
Ayah Reno saat ini hidup sendiri semenjak Reno menikah dengan Melli. Karena itu ia sangat kesepian dan butuh seorang teman, Raka sering sekali diajak Meli untuk mengunjungi kakeknya di rumah ketika mertuanya memiliki waktu luang dan kali ini Meli datang seorang diri, berat rasanya utuk mengatakan hal ini namun bagaimanapun juga Meli harus tetap mengatakannya. Dengan memainkan jemarinya, Meli memasuki rumah mertuanya.
“Papa”, sapa Meli.
Pak Rudy menoleh melihat menantu kesayangannya telah tiba dan memeluknya. Pak Rudy sudah terlihat sangat tua namun ia masih memaksakan dirinya untuk bekerja. Pak Rudy hanya memiliki satu anak laki laki yaitu Reno, laki laki yang dinikahi oleh Meli namun Reno bahkan tak pernah menengok ataupun melihat satu satunya orang tua yang ia miliki.
“Papa baik baik saja?”, tanya Meli.
“Ya.. Papa sengan kamu datang kemari karena papa sangat kesepian”, jawab Pak Rudy
“Jadi, ada perlu apa kamu kemari?”. tanya Pak Rudy sambil menyeruput teh hangat yang disediakan oleh asisten rumah tangganya.
Meli sempat mengurungkan niatnya untuk memberitahu bahwa minggu depan Meli dan Reno akan menghadiri sidang perceraian. Namun tak ada waktu lagi dan inilah waktu yang tepat untuk Meli mengatakan segalanya pada ayah mertuanya.
“Papa, maafkan Meli sebelumnya karena mungkin Meli belum bisa menjadi menantu yang baik untuk papa”, ucap Meli mencoba mengatakan yang sebenarnya.
“Papa mengerti Meli. Alasan kamu ingin mengambil lima persen saham yang papa berikan padamu dan hubunganmu dengan Reno. Papa mengetahui segalanya sebelum kamu menceritakannya pada papa”, ucap Pak Rudy.
“Namun yang disayangkan, mengapa kamu tak pernah menceritakannya pada papa? Mengapa kamu tak jujur pada papa? Apakah tak ada yang sudah menganggap keberadaan papa lagi?”. Ucapnya menahan tangis.
Meli terkejut mendengar mertuanya mengatakan itu, ia membulatkan matanya dan langsung menggenggam tangan ayahnya ketika ia melihat ayahnya menangis. Meli merasa sangat jahat sekali karena merahasiakan hal ini dari mertuanya.
“Tidak papa. Bukan itu maksud Meli. Meli masih menganggap bahwa papa adalah orang tua Meli sendiri. Meli menyayangi papa. Jangan berpikir seperti itu papa, hal ini membuat Meli sedih”. Ucapnya memeluk ayah mertuanya.
“Hanya kamu yang menganggap papa. Bahkan anak kandung papa sendiri tak pernah datang mengunjungi papa disaat papa masih bisa bekerja seperti ini. Bisakah kamu membatalkan perceraianmu dengan Reno? Demi papa Meli. Demi papa”, pinta ayahnya.
Meli melihat ke dalam mata ayahnya. Ingin rasanya ia mengabulkan keinginan ayahnya ini namun dirinya sendiri sudah tak sanggup lagi menjalani pernikahan yang seperti ini. Untuk apa ia harus terus hidup dengan laki laki yang bahkan tak pernah mencintainya sama sekali?
Meli menggelengkan kepalanya seraya menunduk sambil menangis. Ia menyesal karena tak bisa mengabulkan permintaan ayahnya ini. Perlahan Pak Rudy melepaskan tangan Meli dan tersenyum sambil memeluk Meli.
__ADS_1
“Maafkan papa yang sudah egois Meli. Maafkan Reno yang telah menyakitimu selama ini. Apapun keputusanmu, papa akan mendukungmu nak. Dan meskipun kamu sudah bercerai dengan Reno percayalah kamu masih anak papa sampai kapanpun juga”, ucap Pak Rudy merelakan.
Perkataan Pak Rudy membuat hati Meli terenyuh. Perasaan hangat mengalir memenuhi hati dan jiwanya. Mungkin Meli menikahi laki laki yang salah namun ia mendapat aayah yang luar biasa meskipun Pak Rudy bukanlah ayah kandungnya sendiri. Meli menangis dan sujud di kaki ayah mertuanya, air matanya sudah tak lagi bisa ia bendung.
“Papa, terimakasih telah menjadi papa yang baik untuk Meli selama ini. Sampai kapanpun papa akan tetap menjadi papa Meli. Meli mohon setelah Meli resmi bercerai dengan Reno, papa ikut bersama Meli”, pintanya sambil bersujud.
Hal yang seharusnya ia dengar dari Reno anak kandungnya sendiri namun kata kata ini terucap dari menantunya. Pak Rudy menggelengkan kepalanya bukan karena ia menolak permintaan Meli namun ia tak bisa meninggalkan anaknya. Dengan terus menahan rasa sedih Pak Rudy menolak halus ajakan Meli.
