
Pertama kalinya bagiku melihat orang yang benar benar ku cintai saat aku membuka mataku. Sam bukan lagi sebuah kesalahan bagiku, Sam bukan lagi sesuatu yang harus ku hindari. Aku mencintainya dan akan terus mencintainya, bukan karena kebaikannya padaku, namun karena Sam telah menunjukkan padaku apa itu cinta dan apa itu pengorbanan, Sam menyadarkanku tentang perasaanku sendiri. Kini aku bahagia, ketika aku membuka mataku, hanya wajah Sam yang ku lihat.
Pagi itu aku menyentuh wajahnya perlahan, aku tak ingin membangunkannya, terlalu pagi baginya untuk bagun saat itu. Melihat wajah Sam yang tampan itu aku tak bisa mengontrol diriku sendiri, tanpa ku sadari aku mendekatinya dan ku kecup pipinya perlahan lalu aku bangun dan keluar dari kamar.
“Setelah membangunkanku kamu mau meninggalkanku Rein?”
Sam menahanku dan membuka matanya, matanya yang tajam menatapku, membuat hatiku berdebar. Ini bukan kali pertama Sam menatapku seperti ini, namun aku merasakan hal yang berbeda dari tatapan Sam, tak pernah ku rasakan hal ini. Aku tertunduk malu dan mencoba melepaskan tanganku, namun Sam menarikku yang membuatku jatuh ke pelukannya.
Sam memelukku sambil memejamkan matanya. Kali ini Sam semakin menjadi, hatiku seperti mau copot rasanya, dia memelukku erat, wajahku sangat dekat dengan wajahnya. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Setelah tujuh tahun menikah baru ku sadari betapa berharganya Sam bagiku, aku menatapnya dan terus menatapnya, tiba tiba Sam membuka matanya dan menatapku dengan senyuman dan memberiku sebuah kecupan di keningku yang selalu dilakukannya
“Aku selalu ingin melakukan ini Rein, memeluk orang yang ku cintai yang juga mencintaiku, mencium keningnya dan memeluknya.” Kata Sam lembut.
Aku mengerutkan alisku, Sam mengatakan seolah olah dia tak pernah melakukan ini sebelumnya padaku.
“Bukanka kamu selalu melakukan hal ini? Kita selalu melakukan ini kan?” Jawabku.
Sam tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kening kami saling bertemu sakarang.
“Berbeda Rein, saat itu hanya aku yang mencintaimu, kali ini kita saling mencintai, ini pertama kalinya bagiku.” Jawab Sam.
Aku tersenyum mendengar kata kata Sam, meskipun aku merasa nyaman berada di pelukan Sam saat ini, namun aku harus melakukan tugasku dan melepaskan diri dari Sam.
“Sam, aku harus memasak, atau kamu dan Ken akan terlambat” Kataku
Sam tak mendengarkanku dan masih memelukku.Aku melihatnya dan mencoba untuk melepaskan diri dari Sam.
“Sam, aku harus bagun, istirahalah dulu, nanti ku bangunkan” Rayuku.
Namun Sam masih tak menghiraukan segala ucapanku dan malah mencium pipiku.
“Biarkan aku begini sebentar saja, aku tak ingin kehilangan momen ini, jangan tinggalkan aku.” Kata Sam memohon.
Aku menuruti keinginannya dan menemaninya sebentar. Salah satu hal terindah yang kupunya saat ini adalah dirinya, kenyamanan dalam pelukannya, ketenangan dalam setiap kata katanya. Sam adalah pancaran sosok sederhana dan apa adanya, namun dalam kesederhanaannya terdapat cinta yang sangat hangat yang mempu mencairkan hatiku yang beku. Aku mendekatkan wajahku sekali lagi tepat di telinganya dan membisikkan sebuah kata.
“I love You Sam” Bisikku.
Perlahan aku bangun dan meninggalkan Sam yang kembali tertidur untuk melakukan tugasku.
Waktu menunjukkan pukul setengah tuju pagi, sudah waktunya Sam bangun untuk sarapan dan bersiap ke kantor. Aku menata makanan yang telah ku masak ke atas meja makan dan menyiapkan perlengkapan makan.
“pagi kak, wangi sekali masakan kakak, apa menunya kak?’ Tanya Ken.
“Hai Ken, sudah bagun? Kakak masak sayur sop, perkedel sama ayam tepung untuk sarapan. Ayo duduk makan dulu” Jawabku
__ADS_1
Sembari menyiapkan makanan di meja, Sam keluar dari kamar dengan mata sedikit tertutupnya sambil menggaruk kepalanya, itu adalah ciri cirinya ketika dia bangun tidur yang cukup lucu bagiku. Sam yang terlihat gagah dan sangat di segani oleh para pegawainya dikanor, namun bersikap menggemaskan ketika di rumah.
“Morning Rein, bau apa ini? Mengapa wangi sekali? Aku lapar” Katanya sambil memelukku dari belakang.
Ken yang sedang makan melihat kelakuan kakaknya yang membuatnya sedikit geli dan mengerutkan keningnya.
“Kak Sam, duduk dan makanlah, sudah ku katakan berkali kali jangan melakukan hal itu didepanku” Seru Ken kesal.
Sam memang suka sekali mengganggu Ken dengan melakukan hal ini didepannya, kali ini Sam membuat Ken makin kesal lagi dengan mencium pipi dan keningku didepan adiknya itu.
“Let me kiss you babe” Seru Sam
“Ken, melakukan hal ini setiap pagi bisa menambah semangatmu Ken, cepatlah meikah, ajak Laura kemari dan lamar dia, jangan menunda lagi.” Goda Sam.
Pagi itu, dua kaka beradik itu saling beradu mulut, Sam terus saja mengkompori ken dengan memegang tanganku atau memelukku yang membuat ken terus merasa kesal dan juga geli saat makan.
