
Diwaktu yang sama, Sam tak fokus dalam peerjaannya. Fokusnya terbelah, Sam memikirkan keaadaan Rein saat ini juga mertuanya yang saat ini terbaring di rumah sakit, berkali kali Sam melihat jam dan berharap bisa secepatnya menuju rumah sakit tempat mertuanya di rawat. Sam menelepon Suci untuk menanyakan jadwalnya hari ini dengan telepon kator.
“Suci, apakah jadwal saya hari ini padat?” Tanya Sam
“Tidak terlalu padat Pak, hanya meeting dengan departemen pemasaran lalu dengan dewan direksi terkait perencanaan projek kolaborasi.” Jawab Suci.
“Kalau begitu tunda semua meeting hari ini lalu kosongkan jadwal saya sampai besok, saya ada keperluan yang lebih mendesak lagi” Perintah Sam pada Suci.
“Baik pak, saya laksanakan” Jawab Suci.
Ingin rasanya Sam berangkat saaat ini juga, Sam benar benar khawatir dengan keadaa mertuanya, namun Sam tak bisa meninggalkan kantor begitu saja hanya karena masalah pribadinya ini.
Dengan cepat Sam menyelesaikan segala pekerjaannya meskipun dengan fokus yang sedikit kacau dan terpecah, sesekli Sam menyarkan tubuhnya di kursi dimana dia duduk untuk mengembalikan fokusnya yang sempat terpecah, namun selalu gagal. Berharap mertuanya baik baik saja saat ini.
“Mengapa lama sekali? Aku tak bisa seenaknya saja meninggalkan kantor saat ini meskipun sudah ku kosongkan hari ini.” Seru Sam gelisah.
Dalam keadaan lain, aku melihat papa dengan tatapan kosong, aku akan melakukan segala cara agar papa bisa membuka matanya kembali dan melihatku disebelahnya, aku terus berharap papa bangun saat ini. Aku tak bisa memikirkan hal lain lagi dan hanya papa yang ada dipikiranku.
Aku mengeluarkan ponselku dan mencoba menghubungi Sam dan memintanya untuk kemari saat ini juga kalau memang dia bisa, firasatku mengatakan papa akan meninggal hari ini. Aku menguatkan hatiku dan menghapus air mataku untuk bisa berbicara pada Sam di telepon.
“Iya Rein?” Jawab Sam
“Bisakah kamu berangkat saat ini juga Sam? Aku memiliki firasat buruk Sam.” Seruku sambil menangis.
Hatiku kembali sakit, aku takut kalau firasatku benar, aku benar benar takut ini akan terjadi disaat aku belum siap. Ku rasakan nafasku berat dan dadaku sangat sakit.
“Baiklah, tenang ya.. Aku berangkat saat ini juga. Terus berdoa Rein, aku juga akan terus berdoa dari sini.” Jawab Sam menguatkanku.
Aku menutup ponselku dan mulai menangis kembali. Firasatku benar benar mengatakan kalau papa akan meninggal sebenatr lagi. Tanganku bergetar ketika memegang tangan papaku, aku mencium tangan papaku dan terus berdoa agar papa bisa membuka matanya. Aku sudah tidak kuat lagi menghadapi situasi ini, berbeda denganku. Mama melihat papa dengan tatapan kosong, seakan akan air matanya sudah habis. Bisa ku lihat kesedihan yang sangat mendalam di mata mama. mama hanya membelai lembut papa dan sesekali mencium keningnya.
Ini adalah situasi yang sangat ku benci, ketika aku tak berdaya dan tak bisa melakukan apapun untuk kedua orang tuaku. Aku tak bisa membuat papa membuka matanya dan aku juga tak bisa menghibur mama, aku merasa tak berguna, namun apalagi yang bisa kulakukan? Tidak ada. Yang bisa ku lakukan hanya berdoa dan berdoa dan menyaksikan segalanya terjadi didepan mataku. Itu adalah situasi terburuk dan paling ku benci sepanjang hidupku.
Rasa panik bercampur gelisah juga dirasakan oleh Sam siang itu, tepat pukul satu siang Sam keluar dari kantornya dan langsung menuju ke rumah sakit tempat mertuanya di rawat.
__ADS_1
“Suci saya keluar sekarang, mungkin sampai besok. Kamu sudah kosongkan jadwal saya kan?” Tanya Sam dengan tatapan panik.
“Sudah Pak. Jadwal bapak sudah saya kosongkan sampai besok.” Jawab Suci dengan berdiri dari kursinya.
Tanpa berkata apaun lagi, Sam langsung meninggalkan kantor dan meninggalkan pekerjaannya. Sam masuk ke mobilnya dan langsung melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Jangtungnya berdetak dengan kencang, rasa panik dan gelisah bercampur menjadi satu.
“Astaga.. Aku tak ada waktu menyetir dengan kecepatan seperti ini.” Seru Sam.
Sam menambah kecepatannya sampai pada kecepatan penuh agar bisa sampai di rumah sakit lebih cepat. Jarak yang seharusnya tiga jam Sam mempersingkatnya menjadi dua jam karena menyetir dengan kecepatan tinggi.
Sam keluar dari mobilnya dan langsung berlari menuju kamar mertuanya. Dengan pakaian yang mulai berantakan, Sam melonggarkan dasinya untuk mencari kamar dimana mertuanya di rawat. Sam sangat menyayangi mertuanya seperti menyayangi orang tuanya sendiri.
