
Seperti lautan yang menderu, seperti ombak yang menerjang dengan begitu dahsyatnya. Begitupun perasaan yang dimiliki Ken dan Laura, jarak dan waktu bukan sebuah masalah bagi mereka untuk terus saling mencintai, dengan cara saling memprioritaskan satu sama lain apapun masalah dan rintangannya akan mudah diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
Laura mengetahui perasaan dilema yang dihadapi Ken, namun dirinya tak bisa egois dengan meminta Ken untuk mengorbankan impiannya lalu menikahinya. Laura menyampingkan egonya dan mendukung segala yang dilakukan Ken untuk meraih mimpinya, Laura bertaruh segalanya untuk kesuksesan Ken. Mengetahui dirinya selalu menjadi prioritas Ken dan tetap terkoneksi dengannya, untuk saat ini itu semua cukup untuk Laura. Ditengah kesibukannya Ken juga selalu mencoba menjadi yang terbaik untuk Laura, memberikan waktu yang dimilikinya untuk kekasihnya dan mengusahakan yang terbaik untuk Laura. Mereka berdua saling berkorban satu sama lain.
“Aku benar benar merindukanmu Ken.” Seru Laura didalam mobil
Tatapan mata juga senyumannya benar benar sangat tulus ketika mengatakan semua itu. Laura menghela napas panjang dan menahan perasaan rindunya yang meluap.
“Baiklah, kembalilah bekerja, kita bicara lagi besok. Semangat yaa..” Seru Laura memberi semangat pada Ken
“Laura, pernahkah kamu kecewa padaku?” Tanya Sam
Beberapa saat keheningan melanda mereka berdua, Laura tak tahu harus mengatakan apa. Perasaan yang dialaminya saat ini benarkah perasaan kecewa pada Ken atau apa Laura tak mengerti..
“Maafkan aku, mungkin aku bukan kekasihmu yang baik, namun ku mohon, tunggulah aku. Aku tak ingin kita menikah disaat aku sedang susah, aku tak ingin mengajakmu melewati hari hari yang buruk bersamaku.” Seru Ken
“Pernahkah aku mempermasalahkan ini? Selama empat tahun aku bertahan karena aku benar benar mencintaimu dan kamu adalah laki laki yang baik Ken, namun semua yang kamu lakukan dansemua usahamu, bisakah aku menjadi bagian dari semua itu? Aku tak ingin melihatmu sukses sebagai kekasihmu. Biarkan aku melihatmu sukses sebagai istrimu.” Seru Laura meyakinkan Ken
Seperti tersayat, hati Ken cukup sedih mendengarnya. Laura benar benar sudah menunggunya selama ini, perasaan dilema Ken semakin besar. Ken takut kehilangan Laura yang sudah terus mendukungnya namun dirinya tak bisa memberikan kepastian pada Laura.
“Kamu sudah menunggu terlalu lama Lau, haruskan ku suruh kamu menunggu lebih lama lagi? Namun aku masih belum siap melihatmu harus merasakan hidup berjuang bersamaku” Seru Ken dalam hati.
Ken menutup mengerutkan keningnya sambil menutup matanya. Dirinya bahkan tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini, pilihan mana yang harus dipilih? Meraih mimpinya terlebuh dulu atau menikahi kekasihnya.
“Maafkan aku, untuk saat ini aku tak bisa Lau, aku tak ingin menyusahkanmu.” Seru Ken
Kata kata yang dikeluarkan Ken cukup membuat Laura sakit dan kecewa. Laura mulai merasa bimbang dengan Ken dan mulai meneteskan air matanya. Dadanya terasa sakit. Apakah Ken tak mempercayaiku? Apakah Ken benar benar mencintaiku? Apakah selama ini dia hanya mempermainkanku? Pertanyaan itu lah yang ada di kepala Laura saat ini.
“Aku tak peduli aku harus menunggu bearapa lama lagi Ken, namun bisakah kamu serius dalam hal ini? Atau selama ini kamu hanya bermain dengan hatiku?” Seru Lau kesal.
