
Raka tertawa puas melihat ekspresi Arka yang terkejut seakan tak percaya itu, dengan mudahnya ia termakan kata kata Raka. Suasana dalam kafe itu cukup ramai karena suara tertawa Raka yang cukup kencang, membuat semua mata tertuju pada meja mereka bertiga.
“Ah.. Tak seperti itu Arka. Kakak hanya bercanda saja. Kami tak pernah tidur bersama. Mungkin pernah, ketika kami kecil dahulu”, ucap Mira mencoba menjelaskannya dengan panik karena takut Arka semakin salah paham terhadap hubungannya dengan Raka. Mira meraih tangan Raka dan menggigitnya karena merasa sangat kesal karena mangganggu saat berdua bersama kekasihnya.
“Kakak. Pulanglah, jangan ganggu aku dan Arka!!” usirnya dengan nada kesal sambil mengepalkan tangannya di atas meja melihat Raka masih saja tertawa puas.
“Apa? Pulang? Tidak, kamu pulang bersamaku”, ucap Raka menolak perintah Mira untuk pulang, ia ingin Mira ikut pulang bersamanya dan bukan bersama Arka.
Sebelumnya ia telah menghubungi Sam sesaat ketika ia melihat Mira dan Arka masuk ke kedai kopi yang sama dengannya untuk meminta ijin menjemput Mira pulang sekolah. Seakan tak mengijinkan mereka berdua berdekatan, Raka mencoba segala cara untuk menjauhkan mereka.
“Papa memintaku untuk menjemputmu sepulang sekolah, itu artinya kamu pulang bersamaku”, ucap Raka lembut dengan terus menatap Mira sambil tersenyum manis, pandangannya tak lepas dari Mira, membuat Arka semakin kesal.
“Mira pulang bersamaku, aku kekasihnya, aku yang membawanya kemari dan aku yang akan mengantarkannya pulang”, ucap Arka yang tak ingin kalah dari Raka, sambil memegangi tangan Mira, ia menatap Raka dalam dalam. Tak ada ketakutan sedikitpun di mata Raka melihat tingkah Arka yang berulah dihadapannya, Raka hanya menanggapinya dengan santai dan kembali menatap Mira.
“Coba hubungi papa kalau kamu tak percaya”, ucap Raka pada Mira lalu membalas tatapan Arka yang terlihat seperti sedang menantang dirinya. Ucapan Raka pun dilakukan oleh Mira, ia langsung menghubungi Sam untuk mengatakannya langsung pada dirinya. Dengan mengambil ponselnya dalam tas, Mira mulai menghubungi Sam.
Dari dalam ruangannya, Sam terlihat sangat sibuk dengan seluruh dokumen di atas mejanya, mendadak ponselnya berdering ketika ia sedang berkonsentrasi dalam bekerja.
__ADS_1
“Ada apa Mira?”, tanya Sam dengan mata yang tertuju pada dokumen yang sedang ia pegang
“Papa menyuruh kakak menjemputku? Untuk apa?”, tanya Mira dihadapan dua pria yang sedang menatap menunggunya.
“Ikuti saja Raka, papa sangat sibuk Mira. Maafkan papa”, ucap Sam lalu mengakhiri panggilannya. Mira meletakkan kembali ponselnya dan menatap Raka dengan wajah kesal, matanya seperti berapi api ingin segera menghajar Raka yang selalu saja mengganggu kebersamaannya dengan Arka. Meski begitu, Mira adalah anak yang sangat patuh dan lagi ia sangat menyayangi Sam, segala ucapan dan perintahnya tak pernah ia langgar termasuk kali ini. Dengan menghela napas panjang ia menatap Arka menyesal.
“ Maafkan aku, aku harus pulang bersama kakak”, ucap Mira sedikit menyesal namun hal itu membuat Raka sangat bahagia karena pada akhirnya rencananya berhasil. Ia menatap Arka dengan tatapan meremehkan, Mira segera membereskan barang barangnya dan mengikuti Raka.
“Aku akan menjemputmu besok. Mari kita berangkat bersama”, ajak Arka menahan langkah Mira dengan memegang pergelangan tangannya dan tersenyum. Mira hanya mengangguk membalas senyuman Arka lalu mengikuti Raka keluar dari kafe itu. Sangat terlihat wajah bahagia Raka ketika ia berhasil merebut Mira dan membawanya pulang bersamanya. Raka terlihat sangat bahagia namun Mira memasang wajah keruh sepanjang perjalanan, satu pun ucapan Raka tak ada yang ditanggapi olehnya.
