
Cinta tumbuh karena telah terbiasa, begitulah setidaknya yang pernah didengar. Hari demi hari yang dilewati Mira sebagai gadis SMA mengajarkannya arti dari cinta, ia sangat menyayangi Arka namun disisi lain hatinya juga diisi dengan Raka. Bagaimana mungkin sebuah hati diisi dengan dua cinta?. Mira tak mengerti, sejak Raka menunjukkan cintanya pada Mira dan berusaha untuk memilikinya, hubungan antara Mira dan Arka sedikit terganggu. Dan hari ini pun sama, pertengkaran diantara mereka kembali terjadi, kecemburuan Arka pada Raka membuatnya lebih posesif pada Mira dari pada sebelumnya, membuat gadis itu merasa tak nyaman. Namun Mira masih tetap memakluminya, dalam benaknya ia mengatakan bahwa Arka menjadi seperti ini karena Raka yang telah melewati batas.
Malam itu, bersama kekasihnya Mira melewati malam berdua dengan Arka. Langit yang bertabur bintang malam itu menambah kesan romantis bagi kedua mereka berdua. Tatapan Arka masih memancarkan sebuah cinta untuk Mira, masih terlihat sebuah ketulusan dalam tatapannya meski seringkali mereka berselisih. Namun tiba tiba ponsel Mira berdering, matanya terpaku melihat ke layar ponsel. Mira sesekali ragu antara menerima panggilan atau membiarkannya, keraguannya tak membuat ponsel itu berhenti berdering hingga Arka menghela napas panjang menyadari siapa yang menghubungi Mira malam itu.
“Bisakah kamu letakkan ponselmu? Jangan angkat”, larang Arka. Tatapannya berubah seketika. Mira menuruti ucapan Arka dengan menolak panggilan dari Raka namun ponselnya kembali berdering dan lagi lagi Raka yang menghubunginya. Hatinya tak tenang jika ia harus kembali menolak panggilan dari Raka, segera Mira berdiri dan pergi sedikit lebih jauh dari Arka agar ia tak mendengar percakapannya dengan Raka.
“Kak. Ada apa menghubungiku? Aku sedang diluar bersama Arka”, jawab Mira lembut. Suara napas terengah terdengar oleh Mira, Raka tak mengatakan apapun namun yang terdengar hanya suara napasnyaa, seperti orang kelelahan.
“Kak, ada apa?”, tanya Mira sedikit panik. Tak biasanya Raka seperti ini, tak ada jawaban dari Raka kala itu. Ia meliat ke arah Arka terlihat sedang menunggunya namun hatinya menyuruhnya untuk pergi. Apa yang harus Mira lakukan? Tetap disini bersama Arka atau pergi menemui Raka? Perasaan dilema hampir menguasai Mira sepenuhnya namun ia harus segera membuat keputusan karena waktu yang tak akan membiarkan Mira berpikir terlalu lama. Disinilah hatinya diuji, lagi lagi Mira dihadapkan antara dua pilihan yang cukup sulit antara Arka dan Raka. Perlahan Mira melangkahkan kakinya berjalan mendekati Arka namun bukan untuk duduk melainkan mengambil tasnya, pilihannya adalah Raka. Seakan pikirannya dipenuhi oleh Raka, ia menatap Arka dengan mata yang berkaca kaca.
“Mira, jangan pergi. Aku kekasihmu dan dia hanya pria lain. Akankah kamu meninggalkanku untuknya?”, pinta Arka, ia menahan tangan Mira ketika ia memilih untuk pergi. Arka mengerti kemana Mira akan pergi, kini dirinya sudah tak ingin lagi Mira mengabaikannya demi Raka. Mira menatap Arka dalam dalam, meski yang dihadapannya adalah Arka namun pikirannya hanya ada Raka, hatinya sudah bulat meski Arka adalah kekasihnya namun perasaan khawatir yang dirasakannya lebih besar.
“Aku khawatir pada kakakku. Ku mohon kali ini saja, mari kita jadwalkan kencan kita di lain hari”, pinta Mira, hatinya tak tenang. Ia melepaskan genggaman Arka yang menahan langakahnya untuk pergi dan pergi meninggalkan Arka.
