My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 90 | Hentikanlah Waktu


__ADS_3

Tak ada satu orang pun yang merasa dirinya baik baik saja ketika ia ditinggalkan oleh orang yang sangat mereka sayangi. Rasanya seperti sebagian dari diri mereka hilang dan mereka merasakan kehampaan di hati mereka, ada sebuah lubang yang cukup mendalam yang takkan pernah dapat tergantikan oleh siapapun juga, ada sebuah sakit yang mereka rasakan tiap kali mereka mengingat ingat kembali betapa pedihnya perasaan itu. Jikalau bisa, biarlah waktu berhenti selamanya agar mereka tak berpisah dari orang yang mereka sayangi.


Namun takdir tetap akan berjalan dengan semestinya. Meli harus menerima kenyataan bahwa sebentar lagi mertuanya akan pergi meninggalkannya untuk selamanya, entah kapan hal itu terjadi, mungkin beberapa menit kedepan, mungkin juga jam kedepan atau mungkin keesokan harinya, tak ada yang bisa menebak kapan kematian seseorang akan datang. Dengan terus menggenggam tangan mertuanya yang terus berusaha menarik napas untuk bertahan hidup, Meli menyentuh lembut wajah mertuanya sambil menutupi mulutnya agar tangisannya tak terdengar. Sangat menyakitkan bukan ketika seseorang harus berusaha terlihat baik baik saja disaat ia mengetahui bahwa waktu bersama orang yang disayangi hanya tinggal sebentar lagi?


“Papa, kalau memang berada bersama Meli terlalu menyakitkan untuk papa. Papa boleh pergi meninggalkan Meli, karena Meli tahu, Tuhan lebih sayang papa dari pada Meli”, ucapnya berbisik pada mertuanya.


Seandainya saja Meli memiliki pilihan antara mempertahankan atau melepaskan, Meli pasti lebih memilih mempertahankan. Namun jika keputusannya untuk mempertahankan semakin membuat orang yang disayanginya tersiksa, bukankah lebih baik melepaskannya?. Seperti menggenggam seutas tali dengan kedua tangannya, ia mencoba menahan mertuanya untuk tetap tinggal bersamanya, meariknya dengan sekuat tenaga agar ia kembali padanya. Namun Meli menyadari, semakin ia menarik, semakin mertuanya tersiksa, ia pun juga tersiksa dengan rasa sakit yang ia rasakan. Hingga akhirnya, ia merelakannya. Meli melepaskan mertuanya, tali yang ia genggam dengan erat, ia lepaskan begitu saja.


Pak Rudy membuka matanya ketika Meli membisikan kata kata itu padanya, mencoba menarik napas dengan sekuat tenaga, ia tersenyum. Bersama dengan tenaga yang tersisa, Pak Rudy mencoba menyentuh wajah Meli walau dengan tangan yang bergetar dan ia menganggukkan kepalanya. Tiba tiba Pak Rudy menutup matanya dan tangannya terjatuh, saat itulah Meli mengetaui bahwa mertunya sudah tak lagi bersama sama dengannya. Ia menangis, sangat sedih, sangat sakit seperti anak panah yang tertancap tepat di jantungnya.


“Papa... Maafkan Meli.. Maafkan Meli yang tak bisa memberikan yang terbaik selama papa hidup”, sesalnya sambil menangis.


Cukup lama Meli melihat mertuanya yang telah tertidur untuk selamanya, Meli kembali menggenggam tangan mertuanya yang tak lagi bernyawa dan menempelkannya pada wajahnya sambil menatap mertuanya dengan mata yang penuh air mata.

__ADS_1


“Terimakasih untuk apa yang papa lakukan untuk Meli, sampai kapanpun papa adalah papa Meli dan Meli adalah anak papa. Beristirahatlah dengan tenang papa. Mulai dari sini, Meli akan berjalan tanpa papa”, ucapnya lalu mengecup kening mertuanya dan meninggalkan tetesan air mata pada keningnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setidaknya dengan aku berada di sisi sahabatku, ia akan merasa sedikit lebih baik meski aku tahu keberadaanku tak mengubah apapun juga. Kepergian seseorang adalah sebuah awal yang baru untuk mereka yang ditinggalkan, sejak mertuanya pergi meninggalkannya sendiri, perusahaan telah sepenuhnya menjadi milik Meli, seluruh harta milik Pak Rudy, ia berikan sepenuhnya kepada Meli.


