
Di satu restoran, Reno terlihat sedang menunggu seseorang sambil memainkan ponselnya. Saat sedang asik memainkan poselnya, Meli menelepon.
“Ren, kamu ada dimana? kamu pulang hari ini kan?” Tanya Meli dengan sedikit lemas.
“Maaf Mel, aku lupa memberi tahu kalau aku tidak bisa pulang hari ini, mungkin besok.” Jawab Reno.
Meli tak meneruskan kata katanya dan langsung mematikan ponselnya. Rena binggung dengan sikap Meli, namun Reno tak menghubunginya kembali dan melanjutkan bermain ponsel.
“Reno..” Panggil wanita yang berpenanpilan seksi.
Reno melihatnya, dia adalah Kinan, wanita yang disembunyikan Reno selama ini. Alasan Reno sering pulang malam dan alasannya yang sering meeting ke luar kota sampai berminggu minggu adalah untuk bisa bersama selingkuhannya.
Mereka berdua makan sambil bergurau dengan mesrany. Kinan merangkul lengan Reno dan bersandar dengan manja sambil menggenggam tangan Reno.
“Ren, kapan kita menikah? Aku sudah tidak sabar menjadi istri kamu dan menjadi nyonya Reno.” Katanya dengan senyum.
Reno melihat ke arah Kinan sambil mencubit kecil hidungnya dan mencium keningnya. Hal yang tak pernah lagi dilakukannya pada Meli istrinya, dia lakukan pada selingkuhannya.
“Tunggu yaa sayang. Aku masih belum bisa meninggalkan Meli, karena dia memiliki tiga persen saham yang diberikan papa padanya. Aku harus mendapatkan saham tiga persen itu dahulu, baru aku menceraikannya dan menikahimu.” Katanya.
Hari itu Reno dan Kinan menghabiskan waktu bersama, tanpa sepengetahuan istrinya, Reno memakai villa milik Meli pribadi yang ada di Bandung untuk tidur bersama Kinan selingkuhannya.
Dirumah Meli hanya bisa menangis, apa yang kurang darinya sehingga Reno tega berselingkuh dengan wanita lain. Malam itu Meli mencoba menelepon Reno untuk menyuruhnya pulang, namun Reno tak mengangkatnya, Meli mencobanya berkali kali namun Reno masih tak mengangkatnya juga.
Meli kesal dan marah, tangisannya makin kencang dan dai membanting ponselnya saat itu. Tangisan Meli terdengar sampai ke kamar Raka. Raka yang saat itu telah tertidur pulas terbangun karena suara tangisan dan teriakan Meli yang sangat keras.
Raka berlari ke kamar mamanya dan mengetuk pintu sambil memanggil mamanya.
“Mama.. mama buka mama.. mama kenapa? mama..” Teriak Raka sambil mengetuk pintu kamar dengan keras.
Meli masih tak membukakan pintu untuk Raka, Raka mengetuk pintu sekali lagi dan berteriak lebih keras namun Meli tetap tak merespon, dia hanya menangis dan menangis.
Raka cukup ketakutan saat itu, mendengar mamanya meangis dan menjerit seperti itu, tak ada yang bisa dilakukan seorang bocah berumur depalan tahun. Raka mulai menangis ketakutan, Raka takut terjadi sesuatu pada mamanya, dan memutuskan untuk mengambil bantal guling dan selimut lalu tidur di depan pintu kamar mamanya.
“Mama.. buka mama.. mama kenapa?” Tanya Raka sambil menangis.
Malam itu Raka tidur di depan kamar mamanya sampai pagi, dia menemani mamanya, Raka takut terjadi hal yang buruk pada mamanya.
Pagi hari datang, Meli tidak tidur semalaman karena memikirkan Reno yang berselingkuh selama ini, Matanya sembab dan air mata tak ada habisnya menetes, pandangannya kosong. Namun Meli sadar bahwa Meli adalah seorang ibu, Raka membutuhkannya, Meli tak bisa terus menerus memikirkan Reno.
__ADS_1
Pagi itu Meli berdiri dari kasurnya dengan penampilan yang sedikit berantakan dan membuka pintu kamarnya. Meli sangat terkejut dengan apa yag dilihatnya. Raka tidur di depan kamarnya dan mengigau memanggilnya.
“Mama.. mama..” Katanya.
Meli melihatnya sambil menangis, tak tega Meli membangunkan Raka, Meli menggendong Raka dan menidurkannya di kamarnya. Meli mencium keningnya sambil menangis.
“Maafkan mama yaa nak. Tidak seharusnya kamu melakukan hal ini untuk mama.” Kata Meli sambil menangis.
Raka tiba tiba terbangaun karena mendengar suara tangisan mamanya. Raka duduk dan menyentuh wajah mamanya.
“Mama, mama kenapa? kenapa menangis? Raka nakal yaa ma? apa Raka anak yang nakal sampai mama menangis? Maafkan Raka mama. Mama jangan menangis” Raka memeluk Meli sambil menangis.
Meli memeluk Raka dan berusaha tegar didepan anaknya itu. Perlahan lahan Meli mengambil napasa dalam dan menenagkan diri.
“Raka, ini semua bukan karena Raka. Mama hanya sedang banyak yang sedang dipikirkan nak.” Kata Meli.
