
Satu hari telah berlalu, aku kembaali ke rumahku dengan membawa segala kenangan indah dan kenyataan pahit ini bersamaku. Kembali menjalani kehidupanku bersama keluargaku dan melangkah maju sambil menata kembali semangatku. Aku menyadari satu hal sekarang, takkan adalagi seorang papa yang sering menelponku hanya untuk menanyakan kabarku, sudah cukup waktu yang papa habiskan untukku didunia dan kini saatnya aku berjalan maju bersama keluargaku dan menyimpan semua kenangan indah tentang papa di hatiku.
Sesuai dengan keinginan papa, mama akan tinggal bersamaku, namun mama masih berat untuk meninggalkan rumah, rumah itu penuh dengan kenangan mama dan papa. Mama meminta waktu untuk benar benar bisa menerima segalanya sambil berbenah seorang diri.
Segalanya kembali pada posisinya dan dunia kembali bekerja dengan semestinya, kehidupan kami terus berjalan, perlahan aku mulai bisa kembali seperti dahulu dan beraktivitas seperti biasanya karena tak mungkin aku terus menerus berduka dan hanya memeikirkan diriku sendiri sedangkan aku mempunyai keluarga yang harus ku urus, satu minggu telah berlalu setelah kami kehilangan papa dan saat ini mama telah tinggal bersama kami, meskipun mama masih merasa kehilangan, namun mama lebih bahagia tinggal bersama kami karena ada Mira yang mampu mengalihkan kesedihan mama terhadap papa. Aku senang karena mama sudah tak lagi bersedih karena papa bahkan saat ini mama benar benar seperti tak bisa hidup tanpa Mira, kemanapun mama pergi selalu Mira yang dibawa, setiap berangkat sekolah ataupun pulang sekolah mama selalu yang menjemput Mira.
Bahkan saat ini Meli dan Raka menjadi sangat sering untuk berkunjung ke rumah, hampir setiap sore Meli membawa Raka untuk bermain bersama Mira. Alih alih menguatkanku, Meli hanya menghindari Reno dan menjadikanku sebuah alasannya.
“Hampir setiap hari kamu kemari Mel, apa suamimu tak mencarimu? Meskipun Reno tak lagi mencintaimu namun dia masih suamimu kan?” Tanyaku sambil menikmati teh disore hari bersama Meli.
“Aku sudah menyiapkan segala keperluannya bahkan makan malamnya sudah ku siapkan. Bahkan aku masih memikirkannya sampai saat ini karena aku adalah istrinya.” Jawab Meli.
“Lalu bagaimana dengan liburan kalian ke bali?” Tanyaku sambil mengambil cemilan diatas meja.
“Aku tak ikut. Biarkan dia berangkat sendiri. Aku sibuk dengan pekerjaanku yang sekarang dan bisnis butikku bersama Dara.” Jawabnya
“Aku memberinya kesempatan untuk bermesraan dengan selingkuhannya karena sebentar lagi mereka berdua akan hancur.” Jawab Meli sambil tertawa senang.
Mendengar tertawanya aku sangat yakin bahwa Meli tak lagi mempunyai perasaan pada Reno dan bahkan sangat rela untuk melepaskan suaminya itu, seperti tak ada maaf lagi untuk Reno. Rencana yang sudah dijalankan Meli sampai saat ini baik baik saja dan tak ada yang gagal. Dan aku berharap ini memang yang terbaik untuk sahabatku, daripada harus melihat Meli terus menangis karena Reno lebih baik Meli seperti ini.
“Lalu bagaimana rencana kedepannya Mel?” Tanyaku.
“Aku sudah menyusun segalanya Rein, jadi tak ada masalah. Bahkan aku sudah memastikan bahwa Reno akan hancur dengan sekali hantaman.” Jawab Meli.
Inilah Meli yang ku kenal. Meli yang sangat kuat, selalu memikirkan rencananya matang matang bahkan air matanya sekalipun mampu membuatnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Berbeda denganku yang cenderung mengalah dan menghindari masalah. Bukan karena aku takut, namun aku tak begitu suka keributan.
__ADS_1
“Mel, kamu bahagia dengan keputusanmu ini? Mungkinkah suatu hari nanti kamu menyesali keputusanmu ini?” Tanyaku.
