My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 69 | Pada Akhirnya Kamu Adalah Rumah


__ADS_3

Ditemani secangkir kopi aku mencoba mengalihkan pikiranku dari apapun yang berhubungan dengan Rey. Ku tarik napas dalam dan mencoba menghibur diri dengan berbelanja online. Tak lama aku mendengar suara klakson Meli berbunyi. Ia ingin menemaniku hari ini karena aku mengatakan bahwa tubuhku sedang tak baik baik saja.


“Rein. Ku bawakan buah untukmu. Sepertinya menjadi ibu rumah tangga sangat melelahkan”. Ucap Maeli sembari membawa keranjang buah di tangannya dan duduk di sampingku.


“Kamu yakin tak apa? Apakah tubuhmu lemah?”. Tanya Meli dengan menembelkan punggung tangannya pada keningku.


“Tubuhmu tak terasa panas. Atau jangan jangan kamu haamil”, ucap Meli sambil tersenyum mengesalkan.


“Jangan menggodaku seperti Sam. Tak mungkin aku hamil, bulan lalu aku masih datang bulan”. Jawabku dengan menepiskan tangan Meli dari keningku.


“Bulan lalu? Rein saat ini sudah akhir bulan. Lebih baik priksakan saja”. Ucap Meli dengan mengupas buah yang ia bawa untukku.


“Aku tak apa Mel, hanya terlalu banyak pikiran saja”, jawabku singkat.


Aku berencana menceritakan apa yang ku pikirkan pada Meli namun aku mengurungkan niatku karena aku tahu jika aku mengatakannya pada Meli, ia akan khawatir dengan diriku. Tetapi kalau tak ku ceritakan perasaan menjanggal ini akan terus ada di hatiku.


“Mel, bagaimana kalau Rey kembali dalam hidupku”, tanyaku menatap pada Meli.


Aku memutuskan untuk mengatakannya pada Meli, aku mengambil potongan buah yang telah dikupas oleh Meli dan menyandarkan tubuhku di sofa sambil mengunyahnya perlahan. Setelah mengatakan hal itu aku seperti tak berani untuk menatap Meli yang sedang menatapku saat ini.


“Benarkah? Apakah karena ini kamu megeluh tubuhmu sedikit sakit?”. Jawab Meli dengan mengambil potongan buah lalu menatap ke arah ku.


“Tidak. Bukan itu. Aku hanya berandai andai Mel, tak ada maksud apapun”, jawabku mecari alasan.


“Katakan sejujurnya Rein, ada apa?”. Tanya Meli sambil mendekat padaku.


Aku tak yakin apakah aku harus mengatakannya atau tidak pada Meli. Karena aku merasai hal ini bukanlah sesuatu yang harus ditanggapi dengan serius.


“Berjanjilah kamu takkan marah ataupun mengomel padaku”. Ucapku sambil memajukan jari kelingkingku.


Meli menatap padaku dan melihat jari kelingking yang ku berikan padanya. Ku lihat raut wajah Meli yang beriap untuk mengomel seperti biasanya meskipun kita sudah membuat janji.


“Wajah Rey sepertinya kembali masuk dalam hidupku Mel. Tahukah kamu rumah yang berhadapan dengan rumah ini? Pemilik rumah ini memiliki wajah yang sama persis denagn Rey. Tak hanya wajahnya, cara berbicara dan tingkah laku bahkan cara berpakaiannya sanagat menyerupai Rey”, ucapku mencoba jujur pada Meli.


“Hanya karena ini? Lalu bagaimana dengan perasaanmu ketika melihatnya? Apakah kamu kembali jatuh cinta? Kamu menangis merindukan pria yang telah meninggal selama sepuluh tahun lebih? Ataukah kamu ingin bersamanya?”, tanya Meli kesal.


Aku terdiam mendengar perkataan Meli yang sebagian benar adanya, benar aku menangis, benar aku merindukan Rey. Semua itu benar adanya, aku hanya tertunduk diam dan tak menyangkal segala yang dikatakan oleh Meli.

__ADS_1


“Untuk sesaat aku kembali merindukannya Mel, untuk sesaat aku merasakan perasaan senang ketika aku melihatnya tersenyum dan tertawa. Namun pada akhirnya aku menyadari bahwa perasaan itu hanya murni karena aku merindukan masa laluku bukan menginginkannya kembali”, ucapku mencoba mengutarakan perasaanku.


Pada akhirnya aku sadar bahwa aku telah berdamai dengan masa laluku. Mungkin benar bahwa aku sangat mencintai Rey namun Rey hanyalah masa laluku. Ketika ku tutup mataku Rey ada dalam pikirank namun Sam ada dalam hatiku. Ketika bayangan Sam muncul, ia seperti sebuah cahaya yang menerangi kegelapan di hidupku.


“Percayalah padaku Mel. Aku sangat mencintai Sam, dia berhasil membuatku jatuh cinta dan mencintaiku apa adanya meskipun aku dalam keadaan yang menyedihkan sekalipun. Aku tak mungkin menukar Sam hanya demi masa laluku”, ucapku meyakinkan Meli.


Sam sangat berharga bagiku. Cintanya padaku begitu kuat hingga mengikatku terus berada bersamanya, ia bahkan memberikanku Mira, anak yang paling cantik didunia. Sam memberikan kebahagiaan yang tak pernah ku bayangkan dan aku tak mungkin sebodoh itu untuk mencoba masuk kembali pada masa laluku lalu meninggalkan Sam.


