
Aku menutup ponselku dan menutupi diriku dengan selimut agar Sam tak mengetahui bahwa aku sedang menangis. Aku mencoba terus menahan perasaanku dan tangisku. Namun aku gagal, saat itu aku merasa seperti sahabat yang tak berguna. Suara pintu terbuka membuatku langsung terdiam, sejenak ku coba untuk tak menangis dan tak bergerak. Suara langkah kaki itu mendekat. Sam mendekatiku dan meletakkan ponselnya di sisi lain kasur itu, aku masih berusaha untuk tak bergerak, namun Sam menarik selimut yang menutupi tubuhku dengan cepat sehingga aku tak dapat menahannya.
Sam melihatku dengan air mata yang sudah membanjiri wajahku malam itu. Panik dan khawatir, itulah yang terlihat di raut wajah Sam saat itu. Sam duduk dan langsung membangunkanku yang sedang berbaring.
“Rein.. Ada apa?” Tanya Sam.
Aku memalingkan wajahku dari tatapan Sam dan menghapus air mataku. Diam dan tak bersuara. Itu yang kulakukan ketika Sam bertanya padaku.
Sam memelukku karena mengerti bahwa aku tak ingin menceritakan masalahku padanya. Meskipun aku mengetahui bahwa Sam adalah satu satunya tempat terbaik untukku bisa menceritakan segalanya, termasuk masalahku. Namun tak tahu mengapa, aku seperti anak kecil yang hanya diam saja saat orang lain menanyakan masalahku.
Aku kembali menangis di pelukan suamiku. Sam menepuk punggungku dan memelukku sampai aku merasa tenang dan berhenti menangis.
“Sudaha tenang? Ada apa?” Tanya Sam lembut.
“Tak biasanya kamu menangis seperti ini Rein, kamu selalu menceritakan masalahmu padaku.” Lanjut Sam.
“Aku hanya merasa kalau aku adalah sahabat yang buruk Sam.” Jawabku dengan suara pelan.
Sam mengangguk mengerti kemana arah pembicaraanku dan apa yang terjadi tentang hubunganku dengan Meli saat ini.
“Kamu bukan sahabat yang buruk Rein, kamu hanya menginginkan yang terbaik untuk sahabatmu, namun kamu melupakan satu hal. Kalian bukan lagi wanita lajang seperti dahulu. Mungkin dahulu Meli adalah duniamu, namun saat ini kalian telah memiliki keluarga masing masing dan kamu tak bisa seenaknya ikut campur dalam rumah tangga orang lain meskipun dia adalah sahabatmu sendiri.” Seru Sam menjelaskan.
Aku memeluk Sam, aku menyadari kesalahanku,aku tak mengerti mengapa aku seperti ini. Aku merasa seperti anak anak yang tak bisa mengontrol emosi dan suasana hatiku ketika sedang berbicara dengan Meli.
“Lalu apa yang harus ku lakukan saat ini?” Tanyaku sambil memeluk Sam
“Biarkan Meli menyelesaikan masalahnya, tugasmu hanya mendampinginya melewati masalahnya, dan jangan ikut campur Rein.” Jawab Sam.
Aku menenangkan diriku dan pikiranku. Aku menarik napas panjang dan berusaha menyikapi segalanya seperti yang dikatakan Sam padaku. Terkadang aku bersikap seperti anak anak yang tak mengerti harus berbuat apa, namun Sam selalu bisa menuntunku, memperingatkan bahkan menegurku saat aku hampir memilih pilihan yang salah.
“ Istirahatlah Rein” Seru Sam dan mencium keningku.
Keesokan harinya aku bangun dan mulai beraktivitas jam empat pagi seperti biasanya. Tak ku biarkan kesedihanku atau masalah pribadiku mempengaruhiku. Tugas da kewajiban sebagai seorang istri tetap harus ku kerjakan. Setelan jas berwarna biru telah ku siapkan sesuai permintaan Sam kemarin, karena hari ini Sam akan mengadakan tanda tangan kontrak kerjasama antara New Hope dengan Citra Group Development.
Makanan sudah tertata di meja tepat pukul lima pagi, aku mulai menyiapkan diriku dan membersihkan diri untuk segera sarapan pagi bersama Sam dan Ken.
__ADS_1
“Pagi kak Rein” Sapa Ken.
“Sudah bangun Ken? Tak biasanya.” Jawabku sambil melihat ke arah Ken
“Iya kak, sepertinya barangku ada yang tertinggal di pabrik, aku harus memastikannya.” Jawab Ken.
Ken mendekatiku dan melihat ke arahku sambil mengerutkan keningnya. Aku berusaha untuk tidak menanggapi Ken, karena Ken menyadari betapa bengkaknya mataku pagi ini.
