
Mencari teman yang benar benar ingin berteman bukanlah suatu perkara yang mudah. Terlalu banyak orang yang hanya menunjukkan sisi baiknya agar ia mendapatkan banyak teman namun perlahan mereka akan menampakkan kebusukan mereka sedikit demi. Memang benar ada pepatah mengatakan bahwa tidak boleh pilih pilih teman namun bagaimana jika kamu mendapat teman yang toxic? Bagaimana kalau kamu mendapatkan teman yang hanya memanfaatkanmu saja? Apakah kamu akan meneruskan pertemanan itu atau memutuskannya detik itu juga?
Mira termasuk gadis yang pandai dan ia adalah salah satu siswa kelas unggulan. Bisa dibayangkan bukan betapa pandainya Mira? Namun ia tak pernah beruntung dalam menjalani pertemanan. Apakah Mira seorang yang introvert? Tidak. Ia hanya tidak beruntung, dalam pertemanan dan juga dalam percintaan. Perasaaannya sangat bahagia ketika Arka menjemputnya dirumah dan bahkan bertemu dengan Sam, dalam mobil yang dikendarai Arka, jantung Mira tak henti hentinya berdebar. Ya, Mira menyukai sosok pria di sampingnya, entah sudah berapa kali Mira mencuri pandang melirik betapa manisnya Arka.
“Ada apa? Apa kamu merasa tak nyaman?”, tanya Arka yang tersadar karena berkali kali Mira melirik ke arahnya. Mira menggelengkan kepalanya serta mencoba menahan senyumannya agar ia tak lepas kendali.
“Biar ku tebak. Apakah ini kali pertama kamu pergi dengan seorang pria?”, tanya Arka yang mulai membuka pembicaraan. Mira terus tertunduk dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia mencoba membuang wajahnya agar tak ketahuan oleh Arka bahwa ia menyukainya.
“Jadi ini bukan pertama kalinya kamu pergi dengan pria. Sayang sekali, ku pikir aku yang pertama”, ucap Arka sedikit kecewa. Mira melihat ke arah Arka karena mendengar nada suaranya yang seperti orang kecewa.
“Apa maksudnya ia mengatakan hal itu? Apakah dia juga menyukai ku?”, gumamnya dalam hati.
“Hah.. Sejujurnya aku ingin membawamu kesuatu tempat setelah kita selesai kerja kelompok. Namun papamu mengatakan bahwa aku harus memulangkanmu tepat pukul sembilan malam”, ucap Arka dengan menghela napas panjang. Mira hanya terdiam dan tak menjawab apapun yang Arka katakan, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika sedang berduaan dengan pria yang sangat disukainya.
“Kendalikan dirimu Mira. Jangan sampai Arka curiga padamu atau kamu akan merasa malu”, batinnya sambil terus memainkan kedua tangannya.
__ADS_1
Jatuh cinta memanglah sebuah anugerah terindah yang pernah dirasakan oleh setiap manusia, entah pada akhirnya cinta mereka bertepuk sebelah tangan atau terbalas, satu hal yang pasti, tak ada satupun orang yang dapat menolak ketika mereka sedang jatuh cinta. Itulah yang sedang dirasakan oleh Mira, gadis muda yang sedang dilanda cinta.
Arka telah sampai dilokasi dimana mereka akan bekerja kelompok, yaitu di rumah Rani, mereka berdua masuk ke dalam dan melihat bahwa ketiga temannya yang lain juga telah sampai, segera Mira dan Arka bergabung bersama mereka yang terlihat sedang menungunya untuk datang.
“Baiklah, semua sudah datang, mari kita mulai agar tak terlalu malam. Kasihan Mira yang tak diperbolehkan pulang malam”, ucap Farah sambil tertawa. Mira mencoba untuk tak menanggapinya dengan serius karena itulah kenyataannya, ia tak diperbolehkan pulang larut malam seperti teman temannya yang lain.
