
Saat mentari mulia datang menunjukkan sinarnya, aku sudah menyiapkan sarapan untuk suamiku dan anakku. Rumah sudah bersih dan wangi dan hari itu segalanya yang harus ku kerjakan dan ku persiapkan sudah selesai untuk pagi ini.
“Sam, ayo bangun sayang. Ini sarapan sudah siap. Sam”
Aku memanggil Sam karena waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Tak lama saat aku menyiapkan peralatan makan, Sam keluar dari kamar dengan wajah yang setengah sadar dan rambut berantakan.
“Masak apa sayang?”
Sam berjalan ke meja makan dengan mata setengah tertutup dan merapikan rambutnya yang berantakan. Aku merangkul leher Sam dan tangannya melingkar di pinggangku.
“Aduh, kamu capek ya, mau istirahat lagi atau gimana?”
Mataku tertuju pada suamiku yang tampan ini, dan tanganku memainkan rambut acak acakannya. Sam melihatku dan tersenyum, kening kamipun bertemu.
“Aku makan aja, terus mandi dan siap siap. Aku tidak ada waktu untuk bersantai saat perusahaan sedang kesulitan.”
Sam duduk di meja makan dan mulai makan, sementara aku menyiapkan bekal yang akan dibawa Sam untuk makan siang nanti. Setelah itu aku ke kamar Mira untuk membangunkanya dan ikut sarapan bersama dan bersiap untuk sekolah.
“Aku tinggal ke kamar Mira sebentar ya Sam.”
Sam hanya mengangguk dan terus memakan sarapannya. Aku menuju kamar Mira untuk membangunkannya, namun saat aku membuka kamarnya, aroma yang tidak sedap menyelimuti kamar itu, aku langsung mengenali bau apa ini.
“Astaga Mira.. Kamu ngompol nak?”
Mira masih tertidur pulas di kasurnya dengan posisi menungging. Aku melihat kasur Mira dan seprei itu sudah sangat basah. Untungnya aku selalu meletakkan matras sebelum seprei agar kasur tidak basah atau bau saat ada air atau apapun yang tumpah di kasur itu.
Aku duduk di dekat Mira dan membelai kepala kecilnya itu dengan lembut. Ingin ku marah padanya, karena kemarinpun dia juga mengompol, namun ku urungkan niatku untuk memarahinya karena dia masih anak anak.
“Mira, ayo bangun, sarapan sama papa ayo nak.”
Aku membangunkan Mira, namun Mira hanya merengek kecil dan tidak mau bangun, Memang agak susah sekali untuk mebgurus anak, ketika anak melakukan kesalahan ingin sekali memarahinya agar tak terulang kembali.
“Mira, ayao, mama sudah masak ayam goreng kesukaan Mira, nanti papa yang habiskan ayamnya loh.”
Aku tahu Mra tidak akan tahan dengan ayam goreng, Mira suka sekali dengan ayam goreng, Dan terbukti, ketika aku menyebutkan ayam goreng, Mira lagsung membuka matanya dan berusaha unuk bangun dari tidurnya.
Penampilannya pun tak jauh berbeda dengan papanya saat bangun tidur. Rambut yang sangat berantakan dan berbicara dengan mata setengah sadar.
“Mama masak ayam goreng? Mira mau”
Mira langsung mengangkat tangannya untuk memintaku menggendongnya, namun kusuruh Mira berjalan sendiri untuk membersihkan dairi dari bau pesing yang menempel pada tubuhnya.
“Eh.. tidak, ayo bangun sendiri dan kita bersihkan dulu bau bau itu”
Aku mundur satu langkah untuk menolak keinginan Mira yang ingin digendong, namun Mira merengek ingin digendon. Sebagai seorang ibu aku harus tegas dengan anakku.
“Emmm.. Mama.. Mira mau gendong”
Aku hanya melihatnya dan tidak menuruti keinginannya. Mira terlihat ingin menangis dan kutegaskan kepadanya untuk melakukan hal yang baik.
“Mira, ayo turun bersihkan diri dulu, kalau tidak mama suruh papa habiskan semua ayamnya. Mau menurut atau tidak”
Mira yang takut kalau ayamnya dihabiskan langsung mengambil sikap dan langsung menarikku ke kamar mandi untuk membantunya membersihkan diri.
