
“Rein, aku berangkat yaa” Kata Sam sambil mencium keningku.
Pagi itu Sam dan Ken berangkat bersama ke kantor sedang Rein kembali melakukan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga sambil sesekali mengecek jam untuk bersiap mengantarkan Mira ke sekolah tepat jam sembilan. Ditengah kesibukan Rein dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya dirumah, Meli menelepon.
“Halo Rein, hari ini kita bisa bertemu? ada yang ingin ku katakan.” Tanya Meli
Aku mendengar suara Meli yang terdengan seperti orang yang tak punya gairah hidup.
“Hai Mel, bisa tapi setelah jemput Mira yaa.” Jawabku.
Meli memang adalah sahabatku, dan aku berusaha ada untuknya, namun saat ini kami berdua telah berkeluarga dan tak bisa meninggalkan tanggung jawab masing masing.
Ku selesaikan seluruh pekerjaan rumah dan tanggung jawabku pagi itu juga mengantar Mira dan menjemputnya jam sepuluh.
“Mira, mama dan tante Meli akan berbicara, jadi nanti Mira main dulu yaa.” Kataku dalam mobil
Dalam perjalanan aku terus memikirkan Meli, apakah dia baik baik saja? Apakah dia mampu mengatasi segalanya ini? Apakah dia punya tempat untuk bersandar selain aku? Apakah aku bisa membantunya dan menenangkannya? Itulah yang ada di benakku. Seperti Meli yang selalu ada untukku, aku juga pasti ada untuknyaa seburuk dan sesulit apapun masa masa yang dihadapinya.
Aku dan Mira sampai ke tujuan kami dan aku langsung menyuruh Mira bermain agar tak mendengarkan pembicaraan kami yang belum saatnya Mira mengetahuinya.
“Hai Mel” sambil memeluknya
Dari keadaan yang terlihat Meli sedang tidak baik baik saja, luka yang ada di punggung tangannya terlihat menyakitkan, matanya yang terlihat sembab. Meli benar benar merasakan sakit yang luar biasa saat ini, bisa ku lihat semua itu. Namun aku hanya tersenyum, aku mendengarkan segalanya, namun aku terkejut dengan keputusan akhir Meli.
“Rein, aku mau bercerai” Katanya dengan senyum palsu dan matanya berkaca kaca
Aku merasakan sakit itu, hatiku merasakan betapa hancurnya Meli saat ini, pernikahan yang di pertahankan Meli, haruskah Meli membuat keputusan seperti ini?
“Mel, jangan mengambil keputusan dengan gegabah. Jangan pikirkan egomu sendiri. Kamu sekarang punya Raka, pikirkan perasaannya juga Mel” Kataku.
Namun segala yang ku katakan pada Meli sepertinya tak berguna, Meli datang padaku bukan untuk meminta saran atau atau mendengarkan nasihatku, dia hanya menginginkan aku mendengar keputusannya tak peduli aku setuju atau tidak tak peduli aku mendukungnya atau tidak dia hanya ingin aku mendengarkannya.
“Rein, keputusanku sudah bulat, seluruh kesalahannya dengan mudah aku bisa memaafkannya, namun saat dia mengkhianatiku demi bersama wanita lain, tak ada kata maaf baginya” Jawab Meli
Aku sudah menduga akan begini, Meli memang seperti ini, dia akan melakukan segala hal yang dianggapnya benar dan harus untuk dilakukan tak peduli dengan cara yang benar atau salah.
“Mel, please don’t be selfish. You have son. he need his dad” Kataku meyakinkannya.
“Rein, kamu tidak pernah ada dalam posisiku. aku tahu Raka membutuhkan figur seorang ayah, tapi bukan tipe ayah yang berengsek, yang meninggalkan anak istrinya demi bersama wanita lain” Jawab Meli
“oke mungkin kamu benar tapi apa perceraian itu sampai harus dilakukan?” Tanyaku.
__ADS_1
Meli melihatku dan mengerutkan keningnya.
“Lalu? Apa harus ku ijinkan Reno menikahi wanita itu yang menjadikannya istri kedua? Kamu berharap aku dimadu Rein?” Tanya Meli dengan sedikit emosi.
Aku tak bisa berkata kata lagi, mungkin Meli benar aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Saat ini yang bisa ku lakukan hanya berharap kalau pilihan yang diambil Meli adalah pilihan yang terbaik baginya dan bagi Raka.
...****************...
Aku dan Mira sampai di rumah pukul tiga sore dengan membawa bahan bahan makanan yang sempat ku beli di pasar untuk makan malam, aku meletakkan bahan masakan didapur dan menyuruh Mira untuk mandi terlebih dahulu.
“Mira, sayang mandi sendiri yaa.. Mama mau masak untuk makan malam nanti.” kataku dengan sedikit berteriak.
