My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 41 | Melepas Rindu


__ADS_3

Suasana sore hari yang tak terlalu ramai menyelimuti ruang makan yang hanya ada aku dan anakku Mira. Suara televisi yang menyala dan suara Mira yang sedang bermain sendiri dengan semua bonek dari segala jenis bentuk dan ukuran juga mainan lainnya ditumpahkan di depan televisi. Sambil bermain Mira menonton serial kartun favoritnya. Pukul empat sore adalah waktu untukku meyiapkan makan malam. Sam meminta makanan yang sedikit pedan untuk malam ini, biasanya Sam tak terlalu menyukai makanan yang pedas, namun hanya jika dirinya sedang banyak pikiran barulah Sam memakan makanan yang cukup pedas.


Beberapa bahan makanan telah ku siapkan, dan aku mulai memasaknya. Waktu terus berdetak dan tak terasa sudah menunjukkan pukul empat sore, sudah waktunya Mira untuk mandi sore. Dari dapur aku berteriak untuk menyuruh Mira mandi dan membersihkan dirinya.


“Mira.. Mandi dulu sayang. Kalau sudah bermainlah lagi” Teriakku sambil menggoreng.


Aku melanjutkan memasakku dan menyiapkan semua makanan di meja. Masakan yang baru saja matang ku atur di atas meja makan, dengan asap yang masih mengepul juga bau yang sangat sedap membuatku percaya bahwa suami dan adik iparku pasti akan menghabiskan semua makanan ini.


Tepat pukul lima sore aku selesai memasak dan waktunya bagiku untuk membersihkan diriku sebelum suamiku datang. Kulihat ke sekeliling rumah semua sudah tertata rapi dan bersih. aku masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diriku.


Tubuhku terasa segar setelah membersihkan diri, aku menuju keruang tv untuk menemani Mira bermain sebentar. Ku keluarkan ponselku dan memainkan ponselku. Seketika aku memikirkan Meli, aku merasa sangat merindukannya. Hubungan kami saat ini bisa dikatakan kurang baik, sebagai sahabatya wajar kalau aku ingin yang terbaik untuk sahabatku dan mencegahnya melakukan hal bodoh yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.


Namun sepertinya tindakanku itu salah. Saat ini Meli menjauh dariku, sepertinya aku terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatku ini. Ingin sekali rasanya aku langsung mendatanginya dan memeluknya. Meli telah melalui banyak hal sendiri dan tanpa aku di sampingnya. Sahabat macam apa aku ini yang tak bisa mendukung keputusan yang dibuat sahabatku sendiri?


Ditengah lamunanku, suara klakson mobil Sam mengejutkanku. Sam telah pulang, aku menenangkan diriku sejenak agar Sam tak mengkhawatirkanku.


“Mira...” Sapa Sam sambil melentangkan kedua tangannya.


Seperti biasanya, Mira akan langsung berlari memeluk Sam saat Sam pulang kerja, aku menghampiri mereka berdua dan membawakan tas juga jas di lengan Sam. Aku dan Mira langsung menuju meja makan sedang Sam mengganti pakaiannya. Tak lama setelah itu Ken juga pulang ke rumah. Ken pulang leibih cepat dari biasanya.


“Hai semuanyaa.” Sapa Ken.


“Ken, kamu pulang lebih awal.” Jawabku.


“Iya kak, tak ada pekerjaan yang menumpuk jadi aku bisa pulang lebih awal dari biasanya.” Jawab Ken.


“Baiklah, gantilah pakaianmu lalu kita makan malam bersama” Jawabku.


Ken menuju ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dan keluar untuk makan malam bersama. Kali ini makan malam kami kembali seperti sebelumnya, ditemani canda tawa yang menghiasi malam ini. Suasana seperti ini cukup ku rindukan, karena Sam dan Ken akhir akir ini cukup sibuk dan kami mulai jarang makan malam bersama dengan lengkap seperti ini.

__ADS_1


“Kak Rein, aku mau tanya. Meli itu sahabat kakak kan?” Tanya Ken.


“Iya Ken, ada apa?” Jawabku sambil mengunyah makananku.


“Suaminya bernama Reno?” Tanyanya lagi.


Aku menghentikan makanku sejenak dan melihat ke arah Ken, aku tak pernah menceritakan atau mengatakan apapun tentang Meli dan keluarganya, apalagi membahas suaminya, namun Ken mengetahuinya. Aku mengerutkan keningku dan melihat ke arah Ken.


