My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 78 | Dukungan yang Terbaik


__ADS_3

Rumah akan selalu terasa ramai dan menjadi hidup ketika ada kehadiran seorang anak didalamnya dan kali ini pun sama, sejak Grace lahir kedunia, tak ada hari tanpa tangisan seorang bayi memenuhi seisi rumah yang membuat aku dan Sam selalu siap siaga pagi dan malam untuk menjaga anak mereka. Terhitung dua minggu sejak kami memiliki anak ke dua, rasa lelah dan kantuk yang sempat kami alami dahulu ketika memiliki Mira yang masih bayi terulang kembali.


“Berikan Grace padaku dan istirahatlah sebentar Rein”, ucap Sam yang menyadari aku yang sedang kelelahan.


“Tak apa, aku bisa istirahat sebentar lagi” jawabku sambil terus menimang Grace sampai ia tertidur.


“Mengapa tak mempercayakan Grace sepenuhnya pada pengasuh Rein? Kamu akan sangat kelelahan”, ucap Sam khawatir.


“Ini anakku Sam, sudah seharusnya aku yang menjaga dan merawatnya, seorang pengasuh hanya mempermudah ku untuk menjaga Grace”, jawabku


“Kalau begitu biarkan aku yang menimangnya dan kamu pergilah istirahat satu atau dua jam karena dia juga adalah anakku”. Jawab Sam sambil mencoba mengambil Grace dari dekapanku


“Sunggu tak apa? Kamu baru saja pulang beberapa jam yang lalu dan pasti sangat lelah”, ucapku melihat ke arah Sam


“Aku tak akan lelah jika itu menyangkut anakku, pergilah istirahat”, ucap Sam padaku.


Aku tersenyum dan mengangguk melihat betapa ia sangat memperhatikan ku dan sangat pengertian padaku. Aku naik ke ranjang dan mencoba tidur sedang Sam terus saja menjaga sambil menimang Grace sampai ia terlelap. Sam selalu berhasil membuatku nyaman dengan semua laku nya padaku, ia tak pernah mengeluh meski ia harus bergantian menjaga bayi kecil yang ku lahirkan dan memberiku waktu istirahat walau hanya sekejap saja.


“Sudahkah kamu tidur Grace?”, ucapnya lembut sambil tersenyum melihat anak yang ditimangnya.


Perlahan Sam meletakkan Grace di ranjang nya yang berada tepat di sebelahku. Setelah memastikan bahwa Grace benar benar terlelap ia pun merebahkan dirinya dan tertidur. Suara dengkuran Sam yang cukup keras membangunkan tidurku. Perlahan ku buka mataku dan ku lihat wajah lelah Sam yang sangat terlihat jelas.


“Terimakasih karena selalu ada untukku”, ucap ku dan mengecup lembut pipinya


Berkatnya aku bisa beristirahat dengan cukup. Setiap hari kami bangun dengan kantung mata yang hitam dan membesar, peran sebagai seorang ibu sangat susah untuk dilakukan. Tanpa adanya dukungan yang sangat besar dari Sam mungkin aku tak bisa melakukannya seorang diri.

__ADS_1


Aku bangun seperti biasanya dan mmepersiapkan sarapan dan juga bekal bagi suami dan juga anakku meskipun aku memiliki asisten rumah tangga namun sebisa mungkin aku mengurus sendiri khusus untuk suami dan anak anakku.


“Morning Rein”, sapa Sam dan memelukku dari belakang


“Tidurlah lebih lama lagi, kamu masih terlihat sangat lelah”, ucapku menjawab Sam


“Aku terbangun karena merasakan kamu tak ada di sampingku”, jawabnya dengan manja.


“Kalau begitu bantu aku dengan membangunkan Mira dan suruh dia mandi Sam”, ucapku sambil mencubit kecil pipinya


Dengan kecupan kecil yang ia berikan padaku, Sam pergi dan melakukan apa yang ku suruh sedang aku terus memasak untuk sarapan juga bekal mereka. Setelah semua masakan siap, ku bawa ke meja makan dan ku lihat Sam duduk menungguku sambil memainkan ponselnya.