“Kak, kakak menangis?” Tanya Ken.
“Ah.. Tak apa Ken, hanya masalah pribadi.” Jawabku sambil menuju ke arah dapur untuk mengambil makanan lain.
“Kakak tidak bertengkar dengan kak Sam kan?” Tanya Ken curiga.
“Tenanglah. Bukan karena Sam, Malah Sam yang menenagkanku Ken.” Jawabku menenagkan Ken.
“Duduklah, sebentar lagi Sam bangun” Seruku.
“Pagi sayang” Sapa Sam sambil mencium keningku dan memelukku dari belakang.
Aku menyuruh Sam duduk agar tak lagi menghawatirkanku lalu mengambilkan makanan pada piringnya.
“Sam, nanti siang aku akan menemui Meli jam sebelas, mungkin sampai sore, jadi aku akan membeli makanan di luar untuk makan malam nanti” Kataku sambil menagmbilkan makanan untuk Sam.
“Ah.. Baiklah, sampaikan salamku padanya yaa Rein” Jawab Sam.
Aku sampai di cafe yang biasa ku datangi bersama Meli, Mira ku tinggalkan bersama bu Sum, orang yang selalu ku panggil untuk menjaga Mira saat aku dan Sam tak ada dirumah untuk menjaganya. Aku turun dari mobil dan ku lihat Meli sudah menungguku didalam ditemani dengan secangkir kopi di depannya.
“Mel..” Sapaku sambil melambaikan tanganku.
Meli membalas sapaku dengan senyuman sambil melambaikan tangannya. Saat itu aku langsung berlari dan memeluk Meli, perasaanku sangat tenang saat ini, melihat sahabatku baik baik saja dan mampu melewati segalanya sendiri.
“I miss you so much Mel..” Kataku sambil memeluk Meli.
“Me too.. Maafkan aku yaa Rein, aku menjadi kekanak kanakan hanya karena kamu tak mendukungku” Seru Meli.
__ADS_1
Kami duduk dan saling berpegangan tangan. Aku takut kehilangan Meli. Dia adalah sahabatku satu satunya. Aku menggelengkan kepalaku dan menyangkalnya.
“Tidak Mel, aku yang seharusnya minta maaf. Keputusanmu adalah keputusan yang tepat. Maaf aku tak mendukungmu dan membiarkanmu sendirian Mel.” Jawabku.
Di situasi lain, Sam masuk ke ruang rapat bersama dengan Suci sekertarisnya, Sam menunggu kedatangan Pak Kim untuk membahas tentang kerja sama ini juga menandatangani kontraknya.
Tak lama pintu ruang rapat itu terbuka. Pak Kim bersama dengan timnya telah tiba. Dengan gaya yang sangat berkelas namun terlihat sangat rendah hati, Pak Kim menjabat tangan Sam dan duduk di kursinya.
“Pak Kim.. Selamat datang” Sapa Sam.
“Yaa.. Terimakasih Pak Sam” Jawab Pak Kim dengan senyuman.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang itu, Suci mengeluarkan dokumen untuk di tanda tangani Pak Kim begitu pula dengan sebaliknya. Mereka saling menandatangani dokumen kontrak itu lalu saling berjabat tangan.
“Baik pak, lalu kapan saya bisa langsung mengirim seribu unit produk kami pak?” Tanya Sam.
“Secepatnya Pak Sam, rencana saya lima bulan lagi Pak, dan semoga tak membutuhkan waktu lebih lama lagi” Jawab Pak Kim.
Diwaktu yang lain, aku sedang berbincang dengan Meli, melepas rindu dan tertawa bersama seperti dulu. Meli menceritakan seglanya padaku, tentang rencananya yang telah berhasil dan juga rencana selanjutnya. Tak ku sangka Meli mampu membuat rencana seperti ini, rencana yang sangat bagus dan sangat mulus ini mampu membawa Meli sampai pada titik ini.
“ Mel, aku sudah mendengar tentang kamu menyewa pengacara untuk mengurus perceraianmu.” Seruku.
“Dari mana Rein?” Tanya Meli.
“Laura adalah kekasih Ken, adik iparku.” Jawabku.
“Dunia benar benar sangat sempir sekali ya Rein, mungkin kita tak bisa dipisahkan oleh apapun. Selalu ada yang mempertemukan kita” Jawab Meli.
Aku merindukan momen seperti ini, aku tak ingin membuat kesalahan yang sama. Kali ini, apapun keputusan Meli untuk bercerai dengan Reno, aku akan mendukungnya.
.
.
.
__ADS_1
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