My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 77 | Kesempatan yang Tak Datang Dua Kali


__ADS_3

Seakan tatapannya mendalam ke satu titik, Pak Rudy diam dan termenung. Segala macam perasaan membaur menjadi satu, perasaan kecewa, gelisah, khawatir, seluruhnya menjadi satu dan hanya Reno lah yang ia pikirkan. Pak Rudy terlalu menyayangi anaknya dan terus memberikan yang terbaik untuk anaknya namun sayang, Reno tak pernah menyadari betapa ayahnya sangat menyayangi dan selalu memikirkannya. Dengan menghela napas panjang, Pak Rudy memejamkan kedua matanya untuk sesaat sebelum ia mengambil salah satu keputusan penting dalam hidupnya dan mungkin saja keputusan itu takkan pernah ia ubah kembali.


“Apa anda yakin pak?”, tanya pengacara Pak Rudy.


“Ya, saya yakin. Kalau sewaktu waktu hal buruk terjadi pada saya, saya serahkan seluruh kepemimpinan pada Meli, menantu saya. Dan jangan sampai Reno merebut ini dari Meli apapun alasannya dan bagaimanapun keadaannya”, ucap Pak Rudy dengan nada sedihnya.


Tak pernah ia bayangkan bahwa suatu saat bukan anaknya yang memimpin perusahaan yang ia bangun mati matian ini. Seluruh hasrat dan harapan yang ia bebankan pada Reno nyatanya ia tak bisa diandalkan dan hidup dengan sesuka hatinya. Orang tua mana yang tak ingin memberikan hal terbaik pada anaknya? Namun ketika seorang anak tak bisa bertanggung jawab pada apa yang terlah diberikan padanya maka kesempatan itu akan lalu dari padanya.Tepat satu tahun berlalu setelah Pak Rudy membuat keputusan pengalihan kepemimpinan untuk sementara ia terbaring lemah dan Meli yang mengurusnya.


Tok Tok Tok ....


Ketukan pintu berbunyi dari rumah Meli, setelah mengetahui keadaan Pak Rudy saat ini, pengacara pribadi Pak Rudy mendatangi rumah Meli dan membicarakan tentang perusahaan seperti apa yang Pak Rudy inginkan.


“Ya? “, jawab Meli dan membukakan pintu rumahnya


“Bu Meli, saya pengacara dari Pak Rudy. Ada yang ingin saya katakan”, ucap pengacara itu dengan sopan


Tatapannya yang cukup bingung terlihat dari raut wajah Meli kala itu namun ia mempersilahkan pengacara itu untuk masuk karena Meli ingin mendegar apa yang akan dibahas dengannya dan apa hubungan antara dirinya dan perusahaan milik ayah mertuanya itu.


Tak butuh waktu yang lama untuk menjelaskan apa yang terjadi dan isi pesan Pak Rudy pada Meli. Matanya terbelalak sambil menutupi mulutnya yang menganga karena terkejut tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pengacara itu.

__ADS_1


“Apa? Saya? Saya yang memimpin perusahaan menggantikan mertua saya? Apa anda tak salah?”, tanya Meli meluruskan apa yang telah ia dengar.


“Tida, itu adalah keputusan dari Pak Rudy. Mau tak mau anda harus menerimanya dan silahkan datang ke perusahaan besok”, ucap pengacara itu.


Meli tak percaya dengan apa yang telah ia dengar, ingin menanyakan pada mertuanya pun percuma karena untuk duduk saja ia tak mampu dan tak makin tak mungin ia bisa menjelaskannya pada Meli. Dengan duduk diam Meli merenung dan berusaha menerimanya meskipun hal ini terdengar sedikit tak masuk akal baginya.


Perlahan Meli bagun dan naik ke kamar mertuanya yang sedang terbaring lemah, ia memegang tangan mertuanya itu dan tersenyum. Terlalu banyak hal baik yang sudah ia lakukan pada Meli sejak pertama Meli berpacaran dengan Reno dan bahkan sampai saat ini.


“Papa, mengapa papa melakukan hal ini? Meli merasa tak layak mendapatkannya pa”, ucap Meli bertutur lembut


Meli tertunduk da mencium punggung tangan mertuanya sambil memejamkan matanya, laki laki yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri sejak ayah kandungnya meninggal dunia telah banyak memberikan perhatian dan kasih sayang selayaknya seorang ayah pada anak perempuannya.


