
Sekali lagi aku menemukan diriku berjalan di lorong yang gelap, hanya air mata yang menemani langkahku. Kesedihan, kekecewaan, perasaan tak berguna, ku rasakan segalanya bercampur menjadi satu yang membuatku sakit, sangat sakit bahkan untuk bernapas pun sangat berat ku rasakan. Kehilangan seseorang yang sangat berharga untuk selamanya adalah hal terburuk yang akan selalu datang kepada siapapun juga. Tak peduli bagaimanapun keadaanmu, diwaktu susah, senang, sedih bahkan sekaratpun, ketika sudah waktunya seseorang itu pergi maka siapapun juga tak ada yang bisa mencegahnya.
Hari ini aku merasakannya, dan kali ini jauh lebih sakit. Hatiku seperti tercabik. Orang yang selalu menjaga dan melindungiku sejak kecil, seorang pria yang tak pernah berhenti memberikan cintanya dan bahkan rela melakukan apapun agar putri kesayangannya tetap tersenyum, hari ini dia telah meninggalkanku untuk selamanya.
Aku menangis melihat perawat mencabut semua alat bantu pernapasan yang digunakan papa di tubuhnya, melihat betapa pucat wajah papa saat itu. Aku yang tak bisa menerima kenyataan itu mencoba membangunkan papa sekali lagi, dalam ingatanku papa sering bermain seperti ini, papa pura pura tertidur dan aku harus membangunkan papa untuk bermain bersamaku saat aku masih kecil. Aku tak bisa membedakan antara kenyataan dan memori yang terekam di kepalaku.
“Papa.. Bangun, ayo bermain bersama Reina. Reina kesepian pa” Seruku sambil menahan tangisku.
Sam memelukku dari belakang dan menyadarkanku bahwa ini semua nyata, namun aku masih tak ingin menerima kenyataan ini. Aku masih mencoba membangunkan papa, aku sangat kesal papa tak juga bangun dan bermain denganku. Aku ingin papa bangun dan bermain denganku seperti biasanya, aku merindukan papa. Aku menggoyangkan tubuh papa dengan cukup kencang sampai ranjang itu bergerak, air mataku jatuh mengenai wajah papa yang sudah tak bernyawa.
“Papa.. Bangun.. Rein ingin bermain bersama papa.. Paapaa..” Terikakku sambil menangis.
Aku tak peduli bagaimana orang lain memandangku saat itu, yang ku tahu adalah aku kehilangan cintaku yang takkan pernah bisa ku balas sampai kapanpun, aku kehilangan papa.
“Rein, tenang.. Ssshhh.. Tenanglah” Seru Sam.
Aku jatuh tersungkur sambil menangis. Dalam kondisi seperti ini siapapun tak akan kuat menghadapinya, termasuk mama. Mama tak kuat menerima kenyataan pahit ini, mama terjatuh dan tak sadarkan diri, Sam mendudukanku di kursi dan langsung menggendong mama dan menidurkannya di sebuah sofa dan kembali kepadaku.
“Rein, cepat hubungi rekan dekat papa juga Meli juga orang tuaku. Aku dan Ken akan mengurus pemakaman papa sekarang.” Seru Sam
Sam keluar dan langsung menghubungi Ken, aku melakukan perintah Sam dengan segera, meskipun dengan tangan yang bergetar, aku tetap harus menyampaikan kabar duka ini ke kerabat dekatku.
“Mel.. Bisakah kamu kemari? Aku di rumah sakit Sekar di Bandung. Papa telah meninggal Mel” Seruku memberitahukan berita ini sambil menangis.
“Rein, apa? B..Baiklah.. Aku akan kesana sekarang juga, apa yang kamu butuhkan? Akan kusiapkan dan ku bawa ke sana.” Jawab Meli lewat telepon.
__ADS_1
“Bisakah belikan papa set baju untuk dimakamkan, lengkap dengan sarung tangannya? Aku akan mengurus sisanya dari sini.” Jawabku
“Baiklah, akan ku bawakan. Tenanglah sampai aku datang.” Seru Meli.
Sam menyusuri lorong rumah sakit sambil menelepon untuk mengurus pemakaman papa. Malam itu papa di pindahkan di Rumah duka RS Sekar di Bandung setelah dimandikan dan dipakaikan set pakaian yang dibawakan Meli. Melihat ini semua aku menyadari satu hal bahwa aku tak sendirian, banyak orang yang sangat perhatian dan menyayangiku, Sam yang mengurus makam papa dan semua keperluan pemakamannya, Meli yang rela menempuh perjalanan jauh untuk membantuku menyiapkan semua keperluan di rumah duka, Ken yang sigap membantu Sam.
Ternyata benar kata orang, gajah mati meninggalkan gadingnya sedangkan manusia mati meninggalkan nama, selama hidupnya papa adalah orang baik, setiap orang yang pernah ditolong papa dan teman teman papa malam itu datang untuk memberikan penghormatan terakhirnya, tak jarang juga ada yang menangis karena papa telah meninggalkan mereka, beberapa dari mereka menangis dan berterimakasih karena papa telah sangat baik pada mereka. Hari ini aku melihat bukti nyata kebaikan papa yang tak akan pernah terlupakan oleh teman temannya sampai selamanya.
