
Kafe pagi itu cukup ramai karena saat itu adalah hari sabtu dan waktu untuk semua orang bisa sedikit bersantai. Dari sebuah kafe tempat aku dan Meli bertemu, Meli duduk dengan ditemani suasana yang cukup ramai. Meli memesan beberapa camilan dan secangkir cappucino panas sembari menungguku datang. Dengan sedikit tergesa gesa, aku dan Mira turun dari mobil dan segera masuk karena waktu yang ku miliki tak banyak lagi.
“Mira, nanti Mira bermain dengan kak Raka sebentar ya, ada yang harus mama bicarakan dengan tante Meli”. Ucapku sambil menggandeng tangan Mira berjalan memasuki kafe.
Ku lihat Meli sedang memainkan ponselnya dan sesekali melihat ke luar jendela menunggu kedatanganku sedang di ujung kafe ku lihat Raka sedang bermain sendirian. Aku sedikit menunduk untuk berbicarapada Mira sambli menunjuk ke arah Raka yang sedang bermain.
“Mira lihat kak Raka disana? Mira bermainlah dengan kak Raka sebentar ya. Biar mama pesankan ice cream untuk Mira”, ucapku menunjuk ke arah Raka.
“Iya mama”, jawab Mira singkat.
Mira berlari ke arah Raka dengan gembira karena ia juga sangat merindukan Raka mengingat mereka sudah jarang sekali bertemu. Aku berjalan menuju arah Meli yang sedari tadi menungguku lalu duduk dihadapannya.
“Lama menunggu?”, tanyaku.
“Tidak juga. Karena aku tahu kebiasaanmu Rein”, jawab Meli tersenyum
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? Apakah sangat penting?”. Tanyaku sambil mengambil camilan Meli
Aku terus mengambil camilan Meli sambil menunggunya berbicara namun aku tak juga mendengarnya mengatakan apapun. Ku lihat ke arah Meli dan ia hanya tersenyum kepadaku, aku tak mengerti arti senyuman Meli yang diberikannya padaku. Ku lipat kedua tanganku dan memasang wajah penuh tanya.
“Apa?”, tanyaku
“Minggu depan sidang perceraian ku dan Reno akan dilakukan. Bisakah kamu datang?”, tanya Meli.
Aku melihat ke arah Meli dengan terkejut, aku melupakan kalau Meli memutuskan untuk bercerai beberapa bulan yang lalu dan tak kusangka hari itu akan datang. Aku melihat ke arah Meli dan tak kudapati adanya kesedihan dimatanya. Kini ia menjalani hidupnya hanya dirinya sendiri dan anaknya, aku seanang melihat Meli baik baik saja dengan pilihannya namun disisi lain aku merasa kasihan dengan hidup yang Meli jalani. Disaat aku telah mencintai Sam layaknya seorang suami, Meli harus merasakan kenyataan pahit bahwa suaminya selingkuh dan bahkan tak pernah mencintainya selama ini lalu memutuskan untuk bercerai.
“Aku akan datang Mel”, jawabku.
Meli tersenyum sambil menggenggam tanganku sambil perlahan mengeluarkan air matanya. Wanita manapun pasti akan merasa sakit ketika ia harus bercerai dengan suaminya apalagi yang ku tahu Meli sangat mencintai Reno.
“Berjanjilah untuk terus bahagia dengan Sam. Jangan biarkan masa lalumu menghalaing cinta kalian”, ucapnya sambil menghapus air matanya.
“Aku tak ingin kamu merasakan hal yang sama denganku Rein. Sam sangat mencintamu, jangan sia siakan dia”. Tambahnya sambil menggenggam kedua tanganku dengan erat.
Aku mengerti apa yang disampaikan Meli kepadaku, perasaan itu benar benar sampai ke dalam hatiku, melihat kehidupan pernikahan Meli yang kandas ditengah jalan aku semakin takut untuk berbuat kesalahan yang mengakibatkan suatu saat nanti Sam akan meninggalkanku.
__ADS_1
“Percayalah aku sudah bahagia dengan Sam dan melupakan masa laluku. Kini hanya Sam orang yang ku cintai”, jawabku meyakinkan.
Cukup lama kami berbincang hingga akhirnya Sam menghubungi ku untuk memastikan aku tak terlambat dalam makan siang dengan papa hari ini. Aku menyeka air mataku sebelum mengangkat panggilan dari Sam.
“Ya Sam. Sebentar lagi aku selesai dan akan langusng ke rumah papa. Kamu sudah sampai di rumah?”, tanyaku.
“Baiklah, aku pergi sekarang”, jawabku.
