
Matahari telah menunjukkan sinarnya, perlana sinar itu masuk dan menyinari kamar Mira sedikit demi sedikit karena tirai yang tak tertutup sempurna hingga pada akhirnya sinar itu merambat naik hingga menyilaukan wajah Mira yang tengah tertidur pulas dengan posisi membalikkan tubuhnya. Akibat lupa mematikan alarm yang berbunyi tiap pukul setengah enam pagi, akhirnya alarm pagi berbunyi di hari minggu, dengan setengah sadar Mira meraba alarm yang berbunyi dengan nyaringnya dengan sedikit menggeram.
TUUKK
Mira mematikan alarm yang berbunyi dan kembali melanjutkan tidurnya hingga tak ada lagi yang mampu membangunkannya. Sedang dari kamar Grace pun sama. Namun yang membedakan adalah alarm sekencang apapun takkan mampu membangunkan Grace yang tertidur dengan sangat nyenyaknya.
Suara mobil terparkir didalam garasi, Sam dan aku turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuh kami yang cukup lengket ku rasakan. Aku masuk ke dalam rumah dan ku lihat seperti tak ada tanda tanda kehidupan pada rumah ini, aku menepuk keningku karena tersadar akan sesuatu.
Plaak
“Bukankah ini hari minggu? Pantas saja kedua anak gadisku belum ada yang bangun dari tidur mereka”, ucapku berbicara sendiri. Segera ku lanjutkan langkahku masuk ke dalam kamar untuk segera membersihkan diriku.
“Nyonya. Sudah pulang”, sapa Bi Sumbi yang tiba tiba muncul di hadapanku dari arah dapur.
“Ia bi. Tolong siapkan makan siang ya bi, saya sangat lelah”, ucapku dengan senyuman menyuruh asisten rumah tanggaku untuk memasak.
“Baik nyonya. Apa yang ingin nyonya makan?”, tanya Bi Sumbi dengan nada yang sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Apa saja bi”, ucapku lalu meninggalkan Bi Sumbi dan segera naik ke dalam kamarku.
Kesegaran merasuk kedalam tubuhku seakan nyawaku kembali masuk dalam tubuhku, dengan shower menyala yang membasahi tubuhku dari kepala hingga kaki, aku kembali mengingat ingat malam yang telah ku lewati bersama Sam. Aku mengingat kembali permintaannya, bukan sebuah masalah sebenarnya, hanya saja aku merasa cukup dengan hanya dua orang anak, pikirku.
“Baiklah mari kita coba. Ku harap keberuntungan berpihak padamu Sam”, ucapku mencoba menguatkan hatiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Suasana makan siang yang cukup sepi melingkupi ruang makan siang itu. Semenjak kedua anak anakku beranjak remaja, mereka seperti memiliki dunia mereka sendiri. Aku melihat ke arah Sam yang hanya makan dan tak berbicara, aku jadi mengerti mengapa Sam menginginkan seorang anak laki laki. Kedua anaknya telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja dan Sam mambuat batasan dengan kedua putrinya.
“Sam pasti merasa kesepian”, batinku.
“Papa. Sore ini Mira akan keluar bersama teman Mira”, ucap Mira meminta ijin pada Sam dan kali ini benar benar adalah temanny, bukan Raka.
“Bersama Raka?”, tanya Sam
“Bukan papa. Dia akan menjemput Mira sore ini jam empat, dan kami akan mengerjakan tugas bersama jadi Mira tak mungkin pulang jam tujuh malam”, ucap Mira mencoba menjelaskan serinci mungkin pada Sam.
“Jaga dirimu dan pastikan kamu mengangkat ponselmu ketika papa menghubungimu. Pulanglah jam sembilan malam”, ucap Sam memberi sedikit kelonggaran pada Mira anaknya. Sam merasa bahwa dirinya terlalu mengekang Mira dengan terus menyuruhnya untuk pulang jam tujuh malam. Namun mau bagaimana lagi, Sam takut hal buruk terjadi pada putri sulungnya itu jadi ia mencoba membatasi dan memagari Mira agar ia terhindar dari hal buruk.
“Baiklah papa. Mira akan kembali ke rumah pukul sembilan malam”, ucapnya tersenyum pada Sam. Kali pertama dalam hidupnya ia bisa pulang lebih malam dari sebelumnya, wajahnya tersenyum senang.
Waktu berlari dengan cukup cepat dan detik jam menunjukkaan tepat pukul empat sore, suara bel rumah berbunyi, dari kamarnya Mira turun dan segera berlali untuk membukakan pintu bagi temannya yang datang menjemput ke rumah.
