My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 54 | Aku Selalu Bersamamu


__ADS_3

Ken terus menatap layar ponselnya dengan sangat gugup, sesekali dirinya mencoba untuk memberanikan diri menelepon orang tuanya namun rasa takut lebih menguasainya saat ini. Tak bisa duduk dan berpikir, Ken berjalan kesana kemari untuk mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya pad orang tuanya. Ken tahu dia bisa berbicara pada mamanya karena mamanya sangat lembut, tak seperti papanya yang cukup tegas dan sangat disiplin.


“Aku benar benar tak ada pilihan. Kalau aku tak mengatakannya maka kak Sam yang akan mengatakannya pada mama dan papa.” Serunya dalam hati.


Ken sudah menebak kalau Laura pasti akan hamil karena Ken benar benar melakukannya tanpa pengaman. Sebelum itu terjadi, Ken harus membuat orang tuanya untuk melamar Laura. Namun, masalah yang harus dihadapi Ken adalah papanya. Pak Sukmo adalah pengusaha yang cukup sibuk, semua harus sesuai jadwal tak peduli Ken adalah anaknya, Ken tak bisa seenaknya meminta papanya untuk mengosongkan jadwalnya dan datang untuk melamar kekasihnya.


Malam itu Ken cukup pusing memikirkan semua ini, aku tak bisa berbuat banyak untuk Ken karena Sam melarangku untuk tak ikut campur dalam urusan adiknya dan membiarkannya menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.


Mama melihat Ken yang sedari tadi berjalan kesana kemari dan menyapanya juga mengajak Ken bicara untuk membuatnya sedikit santai.


“Ken, ada apa?” Tanya mama sambil memegang bahu Ken.


“Oh.. Tante. Ken tak apa tante” Jawab Ken dengan tatapan yang tak tenang.


“Duduklah sebentar dan bicaralah denngan tante.” Seru mama mengajak Ken duduk.


“Kamu yakin tak ada apa apa? Mungkin tante bisa bantu.” Tambah mama


Ken harus berpikir dua kali untuk menceritakan masalah ini dengan mama, namun Ken sepertinya tak bisa mengatasinya sendiri dan tak bisa memenadam semua ini sendiri. Sejujurnya Ken tak ingin menceritakannya pada mama, namun sepertinya dirinya tak ada pilihan lain lagi.


“Ken berencana melamar Laura secepatnya namun Ken takut papa tak bisa datang dalam minggu ini tante.” Seru Ken sambil mengusap wajahnya.


“Kamu sudah mencoba menghubungi papamu Ken?” Tanya mama sambil mengusap punggung Ken.


Ken hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menunduk dan mengusap kepala sampai wajahnya. Ken tak punya keberanian untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada mama, namun mama hanya tersenyum dan mencoba untuk menenangkan Ken.


“Ken, coba saja hubungi papamu. Maaf kalau tante sedikit lancang, kemarin tante tak sengaja mendengar pembicaraanmu dan Sam.” Seru mama.


Ken cukup terkejut mendengarya dan langsung menoleh ke arah mama dengan wajah terkejutnya.


“Meskipun nantinya papamu akan sangat marah padamu, namun percayalah. Orang tua akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya meskipun anaknya telah membuat suatu kesalahan. Kalau tidak berani menelepon, pulanglah kerumah dan bicarakan masalah ini baik baik. Hadapi semua ini seperti yang sudah Sam ajarkan padamu.” Seru mama

__ADS_1


Mama menepuk pundak Ken dan meninggalkannya sendiri untuk merenung sejenak. Ken mengerti sekarang, saat ini Ken harus melakukannya sendiri tanpa campur tangan kakaknya, menangunggung dan bertanggung jawab untuk jalan yang sudah dipilihnya yang tak mungkin bisa diputar kembali. Ken kembali mengumpulkan keberaniannya dan menghubungi orang tuanya.


“Halo papa.. Minggu ini Ken akan pulang pa. Ada yang ingin Ken katakan, Apa papa bisa mengosongkan jadwal papa? Ini sangat penting untuk Ken pa.” Seru Ken dengan tangan yang bergetar.


“Sangat serius? Baiklah, hari rabu papa akan mengosongkan jadwal papa. Pulanglah pada hari Rabu.” Seru Pak Sukmo di telepon.


“Baiklah pa.. Sampai jumpa hari rabu.” Seru Ken dan menutup panggilannya.


Ken meyakinkan dirinya bahwa dia bisa mengatasi segalanya sendiri. Kali ini tak ada lagi campur tangan dari Sam, seperti halnya seorang bayi yang mencoba berjalan dengan kakinya sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Itulah yang dirasakan Ken saat ini.


“Ternyata hidupku lebih mudah ketika Kak Sam membatuku, kukira aku telah berhasil melakukan segalanya dengan tangan dan kakiku sendiri, ternyata selama ini kak Sam yang menggerakkanku hingga tujuanku dan impianku tercapai.” Seru Ken dalam hati.


Aku benar benar sedih melihat Ken yang selalu ceria tiba tiba sedikit berubah dengan masalah yang tengah dialaminya. Mungkin benar kata orang bahwa impian dan cinta adalah dua hal yang sulit untuk dilakukan bersama, jika kamu memilih mewujudkan impianmu maka cintamu akan berhenti dan bahkan hilang, namun jika kamu memilih cintamu maka impianmu takkan tercapai.