“Rein..” Seru Sam dengan napas yang terengah.
Sam melihat keadanku yang sangat kacau. Mataku benar benar bengkak dan wajahku penuh dengan air mata. Aku berdiri dan memeluk Samdan menangis di pelukkannya. Sam memelukku sambil mengatur napasnya dan mencoba menenagkanku.
“Tenang yaa.. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama. Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk papa.” Seru Sam sambil memelukku.
“Mama.. Apapun yang terjadi mama harus kuat yaa.. Kita hadapi bersama,” Seru Sam
Seketika itu tangis mamaku pecah. mamaku menjerit, badannya bergetar merasakan kesakitan dan ketakutan di hatinya. Mama yang sedari tadi menahan segala kesakitannya akhirnya pecah di pelukan Sam. Hatiku hancur melihat mama seperti ini. Kami menangis bersama dan mencoba menguatkan hati kami untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari kondisi papa.
Ketika kami menangis, papa mulai membuka matanya, air matanya menetes jatuh. Dengan suara yang sangat pelan papa mengeluarkan suaranya yang terdengar sangat lemah.
“Mama..” Serunya..
Mendengar itu kami melihat ke arah papa yang mulai menggerakkan jari jarinya. Papa tersenyum melihat mama, aku, Sam juga Mira, papa tak mengeluarkan satu katapun dan hanya menatap kami sambil tersenyum. Aku segera berlari memanggil dokter, aku sangat bahagia melihat papaku telah sadar. Dikamar mama hanya memeluk papa dan mencium keningnya sambil terus menangis dan tak melepaskan pelukannya.
Aku kembali dengan membawa dokter bersamaku untuk memeriksa keadaan papaku yang sepertinya adalah sebuah mujizat untuk papa. Namun ketika dokter memeriksa kondisi papa, dokter melihat kearah kami dan menggelengkan kepalanya yang membuat kami semua saling bertatapan.
“Ada apa dokter?” Tanyaku yang tak mempercayai ekpresi wajahnya.
“Keluarga silahkan berpamitan dengan pasien. Bapak sudah tak bisa diselamatkan lagi, detak jantungnya sudah sangat lemah dan tak bisa diselamatkan lagi.” Seru dokter.
__ADS_1
Dokter menyuruh suster untuk tetap di kamar untuk mencabut semua alat bantu pernafasan ketika pasien sudah tiada dan langsung meninggalkan kamar papa. Kami tak percaya dengan yang dikatakan dokter itu, seperti harapan baru yang runtuh dalam sekejap. Semenit yang lalu aku merasa seakan akan papa akan kembali, namun?
Dalam sekejap keheningan menyelimuti kamar itu, satupun dari tak ada yang berbicara karena menahan kesakitan kami dan tak kuat untuk melihat kondisi papa seperti ini. Namun tiba tiba papa memegang tanganku sambil tersenyu.
“Rein, apa kamu bahagia hidup bersama Sam?” Tanya papa
Aku menunduk dan menangis, mulutku tertahan oleh kesedihanku, aku berusaha untuk terlihat kuat namun aku jatuh tersungkur, aku berlutut di sebelah kasur papa dan menganggukkan kepalaku.
“Iya papa, Rein bahagia bersama Sam. Rein berhasil mencintai Sam.” Jawabku sambil menangis sesunggukkan.
“Mama.. Akhirnya anak kita bahagia, papa senang mendengar langsung dari mu Rein. Kalau papa tiada, mama tinggal bersama mereka yaa.. Papa tak ingin mama hidup sendirian tanpa papa” Seru papa dengan suara lemah.
Mama menangis dan mencium kening papa sambil menagngguk lalu memeluknya.
“Sam..” Seru papa sambil mengulurkan tangannya.
“Ya papa?” Sambil memegang tangan papa
“Hari harimu pasti berat kan? karena Rein karena Rein diwaktu lalu tak mencintaimu. Namun sekarang kalian saling mencintai. Papa percayakan Rein padamu Sam. Jaga dan sayangi dia. Juga, biasakah kamu menjaga mama? Bisakah papa percayakan dua wanita yang sanagt papa sayangi padamu Sam?” Tanya papaku dengan napas yang mulai terengah.
“Sam akan bertanggung jawab pada Rein dan mama. Papa bisa percayakan pada Sam.” Jawab Sam
“Terimakasih Sam. Akhirnya, papa bisa pergi dengan tenang.” Seru papaku.
Setelah mengatakan itu, kami melihat papa kejang, papa memegang dadanya dengan sangat kesakitan. Kami menangis, hari itu kami kehilangan seorang suami dan seorang ayah. Seseorang yang sangat ku sayangi seumur hidupku hari ini telah meninggalkanku selamanya. Melihat papa yang tak lagi bernapas, tubuhku lemas tak berdaya. Aku menangis, mama menjerit. Kesedihan benar benar memakan habis kami hari itu. Kami kehilangan papa untuk selamanya. Meskipun hatiku sakit, namun setidaknya aku bisa melihat papa untuk yang terakhir kalinya dan memperlihatkan bahwa aku bahagia bersama suami dan anakku seperti apa yang ingin papa lihat selama ini.
.
.
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘
__ADS_1