My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 35 | Penyesalan


__ADS_3

Disuatu rumah yang cukup nyaman pagi itu, dengan ditemani kicauan burung burung yang cukup merdu, Pak Satrio dan keluarganya memulai kegiatan mereka, pukul enam pagi mereka sudah bangun dan menyiapkan keperluan mereka masing masing. Anak pertama Pak Satrio sedang sibuk dengan pakaian seragam untuk hari ini dan menyiapkan buku buku pelajaran yang harus di bawanya, sementara istrinya sedang sibuk memasak juga mencuci baju dengan mesin cuci di belakang. Di tengah kesibukan mereka, Pak Satrio berdiam sejenak dan duduk di sofa depan televisi dan merenung. Sudah dua minggu sejak Pak Satrio dipecat. Dia tak berani mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya, tak bisa di bayangkan oleh Pak Satrio betapa kecewa keluarga Pak Satrio ketika mengetahui bahwa satu satunya harapan mereka hidup sudah hilang. Pak Satrio sering menangis sendiri karena malu dengan dirinya sendiri dan saat ini dia merasa sangat tak berguna sebagai seorang suami dan seorang ayah yang tak mampu menafkahi keluarganya.


“Bu, aku bawa bekal yaa ke sekolahnya, nanti aku pulang terlambat karena ada tambahan pelajaran dari sekolah” Seru Fajar dari dalam kamarnya.


Fajar keluar dari kamarnya dengan membawa seragam sekolah juga handung yang tergantung di punggung lehernya menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya termenung di depan televisi.


“Ayah, ada apa? Akhir akhir ini Fajar perhatikan ayah sering sekali melamun?” Tanya Fajar anaknya.


Pak Satrio tersenyum dan mengusap usap rambut anaknya itu sambil menggelengkan kepalanya.


“Sudah mandi sana, nanti kamu terlambat” Jawab Pak Satrio.


Fajar menuruti kata kata ayahnya dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap sebelum berangkat ke sekolah. Bau masakan yang enak membuat perut Fajar menjadi sangat lapar, ibunya memasak tumis kangkung dan oseng tempe untuk sarapan pagi ini.


“Bu, Fajar sarapan dulu yaa bu, mandinya nanti setelah sarapan” Seru Fajar sambil terus menatap masakan ibunya.


“Jangan aneh aneh, cepat mandi lalu sarapan.” Jawab ibunya.


Fajar mendekati ibunya sambil memegangi handuk yang terpasang di punggung lehernya itu.


“Bu, ada apa dengan ayah? Sepertinya hampir setiap hari Fajar melihat ayah seperti tak bersemangat. Ada apa dengan ayah?” Tanya Fajar yang duduk di kelas enam sd itu.


Dengan terus menggoreng dan mengaduk masakannya itu ibunya melihat ke arah Fajar dengan mengerutkan keningnya.


“Mungkin ayahmu sedang banyak masalah di kantor, sudah jangan hiraukan urusan orang tua. Tugasmu hanya fokus belajar dengan baik, ya..” Jawab ibunya.


Fajar menganguk dan menuju kamar mandi untuk mandi dan memberishkan diri. Bu Ratih mulai memikirkan keadaan suaminya itu, tak di sangka bahwa Fajar menyadari ada yang aneh dengan suaminya itu.


Bu Ratih mengeluarkan nasi dari magic jar dan memindahkannya ke meja, juga dengan masakkan yang telah siap, semuanya di siapkan di atas meja untuk suami dan anaknya bisa sarapan.


“Ayah.. Sarapan dulu yah” Seru isrinya memanggil.


Pak Satrio langsung menuju ke meja maka untuk mengambil sarapannya dan kembali duduk di depan televisi lalu memakan sarapannya itu. Dengan wajah yang datar dan seperti banyak pikiran, Pak Satrio memakan suap demi suap masuk ke mulutnya.

__ADS_1


“Ayah, ada apa? Sepertinya ayah banyak pikiran, ceritakan yah. Jangan di pendam sendiri.” Kata istrinya itu.


Pak Satrio tetap memakan makanannya sambil menggelengkan kepalanya, sikapnya mengatakan bahwa saat ini dirinya tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk istrinya.