Aku masuk ke kamar dan melihat Sam yang masih terjaga dengan memainkan ponselnya dengan cukup serius. Aku mendekat dan memegang tangannya sambil tersenyum, namun sepertinya Sam telah mengetahui apa yang akan ku katakan dan melepaskan tangannya dariku sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


“Aku mengerti apa maksudmu Rein, namun jawabannya adalah tidak.” Seru Sam sambil kembali memainkan ponselnya.


“Aku tak mengatakan apapun Sam, aku hanya tersenyum dan memegang tangan suamiku.” Seruku mengelak.


“Sudahlah, kamu istriku dan aku tahu tujuanmu” Seru Sam sambil mengecup keningku.


Tanpa mengucapkan apapun lagi aku tidur membelakagi Sam dengan sedikit kesal, Sam melihat tingkahku dan langsung tidur sambil memelukku dari belakang juga mencium kepalaku.


“Rein, ku mohon jangan seperti ini. Aku juga menyayangi Ken, dia adikku. Namun aku harus menjadi seorang kakak yang tegas dan mendidiknya agar bisa bertanggung jawab dengan semua yang telah dilakukannya. Saat ini dia tinggal dengan kita yang berarti akulah yang bertanggung jawab atasnya.” Seru Sam menjelaskan dengan lembut padaku.


Aku mengerti tujuan Sam sangat baik pada adiknya, namun aku takut bahwa Ken akan kesulitan menghadapi semuanya tanpa sedikitpun bantuan dari Sam. Karena yang dihadapi Ken bukan lagi Sam melainkan orang tuanya. Pak Sukmo adalah tipikal orang tua yang cukup tegas keras juga disiplin dan aku tak yakin bahwa Ken bisa menghadapinya seorang diri tanpa Sam disampingnya.


“Namun kamu mengetahui bahwa papa adalah orang yang cukup keras kan? Apa kamu yakin Ken bisa menghadapinya sendiri? Bagaimana kalau papa tak merestui hubungan mereka Sam?” Tanyaku sambil membalikkan badan menatap Sam.


Sam tersenyum dan menempelkan keningnya denganku sambil mengusapkannya. Dengan lembut jari jarinya menyentuh wajahku dan membalas perkataanku.

__ADS_1


“Tidak mungkin papa tak merestuinya Rein, Ken hanya akan diberikan sebuah hukuman. Dan hukuman itu yang akan menentukan apakah dirinya siap atau tidak menikahi Laura dan bertanggung jawab penuh atas Laura.” Jawab Sam.


Aku masih tak mengerti apa yang dimaksud Sam, hukuman apa? Hukuman yang menentukan apa?. Sam melihat wajah bingungku dan tersenyum sambil mencium pipiku


“Sam aku tak paham. Bagaimana bisa sebuah hukuman menentukan Ken pantas menikahi Laura atau tidak? Hukuman seperti apa?” Tanyaku bingung.


“Seperti yang kamu tahu Rein, papa mempunyai sifat yang keras dan disiplin. Menurutmu Ken sudah siap untuk menikahi Laura? Tidak kan? Sama seperti papa. Papa takkan pernah mengijinkan anak anaknya menikah ketika mereka masih belum siap. Sebelumnya aku telah menceritakan segalanya pada papa dan yaa.. Papa sangat marah mendengar itu semua. Namun aku berusaha untuk meredam amarah papa agar tak terlalu keras pada Ken nantinya.” Jawab Sam.


Aku cukup terkejut mendengarnya. Kupikir Sam benar benar lepas tangan pada adiknya, namun ternyata sampai akhirpun Sam terus membantu Ken tanpa sepengetahuannya. Aku benar benar bangga menikahi laki laki yang sangat baik dan luarbiasa seperti Sam.


“Jadi kamu tak benar benar membiarkan Ken melewati segalanya sendiri?” Tanyaku terkejut .


“Sudah ku bilang Ken itu adikku, mana mungkin aku membiarkannya sendiri? Dia hanya akan menerima hukuman dari papa yang akan menguntungkannya Rein, tenang saja.” Jawab Sam sambil tertawa kecil.


Aku menjatuhkan diriku ke atas Sam sambil memeluknya karena merasa senang dengan hal yang telah dilakukan Sam.


“Kamu benar benar hebat Sam. Tak terpikirkan olehku kalau kamu melakukan hal ini.” Seruku sambil menciumi wajah Sam.


“Rein hentikan, hey.. Tunggulah dahulu.” Seru Sam


Aku tak mendengarkannya dan terus menciumi wajahnya karena merasa senang. Sam tiba tiba menghentikanku lalu menahanku dengan kedua tangannya.


“Tidak seperti ini caranya kalau kamu ingin menciumku.” Seru Sam.


Perasaan bahagia yang ku rasakan tiba tiba menjadi sedikit takut dengan tatapan dan kata kata Sam, karena ku tahu bahwa kalau Sam yang melakukannya dia takkan berhenti dan tak megijinkanku untuk menarik napas walau sedikit saja.


Sam menyerangku dengan cepat dan membuat ku berada tepat dibawahnya. Dan terjadi lagi.....


.


.

__ADS_1


.


Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘


__ADS_2