Tak percaya denga yang didengarnya, tak pernah terbesit di benaknya bahwa Laura akan mengatakan hal itu pada Ken, Laura meragukan Ken saat ini yang membuat Ken tak percaya.
“Apa maksudmu? Aku selama ini berjuang untuk menggapai impianku itu semua untukmu Lau, untuk masa depan kita dan aku tak pernah main main denganmu.”
“Benarkah? Atau itu hanya alasanmu untuk tak menikahiku?” Seru Laura.
__ADS_1
Laura menutup ponselnya setelah mengatakan hal itu, perasaan sakit yang dirasakannya perlahan membuatnya menangis. Selama ini masalah yang mereka berdua alami selalu dapat terselesaikan dengan mudahnya, namun untuk kali ini sepertinya tidak. Laura merasa bahwa Ken tak bersungguh sungguh dengannya.
“Sakit... Mengapa dadaku sakit sekali?” Seru Laura sambil memukul dadanya dan menangis.
Seperti Laura, Ken juga kesal dan sedih. Ken kesal karena Laura tak memahaminya yang membuat dirinya merasa tak berguna. Ken memukul mejanya dan berteriak sekencang kencangnya sambil melemparkan kertas dan dokumen di mejanya yang membuat kantornya kacau.
“Aaarrggg... Dasar bodoh.. Tak berguna!!” Serunya sambil memukul dirinya sendiri.
Keadaan semakin kacau, susah payah mereka menjaga hubungan mereka namun hari ini seperti terkena hantaman yang begitu dahsyatnya. Semakin lama ujian yang mereka lalui semakin berat. Begitu juga dengan pasangan lainnya, semakin tinggi rasa percaya dan cinta mereka maka semakin sulit pula badai permasalahan mereka. Ketika mereka menganggap diri mereka paling benar dan paling tersakiti maka disitulah keretakan hubungan mulai terjadi. Hal ini yang dirasakan oleh Ken dan Laura.
Tak mudah bagi sepasang kekasih untuk mempertahankan apa yang telah mereka bangun dari awal. Ken merasa telah memberikan segalanya untuk Laura, waktu dan perhatian juga segala yang bisa dia lakukan sudah diberikan untuk Laura, begitupun dengan Laura. Laura merasa dirinya yang telah banyak berkorban untuk Ken, selalu mendukung setiap keputusannya dan terus menunggu dengan sabar.
Namun ketika permasalahn ini datang, ketika cinta mereka diuji, mereka tergoyahkan oleh badai.
“Mengapa Ken tak percaya padaku kalau aku akan selalu mendampinginya disituasi apapun? Apa dia meragukanku?” Serunya sambil menangis didalam mobil.
“Mengapa Laura tak mengerti bahwa aku sangat mencintainya dan tak ingin dia menjalani hidup sulit bersamaku? Mengapa dia tak bisa bersabar sedikit saja?” Seru Sam sambil mengacak acak rambutnya.
Pertengkaran yang terjadi diantara mereka semakin berdampak pada pekerjaan mereka. Meskipun berusaha untuk tak mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan namun nyatanya hal itu sangat sulit untuk dilakukan. tak jarang beebrapa kali Laura menangis mengingat pertengakaran mereka beberapa hari yang lalu. Dan pekerjaan Ken sedikit kacau karena urusan asmaranya, pikirannya terbagi yang membuat pekerjaannya sedikit berantakan.
Segala yang dilakukan mereka berdua seakan tak berarti. Tak ada komunikasi diantara mereka setelah bertengkar beberapa hari yang lalu.
“Ada apa? Bertengkar dengan Laura? "Tanya Sam sambil duduk menonton televisi bersama Ken.
Ken hanya diam saja sambil menekan remot tv lalu menggelengkan kepalanya,
“Katakan padaku ada apa? kali ini antara kakak dan adik.” Seru Sam.
