
Tidak ada yang mudah dalam hal mengurus seorang anak. Ada hal yang menyenangkan namun ada juga momen saat seorang anak membuat kesal orang sekitarnya. Usia Mira yang menginjak usia lima tahun ini adalah usia yang anak yang rasa ingin tahunya mulai meninggi, Mira mulai ingin tahu apa dan bagaimana beda benda disekitarnya bekerja, dan tak jarang juga Mira merusak barang barang yang sudah ku tata dan ku jaga dengan baik. Apapun yang ku pakai, apapun yang ku makan, Mira selalu ingin hal yang sama denganku, seperti saat aku sedang ber make up untuk bersiap mengambil raport semester Mira di sekolahnya.
Pagi ini berjalan dengan baik seperti biasanya, sampai saat aku selesai ber make up pagi itu dan sedang memilih baju yang akan ku pakai untuk mengambil raport Mira, Mira yang sedari tadi melihatku menggunakan peralatan make up mulai mencoba satu satu peralatanku saat aku sedang memilih baju di lemari, Mira mulai mengambil pensil alisku, dia mencoret coret wajahnya, tidak berhenti sampai di situ. Mira juga mengambil lip matte kesayanganku dan menggoreskannya di bibir dan pipinya. Saat itu aku masih belum menyadari yang Mira lakukan dengan seluruh peralatan make up ku sampai satu waktu Mira melihat dirinya sendiri di cermin dan tertawa.
“Hahaha... Mira cantik seperti mama”
Aku yang sedang mencari baju menengok Mira untuk mengetahui apa yang dia lakukan di meja riasku. Namun begitu aku mengetahuinya, mataku terbuka lebar dan wajahku sangat terkejut melihat kelakuan Mira kali ini.
“Astaga Miraaaa...... kamu ngapain nak?”
Aku mendatangi Mira yang duduk di meja riasku dengan memegang lip matte kesayanganku di tangannya dengan posisi terbuka. aku tidak terlalu terkejut dan marah saat Mira memakai pensil alis untuk menggambar wajahnya, namun yang membuatku sangat emosi adalah lip matte yang dipakai Mira. Lip matte itu, butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Aku harus bertengkar dengan ibu ibu untuk mendapatkan lip matte itu .
**** flash back 3 bulan yang lalu *****
Siang ini setelah aku menjemput Mira pulang sekolah aku berjalan jalan ke mall untuk membeli keperluan dapur seperti minyak, bumbu dapur, beras, susu untuk Mira dan lain lain untuk persediaan satu bulan kedepan. Aku mengambil troli dan Mira ku dudukkan di tempat duduk yang ada di troli itu agar Mira tidak hilang dari pengawasanku. Setelah aku mendapatkan seluruh barang yang ku perlukan untuk satu bulan kedepan, aku berencana langsung pulang.
Namun keadaan tidak mendukung, aku melihat banner yang cukup besar yang menarik perhatianku yang bertuliskan “Promo lip matte Merbelin diskon hingga 25%” sebagai seorang wanita, ketika melihat atau mendengar disok di sebuah toko akan langsung mendatanginya untuk melihata atau langsung membeli.
Disitu hanya ada satu jenis lip matte dan itu adalah warna faforitku dan tentu saja aku harus membelinya. Namun ketika tanganku hampir menyentuk lip matte itu, seorang ibu ibu datang dan mendorongku, lalu dia mengambil lip matte yang akan ku beli. Saat itu aku marah, ekspresi kesal sudah terpancar di wajahku dan aku siap untuk menghajar siapa saja yang berani merebut lip matte itu dariku.
“Maaf yaa bu, saya lihat itu lebih dulu, dan saya mau beli lip matte nya”
Aku masih bersikap sopan padanya karena ku lihat dia lebih tua dariku, namun ibu itu benar benar keterlaluan, dia melotot kearahku dan mendorongku hingga punggungku menabrak lemari yang ada dibelakangku.
“Apa? kamu mau beli ini? Saya yang dapat lebih dulu, tahu kamu. Jadi ini punya saya”
Ibu itu mengatakannya dengan nada yang tinggi dan keras serta matanya melotot saat berbicara denganku. Aku benar benar tidak bisa mentoler sikapnya yang tidak sopan seperti ini, sudah jelas aku yang melihatnya terlebih dulu dan aku yang akan mendapatkannya, namun ibu ini malah mendorongku dan mengajakku bertengkar, hingga salah satu salles dari produk itu datang untuk mencoba melerai pertengkaran kami sebelum menjadi lebih besar lagi.
__ADS_1
“Ada apa ini bu?”
Belum sempat aku menceritakan kejadian ini, namun ibu itu sepertinya terlalu bersemangat untuk menceritakan kejadian ini dengan versinya.
“Mbak, ibu ini kurang ajar mbak, di bentak saya karena yang dapat lip matte ini saya bukan dia mbak.”
Ibu satu ini benar benar kelewat batas, aku benar benar tidak bisa menahan emosiku lagi, karena yang terjadi dan yang dikatakannya tidak sesuai sama sekali, aku tidak membentaknya, dia yang membentakku, aku terkejut ketika ibu itu mengatakan hal yang bukan sebenarnya.
