
Takada percakapan sama sekali diantara mereka, suasana seperti ditelan keheningan. Mira menyesali perbuatannya, karena hal konyol yang dilakukannya membuat kekasihnya sedikit kecewa padanya, berkali kali ia mengatakan pada dirinya bahwa tak seharusnya ia berbuat seperti ini, apakah ini perselingkuhan? Tidak, Mira mencintai Arka, namun bagaimana dengan Raka, bagaimana perasaanya pada Raka, apa arti dari jantungnya yang berdebar? Apa arti kenyamanan yang ia dapatkan dari Raka? Apakah itu hanya sekedar hubungan antara adik dan kakak biasa? Perasaannya sungguh dilema, mencintai Arka namun tak ingin jauh dari Raka.
Mobil Raka berhenti tepat didepan rumah Mira, suasana malam yang cukup dingin, sedingin wajah Mira pada Raka. Dengan cepat Raka menghentikan Mira yang hendak keluar dari mobilnya dengan wajah seperti tak ingin berpisah.
“Apapun yang kamu lakukan lakukanlah. Kamu tak ingin menghiraukanku lagi? Lakukanlah. Namun ketahuilah, aku tetap akan menunjukan perasaanku padamu. Tak perlu merespon, terima saja”, ucap Raka dengan senyumannya, meski hatinya sedikit sakit namun ia tetap tersenyum menatap Mira dengan wajah yang berharap. Segera ia meregangkan genggamannya dan membiarkan Mira pergi begitu saja, apa yang diharapkan? berharap Mira membalikkan tubuhnya seperti di film film? Nyatanya Mira tak melakukan itu, ia berjalan terus saja tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Raka melanjutkan perjalanannya pulang, ia tak ingin berlama lama berada di depan rumah Mira. Menyakitkan memang bagi Raka.
Tanpa mengatakan apapun Mira masuk dan tak menghiraukan kami semua yang ada di ruang tengah, wajahnya terlihat sedih, kesal, lelah. Segalanya bercampur aduk terlihat di raut wajah Mira malam itu, menaiki anak tangga dengan sangat kasar, Mira membuka pintu dan sedikit membantingnya membuat ku dan Sam melihat ke araj kamar Mira yang berada di lantai dua. Aku berdiam diri dan tak melakukan apapun meski tahu sesuatu yang cukup buruk dialami Mira saat ini.
“Ia bahkan tak menanggapi panggilanku. Sepertinya aku melakukan sebuah kesalahan”, sesalnya sambil merebahkan diri di ranjang setelah berganti baju dan membersihkan dirinya. Mira masih tetap berusha untuk menghubungi Arka namun berapa kalipun ia mencoba tetap tak ada jawaban darinya.
Suasana pagi hari yang semestinya ceria dan semangat sedikit berubah menjadi hening, wajah Mira sangat tak bersemangat pagi ini. Dengan mengoles selai keatas roti panggangnya, Saam menatap kearah putri cantiknya yang sedang sedih itu.
__ADS_1
“Ada apa ini? Sepertinya diluar sedang hujan”, ucap Sam membuka pembicaraan
“Ah, tidak, ramalan cuaca di ponselku mengatakan langit cerah sepanjang hari”, balas Grace dengan menatap layar ponselnya melihat ramalan cuaca, Sam tersenyum dan menunjuk ke arah Mira yang wajahnya sedih.
“Lihatlah wajah putri cantik ini, wajahnya seperti akan mendatangkan hujan. Tersenyumlah sayang. Ada apa?”, ucap Sam mencoba menghibur Mira sedih.
“Mira sedang tak ingin bercanda papa. Sudahlah, Mira akan berangkat terlebih dahulu”, ucapnya sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul enam pagi, untuk apa anak sekolah berangkat pukul enam pagi?
“Ceritakan pada papa yang membuatmu seperti ini, bukankah sebelumnya kamu baik baik saja?”, tanya Sam dan memakan roti panggangnya perlahan, Mira diam seperti enggan untuk menjawab ayahnya, bukan karena ia tak ingin namun karena ia tak tahu bagaimana harus menceritakan pada Sam.
“Apakah Raka yang membuatmu seperti ini?” tanya Sam langsung pada intinya. Meski ucapan Sam benar adanya namun Mira hanya diam, meski ia terdiam namun wajahnya mengatakan segalanya.
__ADS_1
“Papa ingin mengantarku sekarang atau aku berangkat sendiri? Mira sedang tak ingin membahasnya”, ucapnya dengan nada kesal. Dengan segera Sam menghabiskan roti panggang untuk sarapannya dan mengambil tas juga mengambil jas miliknya dan segera berangkat mengantar kedua putrinya.
Suasana sekolah mulai ramai karena siswa mulai berdatangan, termasuk Mira yang bersekolah di SMA Harapan Bangsa, tempat Sam menimba ilmu ketika ia duduk di bangku SMA. Mira turun dan segera masuk, langkahnya sangat lambat menunggu kalau kalau Arka datang dan berpapasan dengannya, berkali kali ia mencoba melihat ke sekitarnya namun ia sama sekali tak melihat Arka. Dari belakang seseorang menghentikan langak Mira yang berjalan dengan lambatnya, naapasnya terengah setelah berlarian.
“Ah... how’s your day?”, ucap Arka dengan menggenggam tangan kekasihnya itu. Mira tersenyum dan merangkul lengan Arka yang cukup besar dan padat, perasaannya sangat bahagia ketika ia melihat Arka ternyata tak seperti yang ia bayangkan.
“Kamu tak marah padaku?”, tanya Mira menatap Arka dengan wajahnya yang memelas.
“Untuk apa aku marah padamu? Masalah kemarin? Hmmmm.. Sebenarnya aku sedikit kesal, mengetahui kekasihku pergi bersama pria lain tanpa sepengetahuanku. Namun mengingat ia adalah sahabat baik mu aku tak lagi mempermasalahkannya, next time katakan padaku kalau kamu akan pergi bersamanya”, ucap Arka tersenyum dan mencubit kecil pipi Mira, membuatnya senang dan membuang jauh jauh prasangka buruk itu.
“Let me tell you my secret. Rasa cemburuku cukup besar”, ucap Arka sedikit berbisik pada Mira. Mereka berdua berjalan terus kearah kelas masing masing. Sebenarnya mereka berdua satu kelas namun karena Mira masuk di kelas unggulan, maka hari ini kelas mereka berbeda. Arka mengantarkan Mira menuju kelasnya di lantai dua sedang kelasnya di lanat satu.
__ADS_1
“Mari kita bertemu saat jam istirahat”, ucap Arka melambaikan tangannya pada Mira lalu kembali turun ke kelasnya. Mira senang mengetahui bahwa Arka tak sedikitpun marah padanya, hari harinya yang sejak awal murung berubah menjadi senyuman dan semua itu berkat Arka