__ADS_1
“Ayoo mama.. Nanti ayamnya dihabiskan papa, Mira tidak bisa makan ayam nanti, ayoo mama”
Mira menarikku dan langsung menujukamar mandi dengan satu tangan menarikku dan tangan satunya lagi menutupi celananya yang basah karena ngompol.
Setelah aku selesai dengan Mira, aku langsung duduk di meja makan dan makan bersama anak dan suamiku. Setiap kita makan bersama, selalu ada hal baru yang diceritakan atau didiskusikan. Pagi itu aku melaporkan pada Sam apa yang dikatakan wali kelas Mira padaku dan Sam mendengarkannya sambil melahap sarapannya.
“Sam, kemarin aku ambil raportnya Mira dan Bu Yani bilang kalau Mira sudah baik dalam segala aspek, Cuma untuk emosinya harus dikendalikan lagi”
Mengingat banyak kejadian yang dilakukan Mira di sekolahnya, Sam hanya tersenyum dan mencubit pipi anaknya itu.
“Kalau kamu benar, jangan takut yaa Mira, kalau memang anak itu mengganggumu, kasi mereka peringatan, kalau tidak bisa, hajar saja”
Diluar bayanganku, Sam bukannya menasehatinya, tapi dia malah mendukung semua yang Mira lakukan, meskipun memang Mira benar, namun berkelahi bukan pilihan yaang tepat. Seharusnya Sam menasehatinya bukan malah mendukungnya. Aku sedikit kesal saat itu, aku melirik Sam dengan tatapan yang kesal dan kembali melanjutkan sarapanku.
“Kenapa sayang? Mira benar kan? anak itu yang suka ganggu Mira. Kalau Mira memukul artinya anak itu sudah keterlaluan”
Masih saja membela anknya, apakah Sam sedang mempersiapkan Mira sebagai petarung?.
“Tap itu semua salah Sam, meskipun Mira benar, bukan berarti dia harus berkelahi dengan temannya. Kani bisa bilang ke Bu Yani, biar Bu Yani yang urus semuanya. Apa gunannya wali kelas?”
Aku berdebat dengan Sam masalah Mira, sebagai ibunya aku tidak mau Mira menyelesaikan masalah dengan kekerasan dari kecil, namun Sam mendukung Mira, kalau Mira melakukan hal yang benar, kekearanpun boleh untuk dilakukan.
“Tapi yang salah kan bukan Mira, aku juga tidak mau anakku disalahkan atas apa yang tidak dia lakukan.”
Sam ada benarnya jugam namun aku tetap tidak menyukai kalau Mira berkelahi dengan temannya untuk membela diri. Aku takut itu hal itu akan terbawa sampai dewasa, menyelesaikan hla dengan kekerasan.
“Yaudah, cepat habis kan makanannya, terus siap siap ke kantor”
Aku makan dengan wajah yang sedikit kesal, kulihat Mira sangat senang sekali dibela oleh papanya.
“Hai Mel...Astaga aku kangen banget”
“Iyaa Rein, aku juga”
Seperti biasa ketika seorang wanita bertemu dengan sahabatnya maka percakapan itu akan menjadi percakapan yang sangat sangat panjang. Meli masuk bersama anaknya yang usianya lebih tua dari anakku Mira.
“Eh, ini Raka yaa.. Astaga udah besar aja anakmu Mel, kelas berapa dia?
“Kelas dua Rein”
Aku terus bercakap cakap dengan sahabatku itu untuk waktu yang lama, karena suaminya sedang di luar kota jadi Meli bisa bebas berbicara denganku tanpa harus cepat cepat pulang.
Anakku dan anak Meli bermain bersama, ku lihat Mira sangat senang karena Raka ada disisni, Mira benar benar menginginkan seorang kakak laki laki dari dulu.
“Mira, kamu punya saudara?” Raka bertanya pada Mira sambil menyusun balok balok.
“Enggak, kamu mau jadi kakak Mira?”
Mira benar benar berharap kali ini dia bisa mempunyai kakak, dan Raka pun mengiuakan tawarannya.
