My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 39 | Lakukan yang Terbaik


__ADS_3

Pagi inipun berlangsung seperti biasanya, Sam di sibukkan dengan pekerjaannya yang cukup menumpuk dan aku selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan segala kebutuhan suamiku di hari itu, mengurus anak dan mengurus diriku sendiri. Pagi hari ketika aku sudah selesai memasak makanan untuk sarapan keluargaku, Sam keluar dari kamar dengan keadaan yang cukup lelah. Lingkar hitam di matanya mengatakan kalau Sam benar benar merasa lelah dan membutuhkan istirahat lebih banyak dari ini. Projek yang menumpuk dan urusan pekerjaan lainnya tak akan memberikan Sam waktu untuk beristirahat lebih lama.


“Morning Rein.” Sapa Sam sambil menguap dan menggaruk kepalanya.


“You wake up.” Jawabku.


Aku menarik kursi untuk Sam bisa duduk dan menyiapkan piring dan mengambilkannya sarapan untuk pagi itu. Aku selalu menyiapkan yang terbaik untuk keluargaku. Takkkan ku biarkan keluargaku kekurangan gizi atau memakan makanan yang tak sehat ketika di rumah.


“Makanlah Sam, lalu bersiap untuk ke kantor.” Seruku sambil mengambil segelas air untuk Sam.


Pagi itu seperti berjalan dengan sangat cepat sekali. Tanpa banyak bicara Sam menghabiskan sarapannya dan bergegas mandi untuk bersiap berangkat ke kantor. Sesibuk apapun dia, bagaimanapun kondisinya entah lelah atau sakit, Sam tetap menghadapi segalanya dengan senyuan untuk menyemangati dirinya sendiri.


Sam keluar dari mobil dan langsung menuju kantornya di lantai sepuluh.


“Selamat paagi semuanya.” Sapa Sam ketika pintu lift terbuka.


“Pagi pak Sam” Jawab para pegawai secara bergantian.


Sam memasuki ruangannya, duduk lalu mulai bekerja dengan kacamata terpasang di wajahnya. Satu persatu dokumen di atas mejanya dibuka dan ditandatangani. Meskipun rasa lelah dirasakannya namun Sam tetap bekerja dan tak membiarkan dirinya dikalahkan oleh rasa lelahnya. Waktu terus berjalan dan sampai pada pukul sepuluh pagi. Dari luar pintu list terbuka.


Setiap karyawan yang bekerja di lantai sepuluh melihat ke satu orang. Satu orang yang sangat dibenci oleh para karyawan karena tindakannya itu. Dia adalah Bela. Mantan karyawan yang menggelapkan uang perusahaan.


Tatapan sinis yang mengintimidasi dirasakan oleh Bela saat itu. Bela hanya diam saja dan tak membela diri sama sekali. Dengan kaca mata hitam di wajahnya, Bela terus berjalan ke arah kantor Sam.


Suci menyambut Bela dengan senyuman yang sedikit terpaksa dan mengarahkannya untuk langsung masuk ke ruangan Sam karena Sam sudah menunggunya sejak tadi.


“Permisi Pak, Bela sudah datang” Kata Suci lembut.


“Suruh dia masuk.” Perintah Sam.


Suci masuk ke ruangan Sam dan melepas kacamatanya. Terlihat matanya bengkak karena menangis, juga kondiinya yang tak sebaik dahulu. Tubuhnya yang terlihat lebih kurus dan seperti tak terurus membuat Sam sedikit khawatir dengan keadannya. Bagaimanapun juga Bela adalah salah satu orang yang pernah menjadi orang kepercayaan Sam dan setia melakukan perintah Sam dengan sangat baik. Tak heran kalau Sam benar benar merasa dilema karena harus memecat orang sebaik dan seloyal Bela.


“Tunggulah sebentar, Pak Satrio akan segera datang” Seru Sam.


Bela duduk dan menunggu kedatangan Pak Satrio. Tak ada satupun kata – kata yang keluar dari mulut Sam dan Bela. Sam terus bekerja dan Bela hanya duduk dan tak melakukan apapun.


“Permisi Pak, Pak Satrio sudah tiba” Kata Suci.


“Suruh masuk.” Perintah Sam.