Meli memeluk Raka dan mencium keningnya untuk menenangkannya. Meli hanya bisa memendamnya sendirian saat ini, dia tak mungkin menceritakan tentang ayahnya yang selingkuh, bagaimanapun juga Reno adalah ayahnya Raka, Meli tak mau membuat citra Reno sebagai ayah yang dibangga banggakan Raka pada teman temannya rusak begitu saja. Raka masih sangat kecil untuk mengetahui ini semua.
...****************...
Seperti biasa suasana rumah sangat nyaman di pagi hari karena kami bisa berkumpul dan bercanda bersama.
“Sam, aku nanti ke rumah Meli yaa.. aku tiba tiba memikirkan Meli dan memsak agak banyak untuknya dan Raka.” Kataku sambil makan.
Aku menganggukan kepalaku dan kembali makan. Mendengar aku akan mengunjungi Meli, Mira sudah memasang wajah bahagia karena dia akan bertemu dan bermain dengan Raka.
“Mama, Mira ikut yaa.. Mira mau bermain dengan kak Raka” Tanyanya sambil tersenyum senang.
Aku mengiyakan permintaannya dengan menganggukan kepalaku dan mencubit kecil hidungnya.
Pagi itu aku menyiapkan bekal Sam untuk makan siang dan memandikan Mira lalu bersiap ke rumah Meli , entah mengapa aku ingin megunjungi Meli, perasaan di hatiku sangat kuat menyuruhku menemuinya hari itu. Aku merasa sesuatu terjadi pada Meli, meskipun kami bukan saudara kandung, namun kami telah bersama sejak lama dan semakin lama ikatan kami semakin kuat.
Aku dan Mira masuk ke mobil dan berangkat menuju rumah Meli, tanpa ku sadari aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, yang ada di pikiranku hanyalah aku harus sampai ke rumah Meli sesegera mungkin, hatiku tidak tenang namun aku berusaha untuk mengendalikan perasaanku dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa Meli baik baik saja.
“Mama.. pelan pelan mama, Mira takut” Katanya sambil memegangi lenganku.
Aku tersadar ketika Mira menyentuhku, dan tersenyum ke arah Mira yang terlihat ketakutan.
“Maafkan mama yaa Mira,” Kataku sambil membelai Mira,
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Meli, aku dan Mira turun dari mobil sambil membawa makanan kesukaan Meli.
Tok tok tok..
Aku mengetuk namun pintu tak kunjung terbuka, ku coba mengetuk sekali lagi, namun tetap saja seperti tak ada orang. Namun mobil Meli ada di rumahnya, aku mengetuk dengan lebih keras lagi dan Meli masih tetap tak membukakan pintu.
“Mel.. Meli.. Meli..” Aku memanggil namanya dengan keras namun tak ada respon sama sekali dari Meli. Aku mencoba menelponnya namun Meli ponselnya tak aktif. Aku mulai panik, ku coba segala cara untuk memanggil Meli keluar namun tak ada hasilnya. Sampai akhirnya Raka keluar dan membukakan pintu, aku melihatnya menangis saat itu.
“hhhmmwaaa... tante.. Mama mengurung diri dan tak mau keluar tante.. Raka takut” Katanya sambil memelukku.
Aku sudah menduga ada yang tidak beres dengan Meli, firasatku benar. Meli sedang mengalami hal yang buruk saat ini. Aku masuk kedalam dan mengetuk kamar Meli.
“Mel.. Mel ini aku, kamu kenapa? apa yang terjadi Mel?”
Meli tak menjawab, yang ku dengar hanya isak tangis Meli yang berusaha menahan tangisannya.
“Raka, mama kenapa? Apa mama bertengkar dengan papa?” Tanyaku.
Raka hanya menangis dan menggelengkan kepalanya, tubuhnya bergetar saat itu, dia ketakutan. Seperti halnya Mira yang ketakutan kemarin, Raka pun sama. Tubuhnya bergetar dan dia terus menangis.
Aku terus berusaha membuat Meli keluar dari kamar namun usahaku sepertinya sia sia. Meli tetap keras kepala. Aku ingat Meli memberi tahuku tempat dia meletakkan seluruh kunci cadangan rumahnya. Aku bergegas mengambilnya dan membuka pintu kamar Meli.
Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat dan melarang anak anak untuk melihat yang yang dilakukan Meli pada tubuhnya atau mereka akan ketakutan.
Meli melukai punggung tangannya dengan pisau, setiap kali Meli merasa stres dan tak mampu mengatasi permasalahannya yang dirasa cukup berat, dia akan melukai punggung tangannya.
“Astaga Meli..” Aku berteriak dan langsung menutup pintu kamar Meli.
Raka dan Mira ku tinggalkan di luar sebentar dan mengunci pintu agar mereka tak masuk ke kamar.
Sudah sangat lama sejak terakhir aku melihat Meli melakukan hal ini. Meli menangis sambil terus menyakiti kedua tangannya, Aku merebut pisau itu dari tangan Meli namun Meli mendorongku, aku terus berusaha merebutnya namun Meli berteriak sambil mendorongku.
“Pergii!!! Jangan ganggu aku.” Katanya sambil menangis.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. kalau kalian suka bisa di like dan kasi saran yaa. Saran apapun asal membangun dari kalian sangat penting loh.. 😘😘