“Yaa.. Dari mana kamu mengetahuinya? Yang kakak ingat kakak tak pernah menceritakan apapun tentang Meli.” Jawabku.


“Emm.. jadi begini kak. Laura mendapat satu client, masalah client itu adalah perceraian dan untuk mendapatkan hak asuh anak. Nama client Laura itu Meli kak dan suaminya bernama Reno. Kalau dugaanku memang benar client Laura adalah sahabat kak Rein” Jawab Ken.


Seperti petir di siang hari. Aku memejamkan mataku sejenak dan menghela napan panjang. Meli tak menceritakan apapun padaku, Meli memilih menjalaninya seorang diri karena mengetahui bahwa aku tak ingin dirinya bercerai dengan Reno. Aku menyadarinya, betapa egoisnya aku. Melihat sahabatku mengalami kesusahan seperti itu, aku tak mendukungnya sama sekali. Dadaku sedikit sesak mendengar itu. Meski sakit, namun aku bersyukur Ken memberitahuku tentang kabar ini. Paling tidak aku bisa bsia menghubungi Meli dan menanyakan keadaannya dn juga mendukung keputusannya saat ini.


Setelah makan malam selesai. Sam dan Ken seperti biasa saling berbicara di depan televisi sambil menjaga Mira yang bermain sendirian. Aku membersihkan meja dan mencuci piring kotor lalu menyiapkan buah dan teh hangat seperti biasanya untuk menemani Sam dan Ken. Aku langsung menuju kamar untuk mencoba menghubungi Meli. Di ponselku aku mencari nama Meli dan menghubunginya.


“Mengapa Meli tak mengangkat teleponku?” Seruku sambil menelepon Meli yang ke dua kalinya.


Tuuut.. Tuuuut...


“Ada apa Rein?” Jawab Meli.


“Hai Mel.. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Bagaimana kabarmu?” Tanyaku sedikit canggung.


“Aku baik. Ada apa menghubungiku malam malam?” Tanya Meli


“Ahh.. Tidak ada apa apa. Hanya sedikit khawatir, aku tak mendengar kabarmu akhir akhir ini.” Jawabku.


“Tenanglah, aku masih hidup dan tak melakukan hal bodoh seperti yang kamu pikirkan” Jawab Meli ketus.

__ADS_1


Aku tersenyum, aku mengerti dan memahami mengapa Meli menjawabku seperti itu. Wajar jika dia kesal marah bahkan kecewa padaku, karena aku tak mengerti dan tak memahaminya.


“Mel, maafkan aku. Aku tak mendukung keputusanmu. Maafkan aku yang sudah jadi sahabat yang egois. Maafkan aku, disaat kamu butuh seorang sahabat aku tak pernah ada untukmu.” Seruku berbicara di ponselku dengan meneteskan air mata.


“Rein.. Ini berat untukku, dan kamu tak ada di sampingku saat aku melalui hal berat seperti ini. Kamu bahkan tak mendukung keputusanku. Aku tak tahu harus berbuat apa.”Jawab Meli dengan suara yang bergetar seperti orang sedang menangis.


Hatiku sakit mendengar Jawaban Meli. Tanpa ku sadari aku mulai menangis, hanya perasaan sakit yang ku rasakan saat ini, hatiku remuk mendengar Meli menangis seperti ini. Tangisannya benar benar mewakili kesakitan yang ditanggungnya selama ini.


“Besok apa kita bisa bertemu Mel?” Tanyaku.


“Baiklah, di cafe biasa jam sebelas siang?” Tanya Meli.


“Baiklah Mel.” Jawabku.


Kami sempat berdiam dan tak mengatakan apapun sejenak. Aku mendengar Meli masih menangis, dan aku pun menangis.


“Mel, aku merindukan sahabatku.” Seruku.


Saat itu tangis kami berdua pecah. Seperti anak kecil yang menangis. Tangisku tak tertahankan, begitu juga dengan Meli. kami melepas rindu meski hanya sebatas menggunakan ponsel dan hanya mendengar suara satu sama lain.


Cukup lama kami menangis, aku mencoba mengontrol tangisku agar tak terdengar sampai keluar. Aku senang karena Kami hubungan kami kembali seperti dahulu. Untuk kali ini, aku berjanji akan mendukung keputusn Meli untuk bercerai dari Reno. Sudah cukup. Meli terlalu menderita hidup bersama Reno.


.


.


.


Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2