
Setiap orang berjuang untuk hidup dan kebahagiaannya masing masing, tak ada satu orangpun yang diam saja ketika hidupnya berjalan dengan cukup buruk. Dan kini Meli telah mendapatkan buah dari apa yang dia lakukan selama ini, ia terbebas dari Reno dan hidupnya menjadi lebih nahagia bersama anak dan mertuanya. Hingga satu ketika, didalam kamar Pak Rudy, kesakitan kembali menyerag Pak Rudy yang keadaannya perlahan membaik. Napasnya terengah seperti mencoba untuk menarik napas dalam dalam namun tak sampai, aroma busuk mulai keluar dari tubuh Pak Rudy beberapa hari yang lalu, semalaman Meli menemani mertuanya sambil terus memegangi kedua tangannya dengan terus berdo dan berharap memohon agar mertuanya kembali sembuh.
“Papa, kita kerumah sakit yaa pa. Meli tak tahan melihat papa yang seperti ini”, ucap Meli memohon
Pak Rudy hanya menggelengkan kepalanya sambil sesekali mencoba menarik napas dalam, ia berusaha membuktikan pada Meli bahwa dirinya masih baik baik saja. Tak lagi bisa berbicara dengan benar, ia menepuk dadanya untuk menunjukkan bahwa ia masih sanggup untuk bertahan.
“Jangan tinggalkan Meli papa. Meli sudah tak memiliki orang tua, kalau papa juga pergi lalu siapa yang harus bersama Meli? Meli masih membutuhkan papa”, ucapnya mencium tangan mertuanya.
Kasih sayang Meli pada Pak Rudy sangat besar hingga membuat Pak Rudy menangis karenanya. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara karena tak laagi mampu berbicara dengan benar, tangisannya membuat hati Meli sangat sakit, ia tak ingin mertuanya pergi meninggalkannya.
“Andai saja anakku mampu memperhatikanku seperti Meli, papa juga tak ingin meninggalkanmu”, ucapnya dalam hati sambil menangis.
Meli meninggalkan pekerjaannya selama beberapa hari hanya untuk mengurus ayah mertuanya secara pribadi, perasaannya dengan kuat mengatakan bahwa Meli harus terus bersama mertuanya dan kini ia mengerti mengapa suara hatinya begitu kuat menyuruhnya untuk terus berada disamping mertuanya.
“Meli tak bisa papa. Papa harus menuruti Meli. Kita pergi ke rumah sakit sekarang”. Ucap Meli melepaskan genggaman tangannya dan turun menyiapkan mobil.
Dengan bantuan dari beberapa asisten rumah tangga dan dirinya, mereka membawa Pak Rudy turun dan naik ke mobil, segera Meli berangkat menuju rumah sakit agar mertuanya segera ditangani. Dalam perjalanan beberapa kali Meli menoleh ke belakang untuk memastikan keadan mertuanya, dengan perasaan takut dan khawatir Meli menaikkan kecepatannya agar ia lebih cepat sampai. Segera Pak Rudy masuk ke ruang UGD untuk diperiksa, raut wajah dokter yang memeriksa mertua Meli terlihat sangat pasrah sambil menggelengkan kepalanya yang membuat Meli ketakutan dan bertanya tanya.
“Ada apa? Apakah keadaannya semakin memburuh? Papa saya bahkan sudah mulai membaik beberapa hari yang lalu namun mengapa menjadi seperti ini? Ada apa dokter?”, tanya Meli khawatir dengan mata berkaca kacanya.
__ADS_1
“Untuk lebih jelasnya, kita harus melakukan foto rongen agar saya bisa menjelaskannya”, ucap dokter meninggalkan Meli.
Meli melakukan apa yang dikatakan oleh dokter untuk mengambil foto rongen paru paru mertuanya lalu kembali ke ruangan dokter dengan harapan bahwa tak ada hal buruk terjadi pada mertuanya. Sejujurnya Meli tak ingin melakukannya melihat kondisi mertuanya yang semakin kesulitan untuk bernapas.
“Papa hanya sesak napas saja kan?”. Tanya Meli pada mertuanya yang terus memegangi dadanya yang sakit.
