My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 9 | Bohong


__ADS_3

Pagi itu aku menyiapkan bahan masakan untuk sarapan, karena Meli menginap disini jadi ku buat lebih banyak dari biasanya, aku juga memasak makanan kesukaan Meli. Semua bahan yag sudah ku siapkan mulai ku masak satu persatu. Lalu terdengar suara pintu dibuka lalu ditutup kembali. Rupanya itu Meli, dia sudah bangun, wah sepertinya setelah menjadi seorang ibu Meli bisa bangun pagi.


“Hai Mel, sudah bangun?”


Aku menyapanya dengan senyum sambil melanjutkan memasakku.


“Hai Rein, iya biasanya aku bangun jam empat untuk menyiapkan segala keperluan suami dan anakku”


Aku melihat Meli kagum, seorang Meli yang selalu tidur diatas kam satu dan bangun ketika matahari sudah berada diposisinya, bisa bangun lebih pagi ternyata.


“Wah, ternyata bisa bangun pagi yaa kamu, ayam belum berkokok tapi kamu sudah bangun. Efek jadi ibu rumah tangga yaa”


Aku sedikit meledek Meli, karena aku benar benar tahu sifat dan kebiasaan Meli.


“Dulu aku selalu bangun lebih pagi dari kamu mulai dari kita kos bareng sampai kita punya pekerjaan masing masing”


Aku kembali mengingat hal hal kecil bersama Meli sewaktu kami pertama kuliah, sambil membalik ayam yang ku goreng agar tidak hangus.


“Udah lah Rein”


Meli mengambil beberapa sayuran dan membantuku memotongnya untuk dimasak.


“Iyaa, kamu yang selalu mengurusku saat kuliah dulu, mulai dari membangunkanku, memasak, bersih bersih. Hampir semuanya kamu yang kerjakan”


Meli berada tepat disebelahku dan membantuku menyiapkan sarapan untuk pagi ini. Lalu dia memelukku.


“Waktu cepat berlalu yaa Rein, kita sekarang sudah jadi ibu ibu yang suka mengomel”


Aku hanya tertawa kecil mendengar kata kata Meli yang memang benar adanya, saat kita punya anak kita selalu saja mengomoel kalau anak melakukan hal yang menjengkelkan


“Kamu kali, aku sih enggak, aku orangnya sabar yaa”


Aku mencoba menyangkal Meli, karena aku memang lebih sabar dari Meli. Meli melepaskan pelukannya dan melanjutkan memotong sayuran dan memasak sayur itu disebelahku.


“Oh kamu sama Reno gimana? Baik baik saja kan?”


Tanyaku karena sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar mereka berdua.


“Baik Mel, blakangan ini dia sering pulang malam kadang juga marah marah sampai rumah. Ku pikir dia hanya kelelahan karena pekerjaan yang menumpuk di kantor.”


Meli mengambil napas panjang sambil memejamkan matanya untuk sementara.


“hhmm.. Aku merindukan Reno yang dulu Rein. Reno yang pengertian, selalu ada waktu untukku, aku paham perekjaan ini berat dan sulit untuknya, aku berusaha memahaminya, tapi selama Reno tidak macam macam di belakangku, aku memakluminya”


Kasihan Meli, resiko pekerjaan yang diambil Reno mengharuskan dia untuk meinggalkan keluarganya lebih sering. Bersyukurnya aku memiliki Sam, yang baik dan selalu ada waktu untukku dan Mira.

__ADS_1


“Oh iya Mel, kamu sama Sam baik baik kan?” tanyanya balik


“Iya, aku baik baik sama Sam. Kenapa?


Meli hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, aku hanya mengerutkan keningku dan melanjutkan memasakku.


“Beruntungnya kamu punya Sam, bagaimana kamu dengan Sam?”


Aku melihat meli dengan cukup bingung, bukankah sudah kujawab pertanyaan itu?


“Baik Mel, aku sudah jawab kan tadi?”


Meli kembali menghentikan memasaknya untuk sementara waktu berdiri berhadapan denganku.


“Kamu tahu maksudku Rein, aku hukan menanyakan hubunganmu dengan Sam, yang ku tanya kamu bagaimana dengan Sam?”


Aku memahami pertanyaan Meli kali ini, dan menjawabnya dengan senyuman kecil sepertinya aku enggan menjawab pertanyaannya.


“Aku baik baik sama Sam Meli. Aku sayang sama Sam sekarang, dia suamiku yang baik, dia pengertian, dia..”


Belum selesai aku melanjutkan ceritaku namun Meli memotongnya


“Rein, lihat aku.”


“Sulitkah untuk menjawab pertanyaanku? Pertanyaan yang semudah itu tidak bisa dijawab?”