Melihat itu istrinya hanya tersenyum sambil menghela napas panjang lalu menuju dapur untuk menyiapkan bekal makan siang untuk anaknya. Bu Ratih mengambil tepak makan lengkap dengan sendoknya dan menata nasi juga sayur dan lauk di dalam kotak makan itu dan memasukkannya ke dalam tas kecil untuk di bawa anaknya nanti.


“Ayah ibu, Fajar berangkat sekolah yaa..” Sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


Setelah Fajar berangkat sekolah, Pak Satrio menuju ke kamar untuk mengambil baju juga celana jeans nya da menuju ke kamar mandi untuk bersiap juga.


Selama dua minggu ini Pak Satrio menipu istri dan anaknya dengan berpura pura masih bekerja di pabrik, Pak Satrio tetap berangkat pukul setengah delapan dan pulang pukul enam sore, namun bukannya menuju pabrik, Pak Satrio meletakkan lamaran di berbagai temapt dan berharap dirinya segera di pangil untuk wawancara kerja. Krena untuk mengembalikan uang sebanya tujuh ratus lima puluh juta bukan hal yang mudah meskipun membayarnya di bagi dua dengan Bu Bela. Namun tetap saja, dari mana dirinya dan Bu Bela bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam dua hari?


Saat ini Pak Satrio benar benar menyesali perbuatannya, Pak Satrio hanya ingin kelmbali bekerja di pabrik. Potong gaji pun tak masalah untuk Pak Satrio, asalkan keluarganya masih bisa makan dan bisa menghidupi keluarganya.


Waktu terus berputar dan saat ini telah mengarah pada jam sepuluh pagi, waktunya bagi Sam untuk rapat bersama dewan direksi untuk membahas kerja sama antar perusahaannya berkolaborasi dengan Citra Group Development. Seluruh dewan direksi telah bersiap di ruang rapat menunggu Sam, pimpinan tertinggi mereka sekaligus owner perusahaan New Hope. Pintu ruang rapat terbuka, Sam masuk dengan Suci sekertarisnya da duduk di kursinya.


“Baik selamat pagi semua, terimakasih karena sudah datang dan menghadiri rapat ini.” Sapa Sam.


“Pak Kim secara langsung datang ke kantor beberapa waktu lalu dan mengajukan kerja sama ini, cukup menarik untuk kita bisa ikut berpartisipasi dalam projek ini, bagaimana dengan kalian semua? Apa kalian setuju?” Tanya Sam pada dewan direksi.


Para dewan direksi saling menatap satu sama lain, modal yang sangat besar ini, bagaimana kalau projek ini gagal atau kurang diminati oleh masyarakat? Itu lah yang ada di benak mereka saat ini.


“Pak, Citra Group memang salah satu development yang cukup besar dan terkenal apa lagi di kalangan para petinggi atau konglomerat, namun apa bapak yakin? perusahan ini akan berkolaborasi dengan Citra Group Development?” Tanya saah satu dewan direksi.


Sam mengerti apa yang mereka takutkan, dana yang cukup banyak itu bisa saja di keluarkan, namun bagaimana kalau tidak memenuhi ekspetasi? Mungkin perusahaan tak akan merugi dan hanya balik modal saja dengan keuntungan yang sedikit, namun Sam meyakinkan mereka untuk ikut serta dalam projek kali ini.


“Baik, saya mengerti maksud kalian semua, namun di luar sana saingan kita sangat banyak, meskipun barang kita bagus dengan harga yang lebih murah dari harga sebelah, namun kita masih sedikit kesulitan menjual produk kita sendiri, kalau kita berkolaborasi dengan Citra Group Development, berapa unit yang sudah kita jual?” Seru Sam


Para dewan direksi saling menatap dan mengangguk setuju namun ebebrapa masih tak yakin dengan keputusan untuk ikut serta dalam projek ini.


“Dengan sangat mudah kita bisa mengalahkan penjualan mereka, kalaupun memang tak berjalan dengan baik, setidaknya kita tak mungkin sampai merugi dan masih mendapatkan untung walaupun sedikit, dan kalau kita berhasil untungnya tidak main main.” Seru Sam meyakinkan.


