My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 117 | Ijinkan Aku Bersamanya


__ADS_3

BAB 117 | PPPP


Sedikit terkejut dengan Mira yang terlihat baik baik saja pagi ini, kantung mata yang menghitam dan besar pun telah menghilang, padahal aku mengetahui bahwa ia tak bisa tidur semalaman. Mira tertawa dan tersenyum seakan suasana hatinya baik baik saja. Anak ini benar benar sangat tegar dan sudah dewasa.


“Mama, papa. Hari ini aku akan pulang terlambat, ada yang harus ku lakukan”, ucap Mira minta ijin padaku dan Sam.


“Jaga dirimu baik baik. Hubungi mama atau papa jika terjadi sesuatu”, pesanku pada Mira ketika ia hendak berangkat mendengar suara klakson mobil Raka telah berbunyi.


Hubungan Raka dan Mira pada akhirnya diketahui oleh orang tua mereka namun setiap hubungan pasti memiliki masalah masing masing. Sambil melambaikan tangannya, Mira berjalan dan masuk ke dalam mobil Raka. Antara ragu atau tidak, Mira memainkan jemarinya mencoba memberanikan diri mengatakan sesuatu pada Raka.


“Kak, hari ini Mira akan pulang sendiri. Ada yang harus Mira lakukan”, ucap Mira pada Raka yang fokus menyetir.


“Apa itu? Apakah sangat penting? Aku akan menunggumu, tenang saja”, jawab Raka santai menanggapi Mira. Namun Mira menggelengkan kepalanya, ia tak menceritakan yang sebenarnya terjadi karena takut Raka akan kesal dan kecewa padanya.


“Tak perlu, aku bisa pulang sendiri kak”, ucap Mira mencoba menjawab dengan tenang. Raka melihat ke arah Mira sambil mengerutkan keningnya, ia memandang Mira curiga.

__ADS_1


“Kamu tak sedang menyembunyikan hal dariku bukan? Sejak kemarin kamu tak bisa dihubungi dan aku merasa kamu sedang menghindariku. Ada apa? Katakan sejujurnya”, ucap Raka seakan telah membaca pikiran Mira. Namun lagi lagi Mira mengelak, ia tak ingin Raka mengetahuinya, ia tak ingin membuat Raka kecewa karena Mira berpikir bahwa ini adalah masalahnya sendiri. Meski Raka masih tetap menaru rasa curiga pada Mira namun ia mencoba mempercayai ucapan kekasihnya itu, ia membuang jauh jauh rasa curiga yang ada dalam hatinya.


“Baiklah, kalau terjadi sesuatu hubungi aku segera. Berhati hatilah”, ucap Raka lalu mengecup kening Mira. Raka menunggu hingga Mira masuk kedalam sekolah dan tak terlihat lagi namun, ketika hendak menginjak gas, Arka membuka pintu mobil Raka dan masuk ke dalam.


“Jalanlah, ada yang ingin ku katakan padamu”, ucap Arka begitu saja setelah ia masuk kedalam mobil Raka tiba tiba.


“Apa yang kamu katakan? Keluarlah, sekolah yang benar”, ucap Raka menaikkan nada suaranya.


“Tidakkah kamu curiga mengapa Mira bersikap aneh? Aku akan mengatakannya, sebelum itu cepat jalankan mobilnya”, balas Arka dengan terus menatap ke depan tanpa melihat kearah Raka ketika ia sedang berbicara. Mendengar ucapan Arka, Raka menginjakkan gas dan menjalankan mobilnya, menuju tempat yang dipilih Arka. Dengan cepat Arka melepaskan seragam sekolahnya dan menggantinya dengan kaos biasa.


“Cih, ini terakhir kalinya aku menuruti perintah konyolmu”, ucap Raka merasa kesal karena ia menuruti kata kata Arka dengan begitu mudahnya. Namun tak ada pilihan lain, Raka sangat ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Mira kekasihnya itu.