“Aku percaya padamu Rein”. Ucap Meli dengan senyumannya dan menepuk bahuku


Aku melihat ke arah jam yang berada di dinding dan waktu menunjukkan pukul sepuluh. Aku melupakan Mira karena terlalu asik berbicara dengan Meli yang sudah jarang sekali bisa kami lakukan berdua.


“Melli, tunggulah disini, aku harus menjemput Mira terlebih dahulu. Ku mohon jangan pulang, aku sangat merindukanmu”. Ucapku dengan segera mengambil tas dan kunci mobil.


“Baiklah, aku akan menunggumu”. Sahut Meli dengan memakan potongan buah yang telah ia kupas.


Meli mengambil ponselnya yang sengaja ia sembunyikan sejak awal ia berbicara dengan ku tanpa ku sadari.


“Sam, sudah dengar bukan?”, ucap Meli di ponselnya


“Aku sempat khawatir dengan Rein, aku takut Rein berubah padaku”, jawab Sam


“Aku tak tahu, mungkin aku akan menunjukkan cintaku lebih dalam lagi pada Rein agar ia tak lagi bisa mengingat masa lalunya dan hanya memandangku seorang”, balas Sam.


“Jangan terlalu keras bermain dengannya Sam”, ucap Meli menggoda Sam.


“Sepertinya malam ini aku takkan lembut padanya. Ah.. Sial, aku merindukannya”, balas Sam.


“Lebih baik kamu priksakan Rein atau belikan ia test pack, aku curiga Rein hamil. Rein mengatakan bahwa ia belum juga haid bulan ini”, ucap Meli.


“Lebih baik dia hamil karena jika tidak malam ini ia dalam masalah. Baiklah terimakasih Meli, aku akan mentraktirmu setelah ini”. Ucap Sam lalu mengakhiri panggilannya dengan Meli.


Hari ini berlalu dengan sangat cepat, Meli membantuku memasak di dapur untuk makan malam karena aku memintanya bersamaku dirumah dan makan malam denganku. Karena bukan hanya Mira yang rindu bermain dengan Raka namun aku pun sangat merindukan Meli.


“Tidakkah kamu terlalu muda untuk hidup seorang diri? Temukan kebahagiaanmu dan carilah pria yang mampu mencintaimu dengan tulus Mel”. Ucapku sambil mencuci sayuran yang telah ku beli.


“Tak mudah bagiku Rein, sepertinya untuk saat ini aku sangat bahagia dengan hidup hanya berdua saja bersama Raka”, jawab Meli.

__ADS_1


“Aku berharap menemukan pria seperti Sam, apakah Sam tak memiliki adik?”, tanya Meli padaku.


“Adiknya aka segera menikah dengan pengacara yang membelamu Mel. Jangan mengatakan hal yang tidak tida”, balasku.


Dengan bantuan Meli memasak menjadi lebih cepat. Aku menata makanan di atas meja dan ku berikan bunga yang telah ku rangkai untuk mempercantik meja makan seperi yang selalu ku lakukan.


“Baiklah, segalanya sangat indah. Mengapa Sam belum datang juga?”. Ucapku sembari melihat ke arah jam dinding.


“Bersabarlah Rein”, ucap Meli


Tak lama Sam datang dan masuk ke dalam rumah, senyuman menghiasi wajahnya sejak ia masuk ke dalam rumah, aku memperhatikannya seperti ada yang berbeda dari Sam kali ini namun aku tak mengerti apa itu.


“Sudah pulang Sam. Cuci tanganmu dan mari kita makan malam bersama”, ajakku.


“Meli, kamu berkunjung”, sapa Sam melihat ke arah Meli.


“Cepatlah, aku sudah lapar”, balas Meli.


Sam meletakkan barang barangnya di sofa lalu mencuci tanganya dan duduk dimeja makan bersama sama. Sudah sangat lama Meli tak makan malam bersama kami dan rasanya menyenangkan ketika orang terdekat ada di rumah dan makan bersama di meja makan. Setelah makan malam selesai, Sam memberikanku sebuah test pack yang ia beli sebelum pulang ke rumah.


“Maukah kamu mengecek nya Rein?”. Tanya Sam dengan memberikan test pack padaku.


“Apa ini? Untuk apa? aku tak hamil Sam”, tolakku halus.


“Setidaknya cobalah dahulu. Tak ada salahnya kalau aku berharap bukan?”, ucap Sam.


Aku menuruti keinginannya dan mengambil test pack itu lalu pergi ke kamar mandi untuk melihat hasilnya.


“Aku berharap kali ini berhasil”, ucap Sam dengan memejamkan matanya.


“Aku berharap aku memiliki keponakan laki laki”, ucap Meli dengan memejamkan matanya.


“Namun aku ingin anak perempuan”, sahut Sam.


“Laki laki lebih baik. Kamu sudah memiliki satu, ingin menambah perempuan lagi?”, balas Meli.


Aku keluar dari kamar mandi seletal mengecek nya, sedikit ragu untuk menunjukkannya pada Sam, aku menunduk dan perlahakn menunjukkannya pada suamiku hasil yang ku dapat. Ketika Sam melihatnya, matanya tertuju pada dua garis biru yang membuatnya sangat bahagia sampai ia berdiri dan memelukku.

__ADS_1


“Positif. Yeess”. Ucapnya memelukku erat.


“Reein, selamat. Aku bahagia mengetahuinya”, ucap Meli yang mengetahuinya langsung.


__ADS_2