“Mira, kamu dijemput?”, tanya Sam sambil menonton acara tv lalu melihat Mira turun dari kamarnya.
“Iya papa” jawab Mira singkat.
“Bawa masuk temanmu itu, papa ingin melihat siapa yang akan pergi bersamamu”, ucap Sam sedikit tegas pada Mira.
Mira mengangguk dan segera membawa temannya masuk kerumah untuk dikenalkan dengan Sam. Aku melihat ke arah Sam yang sedang duduk disebelahnya, wajahnya cukup khawatir. Aku menyadari bahwa Sam tak siap menyaksikan anak gadisnya tumbuh menjadi gadis remaja, Sam takut cinta anaknya terbagi dan ia tak rela.
“Kenalkan, ini papaku”, ucap Mira pafa Arka, seorang trman yang menjemputnya ditumah.
__ADS_1
Sam melihat kearah Mira dan melihat laki laki yang dibawa Mira dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Kesan pertama ketika Sam melihat adalah ia adalah anak yang rapi dan terlihat seperti anak baik baik, penampilannya pun tak berlebihan.
“Jadi dia sainganku”, ucap Sam berbisik padaku. Aku mencubit kecil perutnya karena bisikannya itu sambil membuka mataku lebar lebar lalu tersenyum pada Mira dan kawannya.
“Siapa namanya?”, tanyaku mencoba memecahkan keheningan.
“Saya Arka tante”, balasnya dengan sopan. Lesung pipi menambah manis senyumnya dan membuatku sedikit yakin bahwa ia adalah anak baik baik. Aku melihat ke arah Sam yang sedari tadi tak henti hentinya memandangi Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki kemudian kembali lagi memandanginya dari atas sampai bawah berulang ulang kali.
“Baiklah, berhati hatilah kalian berdua”ucapku tersenyum lembut.
“Kembali tepat pukul sembilan malam”, tambah Sam dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
Aku melihat ke arah Sam setelah memastikan mereka berdua telah pergi, sedikit kesal dengan tingkahnya yang seperti itu. Aku meliat kedua tanganku dan menatap Sam tajam tajam dengan tatapan yang kesal.
“Kamu seperti tak pernah muda saja Sam”, ucapku sedikit ketus pada Sam yang asik dengan acara televisi yang ia lihat dan tak memperhatikanku yang berdiri disampingnya sambil melipat kedua mataku. Aku tahu bahwa ia berpura pura tak mendengar ocehanku saat itu, sungguh mengesalkan melihatnya cemburu dengan teman pria yang selalu dibawa Mira datang ke rumah.
“Sam. Mira sudah remaja, berilah ia sedikit kebebasan”, ucapku sedikit melunak pada Sam dan kembali duduk disampingnya.
“Aku memberinya sedikit kebebasan sayang. Ku biarkan ia pulang sedikit lebih malam dengan teman temannya”, balas Sam dengan terus menatap layar televisi yang menyala.
Aku menggenggam kedua tangan Sam dan mencoba membuatnya menatap kearahku. Aku bisa melihat perasaan takut di matanya, mungkin Sam bisa membohongiku namun tidak dengan matanya. Mata Sam akan selalu berkata yang sebenarnya padaku, berbeda dengan dirinya. Aku mencoba meyakinkan Sam untuk mencoba percaya pada Mira.
“Aku tahu kamu takut, kamu sangat menyayangi Mira, aku tahu kamu sudah kehilangan momen bahagia bersama Mira, hubunganmu dengan Mira tak lagi seperti saat Mira masih kecil dahulu. Namun Sam, Mira sudah remaja, biarkan dia sedikit mengenal dunia luar. Jangan kekang dia, jadilah teman yang selalu ada dan melindunginya. Dengan begitu kamu takkan kehilangan Mira”, ucapku mencoba meyakinkan Sam.
“Kamu benar, mungkin aku yang terlalu berlebihan pada anakku sendiri. Aku takut bahwa Mira tak lagi mencintai ayahnya seperti dahulu. Aku sangat merindukan saat Mira datang dan memelukku ketika bangun pagi. Aku merindukan saat Mira mengatakan bahwa ia menyayangiku bahkan dalam tidurnya, aku lupa bahwa Mira sudah menjadi gadis remaja dan bukan aku lagi satu satunya yang mampu membuatnya tersenyum”, ucap Sam mencoba mengutarakan isi hatinya. Hatiku sedikit perih mendengarnya berbicara seperti itu. Tak kusangak bahwa Sam sangat merindukan Mira kecil yang dahulu.
__ADS_1