Kini mereka berdua telah sampai dan Sam bisa mengatakan tujuan dari mengundang mereka berdua untuk datang ke kantor pagi ini.


“Baiklah, kalian semua sudah sampai. Bagaimana keadaan kalian saat ini?” Tanya Sam


Mereka berdua hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan Sam dengan sangat lembut.


“Saya baik Pak.” Jawab Bela.

__ADS_1


“Saya pun begitu pak” Jawab Pak Satrio.


“Baiklah kalau begitu. Tujuan saya menyuruh kalian berdua datang kemari adalah untuk menyuruh kalian melunasi hutang kalian pada saya mulai akhir bulan ini” Seru Sam dengan wajah yang serius.


Bela dan Pak Satrio sedikit terkejut dengan perkataan Sam, memang mereka berhutang banyak pada Sam dan pada perusahaan ini, namun mereka masih belum mendapatkan uang yang cukup untuk membayarnya, untuk kehidupan sehari hari saja sudah sulit dan mereka harus membayar hutang mereka tanpa bekerja.


Tak ada jawaban sama sekali dari mereka, Sam melihat mereka berdua sambil melepas kaca matanya dan melipat kedua tangannya.


“Salah satu cara kalian bisa membayar hutang kalian lebih cepat adalah kalian bekerja kembali di tempat ini” Seru Sam.


Bela dan Pak Satrio cukup terkejut mendengar pernyataan Sam pada mereka. Mereka tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mata mereka terbuka dan mereka saling menatap. Air mata mulai jatuh di pipi mereka. Tak habis pikir, setelah semua yang mereka lakukan pada Sam dan pada perusahaan ini, Sam masih mau menerima mereka kembali dan mashi memberikan kesempatan bagi mereka berdua.


“Pak, maksud bapak, kami kembali bekerja?” Tanya Bela dengan ragu ragu.


Sam mengangguk dan tersenyum. Sam sudah memaafkan kesalahan mereka berdua namun untuk uang yang telah mereka ambil, mereka tetap harus melunasinya selama apapun itu.


“Dengan begitu, kalian bisa melunasi hutang kalian pada saya. Paham kalian?” Seru Sam.


Tak henti hentinya mereka menangis, kesempatan kedua yang mereka dapatkan dengan cuma Cuma membuat mereka berdua benar benar berterimakasih pada Sam.


“Maafka kami pak. Kesalahan yang sudah kami lakukan tak sepantasnya Bapak memaafkan kami dan kami layak diperlakukan lebih buruk dari sekedar di pecat dari perusahaan ini.” Jawab Pak Satrio sambil menangis cukup keras.


“Kami berjanji akan melakukan yang terbaik pak, menjadi pesuruh pun saya rela pak. Terimakasih Pak.” Seru Bela sambil menangis.


Mereka berdua tersungkur di bawah kaki Sam. Air mata Sam pun mulai menetes melihat mereka seperti ini, melihat mereka menangis sampai tersungkur seperti ini membuktikan bahwa keadaan merak benar benar tidak baik baik saja.


Suara tangisan Bela dan Pak Satrio terdengar sampai ke luar, membuat pegawai lain penasaran apa yang mereka bicarakan sampai Bela dan Pak Satrio menangis kencang seperti ini.


Bela dan Pak Satrio keluar dari ruangan Sam sambil menghapus air matanya, mereka berjalan keluar dan meninggalkan kantor Sam, semua mata tetap masih tetap tertuju pada mereka , tatapan sinis dan mengintimidasi tetap dilakukan mereka. Namun Bela dan Pak Satrio tak menghiraukan mereka seperti yang dikatakan Pak Sam pada mereka.


“Bekerjalah dengan baik dan jangan hiraukan orang lain, meskipun kalian di hina atau direndahkan, terima saja. Itu adalah dampak dari semua yang kalian lakukan. Kalian paham?” Seru Sam.


Disatu sisi, Meli datang ke restoran untuk makan siang bersama Pak Rudy ayah mertuanya. Meli keluar dari mobil berjalan dan memasuki restoran itu. Pak Rudy telah menunggu kedatangan Meli di satu meja di sudut pojok kanan.


“Papa..” Sapa Meli sambil melambaikan tangannya.


Pak Rudy berdiri dan memeluk Meli, satu satu menantu yang disayanginya. Bhakan rasa sayangnya melebihi rasa sayang pada anak kandungnya sendiri.