Sebuah lonceng berbunyi tepat diatas kepala mereka, Raka dan Arka duduk di bangku dekat jendela sambil menunggu pesanan mereka datang. Disaat itu, Arka diam sejenak tanpa mengatakan apapun sedang Raka duduk dan melipat kedua tangannya di atas meja menunggu Arka berbicara.


“Untuk yang terakhir kalinya, bolehkah aku dekat dengan Mira?”. Ucapan Arka yang pertama telah berhasil menaikkan kemarahan Raka , namun Arka memandang Raka sambil tersenyum.

__ADS_1


“Untuk yang terakhir kalinya, aku ingin membuat kenangan manis bersama dengan Mira, gadis yang pernah ku cintai bahkan hingga saat ini. Percayalah ini takkan lama”, ucap Arka pada Raka sambil menundukkan kepalanya. Raka melihat hal aneh dalam diri Arka sampai ia meredahkan emosinya, ia menyadari sesuatu juga telah terjadi pada Arka namun ia tak tahu apa itu.


“Katakan dengan jelas maksudmu”, ucap Raka singkat. Kini ia melipat kedua tangannya dan bersandar pada kursi yang ia duduki.


“Aku sakit, penyakit yang tak bisa disembuhkan. Usiaku sudah tak lama lagi, karena itu saat ini aku datang padamu dan memohon, biarkan aku membuat kenangan bersama Mira untuk yang terakhir kalinya. Aku takkan merebutnya darimu karena Mira telah menjadi milikmu sepenuhnya. Namun ku mohon, bolehkah Mira menemani sisa waktuku? Aku menghargaimu sebagai kekasih Mira saat ini karena itu aku datang padamu, mengatakan semua ini”, ucap Arka dengan mata yang berkaca kaca menahan tangisnya.


Raka terdiam melihat Arka, dalam pemandangannya Arka terlihat sangat serius dengan masalah ini. Hatinya seperti terketuk ketika Arka menyatakan permohonannya, sangat terlihat ia sangat menderita. Tak pernah ia sangka bahwa Arka akan melalui jalan yang seperti ini, meski Raka tak menyukainya karena ia adalah mantan kekasihnya namun, sisi kemanusiaannya tak bisa membiarkannya begitu saja meski hatinya menolak untuk mengijinkan Arka membuat kenangan dengan Mira.


“Aku berjanji ini takkan lama, tiga bulan dari sekarang, hanya tiga bulan waktu yang ku butuhkan sebelum aku pergi. Ijinkan aku memiliki kenangan terakhir dengan Mira, untuk menemaniku di liang kubur”. Ucapan Arka semakin membuat Raka tersiksa, hatinya tak tahan jika ia harus menolak. Sejak awal ia memutuskan untuk percaya pada Mira, jika Mira berubah karena ini, maka ia harus membiarkannya meski untuk sementara.


Raka memalingkan wajahnya karena tak tahan melihat wajah Arka yang sangat tersiksa dan putus asa, seorang muda seperti Arka harus melewati kesulitan seperti ini dan harus bertarung dengan maut, Raka seperti bergelut dengan dirinya sendiri meski ia tahu keputusan apa yang harus ia ambil.


“Baiklah, karena ini kesempatan terakhirmu maka aku mengijinkannya. Tapi ingat, Mira adalah Milikku, jangan berani kamu berpikir untuk kembali merebutnya disaat aku emmberimu kesempatan” ucap Raka yang pada akhirnya mengabulkan permohonan Arka. Hatinya cukup sakit ketika ia pada akhirnya mengijinkan Arka dekat kembali dengan Mira namun disisi lain ia juga tak tega untuk tak megabulkan keinginannya disisa akhir hidupnya.


“Jadi ini yang membuatmu sedikit berubah Mira? Mengapa aku tak mendengarnya langsung darimu? Rasanya sungguh menyakitkan”, gumam Raka dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2