
Semalaman Mira menjaga Raka disaat Meli sedang tak ada di rumah. Dengan alasan pada Sam yang mengatakan bahwa ia harus menginap disalah satu tempat sahabatnya, sepenuh hati ia menjaga dan menugurus pria yang selama ini ia sebut sebagai kakak. Hingga ia merasakan hatinya kembali bergetar, Mira tak bisa lagi membohongi dirinya bahwa ia merasakan hal yang sama seperti Raka, Mira tak lagi menyangkal bahwa ia mencintai Raka, ia lebih mencinta Raka daripada Arka. Didalam sebuah kamar yang hanya ada mereka berdua, Mira memegangi dadanya sambil menatap Raka dalam dalam.
“Kakak. Sepertinya Mira juga menyukai kakak. Namun Mira tak bisa meninggalkan Arka begitu saja, cintanya sangat tulus untuk Mira. Bukankah Mira akan terasa sangat jahat jika meninggalkan Arka begitu saja?”, lirihnya dengan pelan nyaris tak terdengar.
Sinar matahari pag menembuh kamar Raka dan menyilaukan mata Mira yang tertidur lelap saat itu, tanpa sengaja Mira terbangun merasakan sinar yang cukup terang seperti menembus matanya. Segera ia meletakkan telapak tangannya pada kening Raka untuk memeriksa suhu tubuhnya.
“Demam kakak sudah turun, waktunya aku pulang”, ucapnya lembut. Mira meregangkan tubuhnya sesaat dari tidur yang kurang nyaman semalam dan segera mengambil tas yang ada di sampingnya untuk segera bergegas pulang melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Baru saja Mira berdiri sebuah tangan meraih pergelangan tangan Mira dan menghentikan langkanya.
“Kamu sudah ingin pergi? Sepagi ini?”. Tanya Raka yang perlahan membuka kedua matanya. Mira terhenti dan melihat kearah Raka yang sedang terbaring di kasur, Raka terlihat baik baik saja pagi ini membuat Mira senang.
“Kakak sudah bagun? Baru saja Mira akan pergi pulang. Beristirahatlah kak, besok Mira akan datang lagi”, ucap Mira seraya melepaskan genggaman tanangan Raka darinya. Namun Raka tetap memegangi tangan Mira dan berdiri perlahan lahan, tubuhnya bahka terasa belum pulih sepenuhnya ketika ia mencoba berdiri.
“Aku yang akan mengantarmu”, ucap Raka dengan senyumannya. Keinginan Raka ditolak halus oleh Mira dengan menggelengkan kepalanya, segera ia mengambil jaket dari lemarinya dan menggandeng tangan Mira keluar dari kamarnya.
“Kak. Sungguh, Mira bisa pulang sendiri. Kakak beristirahatlah, kakak baru sembuh”, ucap Mira mencoba menolak niat baik Raka yang ingin mengantarnya pulang. Tak ada jawaban dari Raka saat itu, tanpa melepaskan tangan Mira, ia terus menggandeng Mira menuruni anak tangga.
“Mana mungkin aku membiarkan gadisku pulang sendirian?”, ucap Raka sambil berjalan terus tanpa melihat ke arah Mira yang berada di belakangnya. Seperti hampir copot rasanya jantung Mira mendengar Raka mengatakan hal gila seperti itu, Mira tersipu malu ketika Raka mengatakan seakan dirinya adalah milik Raka.
__ADS_1
“Apa maksud kakak?”. Tanya Mira mencoba menahan langkahnya namun Raka lebih kuat dari Mira, dengan satu tarikan Raka mampu membuat Mira kembali berjalan dan mendekat pada Raka. Segera ia merangkul Mira dan meneruskan langkahnya.
“Bukankah kamu yang mengakui perasaanmu?”, tanya Raka tersenyum senang. Jantung Mira berdetak semakin kencang saat Raka merangkulnya dan lagi aroma khas milik Raka membuatnya menggila. Mira mendorong Raka sedikit menjauh darinya mendengar jawaban Raka, Mira membolakan kedua matanya terkejut bahwa Raka tak tertidur ketika ia mengatakan perasaannya malam itu.
“Kakak, mendengarnya?”, tanya Mira terbatah batah. Raka kembali mendekati Mira dan merangkulnya lalu mencium keningnya membuat Mira semakin hanyut oleh perlakuan Raka atasnya.
