
Dimalam hari yang sejuk dan cukup dingin kurasakan, aku mengambil selimut dan berbaring di kasur sambil memainkan ponselku, cahaya lampu yang cukup remang dan juga suasana yang sangat nyaman mendukungku untuk tetap berada dikasur dari pada menemani Sam menunggu Mira pulang. Saat ini masih pukul delapan malam namun wajah Sam sudah terlihat masam sejak Mira meninggalkan rumah untuk melakukan tugas kelompok. Bayangkan saja, wajah Sam sangat masam hanya karena Mira pergi dengan teman pria nya untuk mengerjakan tugas kelompok lalu bagaimana jika Mira meminta ijin untuk pergi kencan dengan teman pria nya? Aku yakin Sam akan cemburu buta melihat anak gadisnya menggandeng dan bermanja di bahu pria lain.
“Hah!! Dahulu ia sangat posesif terhadapku. Dan sekarang ia sangat posesif pada anak gadisnya sendiri”, ucapku sambil memainkan ponselku sambil melihat beberapa pria yang bertubuh kekar dan bertelanjang dada. Mengapa? Apakah salah? Aku juga wanita dan aku juga suka melihat pria pria tampan berbadan atletis dan kurasa hampir seluruh wanita juga menyukainya.
Mataku seperti memancarkan sinar yang terang melihat semua foto foto itu dan aku tak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang sedang memperhatikanku, melihatku dari kejauhan lalu berjalan mendekat perlahan lahan hingga aku tak mendengar suara langkah kakinya.
“Sudah puas melihatnya?”, ucap Sam yang saat ini tepat berada di belakangku, dengan melihat kedua tangannya sejajar dengan rusuknya, ia memiringkan kepalanya sedikit dan wajahnya terlihat cukup menyeramkan bagiku. Dengan cepat ku, aku terkejut tiba tiba mendengar suaranya, akibat terlalu asik memainkan ponselku aku sampai tak mendengar Sam masuk ke dalam kamar.
“Sam, kamu mengejutkanku saja”, ucapku dengan ekspresi sangat terkejut dan memegangi dadaku. Ku letakkan ponselku di meja tepat di sampingku lalu melihat jam dinding di sisi kiriku, ku kira Sam masih betah berlama lama di ruang tengah menunggu Mira datang namun pukul delapan malam Sam sudah masuk ke kamar dan berbaring disamping ku sambil terus menatapku dengan perasaan kesalnya.
“Seperti tak pernah melihat tubuh yang seperti itu saja”, ucapnya kesal padaku. Aku terkekeh mendengar perkataan Sam yang terkesan cemburu padaku. Ku genggam kedua salah satu tangan Sam dan ku lekatkan diwajahku.
“Aku terlalu serinng melihatnya. Namun jaman sudah berubah, mereka memiliki tubuh yang lebih indah dari dirimu Sam”, ucapku sambil menggelitik perut Sam yang masih terasa keras dan berbentuk. Sam membalasku dengan menggelitik perutku sama seperti yang ku lakukan padanya namun aku menahan kedua tangan Sam dan menjauh darinya.
“Ah.. Jangan. Jangan perutku”. ucapku menahan kedua tangan Sam.
“Ada apa? Aku memperbolehkan mu menyentuh perutku namun aku tak boleh menyentuhnya?”, tanya Sam bingung sambil terus mendekatkan wajahnya padaku. Aku terdiam dan menatapnya, aku sudah tak bisa lagi menghindarinya karena posisinya yang berada tepat di adatsku dan sangat dekat dengan wajahku.
__ADS_1
“Ti.. Tidak seperti itu. Tubuhmu masih bagus namun milikku sudah tak seperti dahulu”, ucapku malu lalu menarik selimut hingga menutupi sampai sebagian wajahku. Sam mendekat dan menempelkan hidungnya yang mancung dengan hidungku yang biasa saja.
“Dari dulu sampai sekarang pun tak ada yang berubah darimu. Aku mencintai dirimu yang dahulu dan yang sekarang, perasaan itu takkan beruhbah hanya karena perubahan kecil yang ada pada tubuhmu”, ucap Sam menyentuh lembut wajahku. Ia menyentuh dari keningku lalu turun ke batang hidungku dan terus turun menyentuh bibirku. Ia melanjutkan sentuhannya ke dagu dan leherku. Aku merinding dibuatnya, nafasku seakan sedikit terengah merasakan setiap sentuhannya yang sangat lembut ku rasakan, Sam membuatku gila, ia berhasil mempermainkanku.
“Aku menginginkannya”, ucapku setengah berbisik pada Sam tepat di telinganya. Bisa ku lihat telinga Sam yang mulai memerah, tatapannya sangat berbeda seperti seekor singa yang mengincar mangsanya. Dan malam yang indah itu, kami lalui bersama, semalam malaman.
“Baiklah, semua sudah selesai? Tak ada yang harus kita kerjakan lagi bukan?”, tanya Arka menatap ke semua orang yang berada di sekitarnya. Ruang tengah dari rumah Rani yang awalnya sangat rapi saat ini terlihat sedikit berantakan karena beberapa piring kotor juga beberapa gelas minuman bersoda dan beberapa bungkus makanan ringan yang berada diatas meja tempat mereka bekerja kelompok.
