
BAB 112 | PPPP
Dengan perasaan sedikit menyesal pada Raka karena tak bisa membuktikan perkataannya bahwa ia takkan pulang dengan Arka, Mira hanya diam dan tak mengatakan apapun. Matanya hanya memandang lurus kedepan tanpa bergerak sedikitpun.
“Kamu benar benar tak ingin berbicara padaku?”, tanya Arka karena sedari tadi ia melihat Mira hanya diam dan tak bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung. Tak ada jawaban darinya, meliat ke arah Arka pun tidak
“ Aku sudah mengatakannya bahwa aku hanya ingin mengantarkanmu dan adikmu pulang. Hanya itu saja. Namun kalau kamu menyalah artikan kebaikanku sebagai sebuah kesempatan untuk kembali mendekatimu maka kamu salah”, ucap Arka yang mencoba meyakinkan Mira. Arka tak bisa berbicara dengan bebas karena ada Grace, adik Mira yang bersama sama dengan mereka.
“Bagaimana bisa aku percaya pada ucapanmu?”, tanya Mira dengan sedikit ketus dan tanpa melihat ke arah Arka.
“Setidaknya tidak untuk hari ini. Kamu akan melihat perbedaannya ketika aku tulus ingin membantumu atau saat aku memiliki niat terselubung” balas Arka dengan santainya. Percakapan antara mereka berdua pun terhenti ketika mereka telah sampai di depan rumah Mira.
“Bisakah kamu hentikan semua ini? Hubungan kita telah berakhir. Jangan mempersulitku”, ucap Mira memperingatkan Arka dengan lembut kali ini. Mira tak ingin hubungan pertemanan mereka pada akhirnya juga rusak karena usaha Arka yang masih terus mengejarnya.
__ADS_1
“Aku takkan mempersulitmu. Jalani saja hidupmu seperti biasa, biarkan aku yang berusaha sendiri membuatmu kembali mencintaiku”, balas Arka pada Mira yang terlihat mulai kesal padanya.
“Sampai kapan?”, tanya Mira segera setelah ia mendengar jawaban Arka.
“Sampai hatiku mengatakan untuk berhenti. Kali ini aku takkan melepaskanmu dengan mudahnya”. Ucapan Arka membuat Mira semakin kesal. Ia tak peduli lagi jika ia harus membencinya atau bahkan tak lagi memperdulikannya meski mereka adalah teman sekelas. Mira turun dari mobil Arka tanpa mengatakan apapun.
Tak bisa dibihongi bahwa Arka sakit ketika Mira terlihat seperti membencinya namun ia tak punya pilihan lain. Arka tak ingin Mira pergi meninggalkannya semakin jauh, meski ia mengetahui kenyataan bahwa Mira telah bahagia dengan pilihannya namun hatinya masih tak bisa menerima.
“Setidaknya aku akan kembali mencobanya. Mira ku harap masih ada tempat untukku di hatimu”, ucap Arka melihat Mira yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Diwaktu senja ketika seluruh siswa sedang menikmati hari terakhir mereka di sekolah bersama teman temannya, Arka dengan tatapan yang lembut dan putus asa berdiri dihatapan Mira, wajahnya terseyum melihat gadis pujaan hati yang selama ini dicintainya, entah apa yang dipikirkannya.
“Bisakah luangkan waktumu untukku? Temui aku di atap. Ini yang terakhir”, pinta Arka dengan lembut. Arka meninggalkan Mira setelah menyampaikan pesannya, kali ini tatapannya berbeda dari sebelumya. Tak ada lagi sinar yang berbinar dimata Arka ketika ia melihat aaupun berbicara pada Mira, mata itu bukan sepasang mata yang digunakan Arka untuk menatap Mira.
__ADS_1
“Ada apa memanggilku kemari?”, tanya Mira yang datang setelah Arka menghampirinya. Arka duduk dan menikmati indahnya matahari senja di atap sekolah.
“Kemarilah, matahari senja sangat indah saat dilihat dari sini”, ucapnya meminta Mira untuk datang lebih dekat padanya. Seperti keinginan Arka, Mira pun menghampiri Arka yang duduk seorang diri. Keheningan kembali menyelimuti suasana senja dimana Mira dan Arka duduk berdua di atap sekolah.
“ Lihatlah matahari itu, ketika matahari itu perlahan menghilang maka aku pun akan berhenti”, ucap Arka dengan terus menatap matahari yang perlahan mulai terbenam. Seakan tak mengerti dengan ucapan Arka, Mira menatap Arka dengan wajah yang penuh tanya.
“Berhenti? Apa maksudmu?”, tanya Mira menatap pada Arka. Entah mengapa Arka terlihat berbeda dari sebelumnya, Mira tak menyadari sejak kapan Arka begitu terlihat kusut dan pucat seperti ini.
“Terimakasih telah memilih untuk ta kembali padaku sekeras apapun usahaku untuk mendapatkanmu. Terimakasih karena kamu telah bahagia dengan pilihanmu”, ucap Arka kembali dan terus membuat Mira bingung karena tiap ucapannya yang sulit untuk dimengerti. Tiba tiba sebuah cairan menetes dari hidung Arka, cairan berwarna merah yang cukup kental turun lalu segera Arka menyekanya, bersamaan dengan darah yang turun dari hidungnya, Arka juga menahan air matanya agar tak keluar namun sekeras apapun usahanya kesedihan tak dapat lagi ia sembunyikan.
“Apa? Ada apa denganmu? Keruang kesehatan sekarang juga, aku akan mengantarmu!”, ucap Mira yang panik melihat Arka mimisan dan wajahnya yang terlihat pucat, Arka memegang tangan Mira sambil menggelengkan kepalanya dan ia tersenyum.
“Duduklah, aku tak ingin melewatkan momen ini, lai pula aku baik baik saja. Ku mohon, ini yang terakhir”, pintanya dengan senyuman di wajahnya meski darah kembali turun dari hidungnya.
__ADS_1
“Ada apa denganmu? Apa yang kamu maksud dengan terakhir? Katakan dengan jelas dan jangan membuatku khawatir”, ucap Mira meninggikan nada suaranya. Ia sungguh sungguh khawatir dengan Arka melihat darah yang terus saja mengalir.
“Aku akan menjelaskan semuanya, tentang alasanku mengapa melakukan semua hal gila disaat aku tahu bahwa hatimu sudah berpaling, meski aku tahu bahwa tak ada lagi kesempatan untukku. Kumohon, waktuku tak banyak lagi”. Sejujurnya Mira tak mengerti dengan Arka saat ini namun hatinya terasa sesak mendengar ucapan Arka, Mira kembali duduk dan menatap Arka serta membantunya membersihkan bekas darah yang ada di hidungnya sambil menangis. Air matanya turun ketika ia melihat pria yang pernah dicintainya seperti ini.