My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 46 | Kali Ini Saja. Bisakah?


__ADS_3

Aku merasakan tubuhku sangat lelah pagi itu dan tak menyadari bahwa matahari telah terbit, sinar matahari pagi yang membangunkanku pagi itu disaat alarm yang kupasang tak bisa membangunkanku. perlahan aku mulai membuka mataku, ku lihat diriku hanya tidur dengan selimut yang menutupi tubuhku. Aku dan Sam benar benar tak berpakaian. Ku lihat Sam yang masih tidur dengan nyenyak dengan tangan yang masih merangkulku, aku tersenyum dan menyentuh lembut pipinya lalu mencium keningnya. Pagi itu aku hanya menutupi wajahku mengingat apa yang sudah ku lakukan bersama Sam semalam, tak dapat ku percaya aku benar benar melakukannya.


Aku mulai mengambil pakaianku dan mengenakannya lalu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Cukup sakit rasanya bagian pinggang ke bawah, namun aku senang karena pada akhirnya aku bisa melakukannya dengan Sam dan membuatnya bahagia. Aku keluar dari kamar mandi dan langsung menyiapkan sarapa untuk Sam dan Ken, namun pada saat aku keluar dari kamar, ku lihat Ken memakai celemekku dan menata makanan di atas meja. Pemandangan yang benar benar jarang.


“Baiklah, segalanya sudah siap. Tinggal menunggu kak Sam dan kak Rein bangun” Serunya sambil melihat makanan yang sudah tertata rapi.


“Ken, kamu memasak?” Tanyaku sambil melihat makanan di meja


“Kak.. Sudah bangun?” Seru Ken sambil menarikkan kursi untukku


“Kamu yang memasak semua ini Ken?” Tanyaku.


“ Iya lah kak.. Tak hanya tampan, adikmu ini juga pandai memasak.” Jawab Ken dengan sangat percaya diri.


Tak lama setelah perbincanganku dengan Ken, Sam keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan lalu duduk sambil melihat ke arahku sambil tersenyum dan mencium keningku.


“Good morning Rein” Sapa Sam sambil tersenyum


“Morning Sam” Jawabku membalas semyuman Sam.


Seperti pasangan kekasih baru yag dimabuk cinta, itulah yang dilihat Ken pagi ini, Ken melihat kami berdua dengan tatapan sedikit geli sambil tertawa.


“Ternyata kalian berdua benar benar melakukannya.” Seru Ken.


“Sudahlah, mari makan. Jangan sampai terlambat kak.” Tambah Ken.


Disaat Ken dan Sam makan, aku berdiri dan menuju ke dapur untuk mengambil satu botol susu di kulkas dan memanaskannya sebentar, lalu tiba tiba aku melihat satu kantong keresek besar, aku merasa seperti pernah melihat kantong keresek itu, seperti kantong keresek dari restoran langgananku. Aku melihatnya dan mengambilnya, ternyata dugaanku benar. Aku tertawa melihat kejadian lucu ini. Aku mengingat kelakuan Sam yang pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.


“Ken.. ini apa?” Tanyaku sambil menunjukkan kantong keresek yang ku temukan di dapur.


“Kak.. kakak menemukannya di mana? Padahal sudah ku buang kantong keresek itu.” Jawab Ken.


Sam tertawa sambil mengunyah makanannya, aku pun tertawa melihat kelakuan Ken. Ken tersenyum menahan malu sambil menutupi wajahnya.


“Ken, apa kamu tahu, aku juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan.” Seru Sam sambil tersenyum


“Kalian berdua ini memang mirip satu sama lain yaa.” Seruku sambil tersenyum.

__ADS_1


“Baiklah, cepat habiskan sarapan kalian, lalu pergilah mandi kak atau kakak akan terlambat.” Seru Ken mengalihkan pembicaraan.


Hari ini aku tak bisa membawakan Sam dan Ken bekal untuk makan siang mereka seperti yang biasa ku lakukan pada mereka setiap pagi. Aku menunggu dan duduk di sofa sambil memainkan ponselku dengan segelas kopi panas di tanganku, Sam keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah sangat rapi lengkap dengan setelan jas juga jam tangan di pergelangan tangan kirinya dan tanga kanannya membawa tas.


“Rein, aku berangkat ya sayang” Seru Sam sambil mencium keningku lalu menempelkan keningnya dengan keningku.


“Be careful babe” Jawabku pada Sam.


Hari ini adalah salah satu hari yang baik di hidupku, mungkin seluruh ibu didunia juga akan berpikir sepertiku. Ketika pekerjaan rumah sudah selesai dan hanya menikmati hari dirumah sambil menunggu suami pulang kerja. Sangat jarang sekali aku bisa merasakan hal seperti ini, seperti bagian terbaik dalam hidupku. Namun semuanya itu tiba tiba runtuh ketika ponselku berbunyi. Ibuku menelepon, namun bukan kabar gembira yang ku dengar, mendengar itu, jantungku seakan akan berhenti berdetak, air mataku menetes dan tanganku bergetar, aku tak bisa berpikir lagi, yang ku tahu adalah aku harus segera ke rumah sakit saat itu.


“Rein, kamu ke sini sekarang yaa naakk...” Seru mama sambil menangis.


“Papa tiba – tiba sekarat pagi ini Rein, dan sedang ditangani dokter” Tambahnya.


“Reina berangkat sekarang yaa mama.. Mama tenang, hubungi Reina terus yaa mama tentang perkembangan papa..” Jawabku.


