
Perlahan Mira mengambil langkah mundur, menyadari bahwa selama ini hanya perasaan kagum yang ada dalam hatinya, Mira merasa dirinya adalah gadis yang sangat kejam. Bagaimana mungkin hati yang sangat tulus mencintainya dihancurkannya dalam sekejap. Pria yang selalu datang menyambut Mira dengan senyuman dan selalu memberikan yang terbaik dari bagiannya, pria yang memeluknya saat ia ketakutan, kini ia menghancurkan hatinya hingga berkeping keping.
“ Jangan hancurkan dirimu sendiri dengan terus bersamaku. Kamu layak mendapatkan yang terbaik”, ucap Mira dengan mencoba membuat Arka memahaminya. Hatinya telah memilih untuk bersama dengan Raka namun tak ia sangka bahwa pilihan yang akan dihadapinya akan menjadi serumit ini. Arka menarik langkahnya mundur sambil terus menatap pada Mira dengan tatapan sakit dan kecewa.
“Kamu selalu melakukan apapun yang kamu suka, kamu meminta hubungan ini berakhir? Baiklah, kita akhiri saja hubungan ini namun bukan berarti aku akan berhenti. Kali ini aku akan melakukannya dengan caraku. Lakukan apapun dengan caramu, aku akan melakukannya dengan caraku mulai saat ini”, ucap Arka dengan tatapan yang tegas. Seegra ia meninggalkan Mira dan turun seorang diri. Tak ada lagi niat untuk mengalah dalam diri Arka, ia selalu mengalah tentang apapun pada Mira namun tidak untuk kali ini.
“Aku berjanji akan mendapatkanmu kembali Mira”, gumam Arka sambil terus menuruni anak tangga dan menuju ke kelasnya.
Hubungan mereka pada akhirnya berakhir. Sungguhkah berakhir? Tidak. Seperti yang dikatakan Arka bahwa mulai detik ini, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Mira kembali meski hal itu cukup sulit dilakukannya. Hari berganti hari, Mira dan Arka tak berbicara hampir seminggu lamanya, di koridor sekolah, di kantin dan bahkan ketika melewati gerbang sekolah pun mereka tak saling bertegur sapa.
“Benarkah kamu putus dengan Arka? Namun apa masalahnya?”, tanya salah satu teman yang cukup dekat dengannya. Mira hanya diam dan menggelengkan kepalanya enggan untuk menjawab pertanyaan kawannya itu, ia merasa sedikit kecewa.
“Apa yang ku harapkan? Mengharapkan Arka tersenyum dan menyapaku seperti dahulu? Takkan terjadi Mira, kalian sudah putus. Namun bisakah aku dan Arka berteman seperti dahulu?”, gumamnya dalam hati. Mira meneruskan langkahnya dan memasuki mobil yang telah menjemputnya untuk pulang.
...****************...
“Mama dan papa akan pergi selama dua hari. Baik baiklah kalian di rumah. Papa akan terus menghubungi kalian tiap pagi dan malam. Jangan pulang lebih dari jam sembilan malam dan seyiap kalian keluar hubungi papa terlebih dahulu. Paham kalian?”, pesan Sam pada Mira dan Grace. Dengan terburu buru aku dan Sam segera membawa barang yang akan kami bawa. Sam memintaku menemaninya untuk perjalanan bisnis ke Singapur selama dua hari dan meninggalkan kedua anakku di rumah.
“Uang kalian cukup sampai mama papa kembali? Kalau kurang mama akan mengirimnya pada kalian. Hubungi saja mama kalau kalian butuh sesuatu”, tambahku lalu mencium kening kedua putriku yang baru saja bangun dari tidur cantik mereka. Rambut yang acak acakan juga mata yang masih setengah terbuka, penampilan kedua anakku dipagi hari tiap akhir pekan selalu saja seperti ini.
“Yaa.. Baiklah mama, Grace ingin tidur kembali”, rengek Grace padaku lalu memelukku juga Sam dan berjalan ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
__ADS_1
“Berhati hatilah mama, papa”, ucap Mira lembut sambil melambaikan tangannya dan menunggu sampai kami tak terlihat lagi.
Mira masuk kembali ke dalam dan segera mengambil ponselnya di sofa yang berdering. Dua panggilan tak terjawab dari Raka rupanya. Raka kembli menghubungi Mira dan kali ini ia mengangkat panggilan itu.
“Ada apa pagi pagi menghubungiku?”, tanya Mira sambil merebahkan dirinya di sofa memeluk sebuah bantal sambil tersenyum.
“Ada apa ini? Pukul delapan pagi kamu sudah bangun? hari ini hari sabtu Mira kalau kamu lupa”, ucap Raka terkejut karena Mira merespon panggilannya. Mira selalu bangun terlambat hari ketika sabtu dan minggu.
