My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 59 | Tunggulah Sebentar


__ADS_3

Keadaan terasa berbeda pagi itu saat kami semua makan bersama, seperti ada sesuatu yang hilang diantara kami. Kepergian Ken sangat terasa khususnya bagi Mira, wajahnya terlihat murung dan sedih karena tak ada lagi pamannya mengingat betapa dekatnya Mira dan Ken selama Ken berada dirumah.


“Mira merindukan om Ken papa. Apa papa bisa membawa om Ken kembali?”, pinta Mira.


Aku dan Sam saling menatap melihat Mira yang sangat sedih kehilangan sosok paman yang dikagumi dan disayanginya. Tak tega rasanya meskipun begitu tak ada yang bisa kami lakukan saat ini.


“Sabarlah Mira”. Ucapku sambil membelai rambutnya


“Om Ken harus bekerja, bukankah om Ken berjanji akan kembali kalau pekerjaannya telah selesai?”. Ucapku menenangkan Mira.


Keadaan sulit juga tengah dihadapi Ken ketika di kantor. Ketika dirinya sama sekali belum pernah memimpin sebuah anak perusahaan dan belum paham bagaimana menjalankannya namun tanggung jawab tetap harus dilakukannya membuatnya sedikit frustasi dan sangat bingung.


“Mengapa hal ini sangat sulit untuk dilakukan? Dokumen yang menumpuk dan juga rapat yang terus berkelanjutan. Haah”. Gerutunya sambil menandatangani dokumen di mejanya.


“Astaga... Pekerjaan kantor sangat membunuhku”. Ucapnya dengan mengendorkan dasinya


Ketika pekerjaan yang sangat berat dan rasa ingin lari dari semua tanggung jawab ini menumpuk di hatinya, Ken teringat Laura. Wanita yang dicintainya dan dia berjanji untuk segera menikahinya, semua perasaan itupun menghilang dan Ken kembali lagi bersemangat menjalankan perannya sebagai pemimpin dari anak perusahaan milik ayahnya.


“Selamat siang Pak Ken. Pukul dua siang akan ada rapat dengan Pak Harjo”, ucap sekertarisnya.


Ken mulai mempercepat pekerjaannya agar ia bisa segera rapat dengan Pak Harjo. Ken dipercaya untuh mengelola anak perusahaan yang bergerak dibidang makanan kaleng dan minuman rasa buah berkarbonasi dan telah banyak dijual di super market dan kali ini ayahnya mempercayakan sebuah projek baru untuk ia kerjakan oleh anak perusahaan yang dipimpin Ken.


Cukup sulit bagi Ken untuk mengatasi kerja sama ini mengingat ia belum pernah mengurus client sendiri selama ia bekerja dengan Sam, kakaknya. Namun berkat dirinya pernah memimpin sebuah pabrik pada akhirnya Ken mampu mengambil keputusan dengan bijak dan memuaskan Ken bagi kedua belah pihak dan kerjasama pun berjalan dengan baik.


“Apa lagi jadwal saya setelah ini?”, tanya Ken.


“Tidak ada, apa Pak Ken akan langsung pulang?”, tanya sekertarisnya.

__ADS_1


“Tentu saja, saya akan pulang”, jawab Ken.


Tak seperti yang ia bayangakan, hidup sendirian sangat tidak nyaman. Ken sangat merindukan keluarga kakaknya terutama Mira yang selalu menjadi vitamin baginya dikala ia lelah dalam bekerja.


Ken masuk dan menyalakan lamu apartemen miliknya dan kali ini pun sama, tak ada yang menyambutnya dan memeluknya. Ken merebahkan dirinya di sofa dan menutup matanya dengan salah satu lengannya sambil menghela napas panjang.


“Ku pikir Mira akan menangis kalau aku tak ada disisinya, nyatanya akulah yang sangat sedih karena tak ada Mira yang selalu memelukku saat aku pulang bekerja”, lirihnya sedih.


Rasa sedih dihatinya semakin menjadi ketika ia membuka galeri foto di ponselnya, satu per satu foto kebersamaannya dengan keonakan kesayangannya itu menambah rasa rindu dihatinya.


“Mira, om Ken merindukan Mira”. Lirihnya sambil menggeser foto di ponselnya.