“Papa tak mungkin meninggalkan Reno lalu ikut denganmu”, tolaknya
Meli menganggukkan kepalanya, ia mengerti bahwa Pak Rudy sangat menyayangi Reno meskipun Reno tak pernah sekalipun memperlakukan ayahnya dengan baik, Meli masih tetap memohon untuk Pak Rudy bisa ikut dengan Meli seperti keinginanya.
“Kapanpun papa ingin berkunjung ke rumah Meli atau ingin tinggal dengan Meli dan juga Raka, pintu rumah Meli akan terus terbuka untuk papa”. Ucapnya sambil memberikan alamat rumah miliknya.
“Meli pulang ya pa. Papa jaga kesehatan papa”, ucap Meli berpamitan.
Hari menjelang sore dan aku mulai memasak untuk makan malam nanti. Menyiapkan segalanya dengan rapi agar Sam bisa makan dengan tenang dan nyaman. Setelah aku memasaak aku segera memandikan Mira sebelum Sam datang. Ku lihat Mira masih dengan dunianya dengan segala boneka dan bermacam macam mainan lainnya yang Ken berikan padanya.
“Baiklah, ini teh nya. Lalu apa lagi yang om Ken inginkan?”, tanya Mira kembali.
Aku melihat Mira berbicara sendiri sambil terus menyebutkan nama Ken disetiap ia bermain, aku memahami perasaan rindu yang dialami oleh Mira yang sangat menyayangi Ken. Mira mencoba melampiaskan rasa rindunya pada tiap mainan yang diberikan Ken padanya.
“Mira, waktunya mandi. Sebentar lagi papa akan pulang”, ajakku menghampiri Mira.
“Apakah om ken juga akan ikut pulang mama?”, tanya Mira bersemangat.
Aku semakin mendekati Mira sambil menggelengkan kepalaku lalu duduk di sebelah Mira bersama dengan segala macam boneka yang telah ditata dengan sanagt rapi olehnya. Melihat Mira yang sangat merindukan Ken, aku membelai rambut anakku itu dan mencium keningnya.
“Mira sangat merindukan om Ken ya? Bagaimana kalau setelah mandi kita menghubungi om Ken dengan panggilan video, apa Mira mau?”, tanyaku menyenangkan Mira.
__ADS_1
Mira mengangguk sambil melompat kegirangan sambil melompat lompat dan tiba tiba ponselku berbunyi, segera ku ambil ponselku dan mengangkat panggilan dari Meli sahabatku dan ku tinggalkan Mira sebentar.
“Ya Mel. Ada apa?”, jawabku
“ Apa kamu ada waktu besok Rein?”, tanya Meli.
“Hmm.. Besok? jam berapa? aku hanya bisa pagi karena besok akan ada makan siang bersama di rumah papa”, jawabku.
“Baiklah. Ada yang ingin ku katakan. Bawa saja Mira bersamamu, Raka merindukan adik kecilnya”, ucap Meli.
“Ok. See you Mel”. Ucapku mengakhiri panggilan.
Aku kembali menghampiri Mira yang sedang membereskan mainannya disaat aku sedang menerima panggilan. Waktu telah menunjukkan pukul enam sore dan aku memanggil Mira untuk mandi sendiri sementara aku membereskan segala macam mainan Mira yang berserakkan.
Dalam rumah ketika aku dan Mira tengah menghubungi Ken, aku mendengar bunyi klakson mobil Sam yang terparkir di garasi rumah. Ku biarkan Mira terus berbicara dengan Ken sedang aku menyambut Sam yang telah pulang.
“Sudah pulang sayang”. Ucapku membawakan tas dan jas yang selalu ia lepaskan.
“Dimana Mira?”. Tanya Sam sambil mencium keningku.
“Mira sedang melakukan video call dengan Ken. Ia sangat merindukan Ken”, jawabku.
“Saam, besok aku bertemu dengan Meli dengan membawa Mira ya.”, ucapku meminta ijin.
“ Baiklah namun jangan sampai terlambat acara makan siang besok Rein”, ucapnya lalu mencium pipiku.
Aku tak mennyangka bahwa akhirnya aku mencintainya. Laki laki yang selalu ku sakiti dengan setiap perbuatan dan kata kataku yang mengatakan bahwa aku takkan pernah mencintainya, nyatanya Sam berhasil menarikku keluar dari masa laluku dan melupakan Rey untuk selamanya. Aku berlari dan merangkul lengan Sam dan menyandarkan kepalaku pada lengannya.
“Ada apa? Tak biasanya kamu seperti ini”, ucap Sam heran.
__ADS_1
“Tidak ada. Sudahkah aku mengatakan bahwa aku mencintaimu Sam?”. Tanyaku sambil mencium pipi Sam lalu berlari meninggalkannya.
“Rein, sepertinya Mira harus mempunyai adik”. Ucapnya sambil mengejarku.