Meskipun tubuh Pak Rudy terbaring lemah da tak bisa bagun namun air maa menetes turun yang menandakan ia meresponi Meli meskipun ia tak bisa menjawab Meli dan memeluk menantunya yang sangat tulus menyayanginya itu.


Dan hari itu pun datang, hari dimana Meli pertama kalinya bekerja sebagai pemimpin perusahaan menggantikan posisi mertuanya untuk sementata. Pertama kali ia bekerja, Meli langsung dihadapkan dengan kekesalan dan amarh Reno yang tak terima bahwa Meli yang dipilih untuk memimpin perusahaan menggantikan ayahnya.


“Kamu hanya seorang menantu Meli. Dan bahkan kamu bukan lagi menantu dari keluarga ini”, ucap Reno kasar


Meli berusaha menahan amarahnya sambil mengepalkan tangannya mendengar perkatan Reno yang tak selayaknya ia katakan pada Meli, sekali lagi Meli meminta Pak Hendra untuk mengusirnya dari ruangan miliknya agar ia bisa mulai bekerja.

__ADS_1


“Tolong usir dia sekarang juga”, perintah Meli pada Pak Hendra secara halus dan tegas.


Disaat Pak Hendra berusaha untuk menarik Reno keluar dari ruangan Meli, dengan sendirinya Reno melepaskan diri dari Pak Hendra dan berjalan keluar dari ruangna itu tanpa di tarik. Dengan perasaan kesal dan amarahnya, Reno melihat sekali lagi kearah Meli dan kembali mengancamnya.


“Dengarkan aku. Aku akan datang kembali dan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal. Dengar itu wanita gila!!!” ancam Reno lalu meninggalkan ruangan Meli dengan kasar.


Akibat kebodohan dan keegoisannya, ia kehilangan kesempatan yang sangat berharga dalam hidupnya. Harapan ayahnya yang menginginkan Reno menjadi penerusnya sangatlah besar namun Reno dengan bodohnya membuang kesempatan itu dan bermain main dengan hidupnya. Dan kini giliran Meli yang mendapatkan kesempatan ini, tak mudah baginya yang hanya seorang mantan menantu dari keluarga Pak Rudy menjadi pemimpin perusahaan menggantikan mertuanya untuk sementara waktu hingga ia sehat kembali. Berbagai hinaan dan cibiran ia dengar dari para pegawai yang tak menyukai Meli memimpin perusahaan ini menggantikan Pak Rudy. Hari pertamanya cukup berat, tak hanya menghadapi Reno, ia juga harus menghadapi tatapan sinis juga cibiran dari para pegawai tentang dirinya.


“Sudahkah anda mempelajari dokumennya?”, tanya Pak Hendra.


Meli berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya saat ini yang tak bengijinkannya untuk beristirahat walau hanya sekejap saja, sangat banyak yang harus ia pelajari. Beruntung Pak Hendra sangat baik padanya dan terus mendampingi Meli dalam tiap kesulitannya.


“Sepertinya saya sudah mulai mengerti”, ucap Meli lalu menutup dokumen yang ia baca


“Baiklah. Silahkan persiapkan diri anda untuk rapat dengan anggota dewan komisaris esok hari untuk membahas apa saja yang harus anda lakukan dan silahkan berdiskusi dengan mereka. Saya akan selalu membantu anda dari belakang”, ucap Pak Hendra


“Apakah anda berpikir bahwa saya akan baik baik saja? Karena saya tak yakin dengan diri saya sendiri”, ucap Meli mengutarakan keluh kesahnya.


“Setiap orang akan selalu mengatakan bahwa dirinya tak bisa dan tak mampu namun, ketika mereka telah dihadapkan dengan suatu situasi yang mengharuskan mereka untuk bertahan dan terus berjuang. Maka itu akan menjadi semangat dan kekuatan bagi diri mereka sendiri. Anda akan baik baik saja selama anda terus berusaha dan berjuag. Percayalah pada diri sendiri”, ucap Pak Hendra menyemangati Meli

__ADS_1


__ADS_2