My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 91 | Anak ke Tiga?


__ADS_3

“Apa tak sebaiknya kita batalkan saja program KB nya Rein? Aku masih menginginkan anak laki laki darimu”, ucap Sam sambil membelai rambutku.


Kami memesan sebuah kamar hotel untuk satu malam saja, dengan hanya berbalutkan selimut, Sam tidur sambil memelukku. Sejujurnya aku sudah cukup tua untuk melakukan hal seperti ini dengan suamiku sendiri.


“Mira sudah dewasa Sam dan Grace menginjak remaja, kalau kita memiliki anak lagi, aku takkan sanggup untuk mengurusnya”, jawabku.


“Kita bisa mempekerjakan pengasuh seperti saat Grace bayi dahulu bukan? Kamu tak perlu bersusah susah lagi”, ucap Sam mencoba merayuku.


“Tidakkah kamu memikirkan bagaimana perasaan Mira saat tahu ibunya hamil lagi? Dia pasti akan malu dengan teman temannya karena jarak antara dirinya dan adiknya terpatuk sangat jauh Sam”, balasku mencoba menolak Sam


Sam melepaskan belaiannya dan hanya tersenyum padaku, ku lihat raut wajah Sam yang sedikit kecewa akibat penolakkan ku. Sejujurnya aku tak ingin memiliki anak ke tiga karena bagiku Mira dan Grace saja cukup. Sam membalikkan tubuhnya dan tidur membelakangiku seakan kecewa padaku malam itu.


“Bukankah sejak awal kamu tak ingin anak laki laki?”, tanyaku sambil memeluk Sam dari belakang.


“Itu dahulu, sekaran aku sangat menginginkannya. Sebenarnya apa yang kamu takutkan? Bukankah aku mampu mencukupi segalanya? Jangankan dua, seratuspun akan ku cukupkan mereka semua”, ucap Sam dengan nada kesal.


Rasa kesal yang ia tunjukkan padaku membuatku tertawa, tak kusangka Sam masih mampu melakukannya. Sam terus berusaha meyakinkanku untuk melepaskan KB dan membuat anak ke tiga. Sebenarnya tak ada yang ku takutkan dengan memiliki anak ketiga namun aku merasa dengan hanya dua anak saja sangat cukup bagiku.


“Baiklah. Mari punya anak ke tiga”, ucapku berbisik pada Sam yang tidur sambil memalingkan tubuhnya dariku.


Mendengar aku setuju dengan memiliki anak ke tiga, ia membalikkan posisi tubuhnya dan ku lihat wajahnya tersenyum senang, Sam mendekatkan wajahnya denganku dan menempelkan keningnya.


“Aku tak sabar menantikannya Rein”, ucap Sam lembut padaku.


Perlahan ia memiringkan wajahnya dan dalam sekejab Sam berada tepat di atasku, ku lihat tak ada yang berubah dari pria yang telah menjadi suamiku selama dua puluh dua tahun ini. Ia tetap tampan dan menawan walau beberapa helai rambut putih terlihat olehku. Namun hal itu tak mengurangi pesonanya. Ia membelaiku dan bersiap untuk menciumku, ku palingkan wajahku darinya saat ia hendak mengecup bibirku.


“Aku mengatakan bahwa aku setuju untuk memiliki anak ketiga namun bukan berarti kita akan melakukannya malam ini Sam”, ucapku melirik ke arah Sam


“Apa? Mengapa? Sekarang atau besok sama saja Rein”, balas Sam.

__ADS_1


“Aku sungguh lelah. Aku bukan lagi wanita berusia dua puluh atau tiga puluh tahun seperti dahulu”, ucapku menatap Sam dan menyentuh wajahnya.


“Namun aku ingin saat ini juga. Biar aku yang bergerak”, ucap Sam memohon dengan matanya yang berbinar.


“Ku rasa tak adil bagimu, tunggukah sampai rasa lelahku hilang. Ditambah lagi aku belum menghentikan program KB”, ucapku mencoba meloloskan diri dengan segala alasan yang ku punya.


Sam menghela napas panjang lalu mengecup keningku dan ia kembali ke posisinya, ia memelukku dan mencoba untuk tertidur meski itu sulit untuk dilakukannya. Aku menyentuh lembut helai rambutnya dan turun hingga ke wajahnya. Ku kecup hidungnya dan aku tertidur di pelukan Sam.


“Jangan kesal padaku. Bersabarlah sebentar lagi”, ucapku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mira dan Grace berada di rumah bersama dengan Bi Sumbi, seorang asisten rumah tangga. Sudah pukul sepuluh malam namun kedua orang tua mereka tak kuncung pulang dari acara makan malamnya. Grace duduk di sebelah Mira sambil memanyunkan bibirnya kesal menunggu orang tuanya datang.