“Apalagi yang harus ku jawab Meli, selama aku baaik baik saja dengan Sam, selama kita saling sayang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


Meli memalingkan wajahnya dariku dan menatapku kembail. Namun aku tidak bisa menatapnya, dari dulu setiap kali aku tidak jujur pada Meli aku selalu tidak menatap matanya yang membat Meli tahu kalau aku berbohong atau menyembunyikan sesuatu darinya.


“Aku sama sekali tidak khawatir sama Sam, aku khawatir sama kamu. Oke kamu sayang sama Sam, kamu bahagia bersamanya saat ini, tapi apa itu tulus? Atau sebuah keharusan karena kamu seorang istri?”


Aku mematikan kompor dan menyajikannya dipiring dan mencoba menghindari Meli kali ini.


“Mel, aku menyiapkan sarapan dulu.” jawabku


Meli terdiam melihat tingkahku yang seprti ini, Aku berusaha terlihat sibuk didepan Meli agar Meli tidak menanyaiku lagi. Kusiapkan segalanya lalu kupanggil Sam agar segera turun dan sarapan.


“Sam, ayo bangun kita sarapan dulu. Sam”


Sam tidak kunjung bangun, ini kesempatanku untuk lari dari Meli, aku menuju kamar danmembangunkan Sam, namun saat aku masuk kemar kudapati Sam telah terbangun dan duduk di kasur, dia melihatku seakan sedang menungguku datang.


“Sam, sudah datang? Mengapa tidak keluar?”


Sam hanya diam melihatku, tanpa menjawab pertanyaanku. Tatapannya sedikit dingin, tidak biasanya dia seperti ini. Apa dia mendengar percakapanku dengan Meli? Tidak, kumohon jangan. Semoga dia tidak mendengarnya.

__ADS_1


Sam keluar kamar dengan senyum kecil tanpa menjawabku atau memelukku.


Pagi itu kami duduk makan bersama namun perasaan cangung menyelimuti suasana pagi itu, aku yang bertengkar kecil dengan Meli dan Sam yang hanya diam, membuatku tidak bisa berpikir. Aku harus meyelesikan ini semua, pertama tama mulai dari Meli.


“Sam, aku ada urusan sama Meli, bisa minta tolong bawa anak anak keluar jalan jalan?”


Sam melihatku dan mengiyakan permintaanku hanya dengan anggukan. Kali ini perasaanku sungguh tidak enak dengan Sam, perasaanku mengatakan bahwa Sam mendengar percakapan kami saat memasak.


Pagi itu Sam dan Mira juga Raka bersiap siap untuk pergi jalan jalan dan hanya ada aku dan Meli, aku benar benar harus menyelesaikan semua ini.


“Dada mama, aku berangkat yaa” teriak Mira


Brraakk


Aku mengadap Meli, kali ini Meli mau memarahiku, memakiku atau berteriak padaku silahkan saja, karena tidak ada orang lain disini, hanya aku dan Meli.


“Mel, apa yang mau dibahas, bahas sama aku sekarang, aku berusaha jawab semua pertanyaan kamu”


Meli melipat tangannya dan tertawa kecil lalu menatapku, seperti bersiap untuk mengeluarkan amarahnya padaku.


“Rein, ini sudah berapa tahun sih? anakmu sudah umur lima loh, kalian sudah tujuh tahun menikah, ini bukan main main Rein.”


Aku memahami perasaan Meli, dia sangat khawatir kepadaku, dia marah, dia kecewa dengan semua yang kulakukan saat ini.


“Mel. Aku memang sayang sama Sam, tapi ini bukan hal yang mudah Mel. Iya aku nyaman sama Sam, aku memang sudah jarang memikirkan Ray lagi, tapi bukan berarti aku telah melupakannya. tidak semudah ini Mel”


Haruskah pertengkaran ini berlanjut? Tidakkah kita bisa seperti dulu saja? Aku tidak buntuh Meli untuk membantuku menyelesaikan masalah yang aku sendiri sampai saat ini tidak mempu menyelesaikannya. Aku hanya membutuhkan Meli sebagai sahabatku, medukungku seperti dahulu. Menyemangatiku dan mengatakan segalanya akan baik baik saja. Tidak bisakah dia melakukan hal itu?


“Rein, mau sampai kapan kamu keras kepala begini? Sam ini baik, sangat baik”


Aku memotong pembicaraan Meli.


“Karena itu Mel, Karena Sam sangat baik padaku, hanya ini yang bisa ku berikan, Sam baik baik saja selama ini, aku menyayanginya itu sudah cukup untuk saat ini Mel”


Itu semua cukup untuk saat ini, aku memang merasakan hal yang berbeda pada Sam, tapi Meli tidak mengerti bahwa ada beberapa hubungan yang tidak mudah diputskan begitu saja.


.


.


.


.


Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. kalau kalian suka bisa di like dan kasi saran yaa. Saran apapun asal membangun dari kalian sangat penting loh.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2