“Maaf yaa mbak, saya tidak membentak sama sekali, saya hampir mendapatkan lip matte itu kalau ibu satu ini tidak mendorong saya mbak”
Aku menunjuk ibu yang ada di hadapanku saat aku menjelaskan yang sebenarnya terjadi, sangat terlihat kalau dia tidak terima dengan pernyataanku yang sesungguhnya, dia memasang wajah terkejut lalu menyerangku.
Ibu itu mulai menjambakku karena tidak terima kalau aku mengatakan yang sebenarnya pada salles itu.
“Dasar kamu yaa.. jangan tuduh saya yang bukan bukan. Saya yang dapat lip matte ini, jadi ini punya saya, paham kamu”
“Aduhh.. heyy.. sakit.. minggir kamu orang gila”
Ibu itu menyebutku orang gila hingga aku makin terbakar emosiku untuk terus mencambak dan mencakar wajahnya itu. Aku tidak peduli orang lain melihatku seperti apa, dia yang memulai lebih dahulu menyerangku, maka aku serang balik dia.
“Ibu jangan macam macam sama saya yaa... ibu pikir saya takut sama ibu haa? ibu yang gila bukan saya”
Melihat pertengkaran itu salles itu memanggil bagian keamanan untuk melerai ku dan ibu itu. Keadaanku benar benar tidak baik, rambut dan pakaianku berantakan, salah satau pihak keamanan memegang kedua lenganku dan pihak keamanan lain memegang kedua lengan ibu itu agar kami tidak saling menyerang lagi.
Setelah kami berdua tenang, kami dibawa keruang kendali untuk melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Dan terbukti, aku yang menang. Aku melihat ibu itu dengan tatapan sinis dan sedikit membesarkan mataku.
“Ibu, seharusnya ibu tidak mendorong ibu ini. Yang kami lihat di cctv, ibu ini yang seharusnya mendapatkan produk kami bukan ibu.”
__ADS_1
Seorang salles yang membawa kami ke ruang kendali mencoba mengatakannya dengan berhati hati agar suasana tidak kembali kacau seperti tadi. Ibu itu tidak bisa berkata kata lagi dan memalingkan wajahnya dariku, bukankah malu saat keburukannya diketahui orang banyak? Seharusnya dia membiarkan ku mengambil lip matte itu.
Aku keluar dari toko itu dengan membawa produk yang ku beli dan aku juga mendapat bonus sebuah bedak karena aku mengalami kejadian yang luar biasa hari ini, saat aku keluar dari toko itu aku merasa seperti seorang pemenang dari pertarungan yang sangat sengit. Aku bahagia sekali hingga tak sadar bahwa aku membawa Mira bersamaku. Dan Mira melihat seluruh pertengkaranku dengan seorang ibu ibu, aku melihat Mira yang hanya tersenyum kearahku dan memperagakan kerakan perkelahian yang dia lihat tadi.
“Mira... jangan bilang papa yaa kalau tadi mama bertengkar sama ibu ibu, jangan yaa anak mama yang cantik”
Tak bisa ku percaya, setelah aku menang melawan singa, aku harus tunduk dan memohon dihadapan kucing yang lucu ini agar tidak memberi tahu Sam.
...****************...
Aku teringat tentang kejadian bagaimana aku harus berurusan dengan seorang ibu ibu demi mendapatkan lip matte ini, namun lihat apa yang dilakukan anakku Mira, sangat kacau sekali, aku sampai tak habis pikir. Aku datang dan memarahi anakku itu dengan meletakkan tanganku di kedua sisi pinggangku.
“Kamu buat apa Mira? itu lip matte mama. lihat jadi hampir habis gaara gara kamu.”
Aku mengambil lip matte yang ada di tangannya dan menutupnya lalu meletakkan kembali di meja riasku. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan pagi, dan sudah hampir waktunya untuk mengambil raport Mira, namun aku jelas tidak mungkin membawa Mira dengan kondisi wajah yang seperti ini, apa kata orang nanti? Aku mengambil dan membereskan peralatan make up ku terlebih dahulu sebeul aku mengurus Mira, setelah selesai dengan meja riasku, ku ajak Mira untuk mebersihkan wajahnya dengan pembersihku, karena tidak mungkin bisa bersih jika hanya di cuci dengan sabun saja. Aku membersihkan wajah Mira dengan wajah yang kesal dan mengerutkan alisku.
“Mira, jangan lagi kamu pegang alat make up mama, lihat ini, lihat wajahmu ini, berantakan semuanya”
Mira hanya tersenyum mendengarku memarahinya, bukan main anak ini, aku menjewer telinganya dengan lembut dan ku taruk hidungnya sangking kesalnya aku dengan kelakuan Mira pagi ini. Entah kejutan apalagi yang akan Mira berikan padaku hari ini, setiap kali aku mengurus Mira, ada saja kelakuannya yang membuatku emosi karena tingkah nakalnya yang sedikit menggemaskan ini. Pgi ini, sudah cukup masalahku hanya karena lip matte.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. kalau kalian suka bisa di like dan kasi saran yaa. Saran apapun asal membangun dari kalian sangat penting loh.. 😘😘