Malam ini berlalu dengan cepat,tepat pukul dua belas malam kami pulang ke rumah mama bersama sahabatku Meli dan Raka. Aku kembali mengenang rumah ini di tiap sudutnya, kenanganku membawaku melewati waktu dimana aku masih kecil, ketika aku menangis dan tertawa, ketika mama memarahiku dan aku berlari ke papa. Semua kenangan kenangan manis itu membuat air mataku kembali menetes. Aku berjalan sampai di depan pintu kamar mama dan papa. Ku lihat mama tertidur sambil menahan tangisnya yang terlihat sangat menyakitkan, aku tak bisa melihat mamaku seperti ini, hatiku sangat sakit menyaksikannya dadaku terasa sakit ketika mama terus memanggil manggil papa. Sam mendapatiku berdiri didepan pintu kamar dan memelukku dan mencium keningku.
“Malam ini tidurlah dengan mama, aku tahu kamu tak tahan melihat mama seperti ini.” Seru Sam.
Sam melihatku masuk kamar mama dan pergi ke kamar untuk beristirahat, aku berjalan ke arah mama sambil menangis dan memeluk mamaku yang sedari tadi memegangi dadanya yang sakit karena menahan tangisnya.
“Mama..” Seruku sambil memeluk mama
Aku tak dapat berucap apapun saat ini, hatikupun sangat sakit aku hanya bisa menemani mama menangis sambil memeluk mama. Kami menangis bersama sampai tertidur karena kelelahan.
Dalam tidurku aku memimpikan papa, papa datang ke mimpiku sambil tersenyum lembut dan membeli rambutku lalu duduk di sebelahku yang saat itu sedang menangis. Saat itu aku kembali merasakan pelukan papa yang hangat, tempat yang paling nyaman dan aman adalah ketika aku berada dipelukan papa.
“Papa.. Bisakah Rein ikut papa? Rein tak ingin sendirian tanpa papa” Seruku sambil memeluk papa seperti anak kecil.
“Kalau memang bisa, papa akan ajak kamu dan papa, namun kamu punya keluarga sendiri Rein, kamu punya Sam dan Mira yang harus kamu jaga. Jangan larut dalam kesedihan, Kamu boleh merindukan papa, namun jangan sampai hal ini mengganggu hidupmu. Ingat kamu punya keluarga Rein, jaga dan sayangi keluargamu. Ingat Rein, apapun yang terjadi papa akan terus bersamamu, bahkan ketika raga papa sudah tak bersamamu, namun kasih sayang papa dan dukungan papa akan terus bersamamu dan mama. Kembalilah kekehidupanmu, papa pergi yaa..” Seru Papa sambil berjalan meninggalkanku.
Aku memimpikannya sambil menangis dan menyebut nama papa dalam mimpiku malam itu.
__ADS_1
“Papa....” Seruku.
Aku terbangun dari tidurku, kulihat waktu telah menunjukkan pukul lima pagi dan mama masih tertidur dengan air mata yang masih mengalir. Aku bangun dan pindah ke kamarku sendiri untuk tidur bersama Sam sebentar. Aku masuk lalu memeluknya yang sedang tertidur pulas bersama Mira.
“Hey.. Yoou good?” Tanya Sam pelan sambil mengecup keningku sambil merangkulku
“It’s ok. we face it together”Tambahnya.
Tanpa ku sadari aku kembali tertidur di pelukan Sam yang membuatku sangat nyaman lalu terbangun oleh sinar matahari pagi dan suara ayam berkokok. Aku bangun dan ku lihat Sam dan Mira tak ada di kasur. Aku keluar dari kamar dan ku lihat semuanya tengah sibuk menyiapkan diri untuk pemakaman papa. Aku keluar dari kamar dengan wajah yang bengkak dan kantung mata besar dan hitam akibat menangis seharian
“Rein, you good? Ayo sarapan dulu.” Sapa Meli sambil mengandengku ke meja makan dan makan bersama.
Meskipun aku tak berselera makan, namun aku harus makan untuk mengisi tenagaku, aku duduk di sebelah mama dan memeluk mama.
“Kita harus kuat yaa Rein, Tuhan lebih menyayangi papa dari kita.” Seru mama.
Aku mengangguk dan menghapus air mataku yang tiba iba keluar lalu makan bersama. Tepat pukul tujuh pagi, kami berangkat ke rumah duka di RS Sekar untuk membawa papa untuk dimakamkan pukul delapan pagi ini.
Aku dan mama menahan air mataku ketika penutupan peti dilakukan dan perlahan papa terkubur didalam tanah. Tak hanya kami, langitpun menangis pagi itu, langit berduka karena kehilangan sosok manusia baik yang selalu hidup dengan menebar kebaikan pada semua orang. Hujan turun dan pemakamanpun usai. Mungkin benar yang dikatakan papa lewat mimpiku, mungkin raga papa telah meninggalkanku dn mama, namun kasih sayang papa dan dukungan papa akan terus ada bersama kami, papa telah menyelesaikan pertandingannya, saat ini giliranku dan mama yang melanjutkan pertandingan ini dan mengikuti jejak papa yang selalu menebarkan kebaikan pada semua orang.
“Papa.. Terimakasih untuk cinta yang sudah papa berikan. Sampai kapanpun papa adalah yang terbaik bagi Rein. Terimakasih telah menjadikan Rein wanita hebat dan luar biasa. Jangan khawatir papa, Rein akan hidup dengan baik” Seruku sambil menyentuh batu nisan papa.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