
Hari sudah larut dan Sam membantuku membereskan meja makan yang cukup berantakan. Aku menyadari satu hal dari Sam. Saat kami makan malam bersama, Sam cenderung lebih pendiam dari biasanya, Sam yang selalu ceria dan mampu mencairkan suasana tiba tiba menjadi lebih pendiam, sekarang pun masih tetap seperti itu. Dia membantuku namun pikiran dan raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang cukup serius.
“You good?” Tanyaku sambil mengelap piring yang telah ku cuci.
“Tidak biasanya kamu diam seperti ini Sam” Lanjutku.
“Sudah terlalu malam untuk ku ceritaka Rein, besok saja yaa.” Jawab Sam.
Namun aku tahu, dia saat ini membutuhkanku, hanya saja hari sudah malam dan Sam seperti tak ingin membuatku memikirkannya dan masalah yang dihadapinya.
“Kamu mau cerita sampai subuh pun aku akan mendengarkan Sam. Ada apa?’ Tanyaku.
“Akan ku ceritakan di kamar Rein. Tak nyaman rasanya” Seru Sam.
Kami membereskan rumah sebentar dan langsung masuk ke kamar, Sam masih saja diam beberapa saat seperti bingung ingin menceritakannya atau tidak padaku. Namun aku membuatnya percaya padaku dan meyakinkannya bahwa dia tak merepotkanku dengan mendengar ceritanya malam itu, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku menggengam tangannya sambil tersenyum.
“ Kamu tidak percaya padaku Sam? megapa tak mau menceritakannya padaku tetang masalahmu?” Tanyaku.
Sam menggelengkan kepalaanya dan tersenyum, Sam mencoba mengambil napas panjang sebelum memulai menceritakan kejadian yang terjadi pagi ini di kantor.
“Hari ini Bela dan Pak Satrio aku pecat Rein, karena mereka mengambil bonus para buruh selama lima bulan” Jelasnya.
Aku sangat terkejut mendengarnya, seperti yang ku tahu Bela adalah salah satu orang yang sangat di percaya oleh Sam dalam membagikan bonus para buruh dari beberapa tahun silam, dan tak ku sangka bahwa Bela melakukan hal ini pada Sam.
“Aku sangat mempercayai Bela, sampai aku menutup mataku dan tak tahu apa apa dengan keadaan buruh yang sebenarnya, aku terlalu sibuk dengan urusan kantor sampai aku melupakan para buruh yang telah bekerja keras. Aku sungguh ceroboh Rein, ini semua salahku.” Seru Sam dengan wajah sedih.
Aku melihatnya dan membelai wajahnya, Sam benar benar merasa kecewa, bukan hanya karena orang kepercayaannya membodohinya namun kecewa pada dirinya sendiri. Aku memeluknya dan menenangkannya, ku tepuk punggungnya untuk membuatnya nyaman dan tenang.
“Wajar bila seseorang membuat kesalahan Sam, namun jangan menyalahkan dirimu sendiri, selama ini kamu sudah bekerja sangat keras untuk perusahaan dan karyawan juga buruh. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, perbaiki kesalahanmu.” Kataku menenangkannya.
“Lalu apa yang terjadi pada Bela dan Pak Satrio?” Tanyaku.
“Aku memecat mereka dan menyuruh mereka mengembalikan tujuh ratus lima puluh juta dalam waktu dua bulan, kalau tidak aku akan memenjarakan mereka berdua”. Jawabnya dengan wajah yang kesal.
Aku diam dan tersenyum mendengar penjelasan dari Sam saat itu, aku mengetahui kalau Sam tak ingin memecat mereka, meskipun dia terlihat sangat kesal namun aku tahu kalau Sam pasti tak sampai hati untuk memecat mereka, ditambah lagi mereka harus mengembalikannya dalam waktu dua bulan. Aku membiarkannya tenang untuk semetara sebelum akhirnya aku mulai berbicara.
__ADS_1
“Kamu tenang dulu Sam, jangan sampai emosimu mengambil alih keputusan atau kebijakan yang harus kamu ambil.” Kataku sambil membenarkan rambutnya.
Sam melihatku danmemegang tanganku untuk menghentikanku memenarkan posisi rambutnya.
“Jadi maksudmu keputusan yang ku ambil salah” Tanya Sam.
“Aku tak menyalahkan keputusanmu, aku paham kamu memecat mereka berdua karena merasa kesal mereka mengambil sesuatu yang bukan hak mereka, namun bisakah kamu memberikan mereka kesempatan ke dua? Semua orang laya mendapatkan kesempatan kedua Sam” Kataku memberinya pengertian.
Aku memeluknya dan mengusap punggungnya agar dia bisa lebih tenang sedikit untuk tak terlalu egabah mengambil sebuah keputusan.
“Biarkan mereka menebus kesalahan dengan tetap bekerja di perusahaan dan di pabrik Sam, kamu hanya perlu memperketat sistem yang sudah berjalan. Pikirkan nasib Pak Satrio juga, kalau kamu memecatnya lalu bagaimana keluarganya harus hidup?”
