
Senyuman bahagia terpancar di wajahku tiap kali aku mengusap bayi dalam perutku, merasakan tiap gerakan yang diberikannya padaku dan merasakan detak jantungnya yang terasa menyatu dengan detak jantungku. Aku selalu mengajaknya berbicara agar ia terbiasa dengan suaraku dan mengenaliku sebagai ibunya, tak sabar rasanya menunggu malaikat kecilku lahir kedunia. Menggengam tanganmungilnya dan mendengr tangisnya untuk pertama kalinya, hanya membayangkannya saja membuatku sangat baahagia dan memacu detak jantungku begitu cepat.
“Sayang, bagaimana wajahmu kelak saat lahir? Apakah seperti mama atau papa?”. Ucapku tersenyum dan menyentuh lembut bayi dalam perutku
Perutku kian lama kian membesar dan lagi lagi aku dibuat terkejut dengan tendangan dari bayi dalam perutku yang cukup kencang ku rasakan. Aku merasa bahwa anakku pun sangat senang setiap kali ku ajak berbicara.
“Kamu sudah siap Rein?”, tanya Sam yang turun dari lantai atas
“Aku sudah siap Sam”, jawabku singkat.
Sam membantuku berdiri karena menyadari bahwa aku cukup kesusahan untuk berdiri dan berjalan sendirian. Perlahan ia menuntunku dan mendekapku juga membantuku masuk ke dalam mobil. Sejak awal kehamilanku Sam selalu memastikan bahwa aku baik baik saja bahkan setiap beberapa jam sekali ia pasti menghubungiku untuk menanyakan keadaanku, ia bahkan berusahan untuk memenuhi keinginanku yang tak jarang aneh dan tak masuk akal.
“Sam, aku lapar”. Ucapku sambil mengusap perutku
“Hmm? Bukankah kamu baru saja makan?”, jawab Sam
“Entahlah, perutku sangat lapar. Aku ingin makan sesuatu yang asam”, jawabku singkat
“Mangga muda lagi?”, tanya Sam
“Hmm, tidak. Aku ingin memakan belimbing sayur dengan garam”, jawabku dengan mengungkapkan keingianku
Sam menatap balik pada diriku ketika ia mendengar bahwa aku ingin memakan belimbing sayur, ia bahkan mengerutkan alisnya dengan wajah yang penuh tanya seakan tak percaya dengan keinginan ku saat ini.
“Apa? Belimbing sayur? Kamu tahu betapa asamnya belimbing sayur Rein?”, jawabnya tak percaya.
Sam menggelengkan kepalanya alih alih menolak keinginanku yang ingin memakan belimbing sayur saat itu. Aku berusaha untuk membujuk Sam yang terus saja menolakku dan tak memperdulikan keinginanku.
“Sam, ku mohon. Aku sangat menginginkannya”. Ucapku sambil menempelkan daguku pada bahunya
“Tidakkah kamu kasihan pada anakmu? Bukan aku yang menginginkannya namun anakmu”, ucapku mencoba merayu Sam.
__ADS_1
Dokter kandunganku mengatakan bahwa tak apa jika aku ingin memakan belimbing sayur, ia bahkan mengijinkanku memakannya. Namun Sam tak mengijinkanku karena rasanya yang terlalu asam dan takut akan terjadi hal yang buruk padaku juga pada janin dalam perutku. Dengan wajah terpaksa Sam menuruti keinginanku. Cukup dengan mengatakan bahwa anak dalam kandunganku menginginkannya, Sam akan menuruti apapun keinginanku.
“Baiklah, hanya karena anak ini menginginkannya”, jawabnya kesal.
Sam mencarikan ku belimbing sayur di setiap bakul sayur yang terlihat olehnya sampai ia mendapatkannya, aku selalu tersentuh dengan setiap perjuangannya untuk mendapatkan apapun yang ku inginkan saat aku sedang mengidam. Sam kembali ke dalam mobil dengan membawa satu kantung plastik berisikan belimbing sayur yang telah dicuci dan siap makan.
Perasan bahagia ku rasakan ketika keinginanku terkabul untuk memakan belimbing sayur sebelum memeriksakan kandunganku. Aku menikmati setiap gigitan dari belimbing sayur yang ku makan dihadapan Sam dan membuatnya geli dan merinding melihatku makan belimbing sayur dengan lahapnya.
“Rein, aku merasa air liurku terkumpul cukup banyak dalam mulutku. Kamu yang memakannya namun aku yang meraskan nyeri dalam mulutku”, ucap Sam.