...****************...
“Ya.. Aku harus segera mengantarkan Mira pulang kerumahnya”, ucap Arka, lalu berdiri dan mengambil kunci mobil yang berada di kantung celana belakang miliknya dan mengulurkan tangannya untuk Mira yang sedang duduk di sampingnya.
“Namun ini masih pukul delapan malam. Apa tak terlalu awal bagimu untuk pulang Arka?”, tanya Farah yang bergaya sok centil didepan Arka. Seluruh kelas sudah mengetahuinya bahwa Farah menyukai Arka namun tidak dengan Arka. Apapun akan Farah lakukan untuk dapat menarik perhatian Arka, termasuk mencoba masuk ke kelompok yang sama denganArka.
“Aku harus bertanggung jawab dan mengantarkan Mira pulang. Ia berangkat bersamaku dan akan ku pastikan ia pulang dengan selamat”, ucap Raka menatap Mira. Mira meraih tangan Arka yang ia ulurkan sejak tadi, mengambil tas dan mengikuti langkah Arka untuk bergegas pergi, wajahnya tersenyum ketika ia mendengar ucapan Arka yang memastikannya pulang dengan selamat, seperti halnya pasangan kekasih.
“Terimakasih semuanya, aku pulang dahulu”, ucap Mira berpamitan. Arka menggandeng tangan Mira dan terus menggenggamnya hingga didepan mobil, bak seorang putri, Arka membukakan pintu mobil bagi Mira. Seyuman terus menghiasi wajahnya yang cantik, tak terbayang bagaimana perasaan Mira saat itu ketika ia seperti diperlakukan spesial oleh Arka, dalam hati Mira terus berharap bahwa Arka memiliki perasaan yang sama dengannya.
__ADS_1
“Sepertinya kita masih memiliki waktu, aku akan membawamu ke tempat yang ku bicarakan saat kita berangkat. Kencangkan sabuk pengamanmu”, ucap Raka melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mira mengencangkan sabuk pengamannya dan berpegangan dengan erat karena Arka menyetir dengan kecepatan penuh agar mereka lekas sampai.
“Kemana kita akan pergi?”, tanya Mira denan wajah tegangnya, ia tak pernah menaiki mobil yang berjalan dengan kecepatan penuh seperti ini. Berbeda dengan ayahnya yang selalu menyetir dengan berhati hati, Arka menyetir dengan kecepatan penuh yang membuat Mira sedikit ketakutan.
Tak perlu meragukan kehebatan Arka dalam menyetir, jarak antara rumah Rani dengan taman kota yang terpaut cukup jauh mampu dilewatinya hanya dalam lima belas menit saja. Arka memarkirkan mobilnya ditempat yang sangat sepi dan tak ada satu orangpun disana, Mira melihat kesekeliling dan menatap pada Arka dengan bingung. Mira mulai berpikir yang tidak tidak, membuatnya menggenggam dengan sangat erat dan menelan salivanya, kedua matanya pun tak berbohong ketika ia mulai ketakutan.
“Apa? Mengapa Arka mengajakku ke tempat yang seperti ini? Apa yang ingin dia lakukan padaku?”, gumamnya dengan curiga. Mira melihat Arka yang seperti mengawasi sekitarnya dan membuat Mira semakin percaya bahwa Arka merencanakan hal buruk padanya.
“Aman, turunlah”, ucap Arka setelah membuka pintu mobil untuk Mira. Pada awalnya Mira tak ingin turun namun Arka memaksanya dan menariknya turun, kini terlihat jelas bahwa Mira sangat ketakutan.
“Apa ini? Kamu takut? Aku takkan berbuat yang macam macam padamu jadi tenanglah. Aku hanya ingin menunjuukan suatu tempat yang sangat indah. Kamu juga pasti akan menyukainya”, ucap Arka dengan sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Mira lebih dekat.
Pukul delapan malam mereka pergi ke taman kota, untuk apa? Tak ada siapapun disana, yang ada hanya kegelapan dan juga serangga, pikir Mira. Dengan digandeng Arka, Mira kembali mengikuti langkah Arka memasuki taman kota, ia memanjat dinding pembatas dan membantu Mira menaikinya juga. Namun ternyata yang dipikirkan Mira salah total, taman kota pada malam hari tak semenyeramkan yang ia bayangkan. Tempat yang begitu indah dan sangat terang, rasanya seperti berada di dunia mimpi dan bermain bersama para peri yang beterbangan, Mira terkesima melihat indahnya taman kota pada malam hari.
“Bagaimana? Indah bukan? Aku tahu bahwa kamu menyukainya”, ucap Arka pada Mira, Arka merasakan ketertarikan pada gadis pandai dan cantik itu, senyumnya yang menawan membuat Arka lebih jatuh hati pada Mira.
“Dia... Cantik”, gumam Arka dalam hatinya.
__ADS_1