Dari kecil aku selalu mengajari Mira untuk bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri, melakukan segala sederhana yang dia bisa sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.
Aku mulai menyapkan segalanya dan mulai memasak satu persatu. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Aku mulai menata meja dan masakan ku letakkan dimeja lalu aku bersiap mandi untuk menyambut kedatangan suamiku yang pukul enam sore nanti akan pulang.
“Sayang, Mira..” Panggil Sam
“Papa... Om Ken” Teriak Mira sambil berlari dan memeluk Sam dan Ken.
Sam menggendong Mira lalu memejamkan matanya dan mencium hal yang sangat wangi yang membuat purutnya berbunyi cukup kencang.
Aku keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah setelah mandi.
“Hei, sudah pulang, makan atau mandi dulu?” Tanyaku pada Sam dan Ken.
“Kayaknya kak pilih makan kak Rein, perutnya berbunyi seperti gajah bermain drum” Ledeknya
Kami tertawa mendengar celotehan Ken yang meledek Sam saat itu, kali ini rumah tak hanya ramai karena tawa dan tangis Mira yang cukup kencang, namun juga karena Ken yag suka bercanda dengan sangat recehnya.
Kami makan malam bersama malam itu. Namun makan malam kami tak pernah sepi, hari ini kami meneritakan hal apa saja yang kami alami dan tak ada yang di tutup tutupi.
“How’s your day Sam?" Tanya ku sambil makan
“it’s great. tak ada masalah dikantor dan aku bisa bekerja dengan sedikit santai” Jawbnya sambil mengunyah makanan.
“..oh..” Lanjutnya karena mengingat sesuatu.
“Kamu inget pak Yan kan Rein? Aku minta tolong untuk mengcopy ktp ku yang baru dan melaminating ktp asliku, namun kamu tahu apa yang dilakukannya?” Tanya Sam dengan raut wajah yang sedikit emosi namun terlihat sangat lucu
“Fotocopy ktpku yang dilaminating Rein dan ktp asliku dibiarkan”
__ADS_1
Aku dan Ken tertawa saat itu, kami tahu kalau Pak Yan sudah tua dan sering salah mennagkap perintah, namun hal ini benar benar lucu sekali karena kami tahu Sam tidak bisa marah dengan Pak Yan hanya karena hal seprti ini.
“Kalau kamu Ken? bagaimana hari pertamamu di kantor?" Tanya ku.
Ken hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan makannya.
“Kak ini masakan kakak enak sekali, aku tambah lagi yaa kak.” Jawab Ken.
“Jangan mengalihkan pembicaraan Ken, kamu mirip seperti kakakmu” Jawabku.
Sam meletakkan sendok garpunya dan menelan makanan dimulutnya.
“Rein, saat ini didepan kantorku sudah tidak ada lagi karyawan wanita yang berdiri lima sampai sepuluh menit hanya untuk melihatku bekerja dengan mata mereka yang berbinar. Mereka teralihkan karena melihat Ken yang berbadan besar dan juga sangat tampan” Jawab Sam
Aku melihat ke arah Ken dengan menganga, bukan tak percaya, aku sudah menduganya. Namun secepat inikah Ken menjadi pusat perhatian karyawan wanita di kantor?
“Kak, sudahlah, aku malu” Jawab Ken dan meneruskan makannya sambil tersenyum.
“How about you Rein? Hari ini ada kejadian apa?" Tanya Sam sambil mengunyah makanannya.
Aku menarik napas panjang dan melihat ke arah Sam sambil mengangkat kedua bahuku. Dan Sam mengerti dengan yang ku maksud.
“Ada apa dengan Meli?” Tanya Sam.
“Meli memutuskan untuk bercerai dengan Reno karena Reno berselungkuh dengan wanita lain.” Jawabku.
Sam memasang wajah yang sangat marah. Selain sahabatku Meli juga adalah salah satu teman terdekat Sam, karena mereka pernah satu kampus dan satu geng dengan Sam.
“Lalu bagaimana? suruh Meli secepatnya menceraikan laki laki itu. Dari awal mereka berpacaran aku sudah tahu kalau Reno laki laki yang tidak baik” Gerutunya.
Suasana yang menyenangkan perlahan berubah menjadi serius. Tak seharusnya aku menceritakan Meli disaat ini, aku merasa bersalah telah merusak momen makan malam yang menyenangkan ini.
“Ehmm... Kak, pacarku dia lawyer yang dipindah tugaskan dari kantornya ke daerah sini, kalau memang mau, aku bisa memintanya untuk membantu teman kakak. Atau setidaknya konseling terlebih dahulu.” Kata Ken memberi saran.
.
.
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘😘
__ADS_1