Ku lihat Sam sudah semakin tenang, aku hanya ingin Sam melakukan yang terbaik dan mengambil keputusan dengan bijak, jangan sampai saat dia mengambil sebuah keputusan emosinya yang maju terlebih dulu.
“Apapun keputusanmu aku tetap mendukungmu, namun ingat pesanku. Saat kamu mengambil keputusan jangan biarkan emosimu menguasaimu, atau kamu akan menyesal di kemudian hari.” Jelasku dengan lembut.
Sam tersenyum dan mengerti dengan apa yang ku katakan. Dia memelukku dan mencium keningku. Sudah menjadi tugasku untuk menguatkannya ketika dia lemah dan menenangkannya ketika dia sedang dalam emosi yang tak stabil juga mendukung seluruh keputusan yang dia buat.
“Kamu mendukung semua keputusan yang akan ku buat kan Rein?” tanya Sam.
Aku mengangguk dan tersenyu padanya.
Aku tetap tersenyum dan mengangguk agar dia mengerti bahwa apapun yang dia kerjakan dan putuskan aku selalu ada di belakangnya.
“Iya Sam, Aku mendukung apapun yang menjadi keputusanmu, namun ketika kamu mengambil keputusan yang menyimpang atau mengambil keputusan atas dasar emosi, sudah tugasku untuk mengingatkanmu.” Seru ku.
Dan aku berharap Sam mendengarkanku, karena keputusan Sam yang diambil dengan emosi akan merugikannya, dan aku tak ingin Sam menyesalinya suatu hari nanti.
Aku membelai rambut dan wajah Sam yang telah tertiddur pulas itu, dan aku berharap apapun keputusannya nanti adalah keputusan yang terbaik dan tak akan disesalinya suatu hari nanti, malam itu pun berakhir dengan kecupan yang ku berikan di kening Sam.
Hari telah berganti, aku terbangun dengan suara alarm yang selalu ku pasang tepat pukul empat pagi untuk memulai segala aktivitasku. Manjadi seorang ibu memang tak mudah, harus konsisten dengan apa yang sudah ku mulai, menjalani segalanya dengan senyuman dan berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga.
Aku berjalan keluar kamar dan menuju dapur untuk mulai memasak, menu hari ini adalah capcay godeng dengan udang goreng tepung, aku mulai memasak lalu menyajikannya di piring dan menatanya di meja makan, ketika semua sudah siap di atas meja, aku membangunkan suami dan adik iparku untuk sarapan dan bersiap siap ke kantor. Melihat mereka makan dengan lahapnya dan sampai meminta tambah setiap kali makan, itu saja sudah cukup untukku. Segala lelahku ketika memasak dan menyiapkan segalanya sudah terbayarkan melihat mereka selalu memuji dan menghabisakan apapun yang ku masak.
“Kak Rein, kalau aku menikah nanti bolehkah aku tiggal di sini? Aku ingin terus memakan masakkan kakak.” Seru Ken.
__ADS_1
Namun Sam yang mendengarnya langsung membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya juga mengerutkan keningnya tidak setuju dengan apa yang diinginkan adiknya itu.
“Jangan pernah kamu berpikir begitu. Karena kamu tinggal di sini, aku tak bisa bermesaraan dengan istriku sendiri karena malu.” Seru Sam.
Aku mendengarnya cukup terkejut dan menatap Ken dengan menggelengkan kepalaku.
“Sam, jangan bicara sembarangan didepan Ken, malu” Kataku.
“Mengapa tak bisa bermesraan? Lakukan saja di kamar, dan buatkan aku satu keponakan yang lucu kalau bisa laki laki yaa kak” Sahut Ken.
Aku mencubit pipi suami dan adik iparku itu, mereka benar benar kompak sekali kalau sedang membahas hal hal seperti ini, untung saja Mira belum bangun dan tak disini.
“Kalian ini yaa, jangan bicara yang macam macam. Cepat habiskan makanan kalian lalu bersiaplah ke kantor” Seruku kesal.
“Iya mama” Jawab mereka bersamaan.
Bagaimana mungkin aku bosan kalau setiap pagi mereka selalu membuatku tertawa dengan tingak lucu yang terkadang konyol yang dilakukan.
Bekal sudah ku siapkan untuk mereka berdua, semenjak Ken tinggal bersama kami, apa yang ku persiapkan untuk Sam aku juga menyiapkannya untuk Ken karena dia adikku.
“Kalian sudah siap? ini bekal kalian berdua, harus di habiskan dan jangan sampai ada sisa.” Seruku.
Mereka berdua mengangguk mengerti, Sam memeluk dan mencium keningku sambil tersenyum.
“Aku berangkat yaa” Serunya
Ken juga memelukku dan mengangkat bekalnya sambil tersenyum.
“Terimakasih yaa kak. Aku berangkat” Seru Ken
Setelah ku lihat mereka telah pergi aku memebrsihkan meja makan dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan aktivitasku mengurus anakku yang cantik Mira.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