
Segala isi hatinya dan keluh kesahnya ia luaplan pada Raka, kakak sekaligus sahabat baginya, tanpa Mira sadari dan mengerti bahwa Raka memendam sebuah rasa padanya, pada seseorang yang telah menjadi adik perempuan selama delapan belas tahun. Perasaan sayangnya berubah menjadi benih cinta, entah sejak kapan perasaan itu tertanam di hati Raka. Dan kini, hatinya terasa pedih mendengar bahwa Mira menyukai pria lain. Dengan terus diam, Raka mendengarkan Mira, tak peduli jika hatinya terluka.
“Sejak kapan kalian dekat?”, tanya Raka pada Mira di sebuah kafe langganan mereka. Dengan masih mengenakan seragam sekolah ia pergi bersama Raka untuk sekedar minum kopi. Raka mencoba mengendalikan dirinya dan menutup perasaannya rapat rapat, ia tak ingin Mira mengetahui perasaannya, bukankah itu sakit? Mencintai dalam diam, hanya Raka dan hatinya yang tahu.
“Aku tak tahu dari mana semuanya berawal, aku merasa bahwa Arka juga memiliki perasaan yang sama sepertiku kak”, ucap Mira mengungkapkan isi hatinya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya mengingat perlakuan manis Raka padanya, ia terus saja tersenyum tanpa menghiraukan Raka yang ada dihadapannya saat ini. Raka mencubit kedua pipi Mira untuk menyadarkannya.
“Sadarlah. Mungkin saja Arka melakukan itu karena ia terbiasa besikap baik dan manis pada tiap gadis. Berhati hatilah”, ucapnya mencubit kedua pipi Mira yang membuat pipinya sedikit sakit. Mira melepaskan kedua tangan Raka yang menempel dipipinya dan memegangi kedua pipinya yang sedikit sakit akibat cubitan Raka yang tak terlalu keras.
“Jangan bersikap bodoh. Apakah kamu baru pertama kali jatuh cinta?”, tanya Raka sedikit kesal dengan tingah Mira yang sedikit berlebihan untuknya, meski hal itu tak terlalu berlebihan untuk seorang gadis yang sedang kasmaran. Mira menatap kelangit langit dengan tatapan seperti mencari sebuah jawaban atas pertanyaan Raka yang tak terlalu membutuhkan sebuah jawaban.
“Hmmm.. Sepertinya bukan. Aku pernah jatuh cinta sebelum ini kak”, ucap Mira dengan wajahnya yang terlihat cukup serius. Raka merubah ekspresi wajahnya menjadi penasaran ketika ia mendengar bahwa Mira pernah jatuh cinta pada laki laki lain sebelum Arka. Namun pada siapa? Apakah padanya? Siapa? Raka sungguh penasaran hingga ia memajukan wajahnya dan melipat kedua tangannya diatas meja seperti menunggu Mira meneruskan kata katanya.
__ADS_1
“Pada siapa?”, tanya Raka penasaran.
“Sepertinya padamu kak”, balas Mira menatap ke arah Raka, kali ini tatapan Mira seakan sangat serius. Raka tak melihat adanya kebohongan pada mata Mira, Raka menatap Mira seakan tak percaya bahwa Mira pernah menyukainya sebagai seorang laki laki, bukan seorang kakak atau sahabat, ia terdiam dan terpaku. Jantungnya berdetak kencang dan matanya sedikit membola.
“Hahahah... Mengapa wajahmu sangat serius kak? Aku hanya bercanda. Tak mungkin aku menyukai kakakku sendiri, tenaglah”, ucapnya segera ketika ia melihat Raka yang mematung mendengar jawabannya. Mira tertawa karena menaggapi leluconnya dengan sangat serius. Namun berbeda dengan Raka, itu bukan hal sepeleh baginya, Raka sangat mengharapkan perkataan Mira itu bukan main main. Dengan terpaksa Raka memasang senyum palsu pada Mira agar Mira tak berpikir yang macam macam.
