My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 111 | Bertemu Kembali


__ADS_3

Sebuah taman bermain selalu penuh dengan kegembiraan dan keceriaan, segala bentuk rasa kesedihan seakan musnah ketika sudah memasuki sebuah taan bermain. Ditengah suasana yang ramai dan riang itu mereka bertiga tampak sangat bahagia, seperti kembali seperti saat mereka bertiga kecil rasanya yang selalu bermain bersama anatara Raka, Mira dan juga Grace.


“Entah sudah berapa lama aku tak pernah pergi ke taman bermain bersama dengan kalian, aku sampai lupa bagaimana rasanya”, ucap Grace dengan wajah yang sagat bahagia ketika ia melihat dan merasakan suasana di taman bermain yang sangat senang itu.


“Bermainlah apapun dengan kartu ini Grace”, ucap Raka dengan memberikan sebuah kartu yang merupakan akses untuk bermain semua wahana sepuasnya. Raka memberikan satu pada Grace dan ia langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan terimakasih namun tidak dengan Mira. Ia menatap ke arah Raka dengan tatapan kesal dan cemburu, membuat Raka gemas melihat tingkahnya.


“Apa? Tenang aku masih memiliki satu lagi, ini untuk kita berdua. Biarkan Grace bermain sendirian agar ia tak mengganggu kebersamaan kita”. Ucapya sambil mengeluarkan satu lagi kartu untuk mereka berdua bermain. Raka tak ingin berpisah dari Mira walau hanya sesaat, apapun wahana yang Mira pilih, Raka pun ikut bermain dengannya meski ia takut dan tak menyukai wahana itu.


Matanya membulat ketika Mira mengajaknya untuk menaiki sebuah wahana yang paling ia benci. Sebuah roller coaster yang cukup tinggi dengan jalur meliuk liuk saat ini berada dihadapannya. Mendengar jeritan mereka yang menaikinya saja sudah membat Raka merinding, tak bisa ia bayangkan bagaimana jadinya kalau ia ikut naik, jantungnya pasti berhenti berdetak segera setelah roller coaster itu berjalan.


“Kak. Tunggulah disini, aku akan naik senidrian. Atau kakak bisa bermain yang lainnya terlebih dahulu”, ucap Mira melepaskan pegangannya dari Raka dan ikut mengantre di barisan. Namun Raka kembali mendekap tangan Mira dan ikut mengantre bersamanya.


“Aku akan naik bersamamu”, ucap Raka dengan tangan yang mulai berkeringat dan wajah yang panik.


“Baiklah, mari kita naik wahana yang lain saja. Aku tak ingin kakak ketakutan”. Ucap Mira yang melihat Raka mulai terlihat sedikit panik.


“Aku benar benar tak apa. Meski sedikit takut namun kamu menginginkannya bukan? Aku bisa melawan rasa takutku ini. Jadi tenanglah”, jawab Raka untuk meyakinkan Mira bahwa dirinya baik baik saja. Dan benar adanya, giliran mereka sekarang naik. Mira memilih posisi paling depan seperti yang biasa ia lakukan ketika menaiki roller coaster. Sama seperti yang lainnya, Mira dan Raka ikut berteriak namun bedanya Mira sangat menikmati permainan itu sedangkan Raka tidak, jeritannya bahkan lebih kencang dari yang lainnya, wajahnya yang ketakutan membuat Mira tertawa, melihat Raka yang menjerit dengan sekuat tenaga lebih menyenangkan dari pada roller coaster yang ia naiki.


Hingga roller coaster itu berhenti dan semua orang turun. Raka masih dengan ketakutannya sambil memejamkan kedua matanya, ketakutannya membuat Raka tak menyadari bahwa roller coaster itu telah berhenti.


“Kak, buka matamu, ayo cepat turun”, panggil Mira dengan sedikit menahan tawanya melihat Raka yang masih dalam ketakutannya. Dengan langkahnya yang bergetar, Raka mencoba untuk turun bersama dengan Mira yang memeganginya.

__ADS_1


“Sudah ku bilang aku akan naik sendiri. Kakak tak apa?”, tanya Mira.


...****************...


Sama seperti yang lainnya, Grace juga berbaris mengantre seorang diri untuk menaiki wahana kora – kora . Namun seseorang mendorongnya hingga Grace jatuh dan terluka, lututnya berdarah dan ia bahkan kesusahan untuk berdiri karena sakit. Beruntungnya seorang pria datang menyelamatkannya, pria dengan senyum manis mengulurkan tangannya dan membantu Grace berdiri dan mengobati luka di kakinya.