“Sudah cukup. Kalian berdua makan lalu bersiap untuk bekerja, nanti terlambat” Seruku untuk mengakhiri adu mulut mereka.
...****************...
Sam dan Ken sampai di kantor dengan mobil mereka masing masing lalu masuk ke kantor. Seperti biasa ketika Sam membuka ruangannya tumpukan dokumen selalu menyambut kedatangannya. Sam masuk dan duduk di kursinya sambil mulai bekerja, menanda tangani dokumen juga melihat grafik penjualan per tiga bulan yang ada di atas mejanya. Sam bekerja sampai waktu menunjukkan pukul sebelas siang.
Tok tok tok
“Permisi pak”
Tok tok tok
“Permisi pak”
Sam tersenyum dan menyambut kedatangan dua karyawannya itu.
“Bu Bela, Pak Satrio kemari kalian” kata Sam tegas.
Bela dan Pak Satrio saling bertatapan, seakan mereka telah siap untuk menghadapi hari ini. Sikap mereka yang cukup tenang yang membuat mereka seperti tak melakukan kesalahan sama sekali.
“Ada apa pak?” Tanya Bela dengan tenang.
Sam bukan pertama kalinya menghadapi orang seperti ini, yang memasang wajah tenang agar kebusukannya tak diketahui, namun Sam ingin cepat mengakhirinya dan membuat mereka membayar kesalahan yang telah mereka lakukan.
Sam memberikan catatan dokumen yang berbeda dari dokumen yang diserahkan Bela pada Sam beberapa waktu lalu juga rekaman suara bela.
“Tolong jelaskan. Mengapa anda melakukan hal ini?” Seru Sam.
__ADS_1
Sam memandang Bela dan Pak Satrio dengan tatapan yang tajam seperti ingin menghabisi mereka saat ini juga karena telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Bela melihatnya cukup terkejut, laporan dan data aslinya telah diletakkan di tempat yang aman dan hanya dia saja yang mengetahuinya, namun sekarang Sam memiliki laporan dan data yang disimpan oleh Bela.
“Pak Sam, dari mana bapak mendapatkan semua ini?” Tanya Bela.
Mendengar kata kata Bela yang kurang ajar itu, Sam menjadi marah dan menggebrak mejanya dengan keras sampai terdengar oleh karyawan lain.
Brrraakkkk….
“Kurang ajar sekali kamu menanyakan hal itu pada saya? Kamu pikir kamu siapa berani menanyakan hal itu?’ Seru Sam marah.
Bela dan Pak Satrio tak bisa berkutip mendengar Sam yang marah besar seperti itu, pertama kali bagi mereka melihat pemimpinnya marah besar.
“Saya minta Bu Bela dan pak Satrio bertanggung jawab dan mengembalikan seluruh uang yang telah kalian ambil pada saya, dalam waktu dua bulan, saya minta seluruh uang itu kembali atau saya bawa masalah ini ke meja hijau” Seru Sam.
Bela dan Pak Satrio tak mampu mebela diri, seluruh bukti telah ditemukan oleh Sam, kali ini tak ada yang bisa mereka lakukan mereka berdua menangis dan memohon pada Sam agar memaafkan dan tak membawa masalah ini sampai ke pengadilan.
“Pak, kami tahu kami salah pak, kami aakan mengembalikan seluruh uang yang telah kami ambil, tapi tolong jangan bawa masalah ini ke pengadilan pak.” Seru Bela memohon.
Kali ini tak ada kata ampun bagi Bela dan Pak Satrio, Sam tak ingin memaafkan mereka berduaa, Sam ingin memberikan hukuman yang setimpal pada mereka.
“Saya tak peduli, dalam dua bulan. Kalau kalian tak juga mengembalikan seluruh uang yang kalian aambil, saya akan membawa masalah ini ke pengadilan, dan jangan berpikir untuk melarikan diri. Paham kalian?” Seru Sam.
Bela dan Pak Satrio benar benar tak tahu harus berbuat apa, tujuh puluh lima juta perbulan, selama lima bulan mereka telah mengambil seluruh uang itu, bukaan jumlah yang sedikit untuk mereka bisa mengembalikannya.
“ Sekarang bereskan barang barang kalian dan keluar dari kantor saya, kalian saya pecat” Seru Sam marah.
Pak Satrio berlutut di bawah kaki Sam saat ini, tangan dan tubuhnya bergetar ketakutan, kalau dia tak bekerja lalu siapa yang akan menghidupi keluarganya?
“Pak, tolong jangan pecat saya pak, apapun akan saya lakukan pak, kalau saya dipecat bagaimana saya dan keluarga saya hidup pak?” Seru Pak Satrio.
Hal yang tak pernah di sangka orang dalam diri Sam adalah Sam menjadi sangat kejam. Dalam sejarah hidupnya berkarir di dunia bisnis, Sam tak pernah melakukan hal ini pada pegawainya, baru kali ini Sam menunjukkan kemarahannya yang sangat besar.
“Kamu bingung bagaimana kamu harus hidup? Lalu bagaimana para buruh itu hidup? Gaji mereka lebih kecil dari gajumu, saya memberikan bonus untuk mereka agar hidup mereka bisa lebih baik, namun beraninya ular seperti kalian menghancurkan hidup mereka?”
Saat ini Bela dan Pak Satrio menyadari kesalahan mereka, mereka pasrah dengan apa yang terjadi ke depannya, kalau memang mereka harus di penjara, itu adalah kesalahan mereka. Namun Sam tetap pada pendiriannya, dia memecat kedua orang itu dan menyuruhnya mengembalikan semua uang yang mereka ambil.
.
.
.
__ADS_1
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