
Waktu berjalan dengan begitu cepatnya, bagiku sembilan bulan adalah waktu yang sangat singkat bagiku. Seperti baru saja kemarin aku mulai mengandung dan besok aku harus mempersiapkan diriku untuk bersalin. Dalam kamar VIP di sebuah rumah sakit yang telah disiapkan Sam untukku, aku mulai melihat video lama saat aku pertama kali melahirkan untuk mengingat ingat kembali bagaimana rasa sakit yang saat itu sempat ku alami. Alih alih melihat video itu, aku sangat gugup untuk menghadapi hari esok. Bisakah aku melakukannya dengan baik? Mampu kah aku bertahan esok? Akankah prosesnya akan lebih menyakitkan? Aku cukup gugup dengan semua pemikiran itu.
“Bagaimana perasaanmu?”, Tanya Sam yang baru saja pulang dari bekerja.
“Sudah datang? Kamu yakin ingin menemaniku disini? Tak ingin pulang dahulu?”, tanyaku melihat ke arah Sam yang datang mendekat padaku.
“Bagaimana aku bisa pulang saat istriku berada di rumah sakit? Bisakah kamu mengadapi hari ini seorang diri saat esok hari kamu akan melahirkan?”, tanya Sam dan mencium keningku.
“Setidaknya makanlah dahulu. Jangan sampai sakit”, ucapku menyentuh wajahnya yang berada di sampingku.
“Nanti saja, aaku masih belum merasa lapar. Apa yang kamu lihat?”, tanya Sam.
“Ini, video saat Mira lahir, aku ingin mengingat ingat kembali bagaimana rasa sakit yang ku rasakan saat aku pertama kali melahirkan”, jawabku lembut.
Sam tersenyum dan membelaiku, tatapannya begitu lembut padaku. Sesekali ia mengelus bayi dalam perutku dan menciumnya.
“Kalau kamu gugup dan merasa tak mampu, kita bisa megambil operasi caesar Rein, aku tak ingin kamu merasa gugup atau takut saat melahirkan nanti. Aku ingin yang terbaik untukmu, untuk anak kita”, ucapnya lembut.
Aku menggelengkan kepalaku dan membalasnya dengan senyuman. Memang benar aku gugup namun aku juga mengetahui bahwa Sam sama gugupnya seperti ku, dari tatapannya yang berpura pura tenang, ia tak ingin aku khawatir padanya yang terlihat lebih gugup dariku.
“Aku baik baik saja, tenanglah Sam. Asalkan kamu ada disisiku dan memberikanku semangat juga dukungan, aku bisa melewatinya” ucapku meyakinkan Sam
Mira kami titipkan pada oma dan opa nya untuk malam ini karen Sam menemaniku di rumah sakit sampai besok saat aku siap untuk melahirkan. Ku rasakan perutku cukup sakit akibat kontraksi dan ku coba untuk menahannya, aku mempersiapkan diriku untuk menghadapi kontraksi yang lebih sakit lagi dari ini menurut pengalamanku sebelumnya.
“Sayang, ada apa? Kamu baik baik saja?”, ucap Sam yang melihatku kesakitan
__ADS_1
“Tak apa Sam, aku hanya kontraksi”, jawabku sambil menggeliat
Beberapa kali Sam melihatku meggeliat kesakitan seperti itu dan ia cukup panik karenanya. Sam mencoba untuk menggenggam tanganku saat aku menahan rasa sakitku.
“Aku tak bisa melihatmu kesakitan seperti ini Rein, lebih baik kamu menjalankan operasi agar segalanya lebih mudah dan kamu taak perlu merasakan sakit sampai seperti ini”, ucap Sam mencoba membujukku untuk menjalankan operasi.
“Aku baik baik saja Sam, aku bisa melewatinya. Aku bisa menahannya”, ucapku meyakinkah Sam dengan raut wajah yang kesakitan.
Sam memelukku semalaman ketika aku merintih kesakitan, ia bahkan terjaga hanya untuk menjagaku agar aku tak melewati rasa sakit itu seorang diri. Sesekali aku meneteskan air mata karena sakit yang terus ku rasakan tiap dua puluh sampai tiga puluh menit sekali.
Bercak darah dan air ketubah keluar dari tubuhku pada tengah malam, menandakan aku siap untuk proses melahirkan sebentar lagi, aku tak bisa tidur dan beristirahat begitupun dengan Sam yang semalaman menjagaku.