“Tahanlah, ini akan terasa sedikit sakit”, ucap pria itu dan mulai mengobati lutut Grae yang berdarah. Dengan menahan sakitnya, Grace terus menatap pada pria baik yang sedang menolongnya itu.


“Aku seperti mengenalnya. Namun dimana? Siapa dia? Apa hanya perasaanku saja?”, gumamnya dalam hati sambil menahan rasa sakit di lututnya.


“Baiklah, sudah selesai. Kamu sendiri atau datang bersama teman?”, tanya pria itu lalu duduk di samping Grace dan memberikannya sebotol air mineral.


“Aku datang bersama kakakku”, jawab Grace sambil tersenyum.


“Kakak”, panggil Grace dengan kencang sambil melambaikan tangannya sedang tangan lain memegangi lututnya.


Mira yang sedang bercanda dengan Raka menoleh ke arah Grace yang memanggilnya dengan suara yang sangat kencang. Namun disisi lain ia juga terkejut melihat pria yang ada disampingnya. Ia adalah Arka. Mira terdiam dan mematung sedang Arka dengan menuntun Grace berjalan pelan pelan mendatanginya sambil tersenyum.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”, tanya Mira pada Arka dengan terkejut.


“Aku sedang berziarah. Untuk bersenang senang Mira, bukankah ini taman bermain?”, jawab Arka. Ia tersenyum dan menatap Raka seakan tak pernah terjadi apapun pada mereka.

__ADS_1


“Kamu terlihat sangat bahagia. Aku senang melihatnya. Kamu bersama pria yang tepat. Mungkin?”, ucap Arka melemparkan tatapan seperti menantang pada Raka.


Suasana yang ramai dan senang berubah menjadi sangat tidak menyenangkan disekitar mereka. Mira menarik mundur Raka yang sepertinya mulai terpancing emosinya, ia juga membawa Grace di sampingnya. Mira tak ingin terlibat lagi dengan Arka, ditengah tengah suasana yang tak menyenangkan itu, Meli menghubungi Raka dan menyuruhnya cepat pulang saat itu juga karena ada sesuatu yang mendesak.


Keadaan membuat Raka tak bisa melakukan apapun, ia tak rela membiarkan Mira bersama dengan Arka ketika ia harus pulang dengan segera. Keadaan seperti berpihak pada Arka saat itu, entah suatu kebeulan atau apa Arka dipertemukan dengan Mira.


“Pulanglah kak. Tante Meli pasti sangat membutuhkanmu. Aku bisa pulang sendiri bersama Grace”, ucap Mira dengan perasaan tak ingin membebani Raka.


“Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendiri?”, ucap Raka. Ia takut Mira akan kembali pada Arka.


“Tenanglah. Aku akan menjaga mereka. Lagi pula aku dan Mira adalah teman satu kelas. Aku bisa mengantarnya pulang kalau Mira tak keberatan”, ucap Arka sambil menatap pada Mira.


“Pergilah kak. Aku dan Grace akan pulang seorang diri”, balas Mira dengan menatap pada Arka. Ia tak ingin mengecewakan Raka dengan pergi bersama Arka meski ada Grace ditengah tengah mereka. Mendengar hal itu Raka menjadi sedikit lebih tenang dan ia percaya pada Mira.


“Hubungi aku jika kamu sampai di rumah”, ucap Raka pada Mira lalu meninggalkan mereka..


“ Baiklah, mari ku antar pulang”, ucap Arka mencoba mengambil kesempatan yang ada di depan mata.


“Tidakkah kamu mendengar ucapanku? Aku dan adikku akan pulang sendiri”, ucap Mira sedikit kasar pada Arka. Meski begitu Arka memakluminya namun bukan berarti ia menyerah begitu saja.


“Coba buka ponselmu, signal di ponselku bermasalah, mungkin milikmu juga. Bagaimana kamu bisa pulang?”, ucap Arka. Kini beadaan sepenuhnya berpihak padanya, Mira melihat ponselnya dan benar perkataan Arka, signal ponselnya bermasalah. Mira tak ada pilihan lain, signalnya bermasalah dan Grace pun terluka satu satunya yang bisa menolongnya aalah Arka.

__ADS_1


“Tenanglah, lagi pula kita teman sekelas. Aku berjanji aku hanya akan mengantarkanmu pulang. Percayalah padaku”, rayu Arka. Seperti ucapannya, Arka akan melakukan segalanya dengan caranya dan kini keberuntungan seperti sedang berpihak padanya.


__ADS_2