulan saya bawa. Setelah ini mohon periksakan Pak Rudy ke rumah sakit”, ucap dokter sambil memberikan obatnya.


Jantung Meli berdebar cukup kencang setelah mengetahui bahwa mertuanya mengidap stroke. Meli bahkan tak habis pikir, mertua yang selalu menjaga gaya hidup dan juga pola makannya hari ini terbaring lemah di ranjangnya dan mengidap penyakit stroke.


Setelah dokter itu pergi, Meli turun dan berbicara pada Bi Asih, aisten rumah tangga mertuanya itu. Meli merasa ada yang aneh dengan kondisi mertuanya yang sebelumnya baik baik saja, kecurigaannya sangat besar pada satu orang yang paling ia benci yaitu manatan suaminya, Reno.


“Bi Asih”, panggil Meli.


“Saya nyonya”, jawab Bi Asih.


“Mengapa papa bisa seperti ini? Bukankah papa baik baik saja sebelumnya? Minggu kemarin saat saya kemari tak ada yang terjadi pada papa”, tanya Meli curiga.


Bi Asih tertunduk dan tak berani menatap Meli saat itu dan membuat Meli berpikir yang tidak tidak. Dengan mengerutkan alisnya dan menyilangkan kedua tangannya Meli terus mendesak Bi Asih agar ia berbicara jujur pada Meli.


“Cepat katakan Bi. Ada apa?”, desak Meli


“Kalau bibi masih juga tak bicara, saya periksa cctv di rumah ini”, ancam Meli


“Ah, jangan nyonya. Baiklah. Tuan Ren kemari sambil berteriak dan membanting guci kesayangan mendiang nyonya Tyas”, jawab Bi Asih dengan sedikit ketakutan


Meli melihat Bi Asih yang sedikit ketakutan dan tangannya yang terlihat bergetar menceritakan kejadian yang diketahuinya dan Meli percaya pada perkataan Bi Asih yang dirasa benar.

__ADS_1


“Apa yang Reno bicarakan dengan papa sampai paapa pingsan?”, tanya Meli


“Saya tak tahu nyonya. Sebab tuan Rudy menyuruh saya keluar dari ruangannya saat saya sedang berbenah”, jawab Bi Asih


Meli seperti kehilangan kesabarannya dan menitipkan Raka di rumah ini dengan Bi Asih untuk sementara. Meli tak terima mertuanya menjadi seperti ini karena Reno, dengan membawa tasnya Meli segera meninggalkan rumah itu dan menuju tempat di mana Reno berada. Hatinya seperti terbakar karena ia lagi lagi harus berurusan dengan Reno.


“Aaarrgghh, laki laki itu!!. Untuk apa lagi dia datang ke rumah papa?”, geram Meli


Meli tak sudi lagi menginjakkan kakinya di rumah yang pernah menjadi kenangan indah dan juga kenangan buruk baginya selama ia menikah dengan Reno. Sesampainya di rumah itu, Meli mencoba masuk dan memarkirkan mobilnya di luar pagar. Dengan penuh amarah Meli membuka pintu rumah dengan cukup kencang dan ia melihat bahwa Reno sedang bermesraan dengan pelacurnya, Kinan.


“Indah sekali hidupmu Reno”, uap Meli kesal.


Mendengar suara Meli, Reno terkejut dan segera berdiri dan melihat ke arah Meli. Wajahnya pun terlihat sangat kesal karena Meli kembali menginjakkan kakinya di rumah ini.


“Berani beraninya kamu kembaali kemari?”, ucap Reno kasar


“Apa yang kamu lakukan pada papa?”, tanya Meli tanpa basa basi lagi.


Reno menyeringai mendengar pertanyaan dari Meli dan ia mengerutkan alisnya sambil tersenyum berpura pura tak mengerti dengan pertanyaan yang ditanyakan Meli


“Apa maksudmu? Aku tak mengerti”, jawab Reno berpura pura.


PLAAKK


Tamparan keras mendarat di pipi Reno hingga meninggalkan bekas merah. Reno melihat ke arah Meli dengan tatapan dinginnya dan memegangi pipiya yang memerah akibat tamparan dari Meli yang sudah lama tak ia rasakan.


“Apa apaan ini?!!!”, teriak Reno


“Kalau hal buruk terjadi pada papa. Aku bersumpah akan membunuhmu Reno. Dengarkan itu”, ancam Meli.


Reno mendekati Meli dan menatapnya dengan amarah yang menyala nyala sambil mengepalkan tangannya seperti telah siap untuk membalas tamparan yang ia terima dari Meli. Tanpa rasa takut Meli tetap berdiri di tempatnya meskipun Reno melangkah makin dekat pada dirinya.


“Apakah kamu sedang mengancamku?”, Tanya Reno


“Kalau kamu menganggapnya sebagai ancaman akan sangat bagus sekali untukmu”, jawab Meli tenang.


Meli meninggalkan rumah itu setelah selesai membuat keributan didalam rumah Reno, ingin rasanya ia menghajar Reno lebih lagi hingga ia babak belur tepat di hadapannya.


“Kalau bisa ku bakar rumah ini beserta isinya lengkap dengan Reno dan wanita itu didalamnya”, seru Meli kesal.

__ADS_1


__ADS_2