Meli meletakkan cangkir teh di tangannya dan melipat kedua tangannya sambil menatapku sambil mengerutkan keningnya.
“Tentu saja aku bahagia, dan untuk menyesalinya jelas tidak. Mungkin setelah bercerai dari Reno aku akan kesulitan karena aku harus bekerja dan mengurus Raka, namun aku sudah mempersiapkan diriku menghadapi segala kemungkinan yang terjadi Rein.” Jawab Meli.
Berpikir cerdas, tangguh, mandiri, aku sangat yakin bahwa Renolah yang benar benar akan menyesal meninggalkan Meli demi selingkuhannya yang bahkan tak layak disandingkan dengan Meli.
“Bagaimana denganmu Rein? Sepertinya rumah tanggamu dengan Sam sangat baik baik saja yaa.. Semoga kalian tak mengalami hal yang serupa denganku. Kamu takkan kuat.” Seru Meli sambil tersenyum dengan membanggakan dirinya sendiri.
“As you see... Hubungan kami sangat baik baik saja dan sepertinya kami akan program satu anak lagi Mel” Jawabku sambil tersipu malu.
“Cepatlah Rein dan berikan Raka satu adik lagi, sepertinya Mira saja kurang baginya. Aku tak bisa memberikan adik pada Raka, jadi tolong gantikan aku Rein.” Seru Meli sambil tertawa.
Kami menikmati hari dengan berbicara dan kadang membahas sesuatu yang tak terlalu penting sedang anak anak sedang bermain di kamar Mira ditemani mama. Aku tak menyangka kalau mama sangat senang Raka sering main ke rumah. Seperti mempunyai dua cucu rasanya, Raka pun dengan cepat menyayangi mama seperti oma nya sendiri.
Pertanyaan Meli benar benar membuatku terkejut sampai aku tersedak. Meli memang frontal namun apakah hal seperti ini juga harus ditanyakan juga? Aku benar benar malu mengatakannya bahkan untuk mengakui aku melakukan hal itu dengan Sam aku tak berani.
“Mengapa pertanyaanmu seperti itu dasar kamu...” Seruku sambil menepuk lengan Meli.
“Aku tak peduli, cepat katakan kapan kamu melakukannya?” Tanya Meli dengan sangat penasaran.
Aku benar benar ragu, apakah aku benar benar harus mengatakannya? Seharusnya aku tak perlu malu mengatakannya, aku dan Sam adalah pasangan suami istri dan sah sah saja kalau kami melakukan itu. Namun entah mengapa aku sedikit ragu mengatakannya. Namun aku tetap menjawab Meli dengan suara pelan.
“Sekitar satu minggu yang lalu.” Jawabku pelan
__ADS_1
“Semoga jadi... Semoga jadi” Seru Meli sambil menutup matanya dan mengusap perutku.
Aku tertawa melihat tingkah konyol sahabatku ini. Meli melihat jam yang menunjukkan pukul empat sore dan dengan cepat menghabiskan teh di cangkirnya lalu pulang bersama Raka.
“Rein, sudah jam empat. Sepertinya aku harus pulang untuk beristirahat” Seru Meli sambil berdiri dan memanggil Raka yang sedang bermain bersama Mira.
“Mel, tak mau makan malam bersama kami?” Tanyaku.
“Sudah terlalu sering Rein, next time yaa..” Jawab Meli
“Raka ayo pulang, sudah jam empat.” Seru Meli pada anaknya.
Mira yang masih sangat asik bermain bersama Raka memohon untuk Rak bisa tetap disini untuk bermain bersamanya hari ini.
“Tante, bisakah kakak tetap disini dan bermain bersama Mira? Mira masih ingin bermain bersma kakak.” Seru Mira dengan sangat imut.
Meli hampir saja terpengaruh sikap imut Mira yang merayunya sat itu.
“Nanti kakak akan bermain lagi bersama Mira yaa.. Hari ini kak Rak harus pulang dan belajar sayang.” Seru Meli.
Sore itupun Meli pulang bersama Raka dan kembali ke rumah mereka meskipun aku mengetahui bahwa Meli dan Rak benar benar tak betah tinggal dirumah itu.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