Rani sang pemilik rumah menyenggol Farah yang terasa seperti sedikit keterlaluan dengan bercandanya. Arka menggandeng tangan Mira dan mengajaknya duduk disampingnya, beruntung Arka ada disisinya kalau tidak, Mira tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
“Baiklah, untuk mempersigkat waktu, mari kita bagi tugas. Ben dan Farah rangkum bab 1, aku akan merangkum bab 2 lalu Mira dan Arka bab 3. Setelah itu mari kita buat power point nya”, ucap Rani memberikan komando bagi mereka semua. tanpa ada penolakan merka mulai mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Tak hanya merangkum, mereka juga mencoba memahami tiap bagian yang mereka rangkum agar mampu menjelaskannya ketika tiba waktunya mereka untuk mempresentasikan didepan kelas.
“Baiklah, aku dan Arka sudah selesai. Rani, berikan laptopmu, aku akan membuat power point dari materi yang telah kami rangkum”, ucap Mira meminta dengan sopan
Belum sampai pada tangan Mira, Farah mengambil laptop Rani terlebih dahulu dan melihat ke arah Mira dengan senyumannya. Rani dan Arka melihat ke arah Farah yang tiba tiba menyaut laptop dari tangan Rani begitu saja.
“Hmmm, Mira. Kamu sangat pintar bukan? Bagaimana kalau kita bertukar? Aku yang membuat power point dari materi yang telah kamu rangkum dan kamu merangkum bagianku? Agar kita sama sama selesai”, ucap Farah tanpa rasa malu sedikitpun, Ben pun memohon hal yang sama pada Farah. Tingkah konyol mereka berdua cukup membuat Arka dan Rani sedikit kesal.
__ADS_1
“Cih.. Tak tahu malu sekali, kamu tak ingat kata kata kasar yang kamu berikan pada Mira saat ia baru tiba? Sekarang kamu ingin bertukar? Tak tahu malu sekali”, ucap Rani kesal. Ia melihat ke arah Farah yang menatapnya sinis dan kembali menatap Mira dengan senyumannya.
“Ayolah Mira, aku tak sepandai dirimu” ucap Farah dengan nada memohon. Meski Mira mengetahui bahwa dirinya hanya dimanfaatkan namun Mira memilih untuk membantu Farah meski hatinya sedikit kesal dengan Farah. Arka menahan tangan Mira yang hendak memberika bukunya pada Farah dan mengambil laptop Rani untuk mengerjakan yang bukan menjadi bagiannya.
“Hmm”, gumam Mira melihat tangan Arka yang sedang menahannnya. Wajahnya berubah menjadi sedikit menyeramkan. Tak pernah mereka melihat Arka memasang wajah yang seperti ini, membuat Farah sedikit takut melihatnya.
“Mengapa kamu mau mengerjakan yang bukan menjadi bagianmu? Biarkan saja dia kerjakan sendiri. Jangan mau dimanfaatkan oleh nenek sihir ini”, ucap Arka melihat ke arah Mira
“PPfftt..” Rani menahan tawanya dengan menutup mulut menggunakan tangannya.
“Nenek sihir? julukan yang tepat untukmu”, ucap Rani lalu melepaskan tawanya. Farah merasa kesal karena ia dipermalukan dihadapan tema temannya. Dengan menarik kembali buku miliknya yang hendak ia berikan pada Mira, Farah kembali mengerjakan apa yang menjadi bagiannya, begitupun dengan Ben. Karena takut dirinya akan menjadi bahan tertawaan, Ben juga menyelesaikan tugasnya.
“Baiklah, malam malam begini lebih enak kalau menyantap mi instan dengan irisan cabai juga telur sebagai topingnya. Siapa yang ingin memakannya juga?” tanya Rani sebagai pemilik rumah. Farah dan Ben mengajung bersamaan sambil terus mengerjakan tugas mereka sampai selesai, begitupun aku dan Arka yang mengangkat kedua tangan kami bersamaan.
“Siapa yang mampu menolak pesona mie instan? Baiklah, tunggulah sebentar, aku akan menbuatkan mie instan untuk makan malam kita”, ucap Rani lalu berdiri dan mulai berjalan ke arah dapur.
__ADS_1