
Ken kembali ke rumah Sam untuk mulai mebereskan seluruh baran barangnya dan kembali ke rumah orang tuanya selama tiga bulan. Meskipun cukup berat baginya harus pergi meninggalkan rumah ini dan juga kekasihnya namun hal ini harus ia lakukan untuk masa depannya bersama Laura kelak. Ken melihat Mira yang sedang bermain dan menjumpainya lalu memeluknya erat erat, ia sangat menyayangi Mira sampai enggan untuk berpisah dengan keponakan kesayangannya itu mengingat minggu depan ia sudah tak lagi berada di rumah ini dan tak bisa lagi bermain dengan Mira.
“Mira ... Om Ken sangat merindukan Mira.” Ucap ken sambil memeluk Mira yang sedang bermain.
Aku melihat Ken dan tersenyum. Aku seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ken, belum genap satu tahun Ken berada di sini namun ia sudah sangat dekat dengan Mira dan sangat menyayanginya, tak heran ia merasa sangat berat ketika ia harus berpisah dengan Mira dalam waktu beberapa bulan kedepan.
“Ken ... Sudah pulang?” Sapa ku
“Iya kak.” Ucapnya singkat
Kami sempat hening sejenak sebelum memulai kembali pembicaraan kami. Aku mengetahui alasan mengapa Ken harus bekerja selama tiga bulan dengan ayahnya yang sifatnya sangat bertolak belakang dengannya namun aku tak bisa memberi tahunya meski aku ingin. Melihat kesedihan di matanya aku merasa kasihan pada Ken meskipun ia bukan adikku namun aku menyayanginya layaknya adikku sendiri.
“Kak, apa aku boleh mengajak Mira pergi setiap pulang kantor? Aku ingin membelikan Mira banyak mainan dan apapun yang ia inginkan sebelum aku harus kembali pulang kerumah.” Tanya Ken meminta ijinku.
“Silahkan saja Ken. Kakak tahu ini sangat berat bagimu namun percayalah segalanya akan baik adanya saat kamu melakukannya dengan hati yang tulus. Jalan tak selamanya mulus Ken namun kalau kamu melakukannya dengan sepenuh hati maka kebahagiaan akan menunggumu di ujung jalan” Ucapku meyemangatinya.
“Iya kak. Terimakasih” Jawabnya.
Ken masuk ke dalam kamarnya dan mulai berbenah dan membereskan seluruh barang miliknya karena ia tak memiliki waktu lagi untuk berbenah mengingat pekerjaannya cukup banyak di pabrik. Dalam keadaan rumah yang cukup sepi Sam datang dan memeluk anaknya sambil mencium dan menggendongnya seperti biasa saat ia datang, tak ada yang berubah sedikitpun sampai Sam menanyakan Ken padaku.
“Dia sudah pulang?” Tanya Sam
“Ada dikamarnya. Berbicaralah padanya Sam, ku rasa ia sangat kacau saat ini” Jawabku sambil menggambil Mira dari pelukan Sam
__ADS_1
Aku memberi ruang pada kakak beradik untuk memiliki waktu bersama untuk saat ini, ku urus Mira dan membiarkan mereka berdua berbicara. Sam memanggil adiknya untuk duduk bersantai sejenak di area ruang keluarga bersama dengan secangkir teh dan juga beberapa cemilan dan buah yang telah ku siapkan untuk menemani perbincangan mereka yang mungkin akan memakan waktu cukup lama.
Ku lihat Ken masih diam dan mematung meskipun hanya ada dirinya dan Sam disana, dengan tatapan yang kosong dan sedih Ken menghela napas panjang sebelum memulai percakapannya terlebih dahulu.
“Seandainya aku tak melakukan hal itu dengan Laura mungkin aku tak harus melakukan ini semua kak.” Ucap Ken denan melipat jemarinya
“Seandainya aku tak melakukan hal bodoh mungkin aku tak harus menjauh darimu, Kak Rein dan juga Mira.” Tambahnya.