__ADS_1
“Kamu bahkan tak melihat kearahku ketika kamu memikirkannya yang bahkan bukan saudaramu. Apakah dia lebih penting dari ku? Kamu selalu mengorbankanku untuk bisa menjumpainya ketika dia menghubungimu. Apakah aku tak ada artinya bagimu?”, teriak Arka kecewa pada keputusan Mira yang pergi meninggalkannya. Sakit bagi Arka melihat kekasihnya seperti ini namun Mira juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang bahkan tak bisa memilih untuk bersama Arka. Hatinya sangat kuat menyuruhnya untuk pergi.
“Dia kakaku. Ku mohon mengertilah, aku menyayanginya layaknya seorang saudara dan kamu adalah kekasihku. Ku mohon jangan ragukan aku”, balas Mira dengan membalikkan tubuhnya menghadap Arka yang berada di baliknya. Mereka saling menatap, kini Arka mulai menyadari bahwa Mira mulai undur darinya, Arka tak lagi melihat cinta untuknya di mata Mira. Tatapan itu bukan lagi untuknya, air mata itu bukan lagi untuknya.
Arka perlahan melihat Mira pergi dan menghilang dari pandangannya. Malam yang seharusnya menjadi malam romantis bagi mereka saat ini mejadi malam yang menyakitkan bagi Arka, ia duduk dan menangis, ia ketakutan memikirkan Mira yang tak lagi memiliki cinta untuknya.
...****************...
Malam itu sebuah mobil berhenti tepat di rumah Raka. Mira tak tahu apakah Raka benar benar sedang tidak baik baik saja atau bagaimana, yang ia tahu hanyalah ia harus segera menemui Raka. Berharap bahwa pilihannya tak salah, ia mulai meagkahkan kakinya dan memasuki gerbang rumah Raka lalu segera masuk ke dalam.
“Kak Raka ada dirumah?”, tanya Mira dengan mata yang selihat sekeliling rumah Raka. Asisten rumah tangga itu melihat ke arah kamar Raka dan kembali menatapnya, Mira melihat tatapan asisten rumah tangga itu yang tiba tiba saja terlihat sedikit sedih.
“Sebaiknya non lihat sendiri di kamar”, jawab asisten rumah tangga itu sambil menunjuk ke kamar Raka. Mira hanya tersenyum dan segera masuk ke kamar Raka, ia tak tahu apa yang terjadi, Mira berharap bahwa Raka baik baik saja. Dengan sedikit tidak tenang Mira membuka pintu kamar Raka dan melihat Raka yang terbaring di kamar dengan beberapa obat yang berada di sisinya. Tubuhnya berkeringat, kini ia mengerti mengapa Raka hanya mengeluarkan suara napas saja ketika ia menghubungi Mira.
__ADS_1
“Kakak”, pangil Mira lembut, perlahan ia berjalan mendekat pada Raka yang masih tertidur dengan napas yang terengah.
“Mira datang. Mengapa kakak tak menghubungi Mira kalau kakak sakit?”, tanya Mira sambil mengelus lembut kening Raka yang terasa sangat panas itu. Namun tangan Raka bergerak memegangi tangan Mira yang berada tepat di keningnya dengan mata yang tertutup.
“Kamu datang?”, tanya Raka dengan perlahan membuka kedua matanya melihat sosok gadis yang ia cintai kini berada tepat disampingnya. Mira melihat Raka dan memeluknya, ia mencurahkan perasaannya untuk Raka lewat pelukan yang ia berikan.
“Mira yang akan menjaga kakak malam ini. Kakak tenag dan beristirahatlah”, ucap Mira lembut sambil memegangi tangan Raka yang terasa panas itu.
“Ini sudah malam. Bagaimana kalau papa mencarimu? Kamu akan terkena masalah. Pulanglah, aku sudah lebih baik setelah melihatmu”, ucap Raka pelan dengan wajah pucatnya. Matanya tak bisa berbohong bahwa ia menginginkan Mira untuk tetap disisinya namun mulutnya berbohong.
“Kakak tak butuh Mira?”, tanya Mira kembali sambil menunjukkan wajah imutnya yang membuat Raka akhirnya tersenyum dan kembali memegangi tangan Mira.
“Kali ini alasan apa lagi yang kamu berikan pada papa?”, tanya Raka ingin tahu
__ADS_1
“Mira telah mengurus papa dengan baik. Malam ini Mira akan mengurus kakak, beristirahatlah, Mira yang akan menjaga kakak”, jawab Mira sambil menyentuh lembut kedua tangan Raka. Kini Mira bisa sedikit lebih tenang karena ia telah melihat Raka. Perlahan perasaan itu muncul, perasaan yang menganggap Raka lebih dari seorang kakak.