Waktu terus berjalan dan tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu. Dengan gaun yang ku kenakan aku melihat diriku sembari duduk di meja riasku, melihat beberapa kerutan yang mulai muncul di usiaku yang telah berjalan empat puluh tiga tahun, aku tersenyum.


Sam datang dan memelukku dari belakang serta mengecp kepalaku, kini aku pun tahu bahwa aku telah menua bersama pria yang tepat, aku telah melewati banyak hal bersama Sam baik suka maupun duka.


“Aku tak melihat adanya penuaan, yang ku lihat adalah seorang wanita yang sangat cantik. Kamu tak berubah sedikitpun sejak kita menikah Rein”, ucap Sam lalu kembali memelukku..


“Jangan menggodaku, sudah tak pantas lagi kamu mengatakannya padaku”, ucapku tersipu malu.

__ADS_1


“Mengapa? Itulah kenyataannya. Kamu masih sangat cantik, kerutan sebanyak apapun tak mampu menutupi wajah cantikmu. Sudah siap? Mari kita berangkat”, balas Sam.


Malam ini adalah malam yang sangat penting untukku dan untuk Sam, malam ini kami akan merayakan dua puluh dua tahun pernikahan kami. Aku tak tahu bagaimana lagi aku harus mengekspresikan perasaan bahagiaku. Sam, pria yang selalu menemaniku dan aku bersyukur karena sampai saat ini ia masih tetap bersama dengan ku dan mendampingiku. Malam yang indah ini kami habiskan hanya berdua saja dan meninggalkan Mira dan Grace di rumah.


Dengan lilin yang menyala, kami memulai makan malam romantis kami, kami berdansa dan menikmati malam ini berdua. Ku sandarkan kepalaku pada tubuh Sam yang masih terasa sangat padat, pria ini benar benar tak berubah. Bahkan hanya dengan menyandarkan kepalaku saja ia bisa membuat jantungku berdebar cukup kencang.


“Sadarlah Rein, mengapa kamu berdebar saat menyandarkan kepalamu pada tubuh suamimu? Bukankah hal ini biasa kamu lakukan?”, ucapku dalam hati.


Sam mampu membuatku nyaman dan tenang hanya dengan pelukannya saja, soal membuatku berdebar dan salah tingkah? Dia ahlinya, entah berapa kali ia mampu menggetarkan hatiku dan kini ia melakukannya lagi.


“Sepertinya kamu menikmati malam ini, haruskah kita membunuh malam ini bersama? Aku akan memesan kamar hotel untuk kita. Habiskan malam ini bersamaku”, ucap Sam dengan tatapan tajam dan senyumannya yang menggoda.


Lagi lagi aku terjerat oleh perkataannya, lagi lagi ia menguasaiku dengan perkataan dan tatapannya. Tubuhku seakan mematung dan aku tak bisa mengalihkan tatapanku darinya, tak kusangka meski tubuhnya menua namun keahliannya menggoda tak hilang sedikitpun.

__ADS_1


“Oh Tuhan, mengapa suamiku begitu sempurna dan mempesona?. Ia selalu berhasil membuatku jatuh cinta setiap hari”, ucapku terjebak dalam tatapannya.


Sam mendekatkan wajahnya padaku dan tanpa sadar aku memejamkan kedua mataku karena aku tahu apa yang akan ia lakukan padaku. Sam menciumku, dengan perlahan aku jatuh kedalam permainannya yang saat ini menguasaiku sepenuhnya. Apakah kali ini kami akan melakukannya? Ah, rasanya tubuhku tak ingin menolaknya.Aku merasakan cinta disetiap kecupannya, tubuhku semakin memanas dan ku harap malam ini berlalu dengan sangat lambat.


__ADS_2