“Kamu masih kesal padaku?”, tanya Raka sambil sesekali menatap kearah Mira. Namun Mira tetap tak menanggapi Raka sedikitpun, ia terus saja memalingkan wajahnya. Bukan Raka namanya jika ia tak bisa membuat Mira embali tertawa dan berbicara padanya.
“Tak perlu membelikannya untuku, aku takkan memakannya”, ucapnya dengan nada yang kesal. Raka tersenyum mendengar Mira pada akhirnya menanggapinya meski hal itu hanyalah sebuah penolakan.
“Aku tak berniat mebelikanmu. Kamu pikir adikku hanya satu?”, ucap Raka menggoda Mira. Mendengar Raka menggodanya, Mira memukuli lengan Raka dan sesekali mencubit lengannya yang padat itu, bukan sakit yang dirasakan melainkan geli. Raka memegang tangan Mira yang yang sedang mencubitnya lalu mengecup punggung tangannya, membuat Mira terkejut melihat Raka yang dengan berani kengecup punggung tangannya.
“ Turun dan ikutlah bersamaku”, ucap Raka dengan nada sedikit memohon, wajahnya yang tersenyum manis lagi lagi berhasil membuat jantunya berdegup cukup kencang. Didalam mobil, Mira terpanah dengan tatapan Raka padanya, lagi lagi ia tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia yang sudah memiliki kekasih namun pria lain berhasil menggetarkan hatinya, hal itulah yang tak ia mengerti.
__ADS_1
Mira tersadar dari lamunannya dan ikut turn bersama Raka untuk membeli kue yang katanya untuk Grace dan bukan untuk dirinya. Raka menarik lengan Mira dan merangkulnya seperti tak ingin berpisah dari Mira Namun entah mengapa Mira merasa nyaman berada dalam rangkulan Raka, ia membiarkan Raka merangkulnya tanpa melakukan perlawanan. Tanpa sadar perlahan ia menerima perasaan Raka dalam bentuk apapun, Mira tak menyadari bahwa dirinya sangat nyaman bersama Raka, namun bagaimana dengan Arka? Bagaimana dengan perasaannya pada Arka? Mana yang sungguhan? Mira tak mengetahuinya. Cinta adalah hal baru baginya.
“Bagaimana dengan besok? Kamu akan berangkat dengan Arka?”, tanya Raka pada Mira ketika mereka telah sampai di depan rumah Mira.
“Sepertinya ia”, jawab Mira singkat dengan membawa dua papper bag berisi kue kesukaannya.
“Kalau kamu berubah pikiran hubungi aku, aku akan menjemputmu”, ucap Raka dengan harapan bahwa Mira akan membatalkan janjinya dengan Arka lalu pergi dengannya. Namun Mira menggelengkan kepalanya, bagaimanapun juga Arka adalah kekasihnya dan ia sangat mencintai Arka. Seketika suasana menjadi hening beberapa saat, perlahan Mira menatap Raka dengan tatapan tak mengerti.
“Bisakah kakak hentikan semua ini? Aku sungguh sedikit tak nyaman”, ucap Mira langsung pada intinya. Mira sangat tak nyaman dengan segala perlakuan Raka yang sangat jauh berbalik dari apa yang biasanya ia lakukan pada Mira. Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan Mira, sambil memegang tangan Mira Raka mencoba menjelaskannya kembali.
“Sudah ku bilang sejak awal. Terserah padamu ingin menanggapi ku atau tidak. Yang pasti aku takkan menyerah Mira. Aku tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja kamu tak menyadarinya. Tak perlu melakukan apa apa, diam dan rasakan. Biarkan hatimu yang bicara”, ucap Raka lalu mencium kening Mira dengan lembut, kali ini pun Mira diam dan tak memberikan perlawanan seakan tubuhnya mematung menerima segala perlakuan Raka padanya.
“Apa artinya kecupan itu?”, tanya Mira menatap Raka dengan polosnya. Raka seperti tak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika Mira menatapnya, setelah ia berhasil mengecup kening Mira, ia menginginkan lebih.
“Kamu artikan sendiri arti kecupan itu”, ucap Raka sambil terus menahan dirinya untuk tak melakukan hal bodoh, matanya terus saja tertuju pada bibir Mira yang membuatnya hampir gila. Mereka bukan lagi anak anak beusia enam tahun lagi.
“Mira, segeralah masuk. Aku tak bisa menjamin keselamatanmu saat kamu masih bersamaku didalam mobil ini”, ucap Raka dengan menahan dirinya dengan tatapan yang sangat menyeramkan pada Mira, membuatnya takut dan akhirnya turun dari mobil Raka segera.
__ADS_1
“Berhati hatilah kak”, ucapnya sambil berlari masuk kedalam rumahnya