My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 80 | Tembok yang Terlalu Kuat


__ADS_3

Keheningan terus menguasai rumah Ken dan Laura bahkan mereka pun memutuskan untuk pisah ranjang untuk sementara waktu. Perasaan sakit, kecewa dan kesal yang mereka rasakan satu sama lain tak dapat terselesaikan dengan baik. Laura melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan Sam melakukan tugasnya sebagai suami namun tak ada satupun kalimat yang terucap dari mereka berdua.


“Aku berangkat lebih dulu. Mungkin aku akan pulang terlambat dan tak bisa memasak, makanlah di luar”, ucap Laura dengan dingin.


“Aku juga akan pulang larut, hubungi aku jika sesuatu terjadi”, balas Ken dengan sedikit ketus.


Laura meninggalkan Ken setelah percakapan mereka selesai. Karena tak ingin lagi bertengkar mereka memilih untuk diam satu sama lain dan tak mengatakan apapun walau mereka bertemu. Hubungan yang tak sehat sedang mereka jalani saat ini dan entah sampai berapa lama mereka akan bertahan dengan seperti ini.


Laura mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungiku saat itu, didalam pikirannya ia ingin mengatakan isi hatinya dan melampiaskan amarahnya padaku.


“Kak Rein, apa kakak sibuk?”, tanya Laura dengan nada lemah


“Tak juga, ada apa Lau?”, tanyaku


“Bisakah kita bertemu saat ini? Ada hal yang ingin ku tanyakan”, ucap Laura langsung pada intinya


“Kamu sedang ada masalah dengan Ken?”, tanyaku menebaknya


“Bagaimana kakak tahu?”, jawabnya


“Katakan dimana dan pukul berapa. Aku akan menemuimu”, ucapku


“Baiklah kak, di kafe seperti biasa pukul empat sore”, ucap Laura memberi tempat dan waktunya padaku.

__ADS_1


“Aku akan datang. Sampai jumpa”, jawabku dan mengakhiri panggilan kami.


Laura cukup dekat denganku, setiap kali masalah diantara ia dan Ken terjadi, Laura selalu menceritakannya padaku dan kali ini pun sama. Aku bisa menebaknya dari cara dia berbicara dan menyapaku. Dengan terus menimang Grace yang tertidur di pelukanku, aku melihat ke arah pengasuh Grace.


“Nanti kamu ikut saya yaa. Saya ada urusan, kamu bantu saya menjaga Grace. Saya akan hitung ini sebagai upah lemburmu”, ucapku lembut


“Baik bu”, jawab pengasuh itu padaku.


Segera ku hubungi Sam untuk mengabarinya bahwa aku telah membuat janji dengan Laura dan akan pulang malam dengan membawa Grace dan Mira bersamaku. Aku berpikir bahwa Ken juga akan menghubungi Sam untuk menceritakan masalah yang dialaminya pada Sam, kakaknya.


Bersama ke dua anakku dan pengasuhku, aku berangkat menuju tempat aku dan Laura berjanji untuk bertemu. Ku biarkan Mira bermain di tempat bermain dan ku suruh pengasuhku juga menjaga Mira dengan membawa Grace juga bersamanya selama aku berbicara pada Laura. Tak lama setelah aku sampai, Laura pun sampai dan menjumpaiku. Aku melihat wajah tak bahagia terpancar saat aku melihatnya.


“Ia benar benar sedang dalam masalah”, gumamku


“Tak juga aku baru sampai”, jawabku


Bisa ku lihat keadaan yang tak baik baik saja, kedua matanya yang membengkak tak bisa membohongiku saat aku melihatnya. Aku tak tahu masalah apa yang mereka berdua alami hingga seperti ini namun satu yang pasti aku ingin membantunya.


“Jadi? Ada apa?”, tanyaku sambil menggenggam kedau tangan Laura untuk memberinya perasaan yang nyaman.