Tibalah hari dimana aku melakukan proses persalinan. Kedua mertuaku bersama Mira datang ke rumah sakit beberapa menit sebelum aku dipindahkan ke ruang bersalin untuk proses melahirkan. Aku sudah cukup lelah karen tak bisa istirahat dengan nyenyak semalam, lingkar hitam dimataku menunjukkan segalanya.
“Mama, apakah dia akan keluar sebentar lagi?”, tanya Mira polos
“Mama harus bersiap untuk mengeluarkan anak dalam perut mama. Mira sabar sebentar ya sayang”. Ucap Sam mengusap lembut rambut Mira
Beberapa perawat segera membawa ku ke ruang bersalin untuk bersiap melahirkan secara normal sesuai pilihan ku. Jantungku berdegup cukup kencang saat menuju ke ruang bersalin, perasaan gugup mulai menguasai diriku kala itu. Tibalah aku di ruang bersalin dan siap untuk melahirkan.
Perutku terasa sangat sakit dan aku mencoba mengikuti arahan dari dokter agar bayiku bisa lahir dengan baik. Keringat mengalir deras keluar dari tubuhku dan kurasakan seperti tulang tulangku remuk saat proses melahirkan terjadi.
“Ya Tuhan.. Ini sakit sekali, bahkan lebi sakit dari pada saa aku melahirkan Mira”, gumamku dalam hati.
Aku seperti merasa tak kuat lagi untuk bertahan, pandanganku pu mulai kabuur. Aku menangis karena takut aku tak bisa melewati ini, ku cobe menutup mataku dan ku bayangkan suami dan juga anakku yang sedang menungguku keluar dari ruangan ini dengan membawa seorang bayi.
__ADS_1
“Aku harus berjuang untuk anakku, sesakit apapun itu aku harus bisa mengeluarkannya. Biarlah hal buruk terjadi padaku asalkan jangan pada ankku”, gumamku sambil menangis
Darah mengucur lebih banyak dan makin banyak, aku terus menekan anak ini agar bisa segera lahir namun tubuhku kian lama kian melemah dan kurasakan tenagaku mulai terkuras.
“Bertahanlah Bu.. Jangan tertidur”, ucap dokter yang menanganiku.
Aku mendengar suara dokter yang terus mencoba membangunkanku dengan cara mengguncangkan tubuhku dengan cukup kencang agar aku terbagun. Ku lihat beberapa kantung berisikan darah ada di sampingku dan terus mengalir ke dalam tubuhku menggantikan darah yang keluar dari tubuhku agar aku tak kehabisan darah.
Dokter yang melihatku mulai melemah menyuruh seorang perawat untuk memanggilkan Sam untuk memberikan semangat padaku, ku dengar langkah kaki keluar dari ruangan ini saat aku setengah sadarkan diri.
“Bapak, keadaan istri anda cukup buruk, bisakah anda masuk?”, tanya perawat itu.
“Ada apa dengan istri saya? Bagaimana keadannya?”, tanya Sam panik
Tak hanya Sam, kedua mertuaku pun ikut merasa panik keika mendengar keadaanku yang sedang tak baik baik saja didalam sana. Tanpa berpikir panjang Sam masuk mengikuti perawat itu dan mengenakan set pakaian yang diberikan oleh perawat itu.
Aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku cukup kencang. Ia terdengar panik dan suara itu semakin terdengar jelas olehku. Ku coba mengumpulkan kekuatanku kembali karena ku lihat Sam ada bersamaku, aku mulai menangis karena takut bahwa bayi dalam kandunganku tak bisa selamat karena tubuhku yang makin lembah.
“Bertahanlah, aku disini untukmu. Lahirkan anak kita dan aku akan menjagamu dari sini”, ucap Sam meyakinkanku.
Kehadiran Sam memberikan ku semangat yang baru untuk berjuang. Kurasakan kekuatan yang besar mengisi tubuhku dan aku kembali berjuang untuk mengeluarkan bayi dalam kandunganku.
“Hhhmppp.. Ahhh .. haahh.. hhaahh” rintihku mencoba terus mengeluarkan anakku
“Sedikit lagi bu, kepala sudah terlihat. Satu kali lagi dengan tenaga yang kuat”, ucap dokter memberiku semangat
__ADS_1
“Hhhmmmppp ... Aaaaaaaaahhhhh” teriakku