“Meli, kamu sudah datang.” Jawab Pak Rudy.


“Papa sehat?” Tanya Meli.


“Papa sehat. Jadi ada apa kamu menemui papa diam diam begini?” Tanya Pak Rudy.


“Permisi, silahkan penanannya pak” Seru salah satu pelayan restoran itu.


“Saya pesan beef steak pakai black pepper sauce. dan minumnya alpukat juice Papa pesan apa?”

__ADS_1


“Sama dengan kamu saja Meli.” Jawab Pak Rudy.


“Baik. Beef steak black pepper sauce dua dan alpukat juice dua ya pak.”


Pelayan itu pergi dan Meli bisa melanjutkan kata katanya.


“Emm jadi pa. Meli mau tanya. Papa pernah memberikan Meli tiga persen saham, apa Meli bisa menjadikannya uang pa? Ada yang harus Meli lakukan papa.” Seru Meli.


Pak Rudy mengerutkan keningnya yang membuat Meli merasa kalau usahanya kali ini gagal.


“Memang apa yang akan kamu lakukan Mel?” Tanya Pak Rudy.


“Meli mau mendirikan usaha Meli sendiri pa, Meli akan bekerja sama dengan teman kuliah Meli dulu. Meli akan mendirikan sebuah butik papa.” Jawab Meli.


Pak Rudy menghela napas panjang, sangat disayang saham yang diberikannya pada Meli, namun Meli ingin mencairkan saham itu untuk membangun usahanya sendiri.


“Apa kamu yakin Mel? Kalau kamu keluar, akan sayang sekali. kamu harus memulai segalanya dari awal, dan belum tentu kamu akan berhasil. Namun kalau kamu tetap di sini, peluang kamu berkembang akan semakin besar.” Seru Pak Rudy.


“Meli sudah memikirkannya papa. Meli butuh modal, dan saham tiga persen itu sepertinya sagat cukup untuk modal Meli papa.” Jawab Meli.


“Kalau masalah itu, papa bisa meminjamkannya tanpa kamu harus menjual saham milikmu Meli.” Seru Pak Rudy.


Meli menarik napan panjang sambil memejamkan matanya dan menggelengkan matanya.


“Meli ingin memulai segalanya sendiri papa, dengan usaha dan hasil keringat Meli sendiri. Selama ini hanya berdiam diri di rumah Meli seperti menyia nyiakan baka Meli, jadi Meli ingin mengembangkan bakat Meli bersama teman Meli pa.” Jawab Meli.


“Silahkan Pak pesanan anda.” Seru pegawai resto sambil membawakan pesanan di tangannya.


“Papa mengerti maksudmu Meli, Namun apa benar kamu sudah memikirkannya matang matang? Papa tak ingin kamu sampai menyesal Mel, karena papa mengerti susahnya membangun usaha, apalagi mulai dari nol seperti ini.” Seru Pak Rudy sambil mengiris daging steak nya.


“Tenang pa. Meli adalah anak yang tangguh, meskipun Meli gagal nantinya, Meli akan bangkin kembali, papa percaya saja pada Meli dan Meli berjanji akan melakukan yang terbaik. Karena ini salah satu mimpi Meli papa.” Seru Meli meyakinkan Pak Rudy.


“Baiklah kalau itu maumu. Papa akan mengabulkannya. Datanglah ke kantor akhir minggu. Papa siapkan berkasnya dahulu dan kamu bisa langsung tanda tangani ya.” Jawab Pak Rudy.


Meli tersenyum senang mendengar jawaban ayah mertuanya itu. Meli benar benar bahagia. Satu rencananya telah berjalan mulus.


“tiga persen saham telah selesai.” Seru Meli dalam hatinya.


“Namun jangan katakan apapun pada Reno ya pa. Reno akan sangat marah pada Meli kalau Meli melakukannya tanpa persetujuannya. Karena Reno pasti takkan setuju dengan rencana Meli ini pa.” Seru Meli.


“Baiklah menantu papa yang cantik. Papa tahu apapun yang kamu lakukan, kamu akan melakukannya dengan baik dan sempurna. Semoga berhasil yaa nak.” Jawab Pak Rudy.


.


.


.

__ADS_1


Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘


__ADS_2