“Kakak tahu bahwa aku sangat mencintai Ken. Aku mengesampingkan egoku dan membiarkannya membantuku juga menuntunku meski aku mampu melakukannya sendiri. Aku membiarkannya menjadi bagian terpenting dalamku namun sampai saat inipun Ken tak membiarkanku melakukan hal yang sama”, ucap Laura menahan tangisnya


“Memang benar aku yang mendesaknya untuk segera menikahiku meski aku tahu bahwa Ken belum menjadi apa apaa. Ia selalu mengatakan bahwa ia akan menikahiku jika ia sudah memiliki segalanya. Tapi aku ingin menjadi bagian terpenting dalam prosesnya menjadi apa yang ia inginkan. Bahkan sampai saat inipun Ken tak pernah membiarkanku masuk lebih dalam lagi di hidupnya. Ia memasang tembok yang sangat besar agar aku tak bisa menyentuh bagian sensitifnya” tambah Laura.

__ADS_1


Ku biarkan ia menangis selama mungkin agar ia bisa tenang dan mampu mengendalikan emosinya karena sia sia saja aku berbicara juga memberinya sebuah nasihat jika emosinya saja masih belum mampu ia stabilkan. Pernikahan adalah hal yang serius dan bukan sebuah permainan atau juga sebagai kesenangan saja. Jika dari awal salah memilih pasangan atau salah mengambil keputusan, dampak yang dihasilkan juga tak main main. Melihat Laura yang tak kunjung tenang aku mencoba untuk memeluknya dan menenangkannya dalam pelukanku.


“Tak apa, menangislah sepuasmu. Aku akan menungggumu sampai kamu tenang Lau”, ucapku dengan lembut.


Cukup lama waktu untuk Laura bisa tenang dalam kondisinya yang seperti ini. Melihat tangisannya yang telah berhenti aku menatap lembut Laura sambil mengusap airmatanya lalu kembali menggenggam kedua tangannya.


“Lau, dengarkan aku. Ken sangat mencintaimu. Mungkin ia tak bermaksud seperti itu, kamu yang paling memahami bahwa bahasa kasih dari Ken adalah act of service. Dia selalu memberi perhatian, memberi kenyamanan dan memberi apa yang terbaik dari dirinya untuk orang yang ia cintai dan sayangi. Karena alasan itu Ken tak ingin kamu gelisah dan kesusahan karenanya, Ken tak ingin wanita yang dicintainya juga anaknya kelak tak bahagia. Jadi dia memilih untuk mengambil juga menanggung segala kesusahan dan memberimu kebahagiaan”, ucapku menjoba menasihati Laura.


Laura menggelengkan kepalanya sambil memegangi dadanya yang cukup sesak akibat menangis. Kesedihan yang ia timbun saat ini tumpah dan ia melampiaskannya padaku.


“Namun aku tak bahagia dengan caranya yang seperti ini. Ia bisa mengatakannya padaku kalau ia tak baik baik saja, ia bisa memintaku untuk membantunya. Aku istrinya kak. Aku istrinya dan bukan lagi kekasihnya tak seharusnya ia membangun tembok yang sangat kuat hingga aku tak bisa menembusnya”, ucapnya hingga mmebuat seluruh tubuhnya gemetar karena terlalu sakit yang ia rasakan.


Aku memeluk Laura yang kembali menangis, sambil menepuk – nepuk bahunya ku buat ia kembali nyaman dan tenang akar aku bisa kembali menasihati juga memberikan saran padanya.


“Lalu bagaimana sikapmu pada Ken selama ini?”, tanyaku.


“Kami perang dingin kak. Aku hanya menjalankan tugasku dan ia juga menjalankan tugasnya. Aku melakukan hal ini agar ia sadar bahwa ia sangat membutuhkanku”, jawab Laura sesunggukkan


“Apakah kamu yang memulainya?”, tanyaku


Laura hanya mengangguk mengakui apa yang telah ia lakukan pada Ken. Aku tersenyum dan memeluknya lebih erat lagi agar ia kembali merasa tenang.


“Mulailah bicara padanya dari hati ke hati. Jangan dinginkan hati Ken, tahan emosimu dan katakan apa yang kamu rasakan. Aku percaya Ken akan mengerti, asalkan kamu dan Ken bisa menjaga emosi kalian tetap stabil, titik terang dari masalah yang kalian hadapi pasti akan terlihat. Memang tak bisa instan namun percayalah perlahan Ken akan mampu berubah. Berilah ia waktu Lau”, ucapku memberikan nasihat padanya.

__ADS_1


__ADS_2