Sam tersenyum melihat adiknya yang sangat putus asa saat ini dan menepuk pundaknya. Terkadang ia merasa kasihan dengan adiknya ini karena semua hal yang ia lakukan seorang diri selalu gagal dan tak berhasil.
“Segala keputusan pasti mmeiliki resiko tersendiri Ken, entah keputusanmu tepat atau salah. Namun satu hal yang pasti bahwa pada akhirnya kamu akan menemukan cahaya terang ketika kamu melakukannya dengan sungguh sungguh” Nasihat Sam
“Aku belum siap kak. Aku tak siap dengan semua ini, aku sadar kalau belum pernah memulai apapun dengan tanganku sendiri. Aku masih terlalu kekanak kanakan dan selalu bersembunyi dibalik punggungmu selama ini. Aku tak siap kak.” Rintih Ken
“Sepertinya papa sedikit keterlaluan pada Ken, ia masih saja baru memimpin sebuah pabrik namun papa malah mempercayakannya anak perusahaan untuk ia kembangkan” Serunya dalam hati
“Kali ini belajarlah bertanggung jawab dengan dirimu sendiri Ken, kakak sudah tak lagi bisa membantumu seperti sebelumnya. Namun percayalah dukungan kakak akan selalu bersamamu.” Ucap Sam.
“Kamu sudah menceritakannya pada Laura masalah ini?” Tanya Sam
Ken hanya menggelengkan kepalanya seraya menunduk sambil mengacak acak rambutnya. Ia tak yakin untuk mengatakannya pada Laura mengingat tujuan Laura melamar di firma hukum yang saat ini karena dirinya dan saat ini ia harus kembali kepada orang tuanya untuk memimpin anak perusahaan yang artinya Ken kembali ke awal.
“Kak Sam, menurutmu aku bisa melakukannya? Apakah pada akhirnya aku mampu menyelesaikan segalanya?” Tanya Ken ragu.
__ADS_1
“Tenanglah Ken, kamu pasti bisa melakukannya. Lakukan segalanya dengan caramu sendiri dan jangan lagi kamu mencoba menjadi serupa dengan orang lain. Jadilah dirimu sendiri dan selesaikan dengan caramu.” Ucap Sam menepuk punggung Ken.
Sam berdiri dan meninggalkan Ken di ruang keluarga sendirian karena hari sudah larut. Sam masuk ke dalam kamar dan melihatku telah tertidur pulas lalu memelukku dari belakang dan membuatku terbangun.
“You wake up?” Ucap Sam lembut sambil mencium kepalaku
Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam, cukup lama rupanya Sam dan Ken berbincang sejak pukul delapan malam. Aku membaikkan tubuhku menghadap Sam dan membelai wajahnya.
“Bagaimana keadaannya?” Tanyaku.
“Seperti katamu, Ken sedikit berantakan saat aku mengajaknya berbicara.” Jawabnya
“Lalu?”
“Aku sudah melakukan segala yang ku bisa sebagai seorang kakak. Sisanya terserah padanya karena ini hidupnya. Namun aku yakin bahwa Ken akan berhasil sayang.” Jawab Sam dengan menutup matanay dan memelukku.
Aku membelai lembut wajah dan rambutnya melihat betapa lelahnya suamiku yang telah tertidur setelah berbicara padaku sambil memeluknya dna mencium keningnya.
“Beristirahatlah sayang.” Ucapku
Hari sudah larut namun Ken masih tetap terjaga diruang keluarga dengan posisi yang sama seperti sebelumya. Ia melipat jemarinya dan menopang dagunya sambil merenung, keadaan semakin kacau untuknya dan ia tak yakin bahwa Laura akan baik baik saja ketika ia mendengar kabar ini.
“Sepertinya aku tak punya pilihan lain lagi, ku harap Laura mengerti bahwa demi dirinya aku harus fokus dalam pekerjaan ini dan meninggalkannya disini.” Ucapnya dalam hati.
__ADS_1