“Kamu tak mandi?”, tanyaku sambil menata makanan


“Hmm, ini baru akan ku siapkan”, jawabku.


“Tak perlu Rein, aku akan rapat dan sepertinya pulang terlambat. Kamu tak apa mengurus Grace sendiri?”, tanya Sam melihat ke arahku.


“Aku baik baik saja. Lakukanlah tugasmu”, jawabku lembut.


“Mama...” Panggil Mira


“Kemarilah sayang. Cepat makan dan mama akan segera mengantarkanmu sekolah”, ucapku pada Mira.


Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluargaku dan memaksilakan diriku sepenuhnya untuk mereka, ku akui cukup berat bagiku karena aku juga harus membagi waktuku untuk bayi kecil yang baru saja ku lahirkan. Aku ingin melakukan segalanya sendiri dan tanpa ada bantuan dari orang asing namun nyatanya aku tak bisa melakukannya dan harus menggunakan orang lain untuk membantuku dalam mengurus Grace yang masih bayi.

__ADS_1


“Apa kamu butuh bantuan mama? Aku bisa memintanya untuk kemari menemanimu”, ucap Sam


“Tak perlu, kasihan mama. Usianya tak muda lagi, mama pasti lelah. Biar aku saja yang sesekali menjenguk mama bersama Grace dan juga Mira”, ucapku lembut


“Mama, apakah Mira boleh membawa bekal lebih?”, tanya Mira


“Ada apa sayang? Apa bekalmu kurang?”, tanya ku


“Tidak mama, hanya saja terkadang kak Raka beberapa hari yang lalu terlihat murung dan tak pernah makan di sekolah”, ucap Mira menceritakan yang ia lihat


Aku melihat ke arah Mira sambil mengerutkan alisku. Antara percaya dan tak percaya karena Mira masih kecil, perkataannya bisa saja benar atau hanya pemikirannya saja. Aku berpikir mungkin saja Raka seperti ini karena Meli yang sedang mengurus mertuanya yang sakit jadi Raka sedikit merasa kesepian.


“Baiklah, mama akan membawakan bekal lebih untuk Raka. Berikan pada saat istirahat ya”, jawabku membelai rambut Mira.


Setelah selesai sarapan, aku mengantarkan Mira ke sekolah dan ku titipkan Grace pada pengasuh di rumah sementara Sam bersiap untuk berangkat ke kantor. Dalam perjalanan aku terus memikirkan Meli, jangan – jangan Meli sedang melalui hal yang tak baik hingga berimbas pada Raka. Setelah sampai aku mengantarkan Mira hingga ke pintu masuk sekolah dan ku lihat Meli datang bersama dengan Raka. Seperti yang dikatakan Mira bahwa Raka terlihat murung hari ini.


“Apakah Meli dalam masalah? Ia bahkan langsung bergegas ketika menurunkan Raka sampai di pintu sekolah”, gumamku dalam hati


“Kamu baik baik saja Raka?”, tanyaku menyapanya


“Ia tante”, jawab Raka lalu masuk meninggalkan ku


Aku benar benar merasa ada yang terjadi pada Meli, setelah cukup laa berpikir aku tersadar bahwa aku meninggalkan Mira cukup lama dan segera bergegas pulang ke rumah. Dalam perjalanan aku semakin penasaran dengan keadaan Meli, ku coba menghubunginya namun ia tak mengangkatnya sampai pada akhirnya aku mencoba untuk tak lagi memikirkannya.


“Yaa.. Mungkin ia sedang sibuk mengurus mertuanya. Tenanglah Rein, tak ada yang terjadi pada Meli”, ucapku mencoba tenang.

__ADS_1


__ADS_2