“Asiikk.. Mama.. Mira punya kakak sekarang. Tante kak Raka sering sering main kesini yaa, atau Mira aja yang main ke rumah tante, bolehkan?”
Aku dan Meli saling menatap. Akankah anak anak kami akan bersahabat seperti kami?
__ADS_1
Hari itu berjalan dengan sangat menyenangkan, aku menceritakan seluruh kisahku pada Meli. Meli sangat senang dengan hubungan ku yang sekarang besama Sam, Tak lama Sam pulang pukul enam sore seperti biasanya. aku mendengar suara mobil masuk ke garasi yang mengartikan Sam telah pulang.
Sam pulang dan membawa banyak cemilan untuk anak anak dan makan malam untuk kami. Aku sengaja menelponnya untuk membelikan cemilan untuk anak anak dan makan malam untuk kami makan bersama.
“Sam, sudah pulang?”
Sam datang dan mencium keningku, dan aku langsumg melayani Sam, membawakan tasnya juga mengambilkannya segelas air seperti biasanya.
“Meli.. Astaga, lama tidak bertemu”
Selain sahabatku, Meli adalah teman Sam, mereka pernah kuliah di kampus yang sama, dan hubungan mereka cukup akrab. Mereka saling berpelukan.
“Sam, hebat kamu berhasil menaklukan hati Reina. Gila sih, perjuangan banget yakan? kalian sudah menikah tujuh tahun, dan Meli baru benar benar mencintaimu lima tahun yang lalu. Hebat juga kamu Sam”
Meli memuji Sam atas segala perjuangannya untukku. Sam hanya bisa tersenyum dan melihatku, Sam menyentuh rambutku seperti tidak percaya dia benar benar mendapatkanku.
“Awalnya aku pesimis tau Mel, aku pernah mau nyerah buat Rein, tapi Tuhan berkehendak lain, kita sekarang sama sama saling cinta”
Akupun kembali teringat saat saat Sam selalu ada untukku, Saat aku bahkan tidak menganggapnya sebagai seorang suami. Malam itu kami seakan akan bernolstagia pada kejadian lalu yang pahit manis itu.
“Eh, Udah mau malem, Mel makan malam disini aja yaa.. Ini Sam udah beli banyak banget makanan, sengaja aku suruh dia beli banyak, biar aku tidak sibuk masak dan membiarkanmu sendiri”
Aku menyiapkan makan malam sedang Sam menemani Meli sebentar.
“Sam, kamu benar beanr mencintai Reina kan?”
Sam melihat ke arah Meli, karena pertanyaan aneh yang keluar dari mulutnya. Karena dia menanyakan hal yang sudah pasti.
“Iya lah Mel, kenapa tanya? Reina mengatakan sesuatu?”
Meli hanya terdiam dan tersenyum kecil dan melihat ke arahku yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.
“Bukan apa apa, apapun yang terjadi jangan tinggalkan Rein sendiri yaa, kalau tidak ada kamu, Rein harus kemana? Kalau bukan kamu siapa lagi?”
Sam terdiam dan mengerti kemana arah pembicaraan Meli dan mengangguk kecil.
“Kamu tenang Mel, sahabatmu ada di orang yang tepat, seluruh duniaku ada di Reina, dan Reina adalah hal terindah yang kupunya”
Sam dengan bangganya mengatakan itu sambil menepuk dadanya lalu menatapku. Aku melihat kearah mereka berdua yang sedari tadi melihatku.
“Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa topiknya aku? Ayo Sam, Meli, kita makan dulu. Anak anak, berhenti dulu mainnya, ayo makan malam dulu, nanti main lagi.”
Mira dan Raka meletakkan mainan mereka dan langsung berlari kemeja makan.
“oOh iya, Mel, malam ini kaamu menginap saja yaa.. Sudah malem juga, suamimu diluar kota kan? Mira juga senag sekali ada Raka disini. Malam ini tidur di sini yaa, ada satu kamar kosong untukmu dan Raka tidur.”
Meli hanya mengangguk dan Raka sangat senang karena malam ini Raka bisa bermain sepuasnya dengan Mira.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. kalau kalian suka bisa di like dan kasi saran yaa. Saran apapun asal membangun dari kalian sangat penting loh.. 😘😘