Ken melihat kearah Sam dan mematikan televisi dna mulai menceritakan pada Sam.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kakak tahu aku sedang membangun bisnisku dan juga masih bekerja di perusahaan kakak. Aku masih belum menjadi apa apa kak, namun Laura tak mau mengerti itu. Aku hanya tak ingin Laurahidup susah ketika menikah denganku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya karena aku mencintainya.” Seru Ken dengan nada kesal.
“Lalu? Mengapa tak berikan apa yang dia mau?" Tanya Sam
“Apa? Memberikan apa yang Laura mau? Maksud kakak untuk menikahinya? Disaat keadaanku masih seperti ini?” Seru Ken.
__ADS_1
Sam menarik napas panjang dan menepuk bahu adiknya itu sambil tersenyum.
“Ken, begini. Kakak pernah mengatakannya padamu kan? Kamu takkan berhasil jika sendirian. Kamu harus melakukannya bersama Laura. Jangan egois dan merasa mampu mengatasi segalanya sendiri. Tunjukkan keseriusanmu dan nikahi Laura,” Seru Sam
“Aku bersungguh sungguh dengannya kak.. Aku hanya... Ingin sepertimu yang bisa membahagiakan kak Rein.” Seru Ken sambil tertunduk.
Tanpa sadar Ken menjadikan Sam dan semua yang dilakukan Sam hal yang wajib dilakukannya. Ken ingin meniru jejak kakaknya yang sukses dan mampu membahagiakan istrinya. Ken melupakan jati dirinya dan mencoba menjadi serupa dengan apa yang dilakukan Sam.
“Jalanmu dan jalanku berbeda Ken. Kisahmu dan kisahku berbeda. Jangan pernah memaksakan apa yang bukan menjadi bagianmu. Kalau kamu melakukannya kamu akan kehilangan hal yang berharga di hidupmu.” Seru Sam.
Ken tertunduk hatinya masih menginginkannya, selama ini pandangannya hanya tertuju pada Sam. Ken masih merasa bahwa dirinya bisa melakukan seperti yang Sam lakukan sampai melupakan bahwa Laura yang selalu setia menemaninya dan menunggunya.
Ken menyadarinya, kebodohan yang telah dilakukannya. Mengenyampingkan Laura alih alih mencoba untuk mengejar kesuksesannya. Malam itu Ken mencoba menghubungi Laura namun tak ada jawaban. Perasaan takut kehilangan yang ada di hati Ken semakin kuat. Dengan sigap Ken mengambil jaket dan kunci mobilnya dan langsung menuju tempat Laura untuk memperjelas segalanya.
Dalam mobil Ken terus mencoba untuk menghubungi Laura namun masih tak ada jawaban juga. Dengan cepat Ken menaikan kecepatannya agar segera sampai pada Laura.
Tanpa berpikir panjang Ken mematikan mobilnya dan berlalu mengetuk pintu apartemen Laura dengan tergesah gesah.
dok dok dok....
“Lau.. Laura buka ini aku..” Ken mengetuk dengan cukup kencang malam itu.
“Lau.. Ada yang harus ku katakan.” Seru Ken dengan napas yang terengah.
Laura membuka pintunya dan melihat Ken didepan pintu dengan keringat dan napas yang tak teratur. Ken melihat mata bengkak kekasihnya itu, Ken merasa bersalah telah memperlakukan Laura dengan buruk.
“Maafkan aku yang mengecewakanmu Lau..” Seru Ken sambil memeluk Laura.
“Ku mohon maafkan aku. Aku sangat bodoh. Maafkan aku yang telah egois padamu.” Seru Ken.
Laura menangis mendengar itu, pelukan Ken makin lama makin erat seperti takkan melepaskan Laura selamanya. Suasana haru meliputi mereka berdua, Ken memeluk Laura sambil berjalan masuk kedalam tanpa melepaskan Laura sedikitpun sambil sesekali mencium keningnya.
.
.
__ADS_1
.
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