“Kak. Mengapa mama papa lama sekali?”, tanya Grace menunggu dengan kesal


“Bersabarlah, mungkin sebentar lagi mereka pulang”, balas Mira dengan memainkan ponselnya sambil tersenyum.


Mira meletakkan ponselnya dan duduk menghadap Grace yang berada di sebelahnya. Jarak usia Mira dan Grace yang tak terlalu jauh hanya enam tahun jarak mereka. Mira telah duduk di bangku SMA sedangkan Grace di bangku SMP. Mira mencubit hidung adiknya dengan pelan karena gemas dengan tingkah Grace yang masih terlihat seperti anak kecil yang selalu ingin dipeluk oleh ayahnya.


“Kalau kakak bilang sabar, itu artinya kamu harus bersabar. Mungkin mereka sedang bersenang senang”, ucap Mira mencubit kecil hidung Grace.


“Ha? Apa maksudnya mereka bersenang senang?”, tanya Grace dengan melepaskan tangan Mira dari hidungnya.


“Yaa.. Bersenang senang. Nanti juga kamu akan mengetahuinya, bersiaplah mulai dari sekarang. Mungkin kamu bukan lagi anak kesayangan papa dan mama”, ucap Mira menggoda adiknya.


“Kakak!!!”. Seru Grace kesal dan memukul Mira dengan bantal sofa yang berada tepat disampingnya.


Ditengah keseruan mereka, Raka datang dengan membawa beberapa camilan di tengah malam untuk Mira dan Grace yang berada di rumah. Dengan kaos hiam yang tertutup jaket kulit dan celana hitam juga sandal japit. Seperti halnya Mira dan Grace yang telah bertumbuh dan semakin cantik, Raka pun begitu. Ia tumbuh layaknya seorang pemuda yang tampan, usianya saat ini sembilan belas tahun dan telah duduk di bangku kuliah.

__ADS_1


“Wah wah.. Apakah aku mengganggu kalian?”, sapa Raka dengan senyumannya, lesung pipinya menambah kesan manis pada wajahnya.


“Kak Raka”, teriak Grace senang sambil memeluknya


“Bagaimana keadaanmu adik kakak yang cantik?”, tanya Raka sambil mengusap rambut Grace


“Jangan memainkan rambutku. Selalu saja”, ucapnya kesal sambil memukul tangan Raka.


“Ahhahha.. Baiklah baiklah”, jawabnya.


Melihat beberapa bungkus camilan yang dibawa Raka malam itu, Grace dengan cepat mengambilnya dan segera membukannya. Wajah Grace selalu saja terlihat ceria ketika siapa saja yang datang ke rumah dengan membawakan camilan.


“Kak. Ada apa malam malam kemari?”, tanya Mira melihat ke arah Raka.


“Tak ada apa apa, aku hanya merindukan kalian”, balasnya lalu duduk di samping Mira.


Mira menurunkan kedua kakinya yang sebelumnya menyilangkannya di atas sofa. Mira mengambil sepotok kue yang telah dibuka oleh Grace dan kembali melihat ke arah Raka.


“Benarkah tak ada apa apa? Karena tak biasanya kakak datang malam malam begini”, balas Mira dengan memakan potongan kue ditangannya.


“Apakah salah jika aku merindukan kedua adikku yang cantik”, ucap Raka melihat ke arah Mira yang sedang melahap potongan kue hingga sisa cokelat mengotori sekitar mulutnya.


Mira menggelengkan kepalanya dan terus mengunyah kue itu sambil tersenyum sambil sesekali menyeka helai rambutnya yang menghalanginya untuk makan.


“Mengapa kamu tak pernah berubah? Selalu saja makan dengan berantakan”, ucap Raka dengan lembut dan membersikhan sisa sisa cokelat yang menempel di sekitar mulutnya dan membenarkan posisi rambut Mira.


“Kak Raka selalu datang tiap malam hanya pada hari ini. Karena kakak tahu bahwa mama dan papa merayakan hari pernikahan mereka. Benar kan?”, ucap Grace sambil memakan kue cokelat dihadapannya.


Mira dan Raka melihat ke arah Mira yang sangat lucu dengan krim cokelat yang memenuhi seluruh mulutnya. Mereka tertawa dengan puasnya melihat tingah lucu Grace saat itu namun Grace hanya diam dan bingung karena tak mengerti apa yang mereka tertawakan.

__ADS_1


“Astaga Grace. Ternyata ada yang lebih parah dari mu Mira”, ucap Raka tertawa sambil memegangi perutnya.


Mira mengambil tisu begitu pula dengan Raka dan mereka berdua membersihkan mulut Grace dari cokelat yang menempel di daerah mulutnya. Grace hanya diam saja ketika mulutnya dibersihkan oleh kedua kakaknya karena ia merasa bahwa mereka berdua sangat menyayangi Grace.


__ADS_2