Aku menutup ponselku dan langsung mengganti pakaianku dan membawa tasku, ku bangunkan Mira secara paksa karena dalam keadaan seperti ini tak mungkin aku meninggalkannya, aku membawa beberapa baju untuk berjaga jaga kalau aku harus menginap untuk menemani mama di sana.


“Mira.. Ayo bangun sayang, ikut mama. Kita akan menemui oma.” Seruku sambil menggendongnya dan memandikannya sebentar.


Tak membutuhkan waktu lama, aku sudah siap dengan Mira juga beberapa baju yang ku bawa, dengan sangat panik aku dan Mira masuk ke mobil, ku injak gas dan menyetir dengan kecepatan tinggi yang membuat Mira sedikit ketakutan.


“Maaf sayang, mama harus menyetir dengan kecepatan tinggi. Kamu tenang yaa, mama takkan membahayakan Mira,” Jawabku berusaha untuk berbicara tenang dengan anakku.


Meskipun aku menangis, namun aku tetap berusaha untuk fokus, hatiku sakit mendengar kabar itu, aku takut hal yang lebih buruk akan terjadi pada papaku.


“Mira, tolong ambil ponsel mama dan cepat hubungi papa nak, lalu berikan ponselnya pada mama” Seruku pada Mira.


Mira langsung mengambil ponselku dan menghubungi Sam saat itu, dengan nada sedikit ketakutan Mira memegang ponsel dan menelepon Sam.


“Yaa Rein, ada apa?” Jawab Sam.


“Mama.. Ini papa” Seru Mira ketika Sam sudah mengangkat ponselnya.


“Sam, Sam.. Aku... Pulang. Papa sekarat pagi ini Sam..” Seruku sambil menangis.


Aku tak bisa berkata kata dengan benar saat ini, yang bisa ku lakukan hanya menghubungi Sam dan menangis.

__ADS_1


“Rein, dengarkan aku. Tenanglah, kalau sudah sampai rumah mama hubungi aku lalu katakan yang terjadi pada papa.. Aku akan pulang lebih cepat dan menyusulmu.” Jawab Sam mencoba menenangkanku.


Aku tak bisa mengatakan apapun lagi dan mematikan ponselku, aku menyetir sambil terus menangis. Aku berharap papa baik baik saja, .


“Tuhan tolong selamatkan papa.. Jangan ambil papa, Rein belum siap.” Seruku dalam hati


Hatiku sakit dan msih terus menangis sepanjang jalan. Aku sampai dirumah sakit lebih cepat dan langsung menuju kamar tempat papa ditangani, ku lihat mamaa yang duduk sambil menangis dengan kedua tangaan yang menutupi wajahnya.


“Mama...” Seruku sambil berlari menemui mama


“Rein.. kamu sudah sampai nak” Jawab mamaku sambil memelukku.


“Papa.. Papa bagaimana ma?” Tanyaku sangat panik.


Mama menggelengkan kepalanya sambil menangis dan memelukku. Tubuh mama bergetar dan wajahnya basah karena airmatanya


“Papa masih sekarat dan belum sadarkan diri Rein” Jawab mama.


“Kata dokter, papa tak bisa diselamat**kan” Lanjut mama.


Makin tak kuasa aku mendengarnya, tubuhku bergetar, kakiku seperti tak kuat untuk berdiri. Aku jatuh tersungkur mendengar berita itu. Aku masih tak percaya dengan semua yang ku dengar, aku tak mempercayai dokter itu yang mengatakan bahwa papa tak bisa diselamatkan lagi. Aku berusaha tenang, namun hatiku tak kuat dan aku terus menangis. Aku dan mama berpegangan tangan dan berdoa bersama, berharap sebuah mujizat datang pada papa. Aku mencoba tenang agar mama juga bisa tenag meskipun air mata ini terus menetes.


Ku hubungi Sam untuk memberitahu kondisi papa saat ini, suaraku mengecil. Aku tak ada tenaga lagi untuk berbicara, bahkan untuk bergerakpun tubuhku sudah sangat berat seperti mematung rasanya. Aku tak bisa merasakan apapun lagi selain rasa sakit, yang bisa kulakukan hanya duduk dan melihat tubuh papa terbaring lemas di kasur dengan selang yang menempel di tubuh papa, hatiku benar benar menjerit, tak henti hentinya aku berdoa pad Tuhan untuk menyadarkan papa. Aku tak ingin apapun saat ini, hanya melihat papa kembali sadar saat ini, itu yang ku inginkan


Tidak bisakah doaku ini terkabul? Seumur hidupku aku tak pernah berbuat jahat, aku selalu melakukan kebaikkan, bisakah Tuhan melihat semua kebaikanku dan menjawab doaku?


Aku memegang tangan papa dan terus berdoa, jantungku berdetak kencang dan ketakutan terus menyelimutiku, disisi lain mama juga memegang tanganp papa sambil menangis.


“Tuhan, kali ini saja tolong kabulkan doaku, untuk kali ini saja. Biarkan Rein berbicara pada papa. Rein akan ikhlas kalau memang saat ini Tuhan panggil papa pulang, namun biarkan Rein berbicara pada papa. Rein mohon Tuhan” Doaku dalam hati


Hatiku sakit mengucapkan doa itu, aku menyayangi papa, namun aku mengetahui satu hal. Tuhan lebih menyayangi papa dari diriku. Kalau memang ini saatnya biarlah terjadi.


.


.


.

__ADS_1


Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘


__ADS_2