Satu bulan telah Ken lewati bekerja di perusahaan itu dan dalam satu bulan cukup banyak client yang mampu ia yakinkan untuk bekerja sama dengannya dan hal ini membuat ayahnya sangat senang dengan pencapaiannya sampai hari ini. Dalam ruangannya bekerja, ponselnya berdering dan ken mengangkat panggilan dari ayahnya itu.


“Ya papa. Ada apa?”. Tanya Ken sambil mempelajari dokumen yang ada di atas mejanya.


“Baiklah”, jawabnya singkat.


“Baiklah segalanya telah siap dan minggu depan minggu depan kita akan memulai persidangannya” Ucap Laura


Meli diam dan mengangguk. Ia merasakan kebahagiaan melingkupi hatinya mengingat segalanya akan berakhir minggu depan. Pada akhirnya dirinya dan Raka bisa hidup dengan tenang dan nyaman tanpa ada lagi kepalsuan diantara mereka.


“Terimakasih atas bantuannya bu Laura. Semoga setelah ini kita masih tetap berhubungan baik yaa”, Ucap Meli


Meli dan Laura saling berjabat tangan dan mereka pergi. Meli mempersiapkan segalanya dengan baik dan ketika ia memarkirkan mobilnya di halaman, ia melihat Rey berada di teras rumah sambil menelepon dengan senyuman terpancar di wajahnya.


“Pastilah ia menghubungi pelacur itu. Hah.. Sebentar lagi segalanya akan berakhir. Untuk apa aku harus memikirkannya lagi?”, gumamnya.

__ADS_1


Meli turun dan langusng masuk ke rumah, ia berjalan melewati Rey seakan akan tak pernah ada orang didepan sana. Rey menghadang langkah Meli sambil menatapnya dengan tatapan seribu makna.


“Baiklah, akan ku hubungi nanti.” Ucapnya lalu mengakhiri panggilannya.


“Dari mana saja?”, Tanya Reno.


“Itu urusanku. Urus saja pelacurmu itu.”, jawabnya ketus.


Meli berjalan meninggalkan Reno namun Reno berhasil menahan langkah Meli dengan menggenggam salah satu lengannya lalu menarik Meli mendekat padanya.


“Dengarlah, aku masih suamimu jadi apapun urusanmu itu juga urusanku”, jawabnya dengan tatapan sedikit tajam.


“Baiklah suamiku tersayang. Aku baru saja bertemu dengan pengacaraku. Tidakkah kamu tahu kalau minggu depan adalah persidangan kita?”, jawabnya.


Reno perlahan meregangkan genggamannya dan melepaskan Meli lalu ia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan Meli dengan menyeringai juga menatapnya tajam.


“Dengar istriku sayang. Akan ku pastikan kamu menyesal melakukan hal ini padaku. Aku akan mendapatkan hak atas Raka dan takkan ku biarkan kamu menemui Raka dan bahkan untuk melihatnyapun takkan pernah bisa kamu lakukan”, Ancamnya


Meli diam saja dan mendorong Reno menjauh darinya perlahan sambil tersenyum. Reno sama sekali tak melihat ketakutan di wajahnya, Meli yang saat ini dihadapannya bukan lagi istrinya namun lawannya dan Reno menyadari bahwa ia sulit untuk mengalahkan Meli.


“Mari kita lihat nanti. Aku yang akan menyesal atau kamu yang akan sujud memohon dibawah kakiku.”. Jawabnya sambil tertawa.


Meli masuk kekamar Raka dan duduk lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi mertuanya untuk mencoba mengatakan yang sebnarnya. Meli sangat menyayangi mertuanya seperti ayahnya sendiri bahkan rasa sayang mertuanya pada Meli melebihi rasa sayang pada anak kandungnya sendiri.


“Papa, apa Meli bisa bertemu? Ada yang ingin Meli katakan pada papa. Ini sangat penting”, Ucapnya di ponsel.


“Baik, Meli ke rumah sekarang ya pa”, Imbuhnya.

__ADS_1


Tak sampai lima menit setelah ia datang dan sekarang harus pergi ke rumah mertuanya untuk mengatakan hal yang sangat penting. Tanpa melihat ke arah Reno, Meli berjalan meninggalkan rumah dengan tidak mengatakan apapun.


“Lihatlah tingkah lakunya. Dasar perempuan gila”, umpatnya.


__ADS_2