"Syukurlah kalau itu semuan hanya lelucon. Hampir sajabaku terkena serangan jantung mendengarmu mengatakan bahwa kamu pernah menyukai kakakmu sendiri. Aku tahu aku sangat tampan, wajar jika kamu sempat menyukaiku". Ucapnya mengatakan hal yang berbeda dari kata hatinya. Raka menghela napas panjang dan kembali tersenyum melihat Mira yang tertawa geli mendengar jawabannya.
"Lalu bagaimana denganmu kak? Apa kamu memiliki kekasih di kampus? Atau ada seorang gadisnyang sedang kamu dekati?", tanya Mira sambil menyeruput milkshake dihadapannya yang masih utuh sambil matanya tetap melihat ke arah Raka menunggu jawabannya. Raka hanya tersenyum, ia mengulurkan tangannya mencoba membersihkan sisa milkshake yang menempel pada ujung bibirnya.
"Ada apa denganku? Mengapa jantungku berdegup cukup kencang?", ucapnya tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Perlahan Mira memegang tangan Raka yang masih membersihkan dan melepaskannya.
__ADS_1
" Carilah kekasih kak. Aku takut kamu akan jatuh cinta padaku suatu hari nanti, gak bisa ku bayangkan bagaimana jadinya jikan kamu menyukaiku", ucapnya menyingkirkan tangan Raka dan kembali meminum milkshake miliknya. Raka terkekeh mendengar celotehan kecil Mira dan kembali memandanginya yang sedang meminum milkshake dengan sanggap menggemaskan.
"Ingin sekali aku memilikinya, bisakah hal itu terjadi? Ku rasa tidak" Batinnya dengan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sambil melihat ke bawah.
Sepertinya benar kata orang. Pria dan wanita takkan pernah bisa menjadi sahabat, hanya karen ia adalah teman masa kecil bukan berati benih cinta tak mungkin tumbuh didalam salah satu hati mereka. Begitulah cinta bekerja, cinta bisa memuaskan kedua insan dan cinta juga bisa menyakiti salah satunya. Namun sepertinya cinta tak berpihak sepenuhnya pada Raka, hatinya sakit ketika ia terus saja mendengar nama Raka terucap dari mulut Mira.
"Kalau memang Arka begitu istimewa dan berarti untukmu, bawalah dia. Aku ingin melihatnya, biarkan aku menilai laki laki yang menurutmu sangat manis itu. Sebelum sampai pada papamu, dia harus melewatiku terlebih dahulu" Ucap Raka yang berlagak menjadi seorang kakak yang tak ingin melihat adiknya menangis dikemudian hari hanya karena kebodohannya yang salah menjatuhkan pilihan. Mira menganga sambil mengerutkan keningnya mendengar perkataan Raka yang seperti tak masuk akal itu lalu menggelengkan kepalanya menatap aneh pada Raka?
"Mengapa hal itu harus ku lakukan? Lagi pula aku dan Arka belum terikat hubungan apapun, jadi aku tak perlu menuruti perkataan konyolmu" balas Mira melirik ke arah Raka yang mengatakan hal yang terdengar cukup aneh baginya.
"Aku hanya tak ingin adik kesayanganku akan menangis suatu saat nanti karen kesalahanmu sendiri yang salah memilih kekasih" ucap Raka dengan wajahnya yang sangat menyebalkan sambil menyipitkan kedua matanya. Mira kesal dengan tingkah konyol Raka yang seeperti mengejeknya.
__ADS_1
"Tenanglah, walau suatu saat nanti aku tersakiti, aku takakkan mengatakan apapun padamu dan ku pastikan aku takkan mengganggumu!!" balasnya kesal karen ucapan Raka.
"Hah!! Lihat saja, jangan menghubungiku lagi jika kamu terkena masalah dengan Raka, dengan adikmu atau kedua orang tuamu dan bahkan kucing tetanggamu. Jangan libatkan aku!!" Serunya kesal. Pertengkaran mereka semakin lama semakin memanas, mereka bahkan lupa bahwa mereka sedang ditempat umum. Banyak orang melihat ke arah Raka dan Mira yang sedang bertengkar itu. Sangking dekatnya hubungan mereka, sering kali makian dilontarkan oleh mereka untuk mengekspresikan rasa kesal mereka.