“Jadi ini hari pertama kita?”, ucap Raka mencoba menggoda Mira yang sedari tadi terlihat tersipu malu karena ulahnya yang terus saja menggoda Mira.
“Apa maksudnya hari pertama kita? Aku masih memiliki kekasih kak”, bantah Mira. Meski ucapannya terdengar membantah namun wajahnya terlihat senang, seperti tak ada penolakan darinya. Raka mengehntikan langkahnya dan menatap Mira yang berada di sampingnya sambil tersenyum.
“Aku bersungguh sungguh. Tentukan pilihanmu, aku atau Arka. Kalau kamu tetap memilih Arka, maka..”, ucap Raka sambil memutarkan bola matanya seperti mencari seuah alasan.
“Maka?” Tanya Mira dengan rasa penasarannya
“Maka aku akan membuatmu putus dengan Arka bagaimana pun caranya, meski artinya aku harus mengorbankan segalanya untuk mendapatkanmu” ucapnya dengan mencubit kedua pipi Mira lembut.
Kini setengah hati Mira seperti terpenuhi oleh Raka, sepertinya hati Mira terbagi menjadi dua. Ia mencintai Arka namun juga merasa sangat nyaman dengan Raka, Mira menyadari bahwa masalah ini tak bisa dibiarkan. Namun untuk saat ini, mata Mira tertuju pada Raka seorang.
__ADS_1
...****************...
Suasana di rumah saat itu cukup ramai karena Sam ada dirumah pagi itu, Saat itu adalah hari minggu dan Sam tak bekerja, bersamaku dan Grace, kami saling bercakap dan tertawa bersama hingga Mira masuk kedalam rumah dengan menggunakan baju yang sama ketika ia keluar kemarin malam.
“Sudah pulang? Dari mana kamu semalam?”, tanya Sam yang sedikit tak percaya dengan ucapan Mira yang kala itu mengatakan bahwa dirinya harus menginap disalah satu rumah temannya. Namun Sam tetap mengatakannya dengan lembut agar tak terkesan bahwa ia sedang meragukan anak sulungnya itu.
“Bukankah Mira sudah meminta ijin untuk menginap di salah salah satu rumah teman? Maaf karena itu sedikit medadak papa”, ucapnya dengan sedikit menyesal karena telah membohongi Sam. Mira segera naik ke kamarnya dan membersihkan diri lalu turun untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Sam menatap Mira sambil tersenyum seakan mengetahui sesuatu namun Mira mencoba untuk memalingkan wajah dari ayahnya saat itu karena takut ketahuan bahwa ia telah berbohong.
“Bagaimana hubunganmu dengan Arka? Baik baik saja? Atau sudah putus?”, tanya Sam penasaran dengan hubungan Mira saat itu. Sekarang Mira berganti melihat ke arah Sam yang tersenyum hangat padanya, ia ragu untuk mengatakannya.
“Papa, apa papa pernah mencintai dua orang sekaligus?”, tanya Mira sedikit menunduk, ia bahkan tak berani menatap Sam yang berada di hadapannya pagi itu. Suasana yang ceria dalam sekejap menjadi sunyi karena pertanyaan Mira, Sam tersenyum karena Mira telah mengahadapi fase ini dalam menjalin sebuah hubungan.
“Mira, tak ada seorang pun yang dapat mencintai dua orang sekaligus atau mungkin lebih. Kalau kamu sampai mencintai dua orang sekaligus maka pilihlah salah satu. Kamu tak bisa menduakan cinta sayang”, jelas Sam dengan sangat lembut pada Mira yang terlihat sangat bingung saat itu.
“Bagaimana cara Mira memilih? Mana yang benar dan mana yang salah? mana yang lebih baik dan mana yang harus Mira tinggalkan?”, tanya Mira kembali dengan kebingungan menentukan pilihannya. Aku duduk mendekat pada Mira dan memegang kedua tangannya sambil sesekali menepuk pundaknnya.
“Sayang, benar kata papamu, kamu tak bisa menduakan cinta, ikuti kata hatimu. Krena jika kamu mencintai yang pertama tak mungkin kamu mencintai yang kedua. Namun jika kamu mencintai yang kedua, maka kamu tak benar benar mencintai yang pertama. Mengerti sayang?”, ucapku lembut pada anakku yang baru saja mengenal cinta.
__ADS_1