Para dewan direksi mengangguk setuju dengan yang di katakan Sam. Tak henti hentinya mereka di buat kagum oleh cara berpikir dan kehebatan Sam, di usianya yang masih terbilang muda Sam bisa memimpin perusahaan dengan sangat baik. Setiap projek yang di pegang oleh Sam berhasil dan tak ada satupun yang gagal, dan mereka percaya bahwa kolaborasi kali ini, dengan dibawah pimpinan Sam akan menjadi sangat baik.

__ADS_1


Rapat itu berjalan dengan cukup cepat, hanya membutuhkan waktu dua jam saja segalanya terselesaikan dan mereka kembali ke kantor masing masing. Sam berjalan ke kantornya dan merebahkan tubuhnya sejenak. Sam tersenyum sambil memejamkan matanya. Sam bangga pada dirinya sendiri yang mampu memimpin segalanya menjadi baik.


Sam mengangkat teleponnya dan menghubungi Suci di luar kantornya.


“Suci, tolong hubungi Pak Kim untuk membahas masalah kolaborasi ini dan siapkan jadwal saya dengan Pak Kim.” Perintah Sam di telepon.


Hari ini Sam cukup senang karena segalanya berjalan sesuai dengan rencananya, namun di tengah kegembiraan kecilnya itu, Sam teringat dengan Pak Satrio dan juga Bela. Rasa iba dan ingin membantu mereka akan akan memuncak, hatinya terus saja menyuruhnya untuk memanggil mereka kembali dan memaafkan kesalahan mereka namun tetap menyuruh mereka untuk bertanggung jawab.


Siang hari di sebuah rumah sakit, Bela turun dari taxi yang di tumpanginya dan masuk ke ruamah sakit itu untuk mengambil foto x-rey nya kemarin. Sakit kepala yang dirasakan Bela tak kunjung sembuh, sudah satu bulan sejak sakit kepala yang di rasakannya itu, setiap obat sakit kepala yang di konsumsinya tak juga membuahkan hasil yang baik. Bela memutuskan untuk memeriksakan keadaannya kemarin dan kembali untuk mengambil hasil foto x-rey nya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit jantung Bela berdetak cukup kencang, dirinya takut kalau penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang serius dan butuh penanganan khusus, sedangkan Bela tak mempunyai uang untuk mengobati dirinya karena sudah di pecat dari pekerjaannya.


“Bu Bela, silahkan masuk” Kata suster dari dalam ruangan.


“Bu Bela, anda mengidap tumor otak di bawah otak anda” Kata dokter sambil menunjukkan lokasi tumor itu.


Mendengar itu Bel tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya, dunianya seakan akan runtuh di depan matanya, air matanya mulai mengalir ketika dokter sedang mengatakan gejala gejala yang akan di hadapinya dan pengobatan apa saja yang bisa di jalaninya untuk menegah tumor itu.


Rasa pusing kembali di rasakan oleh Bela. Kepalanya sangat sakit tak tertahankan. Bela menangis dan menangis, dia membenturkan kepalanya di meja dan menjerit yang membuat dokter juga suster mengehntikannya karena kepalanya mulai berdarah.


Siang itu Bela di rawat di ruang UGD dengan plester di dahinya. Bela masih menangis, menyesali hidupnya yang sangat malang, menyesali segala perbuatannya, dirinya tak berdaya lagi. Bagaimana caranya untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit yang diderintanya? Belum lagi harus mengembalikan uang perusahaan yang diambilnya. Dalam pikirannya terbesit untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga karena tak kuat menanggung rasa sakit, penyesalah dan rasa bersalah ini.


“Mungkin dengan aku mati segalanya akan lebih mudah bagiku, aku tak perlu mengobati diriku dan tak perlu mengembalikan uang perusahaan. Aku tak perlu hidup lagi dan merasakan pahitnya kehidupan yang menakutkan ini.” Serunya dalam hati.


“Aku menyesalinya.. Aku benar benar menyesalinya. Aku ingin memutar waktu dan hidup dengan baik, kalau aku hidup dengan baik mungkin kemalangan takkan menimpaku.” Katanya sambil menangis.


.


.


.


Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. Kalau kalian suka bisa like dan kasi saran yaa.. Saran apapun asal membangun dari kalian semua sangat penting loh.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2