“Mama dan papa pergi untuk perjalan bisnis. Jadi aku bangun lebih pagi untuk mengantarkan mereka sampai depan. Ada apa pagi pagi menghubungiku? Kakak belum menjawabnya”, tanya Mira kembali. Kini ia merubah posisinya menjadi tengkurap sambil memainkan bantal yang ia peluk.
“Bagaimana kalau kita ke taman bermain?”, tanya Raka segera setelah ia mendengar bahwa kedua orang tua Mira pergi untuk perjalanan bisnis.
“Bagaimana dengan Grace? Aku tak bisa meninggalkannya sendiri. Dia akan kesepian, aku tak tega kak”, jawab Mira. Ia sangat ingin pergi bersama Raka ketika Raka mengatakan ingin mengajaknya ke taman bermain namun ia ingat akan adiknya yang berada di rumah. Mira tak bisa meninggalkan adiknya sendiri sedang ia pergi bersenang senang.
“Apa? Beraninya dia mengakhiri panggilannya setelah memanggilku dengan sebutan itu! Menyebalkan sekali”, gerutu Mira namun wajahnya tersenyum dan tersipu malu. Segera Mira berdiri sambil memegangi kedua pipinya dan berteriak memanggil Grace dengan kencang agar ia terbangun.
“Grace.. Grace.. Bangunlah adikku yang cantik. Mari kita pergi bersama”, teriak Mira dengan terus menaiki anak tangga sambil tersenyum. Paginya terasa sangat ceria dan berseri ketika ia mendengar kata kata sayang dari Raka. Mira membuka pintu kamar Grace dan mengoyak tubuhnya dengan lembut dan berujung dengan sedikit brutal.
“Grace.. Bangunlah.. Cepat bangun anak cantik”, ucap Mira sambil tersenyum namun tnagnnya ters mengoyak tubuh Grace dengan sangat kencang membuat Grace terbagun dengan sangat kesal.
“Apa masalahmu. Aku ingin tidur!!”, bentak Grace ketika Mira membangunkannya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
“Raka mengajak kita pergi ke taman bermain cepat bersiaplah. Kita akan pergi seharian”, balas Mira lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Grace.
“Pegilah sendiri. Lagipula kak Raka mengajakmu, biarkan aku tidur”, balas Grce kesal. Meski begitu Mira tak bisa meninggalkan adiknya seorang diri dan meninggalkannya seharian. Dengan siapa ia akan berbicara? Apa yang akan dilakukannyaa? Mira sangat menyayangi adiknya itu meski terkadang mereka berdua bersikap kasar satu sama lain.
“Kamu ingin papa membunuhku jika tak mengajakmu? Kalau ku bilang bersiap, maka bersiaplah”, balas Mira sedikit kesal dengan adiknya dan melempar sebuah bantal tepat di wajah Grace. Tanpa perlawanan lagi Grace bangun dari kasurnya dan segera bersiap dan menghentakkan langkah kakinya menunjukkan bahwa ia sangat kesal pada Mira.
“Dasar nenek sihir!!”, ucap Grace pada Mira dengan suara yang pelan agar Mira tak mendengar bahwa Grece mengatainya.
...****************...
Seorang pria telah menunggu Mira dan Grace di ruang tengah, Raka menunggu cukup lama di ruang tengah seorang diri hingga ia merasa sedikit lelah. Beberapa kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu memainkan ponselnya untuk menghabiskan waku menunggu dua adik kesayangannya itu.
“Kak. Lama menunggu?”, tanya Grace yang turun terlebih dahulu, ia duduk di sebelah Raka sambil menunggu kakaknya turun dari kamarnya. Bukan Raka namanya kalau ia tak usil, entah dengan Mira atau dengan Grace, semua sama saja dimata Raka. Adalah adik yang sering menjadi korban kejailannya sejak mereka berdua kecil.
“Diamlah atau ku cakar”, ucap Grace yang terganggu akibat Raka yang mencubit kedua pipi Grace dan juga hidungnya.
“Kalian ini, selalu saja bertengkar”, ucap Mira, suara Mira menghentikan Raka untuk menjahili Grace, Raka tersenyum pada Mira yang terlihat sangat cantik, tatapannya lain. Grace memahami arti tatapan Raka pada kakaknya itu dan ia memukul lengan Raka untuk membuyarkan lamunannya.
“Apakah kalian berdua menjalin sebuah hubungan?”, tanya Grace menatap curiga pada mereka berdua
“Ya”, jawab Raka.
__ADS_1
“Tidak”, jawab Mira. Merek berda menjawabnya bersamaan dan jawaban mereka berbeda, Mira dan Raka saling menatap dan membuat kontak mata, kali ini Grace semakin curiga oleh kedua kakaknya, mana yang benar dan mana yang salah ia tak tahu.
“Hah!! Terserah pada kalian saja. Cepatlah kita berangkat sebelum make up ku luntur”, ucap Grace pada mereka berdua.