Aku tertawa mendengar perkataannya, Sam sangat tak menyukai makanan atau buah apapun yang rasanya asam dan ketika ia melihatku memakan belimbing sayur dengan lahapnya, ia tak henti hentinya memegangi rahangnya karena rasa nyeri.
“Kamu tak tahu betapa nikmatnya belimbing sayur ini Sam”, ucapku menggoda Sam.
Aku menghabiskan belimbing sayur yang Sam bawakan untukku sebelum aku memeriksakan kandunganku. Sesampainya di rumah sakit aku turun dan berjalan bersama Sam ke ruang spesialis kandungan dan langsung memeriksakannya.
“Kandungan dalam kondisi normal dan sangat sehat”, ucap dokter padaku dan Sam.
Aku selalu menolak keingnan Sam untuk berhubungan dengan ku sejak aku mengandung dan tak pernah terpikirkan olehku bahwa Sam akan menanyakan hal ini pada dokter kandungan. Aku merasa sedikit malu ketika Sam melontarkan pertanyaan seperti itu.
“Ah.. Tentu saja boleh. Karena bayi tertutup oleh selaput dan cairan ketuban jadi tak masalah jika anda ingin melakukannya”, jawab dokter memberi penjelasan.
Mendengar jawaban dari dokter, Sam memasang wajah bahagia sambil melihat kearahku dan menggenggam tanganku. Aku bisa mengerti dari caranya menatapku saat itu namun aku berusaha untuk tak menghiraukannya.
Setelah Sam selesai mengantarkan ku untuk untuk mengecek kanduganku, kami pulang ke rumah dan tak ada percakapan apaapun di antara kami, aku berusaha untuk menyibukkan diriku dengan memainkan ponselku.
“Apa kamu mendengar penjelasan dari dokter Rein”, tanya Sam membuka percakaapan
“Hmm”, jawabku singkat.
“Jadi bagaimana denganmu?”, tanya Sam lagi.
__ADS_1
“Hmm? bagaimaana apanya?”, tanya ku mencoba berpura pura tak mengerti
“Rein, selama empat bulan kamu membiarkanku sendiri dan tak terlalu memperdulikanku. Aku pun memerlukanmu”,ucap Sam mengungkapkan perasaannya.
Bagiku Sam terlihat seperti anak kecil ketika ia berbicara seperti itu, ia merasa bahwa aku tak memperdulikannya semenjak aku hamil anak ke dua. Namun kenyataannya tak seperti itu, sebagai seorang istri aku masih memperdulikannya dan bahkan aku merasa bahwa kami semakin dekat karena Sam selalu meluangkan waktunya lebih banyak untukku.
“Lalu apa yang kamu inginkan sayang?’, tanyaku lembut.
“Aku menginginkanmu malam ini”, ucapnya dengan memanyunkan bibirnya.
Aku tak bisa melihatnya seperti ini, ingin sekali ku cubit pipinya yang sangat menggemaskan jika ia masih tetap seperti ini.
“Baiklah sayang. Apapun yang kamu inginkan”, jawabku sambil mencubit pipi Sam yang membuatku gemas.
“Benarkah? Kita akan melakukannya malam ini?”, tanya Sam bersemangat
Aku menganggukkan kepalau alih alih menuruti keinginannya. Kami sampai di rumah Sam membantuku turun dari mobil lalu menuntunku masuk ke dalam rumah. Hari ini Sam memanjakanku dengan perlakuan manisnya padaku.
“Ada apa ini? Mengapa kamu memanjakanku seperti ini? Apakah ini sogokkan?”, tanyaku menggoda Sam.
“Sogokkan apanya? Salahkah aku jika aku ingin memanjakan istriku sendiri? Apakah aku harus memanjakan istri tetangga?’, balas Sam menggodaku.
Aku membulatkan mataku dan menepuk bahu Sam dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas merah pada bahu nya.
PLAAKK
“Astaga Rein mengapa pukulanmu sangat kuat sekali? Pasti pukulan mu meninggalkan bekas merah pada bahu ku”, ucap Sam kesakitan sambil memegang bahunya
“Maafkan aku, aku tak menyangka pukulanku akan sekuat itu sampai membuatmu kesakitan”, ucapku sedikit menyesal.
“Bersiaplah nanti malam. Permintaan maaf mu akan ku terima setelah malam ini berakhir”, ucap Sam dengan wajah datar nya.
__ADS_1
“Baiklah”, jawabku pasrah