“Meli maafkan aku tak bisa berlama lama denganmu. Aku harus pergi sekarang. Hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu”. Ucapku sambil mencium kedua pipi Meli
“Terimakasih untuk hari ini Rein”, ucap Meli melambaikan tangannya.
Aku melihat Meli sambil tersenyum lalu memanggil Mira untuk segera berangkat makan siang bersama mertuaku dirumah. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang dan jalanan cukup macet yang membuatku sedikit takut untuk terlambat.
“Mama, apa om Ken juga ada di rumah opa?”, tanya Mira.
“Tentu saja sayang. Bukankah kamu merindukan om kesayanganmu itu?”. Tanyaku sambil fokus menyetir.
Aku sudah mengira bahwa aku sedikit terlambat. Sesampainya di rumah, aku segera masuk dan melihat Sam dan ken juga papa telah duduk di meja makan sambil menungguku. Dengan segera Mira berlari memeluk Ken yang sangat ia rindukan.
Ken berdiri dan mendapatkan Mira lalu menggendongnya. Seperti Mira, Ken juga sangat merindukan Mira, ia memeluk serta mencium keponakan kesayangannya seakan tak ingin lepas dari Mira hari itu.
“Mira, apa Mira tak merindukan opa dan oma?”, tanya Pak Sukmo.
Ken menurunkan Mira ketika papa mengatakan hal itu dan Mira segera menghampiri kakeknya sambil memeluknya.
“Mira juga merindukan opa dan oma”. Ucapnya sambil memeluk papa mama.
Aku mendekat pada mama dan papa serta mencium tangan mereka lalu juga memeluknya karena sudah cukup lama aku tak mendatangi kedua mertuaku.
“Mama, papa. Bagaimana kabarnya?”. Tanyaku sambil memeluk mereka.
“Baik baik saja Rein. Kamu makin cantik saja. Pantas Sam jarang mengunjungi kami karena ia memiliki istri yang sangat cantik sepertimu di rumah”, puji Bu Reni.
Aku tersipu malu mendengar pujian dari mama. Aku segera duduk di samping Sam dan ia menggenggam tanganku. Makan siang kami pun berjalan dengan baik dan banyak sekali topik yang di bahas, mulai dari bisnis yang dikelola Sam dan perusahaan yang dipimpin Ken. Lalu sampailah kepada topik yang sering sekali ku hindari ketika beberapa orang datang untuk berbicara padaku.
__ADS_1
“Kapan Mira akan memiliki adik?”, tanya mama.
Sesaat aku terdiam dan ku lihat Sam menatapku sambil tersenyum. Sering sekali aku menghindari pertanyaan seperti ini karena aku puntak mengerti bagaimana aku harus menjawabnya.
“Segera mama.”, ucapku singkat
Setelah menjawab mama, aku merasakan sesuatu menjentuh tubuhku. Sam mulai meraba lututku dan naik ke atas, tak lagi banyak bicara aku memukul tangan Sam yang mulai nakal dan mengagetkan semua oang di meja makan.
PAKKK
Semua mata melihat ke arahku dan membuatku sedikit malu karena kejadian ini.
“Ada apa Rein?”, tanya papa.
“Ah.. Maafkan Rein semuanya, kaki Rein sedikit gatal”, jawabku.
Ketika keadaan sudah mulai tenang dan kembali seperti semula, papa menyampaikan sebuah kabar gembira, khususnya untuk Ken
“Ken, sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan?”. Tanya papa sambil meneguk segelas air.
“Lebih dari dua bulan papa.”, jawab Ken.
Papa menghentikan kegiatan makannya dan membuat kami semua ikut berhanti makan dan melihat kearaha papa. Aku merasa papa sedang ingin mengatakan hal yang serius kali ini dan entah mengapa suasana terasa sedikit tegang.
“Kamu melakukannya dengan baik Ken. Papa melihat progres dari perusahaan yang kamu pimpin berjalan dengan baik dan kamu berhasil menjalin sebuah kerja sama dengan PT Gloria Persada”, ucap Pak Sukmo
Sam membulatkan kedua matanya mendengar nama PT Gloria Persada dan melihat ke arah Ken lalu ke arah papa.
“PT Gloria Persada? Ken berhasil melakukan hal itu papa?”, tanya Sam terkejut.
“Bukankah itu adalah salah satu perusahaan perikanan terbesar? Dan Ken berhasil menjalin kerjasama? Hebat juga adikku”, puji Sam
“Selamat Ken, kamu luar biasa”, ucapku memberi selamat.
“Jadi kapan kamu berencana melamar Laura?”, tanya Pak Umar
__ADS_1
“Apa?”, jawab Ken terkejut