
Satu bulan berlalu sejak mereka semua mengira bahwa Meli telah tiada dan kini mereka mengerti mengapa Pak Rudy tak pernah mempercayakan perusahaan pada anak semata wayangnya itu, hanya dalam tempo satu bulan, perusahaan mengalami kemunduran yang cukup terasa. Reno tak bisa memimpin dan tak tahu bagaimana cara memimpin yang baik. Hidupnya hanya ia habiskan untuk bersenang senang dan juga bermain wanita. Aksi Reno yang memecat hampir seluruh pria atau wanita yang berusia hampir lima puluh tahun membuat para pekerja marah besar karena Reno bekerja tak sesuai aturan yang mengharuskan para buruh pensiun di usia lima puluh tujuh tahun.
Meski begitu, Reno tetaplah seorang pemimpin perusahaan yang harus dilindungi walaupun keputusannya sangat merugikan banyak orang. Dengan beberapa penjaga di sekelilingnya, Reno masuk ke mobilnya dan segera pergi dari perusahaannya. Orang orang berteriak menyerukan namanya dan mendemo perusahaan yang dipimpin oleh Reno, mereka juga menginginkan Reno turun dari jabatannya.
“Tak seharusnya bapak memecat kami!! Waktu pensiun kami masih sangat lama!!”, teriak salah satu karyawan
“Lebih baik mundur saat ini juga kalau tak bisa menjalankan perusahaaan dengan baik!!”, hina karyawan lainnya
“Pemimpin tak berguna!! Mati saja kamu!!”, maki karyawan lain.
Setiap hinaan dan makian yang didapatkan tak pernah ia hiraukan, asalkan hidupnya aman dan nyaman bukan masalah baginya. Kekuasaan membuatnya buta dan menutup mata batinnya.
“Bukankah seharusnya bapak tak memecat mereka semua? Mereka sngat setia bekerja sejak usia mereka tergolong muda pada saat itu”, ucap sekertaris yang pergi bersamanya.
__ADS_1
“Saya pemimpinnya, Saya yang berhak menentukan apakah mereka masih layak dipekerjakan atua tidak. Lagi pula mereka sudah tua, sudah waktunya mereka utuk beristirahat”, jawab Reno tak peduli
“Lalu bagaimana dengan anak cucu mereka? Bagaimana kalau mereka adalah tulang punggung dikeluarganya? Bagaimana jika hanya pekerjaan inilah salah satu sumber mereka hidup selama ini? Apakah bapak tega?”, ucap sekertarisnya yang mencoba merayu Reno.
Reno melihat kearah sekertarisnya yang sedari tadi mengoceh dan mengkritik tindakannya yang memecat para karyawan dengan tatapan tajamnya.
“Untuk apa saya tetap mempekerjakan orang orang tua yang sudah mulai lambat dalam bekerja? Aku menginginkan orang orang baru dengan tenaga yang lebih kuat dan bekerja lebih cepat dari mereka”, ucap Reno tegas.
Tak ada yang salah dari keputusan yang diambil oleh Reno namun Reno seperti tak memilliki sisi kemanusiaan. Dalam hal ini Reno tak bertujuan ungtuk mencari orang baru untuk menggantikan para pekerja yang telah ia singkirkan, alasan sebenarnya adalah kaerena Reno tak ingin membayar tenaga mereka yang sudah tua.
Kabar tentang Reno yang memecat banyak orang tanpa alasan rerdengar hingga ke telinga Melii, ia tak menyangka bahwa Reno akan sangat kejam seeperti ini pada mereka yang telah setia bekerja bagi perusahaan ini.
“Apakah ia sudah membuang hati nuraninya? Bagaimana bisa ia memecat banyak orang tanpa alasan yang jelas? Apa yang ingin ia lakukan?”, ucap Meli terpancing emosi ketika melihat laporan yang diberikan Pak Hendra padanya.
__ADS_1
“Reno sangat hebat sekali. Dalam tempo satu bulan ia telah berhasil menunjukkan pada semua orang bahwa ia adalah monster yang sangat kejam. Lalu bagaimana dengan penjualan? juga rencana pembangunan beberaa proyek?”, tanya Meli sambil membaca laporan di tanganya
“Untuk saat ini penjualan masih dalam keadaan stabil karena Pak Reno tak ikut campur didalamnya namun untuk rencana pembangunan proyek, saya masih belum yakin dengan info yang saya terima”, jawab Pak Hendra tegas.
Untuk saat ini Meli hanya diam saja dan tak melakukan apapun meski ingin sekali menghajar Reno dengan tangannya karena telah menyengsarakan banyak orang namu Meli menahan keinginannya itu dan mematangkan rencananya terlebih dahulu sebelum meluncurkan serangannya.
“Pak Hendra. Bisakah anda membuat janji dengan orang orang yang akan bekerja sama dengan kita? Yakinkan mereka untuk tak lagi memihak Reno melainkan memihakku. Sepertinya sudah saatnya untuk aku keluar dari tempat persembunyianku setelah satu bulan lamanya”, ucap Meli memberikan perintahnya.
“Baik bu, saya akan lakukan”, jawab Pak Hendra.
Setelah mendapatkan perintah dari Meli, Pak Hendra segera pergi dan menjalankan tugasnya, meski cukup sulit baginya membuat mereka semua memihak Meli tanpa menceritakan kisah yang sebenarnya, ia tetap berusaha meyakinkan mereka semua.
“Apa maksudmu?”, tanya salah satu pemimpin yang bekerja sama dengan Meli.
__ADS_1
“Saya mohon percayalah pada saya pak. Saya adalah sekertaris pribadi bu Meli, tak mungkin saya berbohong. Hanya saja Bu Meli tak ingin siapapun mengetahui keberadaannya dan berita bahwa ia masih hidup”, ucap Pak Hendra mencoba merayunnya.