Setelah melakukan foto rongen, Pak Rudy kembali ke ruang UGD sedang Meli menuju ke ruang doter untuk mendengar penjelasan dari dokter terkain yahnya yang sakit. Entah mengapa jantungnya berdetak kencang dan ketakutan menyerang hati juga pikirannya, tangannya bergetar karena ia takut bahwa bukan kabar baik yang ia dengar dari dokter tentang mertuanya. Dokter membuka hasil foto rongen yang dibawa suster ke ruangannya dan melihat ke arah Meli.
“Sebelumnya Pak Rudy menderita sakit apa?”, tany dokter lembut pada Meli.
“Papa terkena stroke ringan namun seiring berjalannya waktu papa menjadi sulit untuk berbicara dokter”, ucap Meli mencoba menjelaskannya.
“Tidak dokter, papa saya orang yang sangat menjaga kesehatannya, ia rutin berolah raga dan menjaga pola makan juga pola hidupnya. Ada apa dokter?”, jawab Meli.
“Saya tak yakin berapa lama lagi Pak Rudy mampu bertahan dengan kondisi jantungnya yang sudah berlubang”, ucap dokter.
Meli melihat ke arah dokter dengan matanya yang membola seakan tak percaya dengan pernyataan dokter yang mengatakan bahwa paru paru mertuanya berlubang, matanya berkaca kaca dan ia tak mengerti dengan semua ini.
“Mengapa? Bagaimana bisa? Tak mungkin dokter, papa hanya sesak napas saja. Pasti hasilnya tertukar denan pasien lainnya”, ucap Meli mencoba menyangkal kebenarannya.
__ADS_1
“Kami tak bisa melakukan banyak hal untuk Pak Rudy, kami tak berani mengambil resiko melakukan operasi transplantasi paru paru dengan kondisi pasien yang sangat lemah”, ucap dokter pada Meli,
Waktu seperti berhenti untuk sementara dan Meli merasakan sesuatu seperti menusuk dadanya ketika mendengar perkataan dokter, tak pernah ia bayangkan bahwa mertuanya akan mengalami kesakitan yang seperti ini, ditambah lagi Meli tak bisa melakukan apapun untuk kesembuhan mertuanya meski ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga dan melakukan yang terbaik bagi mertua yang disayanginya.
“Tak ada kah yang bisa dilakukan? Apakah saya harus diam dan menunggu hingga papa meninggal? Apa tak ada yang dapat dilakukan? Setidaknya perpanjang usia papa saya sedikit lebih lama dokter”, ucap Meli dengan tangan yang memohon sambil menangis.
“Maafkan kami”, ucap dokter dengan menunduk.
Meli segera menuju ruang UGD menemui mertuanya yang sedang tertidur dengan napas yang terengah engah sambil memegangi tangannya, Meli menangis dan menundukkan kepalanya. Ia merasa tak berguna ketika ia harus melihat ayahnya terbaring lemah dan tak bisa melakukan apapun.
“Jangan ambil papa. Meli mohon Tuhan, jangan ambil papa. Meli belum siap”, ucapnya sambil berdoa.
Ditengah kesedihannya ada tangan yang menyentuh kepalanya sambil mengusap usap kepalanya dengan lembut. Pak Rudy kembali membuka matanya dan tersenyum pada Meli, meski terlihat kesakitan ia tetap mencoba menyayangi Meli sebisa mungkin. Meli semakin menangis melihat ayahnya yang sangat menyayanginya.
“Meli masih membutihkan papa. Namun tak adil bagi papa saat Meli harus memaksakan kehendak Meli. Meli ingin papa tetap disisi Meli, apakah itu permintaan yang egois?”, tanya Meli menahan tangisnya.
Kedua mata Pak Rudy terlihat sangat sayu dan seperi tak kuat lagi menahan kesadarannya namun ia tetap mencoba untuk membuka matanya dan tersenyum pada menantu yang sangat ia sayangi dan kasihi itu. Dengan perlahan Pak Rudy memaksakan dirinya untuk berbicara pada Meli walau hal itu suli dan sanag menyakiti tubuhnya.
“M..Me..li. p..papa ss..say..yang Mm..me..l..li” ucapnya terbatah batah.
__ADS_1
Meski telah ribuan kali Meli mendengar bahwa mertuanya sangat menyayanginya namun kali ini berbeda, Meli tak ingin mendengar kata kata itu keluar dari mulut mertuanya, hatinya sangat sakit ketika mendengar kata kata itu dengan terbatah batah. Meli sangat takut karena bisa jadi itu adalah ungkapan terakhir mertuanya pada dirinya.